Pernah lihat orang yang tersinggung hanya karena gak disapa duluan?
Atau yang marah besar karena komentarnya dibalas singkat? Yang merasa harga dirinya jatuh karena tetangga beli mobil baru?
Kita cenderung menyebut orang seperti itu "punya harga diri tinggi."
Padahal kalau dipikir lagi, justru sebaliknya. Orang yang harga dirinya bisa jatuh hanya karena satu sapaan yang terlewat, sebenarnya punya harga diri yang sangat rapuh.
Lalu di mana harga diri yang kokoh itu bisa didapat? Al-Qur'an menjawabnya lewat satu nama: Al-'Aziz.
Makna Al-'Aziz
Al-'Aziz biasa diterjemahkan Yang Maha Perkasa. Tapi akar katanya, ع-ز-ز ('a-z-z), punya makna yang lebih kaya.
Dalam bahasa Arab, sesuatu disebut 'aziz kalau memenuhi tiga sifat: langka (tak ada tandingannya), sangat dibutuhkan, dan sulit dijangkau atau dikalahkan.
Ketiganya hanya terkumpul secara sempurna pada Allah. Gak ada yang menyamai-Nya. Semua makhluk butuh kepada-Nya. Dan gak ada yang bisa mengalahkan atau merendahkan-Nya.
Nama ini termasuk yang paling sering muncul di akhir ayat Al-Qur'an, dan sering digandeng dengan Al-Hakim (Maha Bijaksana). Perpaduan ini penting: keperkasaan Allah bukan keperkasaan yang sewenang-wenang, tapi keperkasaan yang penuh hikmah.
Satu Ayat yang Membalik Logika Gengsi
Coba baca ayat ini pelan-pelan:
مَن كَانَ يُرِيدُ ٱلۡعِزَّةَ فَلِلَّهِ ٱلۡعِزَّةُ جَمِيعًاۚ إِلَيۡهِ يَصۡعَدُ ٱلۡكَلِمُ ٱلطَّيِّبُ وَٱلۡعَمَلُ ٱلصَّٰلِحُ يَرۡفَعُهُۥۚ وَٱلَّذِينَ يَمۡكُرُونَ ٱلسَّيِّـَٔاتِ لَهُمۡ عَذَابٞ شَدِيدٞۖ وَمَكۡرُ أُوْلَٰٓئِكَ هُوَ يَبُورُ ١٠
Barangsiapa menghendaki kemuliaan ('izzah), maka milik Allah-lah kemuliaan itu seluruhnya.
Kalimat ini pendek, tapi logikanya radikal.
Premis pertama: manusia secara fitrah menginginkan izzah, ingin dihormati dan gak direndahkan.
Premis kedua: seluruh izzah adalah milik Allah.
Kesimpulannya: siapa pun yang mencari izzah dari selain Allah, sedang mencari barang di toko yang gak menjualnya.
Mau dihormati lewat jabatan? Jabatan bisa dicopot, dan hormatnya ikut hilang.
Mau dihormati lewat harta? Orang menghormati hartamu, bukan dirimu.
Mau dihormati lewat followers? Algoritma bisa berubah besok pagi.
Semua izzah yang bukan dari Allah adalah izzah pinjaman. Dan barang pinjaman selalu bisa ditarik kembali.
Kisah Orang yang Merasa Paling Mulia
Al-Qur'an merekam sebuah percakapan di Surat Al-Munafiqun. Tokoh munafik di Madinah berkata:
يَقُولُونَ لَئِن رَّجَعۡنَآ إِلَى ٱلۡمَدِينَةِ لَيُخۡرِجَنَّ ٱلۡأَعَزُّ مِنۡهَا ٱلۡأَذَلَّۚ وَلِلَّهِ ٱلۡعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِۦ وَلِلۡمُؤۡمِنِينَ وَلَٰكِنَّ ٱلۡمُنَٰفِقِينَ لَا يَعۡلَمُونَ ٨
Sungguh jika kita kembali ke Madinah, benar-benar orang yang kuat (al-a'azz) akan mengusir orang-orang yang lemah darinya.
Lalu Allah menjawab dalam ayat yang sama:
Padahal kemuliaan itu hanyalah milik Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tidak mengetahui.
