Coba jujur sebentar.
Berapa banyak dosa yang antum lakukan kemarin? Minggu lalu? Tahun lalu?
Dan setelah semua dosa itu, apa yang terjadi? Pagi ini antum tetap bangun. Tetap bernapas. Tetap bisa makan. Tetap bisa membaca tulisan ini.
Pernahkah antum berpikir: kenapa Allah gak langsung menghukum?
Kalau seorang raja di dunia dihina rakyatnya, hukumannya bisa datang seketika. Tapi manusia bermaksiat kepada Raja segala raja setiap hari, dan matahari tetap terbit untuk mereka.
Jawabannya ada pada satu nama: Al-Halim.
Makna Al-Halim
Al-Halim berasal dari akar ح-ل-م (h-l-m), yang bermakna santun, gak tergesa-gesa dalam membalas, menahan diri meski mampu.
Kata ini berbeda dengan sabar. Sabar bisa terjadi karena gak mampu melawan. Tapi hilm adalah menahan diri padahal mampu membalas. Itu sebabnya hilm dianggap sebagai sifat yang sangat mulia dalam tradisi Arab.
Al-Halim adalah Allah yang gak tergesa-gesa menghukum hamba-Nya yang bermaksiat, padahal Dia Maha Mampu. Dia memberi waktu, memberi kesempatan, dan membuka pintu kembali.
Al-Qur'an menggambarkan sifat ini dengan sangat jelas:
وَلَوۡ يُؤَاخِذُ ٱللَّهُ ٱلنَّاسَ بِمَا كَسَبُواْ مَا تَرَكَ عَلَىٰ ظَهۡرِهَا مِن دَآبَّةٖ وَلَٰكِن يُؤَخِّرُهُمۡ إِلَىٰٓ أَجَلٖ مُّسَمّٗىۖ فَإِذَا جَآءَ أَجَلُهُمۡ فَإِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِعِبَادِهِۦ بَصِيرَۢا ٤٥
Dan kalau sekiranya Allah menghukum manusia disebabkan usahanya, niscaya Dia tidak akan meninggalkan di atas permukaan bumi suatu makhluk melata pun. Akan tetapi Allah menangguhkan (penyiksaan) mereka sampai waktu yang tertentu...
Coba bayangkan. Kalau setiap dosa langsung dihukum, gak akan ada satu makhluk pun yang tersisa di bumi.
Halim Bukan Lemah
Ada asumsi berbahaya yang perlu dibongkar.
Sebagian orang melihat penundaan hukuman lalu menyimpulkan: Allah gak peduli. Allah gak melihat. Atau Allah gak mampu.
Ini kesalahan fatal.
Coba perhatikan pasangan nama yang sering menyertai Al-Halim dalam Al-Qur'an. Kadang ia disandingkan dengan Al-Ghafur (Maha Pengampun), kadang dengan Al-'Alim (Maha Mengetahui), kadang dengan Al-Ghaniyy (Maha Kaya).
Al-Halim bersama Al-'Alim artinya: Allah menunda bukan karena gak tahu. Dia tahu persis setiap dosa. Tapi Dia memilih untuk santun.
Al-Halim bersama Al-Ghaniyy artinya: Allah menunda bukan karena butuh sesuatu dari kita. Dia gak rugi apa pun dengan maksiat kita. Kesantunan-Nya murni kemurahan.
۞ قَوۡلٞ مَّعۡرُوفٞ وَمَغۡفِرَةٌ خَيۡرٞ مِّن صَدَقَةٖ يَتۡبَعُهَآ أَذٗىۗ وَٱللَّهُ غَنِيٌّ حَلِيمٞ ٢٦٣
Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan. Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun.
Jadi hilm Allah adalah kekuatan yang memilih untuk menahan diri, bukan kelemahan yang gak bisa bertindak.
Bahaya Salah Membaca Kesantunan Allah
Ini bagian yang perlu direnungkan dengan serius.
Ada orang yang melihat kesantunan Allah sebagai izin. "Buktinya aku bermaksiat, tapi hidupku baik-baik saja. Berarti gak apa-apa."
