Coba perhatikan berapa banyak hal di hidup kita yang dibangun untuk satu tujuan: merasa aman.
Asuransi kesehatan. Dana darurat. CCTV di depan rumah. Password dua lapis. Kunci ganda di pintu.
Semua itu gak salah. Tapi pertanyaannya: setelah semua itu terpasang, apakah antum benar-benar merasa aman?
Kebanyakan orang jujur akan menjawab: belum juga.
Selalu ada celah baru yang bikin cemas. Selalu ada skenario terburuk yang muncul jam dua pagi.
Jangan-jangan masalahnya bukan kurang proteksi. Jangan-jangan kita sedang mencari rasa aman dari alamat yang gak mampu memberikannya.
Satu Kata, Dua Pemakai
Ada hal menarik yang jarang kita sadari.
Kata mu'min kita pakai untuk menyebut orang beriman. Tapi Allah juga menyebut diri-Nya Al-Mu'min, dalam rangkaian nama di akhir Surat Al-Hasyr:
"Dialah Allah yang tiada Tuhan selain Dia, Al-Malik, Al-Quddus, As-Salam, Al-Mu'min, Al-Muhaimin..." (QS. Al-Hasyr: 23)
Kok bisa satu kata dipakai untuk hamba dan untuk Tuhannya?
Jawabannya ada di akar katanya. Kata mu'min berasal dari akar a-m-n, yang maknanya berputar di sekitar rasa aman, tenteram, dan terpercaya. Dari akar yang sama lahir kata amanah (titipan yang dipercayakan) dan iman.
Para ulama menjelaskan makna Al-Mu'min dalam beberapa lapis. Di antaranya: Allah yang memberi rasa aman kepada makhluk-Nya, dan Allah yang membenarkan janji-Nya serta membenarkan hamba-hamba-Nya yang jujur.
Maka ketika seorang hamba disebut mu'min, sebenarnya ada hubungan dua arah di sana. Hamba mempercayai Allah, dan Allah memberi rasa aman kepada hamba yang mempercayai-Nya.
Iman ternyata bukan sekadar percaya. Iman adalah transaksi rasa aman.
Logika Rasa Aman dalam Al-Qur'an
Perhatikan bagaimana Al-Qur'an mengaitkan iman dan rasa aman dalam satu ayat:
"Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman, mereka itulah yang mendapat rasa aman, dan mereka mendapat petunjuk." (QS. Al-An'am: 82)
Susunan logikanya kira-kira begini.
Premis pertama: rasa aman adalah kebutuhan dasar jiwa manusia.
Premis kedua: rasa aman hanya bisa bersandar pada sesuatu yang gak bisa runtuh.
Premis ketiga: semua yang ada di dunia bisa runtuh. Uang bisa habis, jabatan bisa dicopot, tubuh bisa sakit, orang bisa pergi.
Kesimpulannya: rasa aman yang bersandar pada dunia pasti rapuh. Rasa aman yang kokoh hanya bisa bersandar pada Dzat yang gak pernah runtuh.
Dan menariknya, ayat itu menambahkan syarat: tidak mencampuradukkan iman dengan kezaliman. Dalam hadits riwayat Bukhari, ketika para sahabat merasa berat dengan ayat ini, Rasulullah menjelaskan bahwa kezaliman yang dimaksud adalah syirik, lalu beliau menyebut ayat Luqman: "Sesungguhnya syirik adalah kezaliman yang besar."
Artinya, rasa aman runtuh bukan karena kurang proteksi. Rasa aman runtuh karena sandarannya dibagi dua.
Kenapa Asuransi Gak Pernah Cukup
Ana gak sedang bilang asuransi itu salah. Itu soal fiqih muamalah yang punya pembahasan sendiri.
Yang sedang kita bongkar adalah asumsi di baliknya.
Asumsinya berbunyi: kalau semua risiko sudah ditutup, aku akan tenang.
Masalahnya, risiko hidup itu gak terbatas. Antum bisa menutup risiko sakit, tapi bagaimana dengan risiko anak salah pergaulan? Risiko hati yang mengeras? Risiko meninggal dalam keadaan lalai?
Orang yang mencari rasa aman lewat menutup semua risiko akan capek sendiri. Karena daftarnya gak pernah habis.
