October 09, 2026 | Asmaul Husna

Al-'Adl: Kalau Allah Adil, Kenapa Dunia Terasa Gak Adil?

Oleh M Salman Azhar
Al-'Adl: Kalau Allah Adil, Kenapa Dunia Terasa Gak Adil?

Ada satu pertanyaan yang pernah mengganggu hampir semua orang beriman.

Kalau Allah Maha Adil, kenapa koruptor hidup mewah sementara orang jujur hidup susah? Kenapa anak-anak di daerah konflik menderita? Kenapa orang baik meninggal muda sementara orang jahat panjang umur?

Pertanyaan ini jujur. Dan menyembunyikannya gak membuat iman lebih kuat.

Justru dengan membongkar pertanyaan ini secara jujur, kita akan menemukan bahwa nama Al-'Adl punya logika yang jauh lebih dalam dari yang kita kira.

Makna Al-'Adl

Al-'Adl berasal dari akar ع-د-ل ('a-d-l), yang bermakna lurus, seimbang, meletakkan sesuatu pada tempatnya.

Kata ini secara bahasa adalah mashdar (kata benda abstrak), yang berarti "keadilan" itu sendiri. Menyebut Allah dengan Al-'Adl adalah bentuk penegasan: Allah bukan sekadar adil, tapi Dia adalah keadilan dalam bentuk paling sempurna.

Perlu dicatat, nama Al-'Adl sebagai isim termasuk dalam daftar masyhur riwayat Tirmidzi. Tapi sifat adil Allah dan penolakan-Nya terhadap kezaliman sangat jelas dalam Al-Qur'an:

وَوُضِعَ ٱلۡكِتَٰبُ فَتَرَى ٱلۡمُجۡرِمِينَ مُشۡفِقِينَ مِمَّا فِيهِ وَيَقُولُونَ يَٰوَيۡلَتَنَا مَالِ هَٰذَا ٱلۡكِتَٰبِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةٗ وَلَا كَبِيرَةً إِلَّآ أَحۡصَىٰهَاۚ وَوَجَدُواْ مَا عَمِلُواْ حَاضِرٗاۗ وَلَا يَظۡلِمُ رَبُّكَ أَحَدٗا ٤٩

QS. Al-Kahf: 49

...Dan Tuhanmu tidak menzalimi seorang pun.

Dan dalam hadits qudsi riwayat Muslim, Allah berfirman:

Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya Aku mengharamkan kezaliman atas diri-Ku, dan Aku menjadikannya haram di antara kalian, maka janganlah kalian saling menzalimi.

Adil Bukan Berarti Sama Rata

Sebelum menjawab pertanyaan besar tadi, ada satu asumsi yang perlu dibongkar dulu.

Kita sering mengira adil berarti semua mendapat bagian yang sama. Kalau ada yang dapat lebih banyak, berarti gak adil.

Tapi coba pikirkan. Apakah adil kalau seorang dokter memberikan obat yang sama persis kepada semua pasien, tanpa peduli penyakitnya?

Gak. Itu justru zalim.

Adil adalah meletakkan sesuatu pada tempatnya. Pasien demam dapat obat demam. Pasien patah tulang dapat perawatan tulang. Porsinya berbeda, tapi masing-masing mendapat yang tepat.

Maka ketika Allah memberi rezeki berbeda-beda, ujian berbeda-beda, dan umur berbeda-beda, itu bukan berarti Allah gak adil. Masing-masing diberi sesuai dengan hikmah yang Allah ketahui, dan masing-masing akan dihisab sesuai dengan apa yang diberikan kepadanya.

Orang yang diberi banyak akan ditanya lebih banyak. Orang yang diberi sedikit akan ditanya lebih sedikit.

Dunia Bukan Ruang Sidang Terakhir

Sekarang ke pertanyaan inti: kenapa dunia terasa gak adil?

Jawabannya sederhana, tapi mendasar: karena dunia bukan tempat keadilan final ditegakkan.

Bayangkan sebuah pertandingan sepak bola. Di menit ke-30, tim yang curang unggul 2–0. Apakah kita menyimpulkan bahwa wasitnya gak adil?

Belum tentu. Pertandingannya belum selesai. Masih ada VAR, masih ada sanksi, masih ada keputusan akhir.

Dunia adalah pertandingan yang masih berlangsung. Hari akhir adalah saat peluit panjang dibunyikan dan semua catatan diperiksa ulang.

Al-Qur'an menegaskan logika ini:

وَنَضَعُ ٱلۡمَوَٰزِينَ ٱلۡقِسۡطَ لِيَوۡمِ ٱلۡقِيَٰمَةِ فَلَا تُظۡلَمُ نَفۡسٞ شَيۡـٔٗاۖ وَإِن كَانَ مِثۡقَالَ حَبَّةٖ مِّنۡ خَرۡدَلٍ أَتَيۡنَا بِهَاۗ وَكَفَىٰ بِنَا حَٰسِبِينَ ٤٧

QS. Al-Anbiyaa: 47

Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tidaklah dirugikan seseorang barang sedikit pun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawi pun pasti Kami mendatangkan (pahala)nya. Dan cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan.

