Pernah berada di dekat seseorang yang sangat antum hormati?
Mungkin seorang guru yang sangat alim. Mungkin seorang ulama sepuh yang wajahnya teduh. Mungkin seorang ayah yang sangat berwibawa.
Ada perasaan unik saat berada di dekat mereka. Antum merasa segan, gak berani bicara sembarangan, gak berani bercanda berlebihan. Tapi di saat yang sama, antum merasa ingin terus berada di dekat mereka.
Segan tapi rindu. Takut tapi cinta.
Perasaan campuran itu adalah bayangan kecil dari apa yang seharusnya kita rasakan terhadap Al-Jalil.
Makna Al-Jalil
Al-Jalil berasal dari akar ج-ل-ل (j-l-l), yang bermakna agung, mulia, besar kedudukannya. Dari akar ini lahir kata jalal (keagungan) dan ijlal (pengagungan).
Para ulama menjelaskan bahwa Al-Jalil adalah Allah yang memiliki sifat-sifat keagungan secara sempurna: kekuasaan, kemuliaan, kesucian, ilmu, dan kekayaan yang gak terbatas.
Perlu dicatat dengan jujur: nama Al-Jalil dalam bentuk ini termasuk dalam daftar masyhur riwayat Tirmidzi. Dalam Al-Qur'an, makna yang sama muncul dalam ungkapan Dzul Jalal, Pemilik Keagungan:
وَيَبۡقَىٰ وَجۡهُ رَبِّكَ ذُو ٱلۡجَلَٰلِ وَٱلۡإِكۡرَامِ ٢٧
Dan tetap kekal Wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran (dzul jalal) dan kemuliaan.
Beda Jalal dan Jamal
Para ulama sering membagi sifat-sifat Allah ke dalam dua kelompok besar: sifat jalal dan sifat jamal.
Sifat jalal adalah sifat-sifat keagungan dan kebesaran: Al-'Aziz, Al-Jabbar, Al-Qahhar, Al-Mutakabbir. Sifat-sifat ini melahirkan rasa segan dan takut (haibah dan khauf).
Sifat jamal adalah sifat-sifat keindahan dan kelembutan: Ar-Rahman, Ar-Rahim, Al-Lathif, Al-Wadud. Sifat-sifat ini melahirkan rasa cinta dan harap (mahabbah dan raja').
Menariknya, sebagian ulama menjelaskan bahwa Al-Jalil mencakup keduanya. Keagungan Allah bukan keagungan yang dingin dan menakutkan saja, tapi keagungan yang juga indah dan menarik hati.
Ini seperti pemandangan gunung yang sangat tinggi. Kita merasa kecil dan segan di hadapannya. Tapi di saat yang sama, kita terpesona oleh keindahannya dan ingin terus memandangnya.
Kenapa Harus Takut dan Cinta Sekaligus?
Ada analogi yang sering dipakai para ulama: seorang mukmin seperti burung yang terbang dengan dua sayap. Satu sayap adalah khauf (takut), sayap lainnya adalah raja' (harap). Dan ada juga yang menambahkan: kepalanya adalah mahabbah (cinta).
Kalau hanya ada takut tanpa harap, burung itu jatuh ke jurang keputusasaan. Ia merasa gak mungkin diampuni, lalu berhenti beribadah.
Kalau hanya ada harap tanpa takut, burung itu terbang tanpa arah. Ia merasa pasti diampuni, lalu meremehkan dosa.
Keseimbangan keduanya hanya bisa lahir dari mengenal Allah secara utuh, termasuk mengenal-Nya sebagai Al-Jalil. Keagungan yang membuat kita malu bermaksiat, dan keindahan yang membuat kita rindu mendekat.
Allah sendiri menggambarkan orang-orang beriman seperti ini:
تَتَجَافَىٰ جُنُوبُهُمۡ عَنِ ٱلۡمَضَاجِعِ يَدۡعُونَ رَبَّهُمۡ خَوۡفٗا وَطَمَعٗا وَمِمَّا رَزَقۡنَٰهُمۡ يُنفِقُونَ ١٦
...Mereka berdoa kepada Tuhannya dengan rasa takut dan harap...
