Pernahkah antum mengalami sesuatu yang dulu terasa seperti bencana, tapi bertahun-tahun kemudian antum sadari justru itu awal dari kebaikan besar?
Gagal masuk kampus impian, lalu di kampus lain bertemu guru yang mengubah hidup. Dipecat dari pekerjaan, lalu terpaksa memulai usaha sendiri yang ternyata jauh lebih berkah. Kehilangan sesuatu yang dicintai, lalu menemukan kedekatan dengan Allah yang belum pernah dirasakan.
Saat mengalaminya, gak ada yang terlihat baik. Semua terasa gelap.
Tapi di balik semua itu, ada tangan yang bekerja dengan sangat halus. Tangan itu bernama Al-Lathif.
Makna Al-Lathif
Al-Lathif berasal dari akar ل-ط-ف (l-th-f), yang punya dua makna utama.
Makna pertama: halus, lembut, sangat tipis sehingga gak terlihat. Sesuatu yang lathif adalah sesuatu yang terlalu halus untuk ditangkap indera.
Makna kedua: berlaku lembut, penuh kebaikan kepada orang lain dengan cara yang gak disadari.
Para ulama menggabungkan kedua makna ini. Al-Lathif adalah Allah yang mengetahui hal-hal paling halus dan tersembunyi, lalu menyampaikan kebaikan kepada hamba-Nya melalui jalan-jalan yang halus, yang sering gak disadari oleh hamba itu sendiri.
Nama ini sering disandingkan dengan Al-Khabir, Yang Maha Mengetahui secara mendalam:
أَلَا يَعۡلَمُ مَنۡ خَلَقَ وَهُوَ ٱللَّطِيفُ ٱلۡخَبِيرُ ١٤
Apakah Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kalian rahasiakan), sedangkan Dia Al-Lathif, Al-Khabir?
Kisah yang Ditutup dengan Nama Ini
Kalau ada satu kisah dalam Al-Qur'an yang paling sempurna menggambarkan Al-Lathif, itu adalah kisah Nabi Yusuf.
Coba ikuti alurnya.
Yusuf kecil bermimpi melihat sebelas bintang, matahari, dan bulan bersujud kepadanya. Mimpi yang indah.
Lalu apa yang terjadi? Ia dilempar ke sumur oleh saudara-saudaranya sendiri.
Dari sumur, ia dijual sebagai budak dengan harga murah.
Sebagai budak, ia difitnah oleh istri pembesar Mesir.
Karena fitnah itu, ia dipenjara bertahun-tahun.
Di penjara, ia dilupakan oleh orang yang ia tolong.
Kalau kita berhenti di salah satu titik itu, cerita Yusuf terlihat seperti tragedi beruntun. Mimpi indah di awal terasa seperti lelucon kejam.
Tapi lihat apa yang terjadi selanjutnya. Justru karena ia di penjara, ia bertemu dengan pelayan raja. Justru karena ia bisa menafsirkan mimpi, ia dipanggil raja. Justru karena ia dikenal jujur setelah fitnah itu terbongkar, ia dipercaya menjadi bendahara Mesir. Dan justru karena posisi itu, ia bisa menyelamatkan keluarganya dari kelaparan.
Setiap musibah ternyata adalah anak tangga menuju terwujudnya mimpi itu.
Dan apa yang dikatakan Yusuf di akhir kisah, ketika seluruh keluarganya bersujud kepadanya?
وَرَفَعَ أَبَوَيۡهِ عَلَى ٱلۡعَرۡشِ وَخَرُّواْ لَهُۥ سُجَّدٗاۖ وَقَالَ يَٰٓأَبَتِ هَٰذَا تَأۡوِيلُ رُءۡيَٰيَ مِن قَبۡلُ قَدۡ جَعَلَهَا رَبِّي حَقّٗاۖ وَقَدۡ أَحۡسَنَ بِيٓ إِذۡ أَخۡرَجَنِي مِنَ ٱلسِّجۡنِ وَجَآءَ بِكُم مِّنَ ٱلۡبَدۡوِ مِنۢ بَعۡدِ أَن نَّزَغَ ٱلشَّيۡطَٰنُ بَيۡنِي وَبَيۡنَ إِخۡوَتِيٓۚ إِنَّ رَبِّي لَطِيفٞ لِّمَا يَشَآءُۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلۡعَلِيمُ ٱلۡحَكِيمُ ١٠٠
...Sesungguhnya Tuhanku Maha Lembut (lathif) terhadap apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.
