September 29, 2026 | Asmaul Husna

Al-Jabbar: Allah yang Memperbaiki Hati yang Retak

Oleh M Salman Azhar
Al-Jabbar: Allah yang Memperbaiki Hati yang Retak

Kalau mendengar nama Al-Jabbar, apa yang terbayang di kepala antum?

Kebanyakan orang membayangkan sesuatu yang keras. Menakutkan. Allah yang memaksa kehendak-Nya dan gak bisa dilawan.

Itu gak salah. Tapi itu baru separuh cerita.

Separuh lainnya justru yang paling kita butuhkan di zaman ketika banyak orang merasa hatinya retak dan hidupnya patah di beberapa tempat.

Akar Kata yang Mengejutkan

Kata jabbar berasal dari akar ج-ب-ر (j-b-r). Dan akar ini punya makna yang mungkin gak antum duga.

Dalam bahasa Arab, jabara al-'azhm artinya menyambung tulang yang patah. Bidai atau pembalut untuk tulang patah disebut jabirah. Tukang urut patah tulang disebut mujabbir.

Jadi makna dasar j-b-r adalah memperbaiki sesuatu yang rusak, mengembalikan yang patah ke keadaan semula.

Dari situ para ulama menjelaskan beberapa makna Al-Jabbar. Di antaranya: Allah yang memperbaiki keadaan hamba-Nya yang hancur, Allah yang kehendak-Nya pasti terlaksana, dan Allah yang Maha Tinggi sehingga gak terjangkau oleh makhluk.

Nama ini disebut dalam rangkaian Al-Hasyr ayat 23, berdampingan dengan Al-'Aziz dan Al-Mutakabbir.

Lalu kenapa satu kata bisa bermakna "memaksa" sekaligus "memperbaiki"?

Logika di Balik Dua Makna

Coba pikirkan cara kerja dokter tulang.

Ketika tulang patah dan posisinya bergeser, dokter harus menarik dan memaksanya kembali ke posisi yang benar. Prosesnya sakit. Kadang pasien berteriak. Tapi tanpa paksaan itu, tulang akan menyambung dalam posisi bengkok seumur hidup.

Di sini dua makna j-b-r bertemu. Pemaksaan yang menyakitkan itu justru adalah proses penyembuhan.

Sekarang bawa logika ini ke hidup kita.

Kadang Allah "memaksa" kita keluar dari pekerjaan yang kita sukai. "Memaksa" kita berpisah dari seseorang. "Memaksa" kita jatuh sakit, gagal, atau kehilangan.

Rasanya seperti tulang yang ditarik paksa. Sakit sekali.

Tapi bagaimana kalau itu adalah proses jabr? Allah sedang mengembalikan sesuatu dalam hidup kita ke posisi yang seharusnya, yang kalau dibiarkan, akan menyambung dalam keadaan bengkok?

Doa di Antara Dua Sujud

Ada satu doa yang kita baca berkali-kali setiap hari, tapi mungkin jarang kita perhatikan.

Dalam duduk di antara dua sujud, menurut riwayat Tirmidzi dan Abu Dawud, Rasulullah berdoa dengan beberapa permohonan, di antaranya: warhamni, wajburni, wahdini, warzuqni...

Wajburni. Dari akar yang sama dengan Al-Jabbar.

Artinya: perbaikilah keadaanku, tambal kekuranganku, sambunglah yang patah dariku.

Bayangkan. Setiap rakaat, di posisi yang paling rendah setelah sujud, kita diajarkan meminta kepada Al-Jabbar untuk menyambung bagian diri kita yang patah.

Ini bukan kebetulan. Seolah Allah sedang berkata: Aku tahu kalian akan sering retak. Maka mintalah kepada-Ku untuk menyambungnya, lima kali sehari, berkali-kali.

Kita Hidup di Zaman Hati yang Retak

Hari ini banyak orang bicara soal luka batin, healing, dan inner child.

