October 07, 2026 | Asmaul Husna

Al-Mudzill: Hina di Mata Siapa?

Oleh M Salman Azhar
Al-Mudzill: Hina di Mata Siapa?

Ada satu ketakutan yang diam-diam menguasai banyak keputusan kita: takut dipermalukan.

Takut terlihat bodoh di rapat, jadi gak berani bertanya. Takut dianggap kuno, jadi ikut arus. Takut dicap sok alim, jadi menyembunyikan ibadah. Takut dikritik netizen, jadi gak berani menyampaikan kebenaran.

Ketakutan ini wajar. Manusia memang makhluk sosial yang butuh diterima.

Tapi Al-Qur'an mengajak kita memeriksa ulang: kehinaan macam apa yang sebenarnya perlu ditakuti? Jawabannya ada di balik nama Al-Mudzill.

Makna Al-Mudzill

Al-Mudzill berasal dari akar ذ-ل-ل (dz-l-l), yang bermakna rendah, hina, tunduk. Al-Mudzill adalah Allah yang menghinakan siapa yang Dia kehendaki.

Nama ini disebut berpasangan dengan Al-Mu'izz, dari ayat yang sama:

قُلِ ٱللَّهُمَّ مَٰلِكَ ٱلۡمُلۡكِ تُؤۡتِي ٱلۡمُلۡكَ مَن تَشَآءُ وَتَنزِعُ ٱلۡمُلۡكَ مِمَّن تَشَآءُ وَتُعِزُّ مَن تَشَآءُ وَتُذِلُّ مَن تَشَآءُۖ بِيَدِكَ ٱلۡخَيۡرُۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٞ ٢٦

QS. Aal-i-Imraan: 26

...Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan (tudzillu) orang yang Engkau kehendaki...

Dan dengan jujur perlu dicatat: nama Al-Mudzill dalam bentuk isim berasal dari daftar masyhur riwayat Tirmidzi. Para ulama mengingatkan bahwa nama seperti ini sebaiknya gak disebut sendirian, melainkan bersama pasangannya. Allah memuliakan dan menghinakan, keduanya dengan hikmah dan keadilan, bukan dengan kesewenang-wenangan.

Allah gak menghinakan seseorang tanpa sebab. Kehinaan dari Allah selalu merupakan konsekuensi dari pilihan manusia sendiri.

Siapa yang Dihinakan?

Al-Qur'an cukup jelas menggambarkan pola orang-orang yang dihinakan.

Yang menentang Allah dan Rasul-Nya. "Sesungguhnya orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, mereka termasuk orang-orang yang sangat hina." (QS. Al-Mujadilah: 20)

إِنَّ ٱلَّذِينَ يُحَآدُّونَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥٓ أُوْلَٰٓئِكَ فِي ٱلۡأَذَلِّينَ ٢٠

QS. Al-Mujaadila: 20

Yang sombong. Kita sudah melihat bagaimana Iblis dihinakan karena menolak sujud dengan alasan merasa lebih baik (QS. Al-A'raf: 13).

Yang menukar kebenaran dengan dunia. Al-Qur'an menyebut sebagian Bani Israil ditimpa kehinaan karena berulang kali mengingkari ayat-ayat Allah dan melampaui batas (QS. Al-Baqarah: 61).

Perhatikan polanya. Kehinaan dari Allah hampir selalu terkait dengan kesombongan terhadap kebenaran. Orang yang merasa terlalu tinggi untuk tunduk kepada Allah, justru direndahkan serendah-rendahnya.

Kehinaan di Dunia yang Sering Gak Terlihat

Banyak orang membayangkan kehinaan sebagai sesuatu yang dramatis: dipermalukan di depan umum, dipenjara, jatuh miskin.

Tapi ada bentuk kehinaan yang lebih halus dan sering gak disadari.

Menjadi budak hawa nafsu. Orang yang gak bisa berhenti dari kecanduan, entah pornografi, judi online, atau belanja kompulsif, sebenarnya sedang hidup dalam kehinaan. Ia diperintah oleh sesuatu yang lebih rendah dari dirinya.

Menjadi budak pujian manusia. Orang yang hidupnya diatur oleh "apa kata orang" sebenarnya sedang menyerahkan kendali dirinya kepada orang lain.

Kehilangan rasa malu. Ada ungkapan dari hadits riwayat Bukhari: "Jika kamu tidak malu, berbuatlah sesukamu." Para ulama menjelaskan bahwa hilangnya rasa malu adalah tanda hati yang sudah jauh. Orang yang gak malu berbuat maksiat terang-terangan, sebenarnya sedang menghinakan dirinya sendiri.

