Ada satu jenis orang yang paling sulit dijangkau dakwah.
Bukan orang yang sombong. Bukan orang yang membenci agama.
Tapi orang yang merasa dirinya sudah terlalu jauh.
"Dosaku terlalu banyak." "Aku sudah terlalu kotor." "Allah gak mungkin mau menerimaku lagi."
Orang seperti ini sering sebenarnya ingin kembali. Tapi mereka merasa pintunya sudah tertutup. Maka mereka berhenti mencoba.
Untuk orang-orang seperti inilah, Allah menurunkan satu ayat yang oleh banyak ulama disebut sebagai salah satu ayat yang paling penuh harapan dalam Al-Qur'an. Dan ayat itu ditutup dengan nama Al-Ghafur.
Ayat untuk yang Sudah Melampaui Batas
۞ قُلۡ يَٰعِبَادِيَ ٱلَّذِينَ أَسۡرَفُواْ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ لَا تَقۡنَطُواْ مِن رَّحۡمَةِ ٱللَّهِۚ إِنَّ ٱللَّهَ يَغۡفِرُ ٱلذُّنُوبَ جَمِيعًاۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلۡغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ ٥٣
Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Al-Ghafur, Ar-Rahim.
Coba perhatikan detail-detail ayat ini.
Pertama, Allah memanggil mereka dengan ya 'ibadi, wahai hamba-hamba-Ku. Padahal mereka sudah melampaui batas. Allah tetap menyebut mereka sebagai hamba-Nya, bukan sebagai orang asing.
Kedua, Allah menyebut kondisi mereka dengan jujur: asrafu 'ala anfusihim, melampaui batas terhadap diri sendiri. Gak disembunyikan, gak diperhalus.
Ketiga, perintahnya bukan "bertaubatlah dulu" tapi la taqnathu, jangan berputus asa. Seolah Allah tahu, masalah terbesar mereka bukan dosa, tapi keputusasaan.
Keempat, Allah menegaskan: yaghfirudz dzunuba jami'a, mengampuni dosa-dosa semuanya. Gak ada pengecualian untuk yang mau kembali.
Kelima, ayat ditutup dengan dua nama: Al-Ghafur dan Ar-Rahim.
Ghafur, Ghaffar, dan Ghafir
Kita sudah membahas Al-Ghaffar sebelumnya. Lalu apa bedanya dengan Al-Ghafur?
Ketiganya berasal dari akar yang sama, غ-ف-ر (gh-f-r), yang bermakna menutupi.
Para ulama menjelaskan bahwa Al-Ghaffar menekankan frekuensi: Allah mengampuni berulang-ulang, sebanyak apa pun hamba kembali.
Sedangkan Al-Ghafur, dengan wazan fa'ul, menekankan kesempurnaan dan keluasan: Allah mengampuni dosa sebesar apa pun, sampai tuntas.
Jadi kalau Al-Ghaffar menjawab orang yang berkata "aku sudah terlalu sering jatuh," maka Al-Ghafur menjawab orang yang berkata "dosaku terlalu besar."
Keduanya menutup semua celah alasan untuk berputus asa.
Kenapa Putus Asa Lebih Berbahaya dari Dosa?
Ini mungkin terdengar aneh. Tapi coba ikuti logikanya.
Dosa, sebesar apa pun, bisa diampuni selama pelakunya bertaubat. Pintunya masih terbuka.
Tapi putus asa menutup pintu itu dari dalam. Orang yang putus asa gak akan bertaubat, karena ia yakin taubatnya gak akan diterima. Akibatnya, dosanya gak pernah terhapus.
Maka putus asa adalah dosa yang mengunci dosa-dosa lain.
Al-Qur'an menyebut sikap putus asa dari rahmat Allah sebagai ciri orang-orang yang tersesat. Nabi Ibrahim berkata: "Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhannya, kecuali orang-orang yang sesat." (QS. Al-Hijr: 56). Dan Nabi Ya'qub berkata kepada anak-anaknya: "...Janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir." (QS. Yusuf: 87)
قَالَ وَمَن يَقۡنَطُ مِن رَّحۡمَةِ رَبِّهِۦٓ إِلَّا ٱلضَّآلُّونَ ٥٦
يَٰبَنِيَّ ٱذۡهَبُواْ فَتَحَسَّسُواْ مِن يُوسُفَ وَأَخِيهِ وَلَا تَاْيۡـَٔسُواْ مِن رَّوۡحِ ٱللَّهِۖ إِنَّهُۥ لَا يَاْيۡـَٔسُ مِن رَّوۡحِ ٱللَّهِ إِلَّا ٱلۡقَوۡمُ ٱلۡكَٰفِرُونَ ٨٧
Ini membalik asumsi banyak orang. Kita mengira merasa terlalu kotor untuk kembali adalah bentuk kerendahan hati. Padahal itu justru meremehkan luasnya ampunan Allah. Seolah dosa kita lebih besar dari ampunan-Nya.
