Ada satu budaya yang kuat di zaman sekarang: kalau gak difoto, berarti gak terjadi.
Makan di restoran, difoto. Liburan, difoto. Berbagi sembako, difoto. Bahkan ibadah pun kadang difoto.
Ini gak selalu salah. Kadang dokumentasi perlu, misalnya untuk laporan lembaga atau memotivasi orang lain berbuat baik.
Tapi kalau kita jujur, ada satu motif tersembunyi di baliknya: keinginan untuk dilihat.
Dan ironisnya, di saat yang sama, ada banyak hal yang kita lakukan justru karena merasa gak dilihat.
Kedua sisi ini dijawab oleh satu nama: Al-Bashir.
Makna Al-Bashir
Al-Bashir berasal dari akar ب-ص-ر (b-sh-r), yang bermakna melihat dengan mata, dan juga memahami dengan mata hati. Dari akar ini lahir kata bashirah (pandangan batin, wawasan).
Al-Bashir adalah Allah yang melihat segala sesuatu, yang tampak maupun yang tersembunyi, yang besar maupun yang paling kecil, tanpa terhalang oleh gelap, jarak, atau dinding.
Para ulama sering memberi gambaran: Allah melihat seekor semut hitam yang merayap di atas batu hitam di malam yang gelap gulita. Gambaran ini untuk menegaskan bahwa gak ada yang tersembunyi dari penglihatan-Nya.
Seperti As-Sami', Al-Bashir disebut dalam ayat yang menegaskan ketidakserupaan Allah dengan makhluk:
فَاطِرُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۚ جَعَلَ لَكُم مِّنۡ أَنفُسِكُمۡ أَزۡوَٰجٗا وَمِنَ ٱلۡأَنۡعَٰمِ أَزۡوَٰجٗا يَذۡرَؤُكُمۡ فِيهِۚ لَيۡسَ كَمِثۡلِهِۦ شَيۡءٞۖ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡبَصِيرُ ١١
...Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.
Dua Penyakit yang Dijawab Satu Nama
Mari kita bongkar dua penyakit yang sangat umum.
Penyakit pertama: beramal supaya dilihat manusia. Dalam Islam ini disebut riya'. Rasulullah menyebutnya sebagai syirik kecil, dalam hadits riwayat Ahmad. Orang yang riya' sebenarnya sedang mengganti penonton. Seharusnya ia beramal untuk dilihat Allah, tapi ia memilih untuk dilihat manusia.
Penyakit kedua: bermaksiat saat gak dilihat manusia. Ini yang sering gak kita sadari. Kita menjaga sikap di depan orang, tapi lepas kendali saat sendirian. Di depan umum sopan, di dunia maya kasar. Di kantor jujur, saat gak ada yang mengawasi curang.
Perhatikan: kedua penyakit ini sebenarnya berakar dari masalah yang sama. Kita terlalu peduli pada mata manusia, dan terlalu lupa pada mata Allah.
Orang yang riya' lupa bahwa Allah sudah melihat amalnya, jadi ia mencari penonton lain.
Orang yang bermaksiat diam-diam lupa bahwa Allah melihatnya, jadi ia merasa aman saat manusia gak ada.
Al-Bashir menyembuhkan keduanya sekaligus.
Kenapa Masih Butuh Penonton?
Coba renungkan logika ini.
Kalau antum sedang melakukan sesuatu di depan orang yang paling antum hormati, raja, presiden, atau guru yang paling antum kagumi, apakah antum masih butuh penonton lain?
Gak. Karena perhatian dari orang terpenting sudah cukup.
Sekarang, kalau kita sadar bahwa Allah, Dzat yang paling agung, sedang melihat setiap amal kita, kenapa kita masih butuh likes, komentar, dan pujian dari manusia?
Kesadaran akan Al-Bashir membuat penonton manusia terasa kecil. Bukan karena kita meremehkan mereka, tapi karena kita sudah punya Penonton yang jauh lebih penting.
Inilah akar keikhlasan. Ikhlas bukan berarti gak ada yang melihat. Ikhlas berarti cukup dengan Yang melihat.
