Semua orang pernah berdiri di depan pintu yang tertutup.
Lamaran kerja ditolak. Proposal bisnis gak dilirik. Pengajuan beasiswa gagal. Pinangan ditolak. Doa yang rasanya belum juga dijawab.
Rasanya seperti berdiri di lorong gelap, mengetuk pintu yang gak kunjung dibuka.
Pada momen seperti itu, kita sering fokus pada pintunya: kenapa pintu ini tertutup? apa yang salah denganku?
Tapi ada pertanyaan yang lebih penting: siapa yang memegang kuncinya?
Makna Al-Fattah
Kata fattah berasal dari akar ف-ت-ح (f-t-h), yang bermakna dasar membuka. Dari akar ini lahir kata miftah (kunci), fath (kemenangan atau pembukaan), dan Al-Fatihah (pembuka).
Al-Qur'an menyebut nama ini dalam konteks yang menarik:
قُلۡ يَجۡمَعُ بَيۡنَنَا رَبُّنَا ثُمَّ يَفۡتَحُ بَيۡنَنَا بِٱلۡحَقِّ وَهُوَ ٱلۡفَتَّاحُ ٱلۡعَلِيمُ ٢٦
Katakanlah: Tuhan kita akan mengumpulkan kita semua, kemudian Dia memberi keputusan di antara kita dengan benar. Dan Dialah Al-Fattah, Al-'Alim.
Di sini fattah bermakna pemberi keputusan, Yang membuka perkara yang tertutup sehingga jelas siapa yang benar. Karena dalam bahasa Arab, memutuskan perkara juga disebut fath, membuka yang tadinya kabur menjadi terang.
Maka para ulama menjelaskan Al-Fattah dalam dua lapis makna: Yang membuka pintu-pintu rahmat, rezeki, ilmu, dan jalan keluar, serta Yang memutuskan perkara di antara hamba-Nya dengan adil.
Dan perhatikan, nama ini disandingkan dengan Al-'Alim, Yang Maha Mengetahui. Allah membuka pintu bukan secara acak, tapi berdasarkan ilmu tentang pintu mana yang terbaik untuk dibuka.
Kunci Ada di Tangan Siapa?
Ada ayat yang sangat menenangkan tentang ini:
مَّا يَفۡتَحِ ٱللَّهُ لِلنَّاسِ مِن رَّحۡمَةٖ فَلَا مُمۡسِكَ لَهَاۖ وَمَا يُمۡسِكۡ فَلَا مُرۡسِلَ لَهُۥ مِنۢ بَعۡدِهِۦۚ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡحَكِيمُ ٢
Apa saja rahmat yang Allah bukakan untuk manusia, maka tidak ada yang dapat menahannya. Dan apa saja yang ditahan-Nya, maka tidak ada yang sanggup melepaskannya sesudah itu.
Kata yang dipakai untuk "membukakan" di sini adalah yaftah, dari akar yang sama dengan Al-Fattah.
Logikanya jelas.
Premis pertama: semua pintu kebaikan dipegang kuncinya oleh Allah.
Premis kedua: kalau Allah membuka, gak ada makhluk yang bisa menutupnya.
Premis ketiga: kalau Allah menahan, gak ada makhluk yang bisa membukanya.
Kesimpulan: bergantung pada makhluk untuk membuka pintu adalah salah alamat. Makhluk hanya perantara, bukan pemegang kunci.
HRD yang menolak lamaran antum bukan pemegang kunci rezeki antum. Investor yang menolak proposal bukan pemegang kunci keberhasilan antum. Mereka hanya pintu. Dan Pemegang kuncinya punya banyak pintu lain.
Pintu yang Tertutup Juga Pembukaan
Ini bagian yang paling sulit diterima, tapi paling membebaskan.
Kadang Allah menutup satu pintu justru sebagai bentuk fath.
Bayangkan antum sedang berjalan menuju jurang tanpa sadar. Lalu ada pintu yang tiba-tiba terkunci di depan antum. Antum kesal, mengetuk-ngetuk, bahkan menendang pintunya.
Baru bertahun-tahun kemudian antum tahu bahwa di balik pintu itu ada jurang.