Hasan Al-Bashri pernah menggambarkan hal ini dengan kalimat yang sering dikutip: meskipun para pelaku maksiat ditunggangi kendaraan mewah, kehinaan maksiat tetap melekat di wajah mereka. Allah enggan kecuali menghinakan orang yang bermaksiat kepada-Nya.

Hina di Mata Manusia ≠ Hina di Sisi Allah

Ini bagian terpenting.

Banyak orang yang dihinakan manusia, justru mulia di sisi Allah.

Bilal bin Rabah dihinakan sebagai budak dan disiksa di padang pasir. Tapi Rasulullah mendengar suara langkah kakinya di surga (HR. Bukhari dan Muslim).

Para nabi diejek dan diusir kaumnya. Tapi mereka adalah manusia paling mulia.

Sebaliknya, banyak orang yang dimuliakan manusia, justru hina di sisi Allah. Fir'aun dipuja sebagai tuhan oleh rakyatnya, tapi Allah menenggelamkannya dan menjadikan jasadnya pelajaran.

Maka ketakutan kita perlu ditata ulang.

Takut dihina manusia karena mempertahankan kebenaran? Itu ketakutan yang salah tempat.

Takut dihina Allah karena mengorbankan kebenaran? Itu ketakutan yang benar.

Tunduk Sukarela vs Dihinakan Paksa

Ada paradoks menarik dalam akar kata ذ-ل-ل (dz-l-l).

Kata yang sama juga dipakai untuk ketundukan yang terpuji. Allah memerintahkan kita untuk merendahkan diri kepada orang tua: "Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kasih sayang (janahadz dzulli minar rahmah)..." (QS. Al-Isra': 24)

وَٱخۡفِضۡ لَهُمَا جَنَاحَ ٱلذُّلِّ مِنَ ٱلرَّحۡمَةِ وَقُل رَّبِّ ٱرۡحَمۡهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرٗا ٢٤

QS. Al-Israa: 24

Dan Allah memuji orang-orang beriman yang adzillatin 'alal mu'minin, rendah hati terhadap sesama mukmin (QS. Al-Ma'idah: 54).

Jadi ada dua jenis "rendah":

Pertama, rendah sukarela karena kasih sayang dan ketundukan kepada Allah. Ini kemuliaan.

Kedua, rendah paksa karena kesombongan yang dihukum. Ini kehinaan.

Orang yang memilih merendahkan diri dengan sukarela di hadapan Allah, orang tua, dan sesama mukmin, sedang terlindungi dari kehinaan paksa dari Al-Mudzill.

Al-Mudzill dalam Mendidik Anak

Salah satu kesalahan besar dalam mendidik adalah mempermalukan anak sebagai hukuman. Memarahi di depan teman-temannya, membandingkan dengan saudaranya, menceritakan kesalahannya kepada orang lain.

Orang tua mungkin berpikir itu akan membuat anak jera. Tapi yang sering terjadi, anak kehilangan harga diri dan justru semakin sulit dibina.

Kita bukan Al-Mudzill. Kita gak punya hak menghinakan anak. Tugas kita adalah mendidik mereka agar terhindar dari kehinaan yang sebenarnya: kehinaan di sisi Allah.

Ajarkan anak dua jenis rendah hati yang terpuji: rendah hati kepada orang tua, dan rendah hati kepada sesama. Sambil ajarkan juga keberanian untuk gak tunduk kepada tekanan yang salah.

Cara Praktis Menghidupkan Al-Mudzill

Pertama, saat takut dipermalukan karena kebenaran, tanyakan: lebih takut hina di mata manusia atau di sisi Allah?

Kedua, periksa apakah ada kebiasaan yang membuat antum menjadi "budak": budak gadget, budak pujian, budak kebiasaan buruk. Mulai bebaskan diri.

Ketiga, pilih jalan rendah hati sukarela: kepada orang tua, kepada sesama, dan terutama kepada Allah dalam sujud.

Keempat, jangan pernah mempermalukan orang lain, terutama anak-anak. Kita gak punya hak atas itu.

Penutup

Kita sering takut pada kehinaan yang salah.

Kehinaan di mata manusia bisa berubah besok. Kehinaan di sisi Allah adalah yang sebenarnya perlu kita takuti.

Maka demi menghindari dipermalukan manusia, kebenaran apa yang pernah antum korbankan?


Tulisan ini bagian dari seri Tadabbur Asmaul Husna: nama ke-25 dari 99.

M Salman Azhar

Ditulis oleh

M Salman Azhar

Artikel Terkait