October 05, 2026 | Asmaul Husna

Al-Khafidh: Ketika Allah Merendahkan yang Merasa Tinggi

Oleh M Salman Azhar
Al-Khafidh: Ketika Allah Merendahkan yang Merasa Tinggi

Di era media sosial, ada fenomena yang sering kita saksikan.

Seseorang tiba-tiba viral dan dipuja. Pengikutnya jutaan. Undangan datang dari mana-mana. Namanya disebut di mana-mana.

Beberapa bulan kemudian, satu video lama muncul, satu ucapan terekam, satu kesalahan terbongkar. Dalam hitungan hari, ia jatuh. Dihujat, ditinggalkan, dilupakan.

Kita menyebutnya cancel culture. Tapi sebenarnya fenomena naik-turunnya kedudukan manusia sudah dijelaskan jauh sebelumnya, lewat pasangan nama Allah: Al-Khafidh dan Ar-Rafi'.

Makna Al-Khafidh

Kata khafidh berasal dari akar خ-ف-ض (kh-f-dh), yang bermakna merendahkan, menurunkan. Dalam bahasa Arab, suara yang dipelankan disebut khafdh ash-shaut. Sayap yang direndahkan disebut khafdh al-janah.

Al-Khafidh adalah Allah yang merendahkan siapa yang Dia kehendaki, terutama orang-orang yang menyombongkan diri dan menentang kebenaran.

Perlu dicatat dengan jujur: nama Al-Khafidh gak disebut dalam bentuk isim secara langsung di Al-Qur'an. Nama ini termasuk dalam daftar 99 nama yang masyhur dari riwayat Tirmidzi, dan para ulama berbeda pendapat tentang status daftar tersebut. Tapi maknanya, bahwa Allah merendahkan dan meninggikan, sangat jelas dalam Al-Qur'an dan hadits.

Seperti Al-Qabidh dan Al-Basith, nama ini sebaiknya dipahami berpasangan dengan Ar-Rafi', Yang Meninggikan.

Hari yang Membalik Segalanya

Ada satu ayat yang menggambarkan makna ini dengan sangat kuat. Tentang hari kiamat, Allah berfirman:

إِذَا وَقَعَتِ ٱلۡوَاقِعَةُ ١ لَيۡسَ لِوَقۡعَتِهَا كَاذِبَةٌ ٢ خَافِضَةٞ رَّافِعَةٌ ٣

QS. Al-Waaqia: 1-3

Apabila terjadi hari kiamat, tidak seorang pun dapat berdusta tentang kejadiannya. (Kejadian itu) merendahkan (khafidhah) dan meninggikan (rafi'ah).

Hari kiamat disebut sebagai hari yang merendahkan dan meninggikan.

Para mufassir menjelaskan bahwa di hari itu, banyak orang yang di dunia dianggap tinggi akan direndahkan, dan banyak orang yang di dunia dianggap rendah akan ditinggikan.

Bayangkan. Pejabat yang dulu disanjung, pengusaha yang dulu dihormati, selebritas yang dulu dipuja, sebagian dari mereka akan berada di posisi paling rendah. Sementara buruh yang jujur, ibu rumah tangga yang sabar, guru ngaji di kampung yang gak dikenal siapa pun, sebagian dari mereka akan berada di posisi paling tinggi.

Hari kiamat adalah hari koreksi peringkat terbesar dalam sejarah.

Standar yang Berbeda

Kenapa bisa terjadi pembalikan sebesar itu?

Karena standar yang dipakai berbeda.

Di dunia, kita menilai kedudukan seseorang dari jabatan, harta, popularitas, dan pengaruh.

Di sisi Allah, standarnya satu:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقۡنَٰكُم مِّن ذَكَرٖ وَأُنثَىٰ وَجَعَلۡنَٰكُمۡ شُعُوبٗا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓاْۚ إِنَّ أَكۡرَمَكُمۡ عِندَ ٱللَّهِ أَتۡقَىٰكُمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٞ ١٣

QS. Al-Hujuraat: 13

...Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa...

Maka seseorang bisa sangat tinggi menurut standar dunia, tapi sangat rendah menurut standar Allah. Dan sebaliknya.

Pertanyaan yang perlu kita ajukan: selama ini aku sibuk mengejar ketinggian menurut standar siapa?

Siapa yang Direndahkan?

Al-Qur'an dan hadits menunjukkan beberapa pola orang yang direndahkan Allah.