Kenapa Keadilan Butuh Hari Akhir

Coba ikuti logika ini lebih jauh.

Premis pertama: fitrah manusia menuntut keadilan. Kita semua merasa bahwa kezaliman harus dibalas dan kebaikan harus dihargai.

Premis kedua: di dunia, banyak kezaliman yang gak pernah dibalas dan banyak kebaikan yang gak pernah dihargai. Diktator meninggal tua di tempat tidurnya. Pahlawan tanpa nama meninggal tanpa pengakuan.

Premis ketiga: kalau gak ada kehidupan setelah mati, maka tuntutan fitrah tentang keadilan itu gak akan pernah terpenuhi. Artinya, fitrah manusia menuntut sesuatu yang gak ada.

Kesimpulan: ketidakadilan dunia justru merupakan salah satu argumen terkuat bahwa hari akhir itu harus ada. Tanpa hari akhir, alam semesta ini gak masuk akal secara moral.

Jadi pertanyaan "kenapa dunia gak adil?" sebenarnya adalah pertanyaan yang, kalau diikuti sampai ujung, membawa kita kepada keyakinan tentang hari pembalasan.

Keadilan yang Sampai ke Hewan

Ada hadits yang menunjukkan betapa detailnya keadilan Al-'Adl. Rasulullah bersabda, sebagaimana diriwayatkan Muslim, bahwa hak-hak akan ditunaikan kepada pemiliknya pada hari kiamat, sampai-sampai kambing yang tidak bertanduk akan dibalaskan haknya dari kambing yang bertanduk yang dulu menanduknya.

Kalau keadilan Allah sampai ke urusan kambing, bagaimana dengan kezaliman manusia terhadap manusia?

Gak ada satu pun yang terlewat.

Al-'Adl dan Tanggung Jawab Kita

Tapi mengenal Al-'Adl bukan berarti kita pasif menunggu hari akhir.

Allah memerintahkan manusia untuk menegakkan keadilan:

۞ إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ وَٱلۡإِحۡسَٰنِ وَإِيتَآيِٕ ذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَيَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِ وَٱلۡبَغۡيِۚ يَعِظُكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ ٩٠

QS. An-Nahl: 90

Sesungguhnya Allah menyuruh (kalian) berlaku adil dan berbuat kebajikan...

Bahkan dalam kondisi membenci pun, kita diperintahkan tetap adil: "...Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa." (QS. Al-Ma'idah: 8)

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُونُواْ قَوَّٰمِينَ لِلَّهِ شُهَدَآءَ بِٱلۡقِسۡطِۖ وَلَا يَجۡرِمَنَّكُمۡ شَنَـَٔانُ قَوۡمٍ عَلَىٰٓ أَلَّا تَعۡدِلُواْۚ ٱعۡدِلُواْ هُوَ أَقۡرَبُ لِلتَّقۡوَىٰۖ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرُۢ بِمَا تَعۡمَلُونَ ٨

QS. Al-Maaida: 8

Ini standar yang sangat tinggi. Di era media sosial, ketika kita gampang menghakimi orang yang kita benci tanpa verifikasi, ayat ini adalah tamparan.

Al-'Adl dalam Mendidik Anak

Salah satu luka terdalam yang bisa dialami anak adalah merasa diperlakukan gak adil oleh orang tua. Pilih kasih, membanding-bandingkan, memberi hadiah hanya kepada satu anak.

Rasulullah pernah menolak menjadi saksi ketika seorang ayah hendak memberikan hadiah hanya kepada salah satu anaknya. Beliau bersabda: "Bertakwalah kepada Allah dan berlaku adillah di antara anak-anak kalian." (HR. Bukhari dan Muslim)

Tapi ingat, adil bukan berarti sama rata. Anak yang berusia 5 tahun dan 15 tahun gak harus mendapat hal yang sama persis. Adil adalah memberi masing-masing sesuai kebutuhannya, dan menjelaskan alasannya dengan jujur.

Cara Praktis Menghidupkan Al-'Adl

Pertama, saat melihat ketidakadilan dunia, ingat bahwa pertandingan belum selesai. Peluit panjang belum dibunyikan.

Kedua, tetap berusaha menegakkan keadilan dalam kapasitas antum. Menunggu hari akhir gak berarti diam.

Ketiga, periksa apakah antum adil kepada orang yang antum benci. Verifikasi sebelum menghakimi.

Keempat, perhatikan keadilan di rumah. Apakah ada anak yang merasa dianaktirikan?

Penutup

Dunia memang terasa gak adil. Dan perasaan itu gak salah.

Tapi perasaan itu justru bukti bahwa kita diciptakan untuk sebuah keadilan yang lebih besar dari dunia ini.

Al-'Adl gak pernah lalai. Dia hanya belum membunyikan peluit panjang.

Maka kalau hari ini peluit itu dibunyikan, sudahkah antum adil kepada semua orang yang pernah antum temui?


Tulisan ini bagian dari seri Tadabbur Asmaul Husna: nama ke-29 dari 99.

M Salman Azhar

Ditulis oleh

M Salman Azhar

Artikel Terkait