Al-Mu'min menawarkan logika yang berbeda. Bukan tutup semua risiko dulu, baru tenang. Tapi: sandarkan dirimu pada Yang menguasai semua risiko, lalu lakukan ikhtiar yang wajar.
Ikhtiar tetap jalan. Tapi hati gak lagi bergantung pada ikhtiar itu.
Al-Mu'min Juga Berarti "Yang Membenarkan"
Lapis makna kedua ini sering terlewat.
Allah adalah Al-Mu'min dalam arti Dia membenarkan janji-Nya sendiri. Allah gak pernah ingkar janji. Kalau Allah bilang doa akan dijawab, maka dijawab. Kalau Allah bilang sesudah kesulitan ada kemudahan, maka itu pasti.
Coba bandingkan dengan manusia.
Kita sering kecewa bukan karena janji Allah gagal, tapi karena kita menaruh harapan pada janji manusia. Janji atasan soal promosi. Janji teman soal utang. Janji politisi soal perubahan.
Semakin banyak janji manusia yang kita jadikan sandaran, semakin besar peluang kita kecewa.
Orang yang mengenal Al-Mu'min akan menata ulang prioritas kepercayaannya. Janji manusia tetap dihargai, tapi gak dijadikan pondasi.
Dari Nama Allah ke Karakter Hamba
Kalau Allah adalah Al-Mu'min, apa konsekuensinya bagi kita?
Rasulullah pernah menjelaskan siapa mukmin sejati dalam sebuah hadits riwayat Tirmidzi dan Nasa'i: mukmin adalah orang yang manusia merasa aman darinya atas darah dan harta mereka.
Perhatikan. Definisi mukmin di sini bukan soal seberapa banyak ibadahnya. Tapi soal apakah orang lain merasa aman di dekatnya.
Ini pukulan telak buat kita.
Apakah istri merasa aman menceritakan kesalahannya kepada kita, atau takut dimarahi?
Apakah anak merasa aman jujur soal nilai jeleknya, atau lebih memilih berbohong?
Apakah rekan kerja merasa aman meninggalkan barangnya di meja kita?
Apakah orang lain aman dari jempol kita di media sosial?
Kalau jawabannya belum, mungkin gelar mukmin kita masih setengah jadi.
Al-Mu'min dalam Mendidik Anak
Banyak orang tua yang ingin anaknya berani, jujur, dan terbuka. Tapi lupa satu syarat: kejujuran hanya tumbuh di tempat yang aman.
Anak yang tiap kali jujur langsung dihukum akan belajar satu hal: jujur itu berbahaya. Lalu ia pintar menyembunyikan.
Di pesantren kami sering melihat pola ini. Santri yang paling sulit dibina biasanya bukan yang paling nakal, tapi yang paling gak percaya pada orang dewasa di sekitarnya.
Rumah yang mengenal Al-Mu'min adalah rumah yang memberi rasa aman lebih dulu, baru kemudian menuntut. Tegas tetap perlu. Konsekuensi tetap ada. Tapi anak tahu bahwa kejujurannya gak akan dibalas dengan penghinaan.
Cara Praktis Menghidupkan Al-Mu'min
Pertama, saat cemas, tanyakan: rasa amanku sedang bersandar pada apa? Tulis jawabannya kalau perlu. Seringkali kita kaget melihat daftarnya.
Kedua, jadikan dzikir pagi-petang sebagai "sistem keamanan" batin. Bukan pengganti ikhtiar, tapi pondasi sebelum ikhtiar.
Ketiga, audit diri: siapa saja yang merasa gak aman di dekat kita? Mulai dari rumah.
Keempat, tepati janji kecil. Karena Allah Al-Mu'min membenarkan janji-Nya, hamba-Nya juga seharusnya dikenal sebagai orang yang janjinya bisa dipegang.
Penutup
Kita menghabiskan banyak energi untuk membangun tembok.
Padahal rasa aman gak pernah lahir dari tinggi tembok. Rasa aman lahir dari siapa yang kita percayai.
Dan hanya satu Dzat yang namanya sendiri adalah jaminan keamanan: Al-Mu'min.
Pertanyaannya sekarang: sudahkah orang-orang di sekitar antum merasa aman karena keberadaan antum?
Tulisan ini bagian dari seri Tadabbur Asmaul Husna: nama ke-6 dari 99.