Kehilangan Rasa Segan
Coba perhatikan cara kita beribadah hari ini.
Shalat sambil memikirkan pekerjaan. Membaca Al-Qur'an sambil melirik notifikasi. Berdoa dengan kata-kata yang diulang tanpa makna. Masuk masjid seperti masuk mall.
Salah satu penyebabnya mungkin adalah hilangnya rasa segan kepada Allah.
Kita mengenal Allah sebagai Yang Maha Pengasih, dan itu benar. Tapi kalau kita hanya mengenal sisi itu, lama-lama kita memperlakukan Allah seperti teman yang bisa disapa kapan saja dengan sikap apa saja.
Padahal kalau kita akan bertemu presiden, kita menyiapkan pakaian terbaik, datang tepat waktu, dan berbicara dengan hati-hati. Bagaimana dengan pertemuan dengan Raja segala raja lima kali sehari?
Mengenal Al-Jalil mengembalikan rasa segan itu. Bukan segan yang membuat kita menjauh, tapi segan yang membuat kita menjaga adab.
Adab di Hadapan Al-Jalil
Para ulama zaman dahulu dikenal sangat menjaga adab dalam ibadah.
Mereka mempersiapkan diri sebelum shalat. Mereka menjaga pandangan saat di masjid. Mereka gak berbicara hal-hal duniawi saat membaca Al-Qur'an. Sebagian dari mereka bahkan dikisahkan wajahnya berubah pucat ketika waktu shalat tiba, karena sadar akan menghadap Dzat yang Maha Agung.
Kita mungkin belum sampai ke tingkat itu. Tapi kita bisa mulai dari hal kecil: berwudhu dengan tenang, memakai pakaian terbaik untuk shalat, mematikan HP sebelum takbir, dan mengambil jeda sebentar sebelum mulai untuk menyadari kepada siapa kita akan menghadap.
Al-Jalil dalam Mendidik Anak
Anak-anak perlu mengenal Allah dari dua sisi. Allah yang Maha Penyayang, dan Allah yang Maha Agung.
Kalau anak hanya dikenalkan pada Allah yang menakutkan, ia akan beribadah karena takut dihukum, dan meninggalkannya begitu merasa aman.
Kalau anak hanya dikenalkan pada Allah yang penyayang, ia bisa tumbuh tanpa rasa segan, dan meremehkan perintah-Nya.
Keseimbangan itu bisa diajarkan lewat adab. Ajarkan anak adab di masjid, adab saat membaca Al-Qur'an, adab saat berdoa. Adab adalah bahasa tubuh dari rasa segan. Dan rasa segan yang dilatih sejak kecil akan tumbuh menjadi pengagungan yang tulus.
Cara Praktis Menghidupkan Al-Jalil
Pertama, sebelum shalat, ambil jeda sepuluh detik. Sadari bahwa antum akan menghadap Al-Jalil.
Kedua, perbaiki satu adab dalam ibadah minggu ini: pakaian, ketenangan, atau fokus.
Ketiga, seimbangkan bacaan tentang rahmat Allah dengan bacaan tentang keagungan-Nya. Jangan hanya satu sisi.
Keempat, ajarkan anak adab-adab ibadah sebagai ekspresi rasa hormat kepada Allah.
Penutup
Keagungan manusia membuat kita menjauh. Tapi keagungan Al-Jalil justru membuat kita malu sekaligus rindu.
Malu karena sadar betapa kecilnya kita. Rindu karena sadar betapa indahnya Dia.
Maka dalam ibadah antum hari ini, lebih banyak mana: rasa segan, rasa rindu, atau justru gak ada keduanya?
Tulisan ini bagian dari seri Tadabbur Asmaul Husna: nama ke-41 dari 99.