Al-Bashir dan Ihsan
Kita sudah menyebut hadits Jibril saat membahas Al-Muhaimin. Tapi ia sangat relevan di sini:
Ihsan adalah engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu. (HR. Bukhari dan Muslim)
Kata yaraka, Dia melihatmu, adalah inti dari mengenal Al-Bashir.
Orang yang hidup dengan kesadaran ini akan berbeda cara shalatnya. Ia gak terburu-buru, karena sadar sedang dilihat. Ia gak asal gerak, karena sadar Penontonnya Maha Melihat detail.
Ia juga berbeda cara bekerjanya. Pekerjaan yang gak dicek atasan tetap dikerjakan dengan baik. Karena bukan atasan yang ia takuti atau harapkan, tapi Al-Bashir.
Dilihat saat Gak Ada yang Melihat
Ada sisi Al-Bashir yang sangat menghibur.
Allah melihat perjuangan yang gak dilihat siapa pun.
Seorang ibu yang bangun malam berkali-kali untuk menyusui bayinya. Seorang ayah yang menahan lapar supaya anaknya bisa makan. Seorang santri yang mengulang hafalan diam-diam saat teman-temannya tidur. Seorang pekerja yang tetap jujur walau rekan-rekannya korupsi.
Mereka mungkin gak pernah dipuji. Gak pernah difoto. Gak pernah viral.
Tapi Al-Bashir melihat semuanya. Dan gak ada amal yang dilihat-Nya yang akan disia-siakan.
Kesadaran ini adalah obat bagi orang yang merasa gak dihargai. Manusia mungkin gak melihat, tapi Allah selalu melihat.
Al-Bashir dan Bashirah
Akar kata ب-ص-ر (b-sh-r) juga melahirkan kata bashirah, pandangan batin.
Allah berfirman: "...Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada." (QS. Al-Hajj: 46)
أَفَلَمۡ يَسِيرُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ فَتَكُونَ لَهُمۡ قُلُوبٞ يَعۡقِلُونَ بِهَآ أَوۡ ءَاذَانٞ يَسۡمَعُونَ بِهَاۖ فَإِنَّهَا لَا تَعۡمَى ٱلۡأَبۡصَٰرُ وَلَٰكِن تَعۡمَى ٱلۡقُلُوبُ ٱلَّتِي فِي ٱلصُّدُورِ ٤٦
Ada orang yang matanya sehat, tapi hatinya buta. Ia melihat tanda-tanda kebesaran Allah setiap hari, tapi gak memahaminya.
Mengenal Al-Bashir seharusnya membuat kita berdoa agar diberi bashirah: kemampuan melihat hakikat di balik yang tampak.
Al-Bashir dalam Mendidik Anak
Anak-anak sering berbuat baik supaya dipuji orang tua, dan berbuat salah saat orang tua gak melihat. Itu wajar di usia kecil.
Tugas pendidik adalah memindahkan "penonton" dari orang tua ke Allah, sedikit demi sedikit.
Caranya bukan dengan menakut-nakuti. Tapi dengan mengajak anak menyadari bahwa Allah melihat kebaikannya. "Ayah gak lihat kamu bantu adik tadi, tapi Allah lihat. Dan Allah senang."
Pujian yang mengaitkan amal dengan Al-Bashir akan menanamkan ikhlas sejak dini.
Cara Praktis Menghidupkan Al-Bashir
Pertama, sebelum membagikan amal baik di media sosial, tanyakan: apakah aku butuh penonton lain selain Al-Bashir?
Kedua, saat sendirian dan tergoda maksiat, ingat: Yaraka, Dia melihatmu.
Ketiga, lakukan satu amal rahasia setiap hari. Itu latihan cukup dengan satu Penonton.
Keempat, berdoalah agar diberi bashirah, pandangan hati yang mampu melihat hakikat.
Penutup
Kita sering beramal untuk dilihat, dan bermaksiat saat merasa gak dilihat.
Padahal ada satu Mata yang gak pernah berkedip, gak pernah tertutup, dan gak pernah salah lihat.
Maka kalau antum yakin Al-Bashir sedang melihat, penonton siapa lagi yang antum cari?
Tulisan ini bagian dari seri Tadabbur Asmaul Husna: nama ke-27 dari 99.