Pernah perhatikan bagaimana masalah terasa lebih besar di malam hari?
Utang yang siang tadi terasa bisa diatasi, jam dua pagi terasa seperti gunung. Konflik dengan pasangan yang tadi sore biasa saja, tengah malam terasa seperti akhir dunia. Kekhawatiran tentang anak yang di siang hari samar, di malam hari menjadi raksasa.
Masalahnya gak berubah ukuran. Yang berubah adalah perspektif kita.
Di dalam gelap, kita kehilangan pembanding. Dan tanpa pembanding, apa pun bisa terlihat raksasa.
Nama Al-'Azhim adalah pembanding itu.
Makna Al-'Azhim
Al-'Azhim berasal dari akar ع-ظ-م ('a-zh-m). Menariknya, dari akar yang sama lahir kata 'azhm, yang berarti tulang. Tulang adalah struktur penopang yang besar dan kokoh di dalam tubuh.
Dari situ lahir makna agung, besar, yang gak terjangkau batasnya.
Al-'Azhim adalah Allah yang Maha Agung, yang keagungan-Nya gak bisa dijangkau oleh akal, gak bisa diukur oleh indera, dan gak bisa dibayangkan oleh imajinasi.
Nama ini ada di ayat yang paling agung dalam Al-Qur'an, Ayat Kursi:
ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلۡحَيُّ ٱلۡقَيُّومُۚ لَا تَأۡخُذُهُۥ سِنَةٞ وَلَا نَوۡمٞۚ لَّهُۥ مَا فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِي ٱلۡأَرۡضِۗ مَن ذَا ٱلَّذِي يَشۡفَعُ عِندَهُۥٓ إِلَّا بِإِذۡنِهِۦۚ يَعۡلَمُ مَا بَيۡنَ أَيۡدِيهِمۡ وَمَا خَلۡفَهُمۡۖ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيۡءٖ مِّنۡ عِلۡمِهِۦٓ إِلَّا بِمَا شَآءَۚ وَسِعَ كُرۡسِيُّهُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَۖ وَلَا يَـُٔودُهُۥ حِفۡظُهُمَاۚ وَهُوَ ٱلۡعَلِيُّ ٱلۡعَظِيمُ ٢٥٥
...Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung (Al-'Aliyyul 'Azhim).
Mengukur yang Gak Terukur
Coba lakukan satu latihan pikiran.
Bumi kita, dengan semua gunung, laut, dan miliaran manusianya, adalah planet kecil di tata surya. Matahari cukup besar untuk memuat lebih dari satu juta bumi.
Matahari sendiri hanyalah satu bintang di galaksi Bima Sakti, yang berisi ratusan miliar bintang. Dan Bima Sakti hanyalah satu galaksi di antara miliaran galaksi di alam semesta yang teramati.
Semua itu, seluruh alam semesta, diliputi oleh Kursi Allah, sebagaimana disebut dalam Ayat Kursi. Dan para ulama menjelaskan bahwa Kursi sendiri sangat kecil dibanding 'Arsy.
Lalu Allah, Pemilik 'Arsy itu, gak merasa berat memelihara semuanya.
Sekarang, bandingkan dengan masalah yang membuat antum gak bisa tidur semalam.
Kenapa Masalah Terasa Raksasa?
Ini bukan berarti masalah kita gak nyata. Utang itu nyata. Sakit itu nyata. Konflik itu nyata.
Tapi masalah menjadi raksasa ketika kita mengukurnya dengan diri kita sendiri sebagai pembanding.
Kalau aku yang kecil harus menghadapi masalah ini sendirian, ya wajar masalahnya terasa besar.
Tapi kalau aku menyadari bahwa di belakangku ada Al-'Azhim, yang memelihara seluruh alam semesta tanpa merasa berat, maka masalahku kembali ke ukuran aslinya. Masih ada, masih perlu diatasi, tapi gak lagi raksasa.
Ini bukan trik psikologi. Ini koreksi ukuran berdasarkan realitas.
Ruku': Latihan Mengembalikan Ukuran
Setiap hari, minimal tujuh belas kali, kita mengucapkan satu kalimat yang sama: Subhana rabbiyal 'azhim. Maha Suci Tuhanku Yang Maha Agung.
Pernahkah kita memperhatikan kenapa kalimat itu diucapkan saat ruku'?