Istilah-istilah itu bisa jadi jembatan untuk memahami sebagian pengalaman manusia. Tapi ada satu asumsi yang perlu dibongkar: seolah-olah luka itu hanya bisa disembuhkan dengan menggali masa lalu terus-menerus, atau dengan mencintai diri sendiri lebih banyak.

Islam gak menolak bahwa manusia bisa terluka. Tapi Islam menawarkan titik sandar yang berbeda.

Kita bukan penyembuh utama bagi diri kita sendiri. Kita adalah pasien. Dan penyembuhnya adalah Al-Jabbar, Dzat yang namanya sendiri berarti Yang Menyambung yang Patah.

Ini gak berarti usaha pemulihan gak perlu. Konseling yang baik, istirahat, obat dari dokter, itu semua bagian dari ikhtiar. Tapi hati yang tahu kepada siapa ia bersandar akan pulih dengan cara yang berbeda: gak tergesa, gak putus asa, dan gak merasa sendirian.

Al-Jabbar dan Orang yang Dizalimi

Ada sisi lain dari nama ini yang juga penting.

Al-Jabbar juga berarti Allah yang kehendak-Nya gak bisa dihalangi. Tak ada tiran di dunia ini yang bisa lari dari kekuasaan-Nya.

Bagi orang yang dizalimi, ini kabar yang menenangkan. Orang yang merampas hak kita mungkin merasa aman hari ini. Tapi di atas setiap "jabbar kecil" di dunia, ada Al-Jabbar yang sebenarnya.

Sebaliknya, bagi kita yang sedang punya kuasa, entah sebagai atasan, orang tua, atau guru, nama ini adalah peringatan. Al-Qur'an beberapa kali memakai kata jabbar untuk manusia dalam konteks tercela, sifat orang yang sewenang-wenang. Sifat itu hanya layak bagi Allah. Pada manusia, ia berubah menjadi kezaliman.

Al-Jabbar dalam Mendidik

Guru dan orang tua sering berada di posisi yang mirip dokter tulang. Kadang harus memaksa anak melakukan sesuatu yang gak ia sukai: bangun shubuh, menghafal, meminta maaf, berhenti main game.

Pertanyaannya: pemaksaan kita itu jenis yang mana?

Apakah pemaksaan yang menyambung, yang tujuannya mengembalikan anak ke posisi yang lurus? Atau pemaksaan yang mematahkan, yang lahir dari emosi dan ego kita sendiri?

Pemaksaan yang menyambung punya ciri: ada kasih sayang di baliknya, ada penjelasan setelahnya, dan berhenti ketika tujuannya tercapai.

Pemaksaan yang mematahkan biasanya disertai hinaan, gak pernah dijelaskan, dan gak pernah selesai.

Cara Praktis Menghidupkan Al-Jabbar

Pertama, baca wajburni dengan sadar di setiap duduk antara dua sujud. Sebut dalam hati bagian hidup antum yang sedang patah.

Kedua, ketika sesuatu dalam hidup dipaksa berubah, jangan buru-buru menyimpulkan itu hukuman. Tanyakan: jangan-jangan ini proses menyambung sesuatu yang selama ini bengkok?

Ketiga, jadilah penyambung bagi orang lain. Hibur yang sedih, dengarkan yang kecewa, bantu yang jatuh. Menambal hati orang lain adalah cara meneladani makna Al-Jabbar dalam kapasitas manusia.

Keempat, periksa cara antum memakai kuasa. Pastikan paksaan yang antum lakukan adalah paksaan yang menyembuhkan.

Penutup

Kita sering takut pada nama Al-Jabbar karena mengira ia hanya bicara tentang paksaan.

Padahal di balik paksaan itu ada tangan yang sedang menyambung tulang kita yang patah.

Sakitnya nyata. Tapi yang menyambungnya adalah Dzat yang gak pernah salah menempatkan sesuatu.

Maka bagian hidup mana yang selama ini antum anggap hancur, padahal mungkin sedang disambung?


Tulisan ini bagian dari seri Tadabbur Asmaul Husna: nama ke-9 dari 99.

M Salman Azhar

Ditulis oleh

M Salman Azhar

Artikel Terkait