October 06, 2026 | Asmaul Husna

Al-Mu'izz: Kemuliaan Itu Diberikan, Bukan Dirampas

Oleh M Salman Azhar
Al-Mu'izz: Kemuliaan Itu Diberikan, Bukan Dirampas

Pernah dengar ungkapan, "Kalau gak begini, kita gak akan dihargai orang"?

Ungkapan ini sering jadi alasan untuk berbagai hal. Pamer kekayaan supaya dianggap sukses. Menjilat atasan supaya dianggap loyal. Ikut arus pergaulan yang salah supaya dianggap keren. Bahkan melepas identitas agama supaya diterima di lingkungan tertentu.

Semua demi satu hal: dimuliakan.

Tapi ada ironi yang jarang disadari. Cara-cara itu justru sering berujung pada kehinaan. Karena kemuliaan ternyata gak bisa dirampas. Ia hanya bisa diberikan, dan pemberinya bernama Al-Mu'izz.

Makna Al-Mu'izz

Al-Mu'izz berasal dari akar ع-ز-ز ('a-z-z), akar yang sama dengan Al-'Aziz. Kalau Al-'Aziz berarti Allah yang memiliki kemuliaan dan keperkasaan, maka Al-Mu'izz berarti Allah yang memberikan kemuliaan kepada siapa yang Dia kehendaki.

Nama ini bersanding dengan Al-Mudzill, Yang Menghinakan. Keduanya berasal dari satu ayat yang sangat terkenal:

قُلِ ٱللَّهُمَّ مَٰلِكَ ٱلۡمُلۡكِ تُؤۡتِي ٱلۡمُلۡكَ مَن تَشَآءُ وَتَنزِعُ ٱلۡمُلۡكَ مِمَّن تَشَآءُ وَتُعِزُّ مَن تَشَآءُ وَتُذِلُّ مَن تَشَآءُۖ بِيَدِكَ ٱلۡخَيۡرُۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٞ ٢٦

QS. Aal-i-Imraan: 26

Katakanlah: Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan (tu'izzu) orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan (tudzillu) orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebaikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Perhatikan kalimat bi yadikal khair, di tangan-Mu segala kebaikan. Bahkan ketika membicarakan pemberian dan pencabutan kemuliaan, ayat ini menegaskan bahwa semuanya adalah kebaikan dari sisi Allah, karena didasari hikmah.

Memuliakan vs Memiliki Kemuliaan

Ada perbedaan halus antara Al-'Aziz dan Al-Mu'izz yang layak direnungkan.

Al-'Aziz adalah sifat Allah sendiri. Allah mulia dan perkasa, tanpa butuh siapa pun.

Al-Mu'izz adalah tindakan Allah kepada makhluk. Allah membagikan kemuliaan-Nya kepada hamba yang Dia kehendaki.

Konsekuensinya penting. Kalau semua kemuliaan milik Allah (Al-'Aziz), dan hanya Allah yang membagikannya (Al-Mu'izz), maka kemuliaan yang didapat dengan melanggar aturan Allah pasti palsu.

Logikanya sederhana. Bagaimana mungkin seseorang mendapat hadiah dari pemberi hadiah, sambil melanggar aturan si pemberi?

Nasihat Umar yang Terkenal

Ada satu ucapan yang masyhur dinisbatkan kepada Umar bin Khattab ketika beliau datang ke Syam. Diriwayatkan oleh Al-Hakim dalam Al-Mustadrak, intinya: "Kita adalah kaum yang Allah muliakan dengan Islam. Maka kapan pun kita mencari kemuliaan dengan selain Islam, Allah akan menghinakan kita."

Konteksnya menarik. Umar datang dengan penampilan sangat sederhana, menuntun untanya sendiri melewati genangan air. Sahabatnya khawatir penduduk Syam akan meremehkan Khalifah karena penampilan seperti itu.

Tapi Umar paham betul sumber kemuliaannya. Bukan pada pakaian mewah atau kendaraan megah. Kemuliaannya dari Islam, dari Al-Mu'izz.

Kalimat itu relevan sekali untuk kita hari ini. Banyak yang merasa harus "mengurangi" identitas keislamannya supaya dianggap modern, terbuka, atau profesional. Mengira bahwa dengan begitu mereka akan lebih dihargai.