Ketika ayat "Fasabbih bismi rabbikal 'azhim" turun (QS. Al-Waqi'ah: 74), Rasulullah bersabda: "Jadikanlah ia dalam ruku' kalian." Hadits ini diriwayatkan Abu Dawud dan lainnya.
فَسَبِّحۡ بِٱسۡمِ رَبِّكَ ٱلۡعَظِيمِ ٧٤
Ruku' adalah posisi membungkuk. Kepala yang biasanya tegak, kita turunkan. Punggung yang biasanya lurus, kita tekuk.
Dalam posisi itulah kita mengakui keagungan Allah.
Seolah pesannya: kamu gak bisa benar-benar mengakui keagungan Allah sambil tetap merasa dirimu besar. Tubuhmu harus ikut merendah.
Dan setiap kali kita ruku', seharusnya ukuran masalah kita juga ikut kembali normal.
Mengagungkan Allah vs Mengagungkan Makhluk
Ada satu ayat yang menyebut kenapa seseorang celaka di akhirat:
إِنَّهُۥ كَانَ لَا يُؤۡمِنُ بِٱللَّهِ ٱلۡعَظِيمِ ٣٣
Sesungguhnya dia dahulu tidak beriman kepada Allah Yang Maha Agung.
Menariknya, ayat ini gak cuma menyebut "tidak beriman kepada Allah," tapi menambahkan sifat Al-'Azhim. Seolah masalah orang ini bukan sekadar gak percaya, tapi gak mengagungkan.
Orang bisa percaya bahwa Allah ada, tapi gak mengagungkan-Nya. Ia lebih takut pada atasan daripada pada Allah. Lebih peduli pada pendapat manusia daripada ridha Allah. Lebih serius mengurus karier daripada mengurus shalat.
Itu tanda bahwa di hatinya, ada yang lebih "agung" dari Allah.
Kita semua perlu memeriksa: apa yang paling aku agungkan dalam hidupku? Apa yang paling aku takutkan kehilangannya? Apa yang paling menguasai pikiranku?
Jawaban jujur atas pertanyaan-pertanyaan itu akan menunjukkan apa yang sebenarnya kita agungkan.
Dosa yang Terasa Kecil
Ada sisi lain dari Al-'Azhim.
Kita sering menganggap remeh dosa-dosa kecil. "Cuma sedikit bohong." "Cuma sekali lihat." "Cuma bercanda."
Seorang ulama salaf pernah mengingatkan dengan ungkapan yang sering dikutip: jangan lihat kecilnya dosa, tapi lihatlah keagungan Dzat yang engkau maksiati.
Dosa terasa kecil karena kita mengukurnya dari ukuran perbuatannya. Tapi kalau kita mengukurnya dari siapa yang kita langgar perintahnya, dosa sekecil apa pun menjadi serius.
Al-'Azhim dalam Mendidik Anak
Anak-anak perlu mengenal keagungan Allah, bukan hanya kasih sayang-Nya.
Ajak mereka melihat langit malam. Ceritakan tentang bintang-bintang yang jaraknya jutaan tahun cahaya. Ceritakan tentang galaksi-galaksi. Lalu katakan: "Semua itu ciptaan Allah. Dan Allah gak capek mengurusnya."
Anak yang mengenal Al-'Azhim akan punya pondasi yang kuat. Saat ia menghadapi masalah di sekolah atau di pergaulan, ia punya pembanding. Masalahnya nyata, tapi Allah jauh lebih besar.
Cara Praktis Menghidupkan Al-'Azhim
Pertama, saat ruku', ucapkan subhana rabbiyal 'azhim dengan sadar. Bayangkan ukuran alam semesta, lalu bayangkan Pemiliknya.
Kedua, saat masalah terasa raksasa di malam hari, bangun dan ambil wudhu. Shalat dua rakaat. Kembalikan ukuran.
Ketiga, periksa apa yang paling antum agungkan. Kalau ada yang lebih menguasai hati daripada Allah, itu tanda perlu koreksi.
Keempat, luangkan waktu melihat langit malam, tanpa HP. Biarkan keagungan ciptaan mengantarkan pada keagungan Pencipta.
Penutup
Masalah kita nyata. Tapi ukurannya sering kita salah hitung.
Kita mengukurnya dengan diri kita yang kecil, padahal di belakang kita ada Yang Maha Agung, yang memelihara seluruh alam tanpa merasa berat.
Maka malam ini, masalah apa yang perlu antum kembalikan ke ukuran aslinya?
Tulisan ini bagian dari seri Tadabbur Asmaul Husna: nama ke-33 dari 99.