Yusuf gak berkata "Tuhanku Maha Kuasa" atau "Tuhanku Maha Perkasa." Ia memilih Lathif. Karena ia sadar, kebaikan Allah sepanjang hidupnya datang dengan cara yang sangat halus, lewat jalan yang saat itu terasa sebagai musibah.
Kenapa Allah Gak Langsung Saja?
Pertanyaan wajar: kalau Allah ingin Yusuf jadi pembesar Mesir, kenapa gak langsung saja? Kenapa harus lewat sumur dan penjara?
Ini pertanyaan yang bagus, dan jawabannya membuka pemahaman tentang cara kerja Al-Lathif.
Kalau Yusuf langsung jadi pembesar tanpa melalui semua itu, apakah ia akan menjadi Yusuf yang sama? Yusuf yang sabar, yang memaafkan saudaranya, yang menjaga kehormatan di depan godaan, yang tetap berdakwah bahkan di penjara?
Karakter Yusuf dibentuk oleh jalan yang ia lalui. Sumur mengajarkannya tawakal. Perbudakan mengajarkannya rendah hati. Godaan mengajarkannya menjaga diri. Penjara mengajarkannya sabar.
Al-Lathif gak hanya mengantarkan Yusuf ke tujuan. Ia membentuk Yusuf agar layak menerima tujuan itu.
Kebaikan yang Tersembunyi di Hidup Kita
Sekarang, coba lihat hidup antum sendiri dengan kacamata Al-Lathif.
Berapa banyak kebaikan yang datang tanpa antum sadari?
Kecelakaan yang gak jadi terjadi karena antum terlambat berangkat. Penyakit yang gak menyerang karena sistem imun bekerja diam-diam. Orang jahat yang gak jadi mendekat karena sesuatu yang antum gak tahu. Doa ibu yang dikabulkan tanpa antum pernah tahu.
Al-Lathif bekerja di balik layar. Kebaikan-Nya sering gak ada tanda tangannya.
Maka kalau kita hanya menghitung nikmat yang terlihat, kita pasti merasa kurang. Padahal nikmat yang tersembunyi jauh lebih banyak.
Bersabar Sebelum Cerita Selesai
Pelajaran terbesar dari Al-Lathif adalah: jangan menilai cerita di tengah jalan.
Kita sering berada di "sumur" atau "penjara" hidup kita, lalu menyimpulkan bahwa Allah gak peduli. Padahal ceritanya belum selesai.
Mungkin antum sedang di bab sumur sekarang. Tapi Al-Lathif sudah menulis bab-bab selanjutnya. Dan cara Dia menyusun cerita selalu penuh kelembutan, meski saat ini terasa keras.
Al-Lathif dalam Mendidik Anak
Para pendidik yang baik meneladani Al-Lathif: mereka mendidik dengan cara yang halus.
Gak semua nasihat harus disampaikan dengan ceramah panjang. Kadang anak lebih tersentuh oleh contoh, oleh cerita, oleh perhatian kecil yang gak ia sangka.
Kami di pesantren sering melihat bahwa santri yang berubah bukan karena dimarahi paling keras, tapi karena merasakan kepedulian yang tulus dari ustadznya. Kadang cukup satu sapaan di saat ia merasa sendirian, atau satu kalimat penguatan setelah ia gagal.
Kelembutan yang halus sering lebih kuat daripada kekerasan yang keras.
Cara Praktis Menghidupkan Al-Lathif
Pertama, saat sedang di "sumur" hidup, ingat kisah Yusuf. Ceritanya belum selesai.
Kedua, tuliskan satu peristiwa masa lalu yang dulu terasa buruk tapi ternyata membawa kebaikan. Itu jejak Al-Lathif dalam hidup antum.
Ketiga, syukuri nikmat yang gak terlihat: kesehatan, keselamatan, bencana yang gak jadi terjadi.
Keempat, lakukan kebaikan halus kepada orang lain: bantuan tanpa nama, perhatian tanpa pamrih.
Penutup
Kebaikan Allah sering datang diam-diam. Tanpa pengumuman. Kadang lewat jalan yang saat itu terasa seperti musibah.
Nabi Yusuf baru bisa mengucapkan inna rabbi lathifun setelah melewati sumur dan penjara.
Maka di bab mana hidup antum sekarang, dan sudahkah antum percaya bahwa Al-Lathif sedang menyusun bab selanjutnya?
Tulisan ini bagian dari seri Tadabbur Asmaul Husna: nama ke-30 dari 99.