Perhatikan. Orang munafik itu mengukur izzah dengan jumlah pengikut dan kekuatan sosial. Allah membongkar ukuran itu. Izzah bukan soal siapa yang lebih banyak massanya, tapi siapa yang lebih dekat kepada Sumbernya.
Dan kalimat penutupnya tajam: mereka tidak mengetahui. Masalah mereka bukan kurang kuat. Masalah mereka adalah salah peta.
Kenapa Orang yang Haus Validasi Selalu Kurang
Ini fenomena yang sangat modern.
Orang posting sesuatu, lalu berkali-kali mengecek jumlah likes. Kalau sedikit, mood rusak seharian. Kalau banyak, senang sebentar, lalu butuh lagi.
Ini bukan sekadar soal media sosial. Ini soal di mana seseorang menaruh sumber harga dirinya.
Kalau sumber harga diri ada di tangan orang lain, maka orang lain yang memegang remote emosi kita. Mereka bisa membuat kita senang atau hancur hanya dengan satu klik.
Al-'Aziz menawarkan pembebasan. Kalau izzah kita tersambung ke Allah, maka pujian manusia gak membuat kita melambung, dan hinaan manusia gak membuat kita runtuh. Keduanya tetap terasa, karena kita manusia. Tapi keduanya gak lagi menentukan siapa kita.
Izzah Bukan Sombong
Sampai sini perlu dibedakan dua hal yang sering tertukar: izzah dan kibr (sombong).
Kibr adalah merasa diri lebih tinggi dari orang lain, dan menolak kebenaran. Izzah adalah menolak direndahkan oleh sesuatu yang gak layak merendahkan kita.
Orang yang punya izzah bisa sangat rendah hati kepada sesama, tapi gak mau menjilat. Ia mau duduk bersama orang miskin, tapi gak mau menjual prinsipnya kepada orang kaya.
Orang sombong justru sering kehilangan izzah. Di depan atasan ia membungkuk, di depan bawahan ia menginjak. Itu tanda izzahnya bukan dari Allah, tapi dari posisi.
Al-'Aziz dalam Mendidik Anak
Banyak anak zaman sekarang tumbuh dengan harga diri yang digantungkan pada pencapaian: nilai, juara, jumlah teman, merek sepatu.
Hasilnya, begitu gagal, mereka merasa gak berharga. Begitu dibandingkan, mereka merasa kalah.
Mendidik dengan Al-'Aziz berarti mengajarkan anak bahwa kemuliaannya berasal dari hubungannya dengan Allah, bukan dari ranking atau barang yang ia pakai.
Anak yang paham ini akan lebih tahan terhadap tekanan teman sebaya. Ia bisa berkata "gak" pada ajakan yang salah, tanpa merasa kehilangan harga diri. Karena harga dirinya memang gak dipegang oleh teman-temannya.
Di pesantren, kami sering menemukan bahwa santri yang paling kokoh bukan yang paling pintar, tapi yang paling paham kenapa ia berbeda dan gak malu dengan perbedaan itu.
Cara Praktis Menghidupkan Al-'Aziz
Pertama, perhatikan kapan antum merasa tersinggung. Tanyakan: izzah siapa yang sedang aku bela: izzah dari Allah, atau gengsi pribadi?
Kedua, puasa validasi. Coba sekali seminggu berbuat baik atau berkarya tanpa membagikannya ke siapa pun.
Ketiga, jangan menjual prinsip untuk diterima. Kalau harus memilih antara disukai manusia atau diridhai Allah, ingat bahwa izzah hanya ada di pilihan kedua.
Keempat, muliakan orang lain dengan tulus. Orang yang izzahnya dari Allah gak takut kehilangan apa-apa saat memuliakan orang lain.
Penutup
Orang yang paling butuh dihormati biasanya adalah orang yang paling gak yakin dengan nilainya sendiri.
Dan orang yang paling kokoh adalah orang yang sudah menemukan sumber kemuliaannya, lalu gak lagi mengemis kemuliaan kepada manusia.
Semua izzah milik Allah. Maka pertanyaannya tinggal satu: selama ini antum mengetuk pintu siapa untuk merasa berharga?
Tulisan ini bagian dari seri Tadabbur Asmaul Husna: nama ke-8 dari 99.