Kalau Al-Khaliq sudah berarti Maha Pencipta, kenapa di ayat yang sama Allah juga menyebut diri-Nya Al-Bari'?
Apakah ini pengulangan? Sekadar sinonim?
Al-Qur'an gak pernah membuang kata. Kalau dua nama disebut berdampingan, pasti ada perbedaan yang ingin diajarkan.
Dan perbedaan itu ternyata menyentuh salah satu luka paling umum manusia modern: perasaan bahwa diri kita rusak.
Tiga Nama, Tiga Tahap
Coba baca lagi ayat ini:
هُوَ ٱللَّهُ ٱلۡخَٰلِقُ ٱلۡبَارِئُ ٱلۡمُصَوِّرُۖ لَهُ ٱلۡأَسۡمَآءُ ٱلۡحُسۡنَىٰۚ يُسَبِّحُ لَهُۥ مَا فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۖ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡحَكِيمُ ٢٤
Dialah Allah, Al-Khaliq, Al-Bari', Al-Mushawwir.
Para ulama, di antaranya Al-Ghazali dalam penjelasannya tentang Asmaul Husna, menggambarkan tiga nama ini seperti tahapan.
Al-Khaliq: menakar dan merencanakan. Al-Bari': mengadakan dari ketiadaan menjadi ada. Al-Mushawwir: memberi bentuk dan rupa yang khas.
Analoginya seperti membangun rumah. Ada tahap merancang ukuran, ada tahap mewujudkan bangunannya, ada tahap memberi bentuk dan detail. Bedanya, pada Allah ketiganya sempurna tanpa bahan awal, tanpa jeda, dan tanpa bantuan.
Akar Kata yang Unik
Kata bari' berasal dari akar ب-ر-أ (b-r-'). Menariknya, akar yang sama melahirkan kata bara'ah, yaitu terlepas, bebas, bersih dari sesuatu. Orang yang sembuh dari sakit disebut bari'a minal maradh, terlepas dari penyakit.
Maka sebagian ulama menjelaskan bahwa Al-Bari' mengandung makna menciptakan sesuatu yang terlepas dari cacat dan ketidakseimbangan. Ciptaan Allah bukan hasil coba-coba yang kemudian diperbaiki. Ia keluar dari "tangan" Al-Bari' dalam keadaan pas.
Ini sejalan dengan ayat lain:
ٱلَّذِي خَلَقَ سَبۡعَ سَمَٰوَٰتٖ طِبَاقٗاۖ مَّا تَرَىٰ فِي خَلۡقِ ٱلرَّحۡمَٰنِ مِن تَفَٰوُتٖۖ فَٱرۡجِعِ ٱلۡبَصَرَ هَلۡ تَرَىٰ مِن فُطُورٖ ٣
Yang menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Ar-Rahman sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang cacat?
Satu Ayat yang Mengejutkan
Kata Bari' juga muncul di tempat yang mungkin gak kita duga. Ketika Bani Israil menyembah patung anak sapi, Nabi Musa berkata kepada mereka:
وَإِذۡ قَالَ مُوسَىٰ لِقَوۡمِهِۦ يَٰقَوۡمِ إِنَّكُمۡ ظَلَمۡتُمۡ أَنفُسَكُم بِٱتِّخَاذِكُمُ ٱلۡعِجۡلَ فَتُوبُوٓاْ إِلَىٰ بَارِئِكُمۡ فَٱقۡتُلُوٓاْ أَنفُسَكُمۡ ذَٰلِكُمۡ خَيۡرٞ لَّكُمۡ عِندَ بَارِئِكُمۡ فَتَابَ عَلَيۡكُمۡۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلتَّوَّابُ ٱلرَّحِيمُ ٥٤
Wahai kaumku, sesungguhnya kamu telah menzalimi dirimu sendiri dengan menjadikan anak sapi (sesembahan), maka bertaubatlah kepada Bari'-mu (Penciptamu)...
Kenapa di sini Nabi Musa memilih kata Bari', bukan Khaliq atau Rabb?
Sebagian mufassir memberi isyarat bahwa ada pesan yang kuat di situ: kalian menyembah sesuatu yang kalian buat sendiri dari emas, padahal ada Yang membuat kalian dari ketiadaan tanpa cacat. Kalian meninggalkan Pencipta kalian, lalu bersujud kepada ciptaan kalian.
Dan jalan kembalinya adalah taubat kepada Bari', Yang menciptakan kalian bersih sejak awal.