Kisah Pembunuh Seratus Jiwa
Ada hadits yang sangat terkenal, diriwayatkan Bukhari dan Muslim, tentang seorang laki-laki dari umat terdahulu yang telah membunuh sembilan puluh sembilan orang.
Ia bertanya kepada seorang ahli ibadah, apakah masih ada taubat untuknya. Ahli ibadah itu menjawab gak ada. Maka laki-laki itu membunuhnya, genaplah seratus.
Lalu ia bertanya kepada seorang alim. Orang alim itu menjawab: "Ya, siapa yang bisa menghalangi antara dirimu dan taubat?" Lalu ia menyarankan laki-laki itu pergi ke sebuah negeri yang penduduknya beribadah kepada Allah, dan meninggalkan lingkungan lamanya.
Laki-laki itu berangkat. Di tengah perjalanan, ia meninggal. Malaikat rahmat dan malaikat azab berselisih tentang dirinya. Akhirnya diukur jaraknya, dan ternyata ia lebih dekat ke negeri tujuan. Maka malaikat rahmat yang membawanya.
Perhatikan dua pelajaran dari kisah ini.
Pertama, seratus nyawa pun gak menutup pintu Al-Ghafur, selama ada kesungguhan untuk kembali.
Kedua, perbedaan antara ahli ibadah dan orang alim. Yang satu memvonis tanpa ilmu dan menutup pintu. Yang satu berilmu dan membuka pintu. Kita perlu berhati-hati agar gak menjadi orang yang menutup pintu rahmat bagi orang lain.
Al-Ghafur dan Syirik
Tentu perlu disebutkan dengan jujur. Al-Qur'an menyebut satu dosa yang gak diampuni jika dibawa mati tanpa taubat, yaitu syirik (QS. An-Nisa': 48).
Tapi para ulama menjelaskan bahwa ayat Az-Zumar 53 berbicara tentang orang yang bertaubat. Dan bagi yang bertaubat, bahkan syirik pun diampuni. Buktinya, banyak sahabat Nabi yang dulunya menyembah berhala, lalu bertaubat dan menjadi orang-orang terbaik umat ini.
Jadi selama nyawa belum sampai di kerongkongan, pintu Al-Ghafur terbuka untuk dosa apa pun.
Al-Ghafur dalam Mendidik Anak
Anak-anak yang sering dimarahi dengan kalimat, "Kamu gak akan pernah berubah!" atau "Dosamu sudah terlalu banyak!" bisa tumbuh dengan keyakinan bahwa mereka memang gak layak diampuni.
Keyakinan itu terbawa sampai dewasa, dan menjadi penghalang mereka untuk kembali kepada Allah.
Orang tua yang mengenal Al-Ghafur akan selalu membuka pintu. Tegas pada kesalahan, tapi gak pernah menutup harapan. "Kamu salah, Nak. Tapi Allah Maha Pengampun, dan Ayah juga memaafkanmu. Ayo perbaiki."
Cara Praktis Menghidupkan Al-Ghafur
Pertama, hafalkan Az-Zumar ayat 53. Bacalah setiap kali merasa terlalu kotor untuk kembali.
Kedua, saat bisikan "percuma bertaubat" muncul, sadari bahwa itu bukan kerendahan hati. Itu jebakan.
Ketiga, tinggalkan "lingkungan lama" yang menyeret ke dosa, seperti pelajaran dari kisah pembunuh seratus jiwa.
Keempat, jangan pernah menutup pintu rahmat bagi orang lain. Jadilah orang alim dalam kisah itu, bukan ahli ibadah yang memvonis.
Penutup
Allah gak memanggil orang-orang saleh dalam ayat itu. Dia memanggil orang-orang yang sudah melampaui batas.
Dan Dia gak berkata "bertaubatlah dulu, baru Aku terima." Dia berkata: jangan berputus asa.
Maka kalau Allah saja belum menutup pintu-Nya, kenapa antum menutupnya sendiri?
Tulisan ini bagian dari seri Tadabbur Asmaul Husna: nama ke-34 dari 99.