Tapi sejarah dan logika menunjukkan: kemuliaan yang dicari dengan melepas sumbernya, ujungnya adalah kehinaan.

Syarat Menerima Kemuliaan

Kalau kemuliaan adalah pemberian Al-Mu'izz, apa syarat untuk menerimanya?

Al-Qur'an memberi petunjuk dalam beberapa ayat.

Iman dan amal saleh. "Barangsiapa menghendaki kemuliaan, maka milik Allah-lah kemuliaan itu semuanya. Kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya." (QS. Fathir: 10). Ayat ini menyebut kemuliaan, lalu langsung menyebut perkataan yang baik dan amal saleh.

مَن كَانَ يُرِيدُ ٱلۡعِزَّةَ فَلِلَّهِ ٱلۡعِزَّةُ جَمِيعًاۚ إِلَيۡهِ يَصۡعَدُ ٱلۡكَلِمُ ٱلطَّيِّبُ وَٱلۡعَمَلُ ٱلصَّٰلِحُ يَرۡفَعُهُۥۚ وَٱلَّذِينَ يَمۡكُرُونَ ٱلسَّيِّـَٔاتِ لَهُمۡ عَذَابٞ شَدِيدٞۖ وَمَكۡرُ أُوْلَٰٓئِكَ هُوَ يَبُورُ ١٠

QS. Faatir: 10

Tawadhu' dan pemaaf. Seperti hadits yang menyebut bahwa Allah menambah kemuliaan orang yang pemaaf dan mengangkat orang yang tawadhu' (HR. Muslim).

Keteguhan pada kebenaran. Orang-orang yang tetap memegang prinsip meski ditekan, seperti para nabi dan orang-orang saleh, dimuliakan Allah meskipun awalnya terlihat kalah.

Kemuliaan yang Gak Terlihat

Kadang Al-Mu'izz memberikan kemuliaan yang gak terlihat oleh mata manusia.

Seorang ibu yang sabar merawat anaknya yang berkebutuhan khusus. Seorang anak muda yang menjaga kehormatannya di tengah pergaulan bebas. Seorang pedagang kecil yang tetap jujur walau tetangganya curang.

Mereka mungkin gak dihormati di dunia. Tapi di sisi Allah, mereka mungkin jauh lebih mulia daripada orang-orang yang dielu-elukan.

Kemuliaan dari Al-Mu'izz gak selalu datang dalam bentuk tepuk tangan. Kadang ia datang dalam bentuk ketenangan hati, kehormatan diri, dan kedudukan di akhirat.

Al-Mu'izz dalam Mendidik Anak

Remaja sangat rentan terhadap tekanan untuk "dihargai." Mereka rela melakukan banyak hal supaya diterima teman: ikut-ikutan tren, berbicara kasar, bahkan mencoba hal yang terlarang.

Orang tua dan pendidik perlu membantu mereka memahami: kemuliaan sejati datang dari Allah, bukan dari penerimaan teman.

Tapi ini gak cukup dengan ceramah. Anak perlu merasakan dimuliakan di rumah. Anak yang merasa dihargai di rumah, didengar pendapatnya, dan dihormati sebagai manusia, gak akan terlalu haus mencari penghargaan di luar dengan cara yang salah.

Rumah yang meneladani Al-Mu'izz adalah rumah yang memuliakan setiap penghuninya.

Cara Praktis Menghidupkan Al-Mu'izz

Pertama, baca Ali 'Imran ayat 26 dengan penuh kesadaran, terutama saat merasa diremehkan.

Kedua, perhatikan apakah ada identitas atau prinsip yang antum lepaskan demi diterima orang. Kembalikan.

Ketiga, muliakan orang di sekitar antum: pasangan, anak, bawahan, pelayan. Memuliakan orang lain adalah cara meneladani Al-Mu'izz.

Keempat, cari kemuliaan lewat jalan yang Allah ridhai: ilmu, amal, akhlak. Jalan lain hanya akan berujung kecewa.

Penutup

Kemuliaan bukan barang rampasan. Ia hadiah.

Dan hadiah hanya diberikan oleh pemiliknya, dengan cara yang disukai pemiliknya.

Maka selama ini antum mencari kemuliaan dengan cara yang disukai siapa?


Tulisan ini bagian dari seri Tadabbur Asmaul Husna: nama ke-24 dari 99.

M Salman Azhar

Ditulis oleh

M Salman Azhar

Artikel Terkait