Seolah pesannya: kembalilah kepada Dzat yang pertama kali menciptakanmu dalam keadaan lurus.
Kenapa Kita Merasa Rusak?
Sekarang coba lihat kondisi kita.
Banyak orang merasa dirinya rusak. Rusak karena masa lalu yang kelam. Rusak karena dosa yang terus berulang. Rusak karena pola asuh yang buruk. Rusak karena trauma.
Perasaan ini nyata dan gak boleh diremehkan. Tapi ada asumsi yang perlu diperiksa: seolah-olah kerusakan itu adalah identitas dasar kita.
Al-Bari' membongkar asumsi itu. Desain dasar manusia diciptakan tanpa cacat. Rasulullah menyebutnya fitrah. Dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim, beliau bersabda bahwa setiap anak dilahirkan di atas fitrah.
Jadi kerusakan yang kita rasakan adalah lapisan yang menempel, bukan inti. Dosa, kebiasaan buruk, dan luka adalah debu di atas kaca. Kaca itu sendiri tetap bening di bawahnya.
Dan kalau kerusakan adalah lapisan, maka ia bisa dibersihkan. Itulah kenapa pintu taubat kepada Bari' selalu terbuka.
Beda Taubat dan Menyesal
Banyak orang terjebak di penyesalan tanpa ujung. Mereka menyesal, lalu merasa hina, lalu merasa gak layak diampuni, lalu makin jauh dari Allah.
Itu bukan taubat. Itu jebakan.
Taubat yang diajarkan dalam ayat Al-Baqarah tadi arahnya jelas: kembali kepada Bari'. Artinya kembali ke titik awal penciptaan, kepada desain yang Allah buat tanpa cacat.
Penyesalan melihat ke belakang: betapa buruknya aku.
Taubat melihat ke Allah: betapa luasnya ampunan Dzat yang menciptakanku bersih.
Keduanya dimulai dari rasa bersalah. Tapi yang satu membawa pulang, yang lain membawa tenggelam.
Al-Bari' dan Cara Kita Memandang Orang Lain
Nama ini juga mengubah cara kita melihat orang lain.
Orang yang kita anggap "rusak", anak nakal, teman yang jatuh ke maksiat, tetangga yang menyebalkan, mereka semua juga diciptakan oleh Al-Bari' dengan fitrah yang lurus.
Di pesantren, kami belajar bahwa gak ada santri yang "sudah gak bisa diperbaiki." Ada yang lapisannya tebal, dan butuh waktu lebih lama. Tapi fitrahnya tetap ada di bawah sana, menunggu dibangunkan.
Pandangan ini mengubah cara mendidik. Kita gak lagi mendidik untuk "memperbaiki barang rusak." Kita mendidik untuk membersihkan debu dari kaca yang sebenarnya bening.
Al-Bari' dalam Mendidik Anak
Anak yang sering dimarahi dengan label, "Kamu memang nakal," "Kamu memang pemalas," lama-lama akan percaya bahwa label itu adalah dirinya.
Mendidik dengan kesadaran Al-Bari' berarti memisahkan perilaku dari identitas. Perilakunya salah, itu harus dikoreksi. Tapi dirinya tetap ciptaan Allah yang fitrahnya baik.
Kalimat "Kamu anak baik, tapi yang kamu lakukan tadi itu salah" jauh lebih membangun daripada "Kamu memang anak nakal."
Cara Praktis Menghidupkan Al-Bari'
Pertama, ketika merasa diri rusak karena dosa, ingat bahwa itu lapisan, bukan inti. Lalu bertaubat, bukan tenggelam.
Kedua, ubah bahasa terhadap diri sendiri. Ganti "aku memang begini" dengan "aku sedang membersihkan ini."
Ketiga, pisahkan perilaku dan identitas ketika menegur anak atau orang lain.
Keempat, renungkan tubuh sendiri: detak jantung, napas, mata yang melihat. Semuanya bekerja tanpa kita suruh. Itu jejak Al-Bari'.
Penutup
Kita diciptakan oleh Dzat yang namanya berarti Yang Mengadakan tanpa Cacat.
Maka rasa "rusak" yang kita alami gak pernah jadi kata terakhir. Ia hanya undangan untuk pulang.
Lapisan apa yang selama ini antum anggap sebagai jati diri, padahal hanya debu di atas fitrah?
Tulisan ini bagian dari seri Tadabbur Asmaul Husna: nama ke-12 dari 99.