Yang sombong. Iblis direndahkan karena menolak sujud dengan alasan merasa lebih baik. Allah berfirman kepadanya: "Turunlah kamu dari surga itu, karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina." (QS. Al-A'raf: 13)

قَالَ فَٱهۡبِطۡ مِنۡهَا فَمَا يَكُونُ لَكَ أَن تَتَكَبَّرَ فِيهَا فَٱخۡرُجۡ إِنَّكَ مِنَ ٱلصَّٰغِرِينَ ١٣

QS. Al-A'raaf: 13

Yang meninggalkan Al-Qur'an. Dalam hadits riwayat Muslim, Umar bin Khattab menyampaikan sabda Rasulullah: "Sesungguhnya Allah mengangkat dengan kitab ini beberapa kaum dan merendahkan dengannya kaum yang lain."

Kitab yang sama. Ada yang diangkat karenanya, ada yang direndahkan karenanya. Bedanya bukan pada kitabnya, tapi pada sikap terhadap kitab itu.

Yang menzalimi. Banyak kisah dalam Al-Qur'an tentang penguasa zalim yang direndahkan: Fir'aun ditenggelamkan, Qarun ditelan bumi bersama hartanya.

Direndahkan Manusia vs Direndahkan Allah

Ini perbedaan yang sangat penting.

Banyak orang takut direndahkan manusia. Takut dihina, diremehkan, gak dianggap. Ketakutan itu bisa mendorong orang melakukan apa saja: berbohong, menjilat, mengorbankan prinsip.

Tapi direndahkan manusia gak selalu berarti direndahkan Allah. Para nabi sering direndahkan kaumnya. Nabi Nuh diejek saat membuat kapal. Rasulullah dilempari batu di Thaif.

Sebaliknya, dipuji manusia gak selalu berarti ditinggikan Allah.

Yang perlu kita takuti adalah direndahkan oleh Al-Khafidh. Karena kalau Allah yang merendahkan, gak ada yang bisa mengangkat.

Merendahkan Diri Sebelum Direndahkan

Ada paradoks indah dalam ajaran Islam.

Orang yang merendahkan dirinya di hadapan Allah justru ditinggikan. Rasulullah bersabda dalam hadits riwayat Muslim: "Tidaklah seseorang bertawadhu' karena Allah, melainkan Allah akan mengangkatnya."

Maka ada dua jalan untuk menjadi rendah:

Pertama, merendahkan diri sendiri dengan sukarela di hadapan Allah dan sesama. Ini jalan tawadhu', dan ujungnya ditinggikan.

Kedua, direndahkan secara paksa oleh Al-Khafidh karena kesombongan. Ini jalan kehinaan.

Setiap sujud dalam shalat adalah latihan memilih jalan pertama. Kita meletakkan bagian tubuh paling mulia, wajah, di tempat paling rendah, tanah. Secara sukarela.

Al-Khafidh dalam Mendidik Anak

Anak-anak perlu belajar sejak dini bahwa kedudukan di dunia bisa naik dan turun, dan yang menentukan adalah Allah.

Juara kelas tahun ini bisa gak juara tahun depan. Ketua OSIS hari ini bisa dilupakan besok. Yang populer sekarang bisa dijauhi nanti.

Kalau anak menggantungkan harga dirinya pada kedudukan, ia akan hancur saat kedudukan itu hilang.

Ajarkan anak untuk menjadikan tawadhu' sebagai kebiasaan. Sapa satpam sekolah. Bantu teman yang gak populer. Minta maaf saat salah. Itulah cara membangun "ketinggian" yang gak bisa dirampas.

Cara Praktis Menghidupkan Al-Khafidh

Pertama, saat mendapat pujian atau jabatan, ingat Al-Waqi'ah ayat 3: ada hari yang merendahkan dan meninggikan.

Kedua, periksa hubungan antum dengan Al-Qur'an. Karena dengan kitab ini Allah mengangkat dan merendahkan.

Ketiga, lakukan satu tindakan tawadhu' setiap hari. Pilih dengan sadar jalan merendahkan diri sebelum direndahkan.

Keempat, jangan takut direndahkan manusia karena mempertahankan kebenaran. Yang perlu ditakuti hanya direndahkan Allah.

Penutup

Kedudukan di dunia seperti ombak. Naik, lalu turun. Yang hari ini di puncak, besok bisa di dasar.

Hanya satu kedudukan yang gak bisa dirampas: kedudukan di sisi Allah.

Maka kalau hari kiamat datang dan peringkat semua orang dikoreksi, di posisi mana antum akan berada?


Tulisan ini bagian dari seri Tadabbur Asmaul Husna: nama ke-22 dari 99.

M Salman Azhar

Ditulis oleh

M Salman Azhar

Artikel Terkait