Al-Qur'an memperingatkan pola pikir ini dengan tegas. Ada istilah yang disebut istidraj: Allah membiarkan orang yang bermaksiat terus mendapat kenikmatan, sampai mereka semakin jauh, lalu tiba-tiba diambil.
فَلَمَّا نَسُواْ مَا ذُكِّرُواْ بِهِۦ فَتَحۡنَا عَلَيۡهِمۡ أَبۡوَٰبَ كُلِّ شَيۡءٍ حَتَّىٰٓ إِذَا فَرِحُواْ بِمَآ أُوتُوٓاْ أَخَذۡنَٰهُم بَغۡتَةٗ فَإِذَا هُم مُّبۡلِسُونَ ٤٤
Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong...
Maka kesantunan Allah bukan tanda bahwa semuanya baik-baik saja. Ia adalah jendela kesempatan. Dan jendela itu gak terbuka selamanya.
Orang yang cerdas memanfaatkan jendela itu untuk kembali. Orang yang lalai memanfaatkannya untuk semakin jauh.
Kita Hidup Karena Kesantunan-Nya
Coba lihat dari sudut lain.
Setiap napas yang kita hirup setelah berbuat dosa adalah bukti hilm Allah. Setiap pagi yang kita dapatkan setelah malam penuh kelalaian adalah hadiah dari Al-Halim.
Kalau kita benar-benar menyadari ini, rasa syukur akan tumbuh dengan sendirinya. Dan rasa malu juga. Malu karena terus membalas kesantunan Allah dengan pembangkangan.
Hilm: Akhlak yang Dicintai
Kalau Allah Al-Halim, maka hamba yang meneladani-Nya adalah hamba yang santun, gak tergesa marah, dan menahan diri meski mampu membalas.
Rasulullah pernah memuji seorang sahabat bernama Asyaj Abdul Qais. Beliau bersabda, sebagaimana diriwayatkan Muslim: "Sesungguhnya dalam dirimu ada dua sifat yang dicintai Allah: al-hilm (santun) dan al-anah (tidak tergesa-gesa)."
Dua sifat ini sangat langka di zaman sekarang. Kita hidup di era reaksi instan. Ada berita, langsung komentar. Ada yang menyinggung, langsung membalas. Ada yang salah, langsung viral-kan.
Orang yang halim akan menahan diri dulu. Mencari tahu dulu. Menenangkan emosi dulu. Baru bertindak.
Al-Halim dalam Mendidik Anak
Orang tua mungkin adalah orang yang paling sering diuji kesantunannya.
Anak menumpahkan susu untuk ketiga kalinya. Anak membantah dengan nada tinggi. Anak melanggar aturan yang sudah disepakati.
Reaksi pertama biasanya marah. Dan kita punya kuasa untuk menghukum seketika.
Meneladani Al-Halim berarti menahan diri sebentar sebelum bereaksi. Bukan berarti gak ada konsekuensi. Tapi konsekuensi yang diberikan dengan kepala dingin jauh lebih mendidik daripada hukuman yang lahir dari emosi.
Anak yang dibesarkan oleh orang tua yang halim akan belajar bahwa kekuatan sejati bukan pada kemampuan membalas, tapi pada kemampuan menahan diri.
Cara Praktis Menghidupkan Al-Halim
Pertama, setiap pagi, sadari bahwa antum bangun karena kesantunan Allah. Syukuri, dan jangan sia-siakan jendela kesempatan itu.
Kedua, kalau ada dosa yang terus antum lakukan sambil merasa "aman," ingat konsep istidraj. Jangan salah membaca kesantunan Allah.
Ketiga, latih jeda sebelum bereaksi. Saat marah, tunggu beberapa detik. Kalau perlu, ubah posisi: dari berdiri ke duduk, sebagaimana dianjurkan dalam hadits riwayat Abu Dawud.
Keempat, maafkan satu kesalahan orang lain hari ini, padahal antum mampu membalasnya.
Penutup
Setiap hari kita diberi waktu. Setiap hari hukuman ditunda.
Bukan karena Allah gak tahu. Bukan karena Allah gak mampu. Tapi karena Dia Al-Halim.
Maka sampai kapan antum akan membalas kesantunan Allah dengan penundaan taubat?
Tulisan ini bagian dari seri Tadabbur Asmaul Husna: nama ke-32 dari 99.