Banyak orang yang, setelah waktu berlalu, bersyukur atas pintu yang dulu tertutup. Pekerjaan yang gagal didapat ternyata perusahaannya bangkrut. Pinangan yang ditolak ternyata membuka jalan pada pasangan yang jauh lebih cocok.
Karena Al-Fattah bersanding dengan Al-'Alim, maka pintu yang Dia tutup juga berdasarkan ilmu. Kita hanya melihat pintunya. Dia melihat apa yang ada di baliknya.
Kunci-Kunci yang Allah Ajarkan
Kalau Allah yang memegang kunci, apakah kita hanya menunggu?
Gak. Al-Qur'an dan Sunnah mengajarkan beberapa "kunci" yang, atas izin Allah, menjadi sebab terbukanya pintu.
Takwa. Allah berfirman bahwa siapa yang bertakwa, Allah akan menjadikan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang gak disangka (QS. Ath-Thalaq: 2–3).
Istighfar. Seperti yang diajarkan Nabi Nuh kepada kaumnya (QS. Nuh: 10–12).
Syukur. Allah menjanjikan tambahan nikmat bagi yang bersyukur (QS. Ibrahim: 7).
Doa. Karena doa adalah mengetuk langsung kepada Pemegang kunci.
Kunci-kunci ini bukan rumus ajaib yang pasti langsung berhasil. Tapi ia adalah jalan yang Allah sendiri tunjukkan. Dan membuka pintu tetap hak prerogatif Al-Fattah, kapan dan pintu mana.
Al-Fattah dan Ilmu
Ada satu pintu yang sering kita lupakan: pintu pemahaman.
Pernahkah antum membaca sebuah ayat berkali-kali, lalu suatu hari tiba-tiba maknanya "terbuka" dengan cara yang belum pernah antum rasakan?
Itu fath juga.
Para penuntut ilmu dahulu sering berdoa agar Allah membukakan pemahaman kepada mereka. Karena mereka sadar, kecerdasan saja gak cukup. Ada pintu pemahaman yang hanya bisa dibuka oleh Al-Fattah.
Di pesantren, kami sering melihat santri yang biasa-biasa saja tiba-tiba "terbuka" pemahamannya setelah masa perjuangan panjang. Bukan karena metode baru, tapi karena kesungguhan dan doa yang akhirnya dijawab.
Al-Fattah dalam Mendidik Anak
Orang tua sering ingin membuka semua pintu untuk anak: les terbaik, sekolah terbaik, fasilitas terbaik.
Semua itu ikhtiar yang baik. Tapi jangan lupa, pintu hati anak gak bisa dibuka dengan fasilitas. Hidayah, kecintaan pada ilmu, kelembutan hati, semuanya pintu yang kuncinya dipegang Al-Fattah.
Maka selain ikhtiar, orang tua perlu banyak mengetuk pintu langit untuk anak-anaknya. Doa orang tua adalah salah satu kunci yang paling sering diremehkan.
Cara Praktis Menghidupkan Al-Fattah
Pertama, saat menghadapi pintu yang tertutup, ganti pertanyaan "kenapa aku gagal?" dengan "pintu mana yang sedang Allah siapkan?"
Kedua, periksa kunci-kunci yang Allah ajarkan: takwa, istighfar, syukur, doa. Mana yang paling sering antum lupakan?
Ketiga, sebelum belajar atau membaca Al-Qur'an, mintalah kepada Al-Fattah untuk membuka pemahaman.
Keempat, catat satu pintu tertutup di masa lalu yang sekarang antum syukuri. Itu bukti bahwa Al-Fattah bekerja dengan ilmu.
Penutup
Pintu yang tertutup bukan akhir cerita. Ia hanya tanda bahwa jalan antum bukan lewat situ.
Pemegang kunci segala pintu masih ada, dan Dia tahu pintu mana yang terbaik untuk dibuka.
Maka pintu mana yang selama ini antum ketuk sambil lupa bertanya kepada Pemegang kuncinya?
Tulisan ini bagian dari seri Tadabbur Asmaul Husna: nama ke-18 dari 99.