Kita hidup di zaman paling berlimpah makanan dalam sejarah manusia.
Tinggal buka aplikasi, makanan datang dalam tiga puluh menit. Minimarket buka dua puluh empat jam. Pilihan menu dari seluruh dunia ada di ujung jari.
Tapi anehnya, di zaman yang sama, banyak orang merasa kosong.
Perut kenyang, tapi hati lapar. Kulkas penuh, tapi jiwa kering. Punya segalanya, tapi merasa gak punya apa-apa.
Kenapa bisa begitu? Mungkin karena kita hanya mengenal Allah sebagai pemberi makan tubuh, dan lupa bahwa Dia juga pemberi makan jiwa. Nama itu adalah Al-Muqit.
Makna Al-Muqit
Al-Muqit berasal dari akar ق-و-ت (q-w-t), yang melahirkan kata qut: makanan pokok, bekal yang menopang hidup. Makanan yang cukup untuk bertahan disebut qut.
Para ulama menjelaskan Al-Muqit dalam dua makna utama.
Pertama, Allah yang menciptakan makanan dan menyampaikannya kepada setiap makhluk, baik makanan bagi tubuh maupun makanan bagi jiwa.
Kedua, Allah yang Maha Kuasa dan Maha Menjaga atas segala sesuatu. Karena memberi makan secara terus-menerus kepada seluruh makhluk hanya bisa dilakukan oleh Yang berkuasa dan menjaga.
Nama ini disebutkan dalam Al-Qur'an:
مَّن يَشۡفَعۡ شَفَٰعَةً حَسَنَةٗ يَكُن لَّهُۥ نَصِيبٞ مِّنۡهَاۖ وَمَن يَشۡفَعۡ شَفَٰعَةٗ سَيِّئَةٗ يَكُن لَّهُۥ كِفۡلٞ مِّنۡهَاۗ وَكَانَ ٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ مُّقِيتٗا ٨٥
...Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu (muqita).
Setiap Makhluk Sudah Dijatah
Allah menegaskan bahwa gak ada makhluk yang lepas dari jatah makanannya:
۞ وَمَا مِن دَآبَّةٖ فِي ٱلۡأَرۡضِ إِلَّا عَلَى ٱللَّهِ رِزۡقُهَا وَيَعۡلَمُ مُسۡتَقَرَّهَا وَمُسۡتَوۡدَعَهَاۚ كُلّٞ فِي كِتَٰبٖ مُّبِينٖ ٦
Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya...
Dan di ayat lain, Allah menyebut bahwa Dia menentukan kadar makanan di bumi sejak awal penciptaan:
وَجَعَلَ فِيهَا رَوَٰسِيَ مِن فَوۡقِهَا وَبَٰرَكَ فِيهَا وَقَدَّرَ فِيهَآ أَقۡوَٰتَهَا فِيٓ أَرۡبَعَةِ أَيَّامٖ سَوَآءٗ لِّلسَّآئِلِينَ ١٠
...Dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (aqwataha) dalam empat masa...
Kata aqwat di ayat ini adalah bentuk jamak dari qut, akar yang sama dengan Al-Muqit.
Artinya, sebelum manusia pertama diciptakan, Allah sudah menyiapkan "dapur" untuk seluruh makhluk. Tanah yang subur, air yang mengalir, tumbuhan yang tumbuh, hewan yang berkembang biak. Semuanya sudah ditakar.
Makanan Jiwa
Sekarang, pertanyaan pentingnya: kalau tubuh butuh makanan, apakah jiwa juga butuh?
Jawabannya jelas: ya.
Dan sebagaimana tubuh akan lemah tanpa makanan, jiwa juga akan lemah, bahkan "mati", tanpa makanannya.
Apa makanan jiwa?
Al-Qur'an memberi petunjuk. Hati menjadi tenang dengan dzikir kepada Allah (QS. Ar-Ra'd: 28). Al-Qur'an disebut sebagai syifa', penyembuh bagi apa yang ada di dalam dada (QS. Yunus: 57). Shalat disebut sebagai penolong (QS. Al-Baqarah: 45).
Dzikir, Al-Qur'an, shalat, ilmu, dan hubungan dengan orang-orang saleh. Itulah qut bagi jiwa.
Kenapa Kenyang Tapi Tetap Lapar?
Sekarang kita bisa memahami fenomena di awal tadi.
Banyak orang merasa kosong bukan karena kurang makanan, tapi karena salah memberi makan jiwanya.
Jiwa lapar, lalu kita memberinya makanan tubuh. Belanja, makan enak, liburan, hiburan. Semua itu mengenyangkan sesaat, lalu jiwa lapar lagi.
Seperti orang yang haus, lalu minum air laut. Semakin banyak ia minum, semakin haus ia jadinya.
Ada istilah junk food, makanan yang mengenyangkan tapi gak bergizi. Jiwa kita juga bisa diberi junk food: konten media sosial yang gak ada habisnya, gosip, hiburan yang melalaikan. Semua itu mengisi waktu, tapi gak memberi gizi.
Akibatnya, jiwa kita mengalami semacam malnutrisi. Kelihatannya penuh, tapi sebenarnya kurang gizi.
Puasa: Latihan Mengenal Al-Muqit
Ada satu ibadah yang secara langsung melatih kita mengenal Al-Muqit: puasa.
Ketika berpuasa, kita menahan makanan tubuh. Dan di saat yang sama, kita memperbanyak makanan jiwa: tilawah, dzikir, shalat malam, sedekah.
Seolah Allah sedang mengajarkan: kamu kira kamu hidup karena makanan tubuh? Coba tahan sebentar, dan lihat bagaimana jiwamu justru bangkit.
Rasulullah pernah berpuasa wishal, bersambung tanpa berbuka. Para sahabat ingin ikut, tapi beliau melarang. Beliau bersabda, dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim, bahwa beliau gak seperti mereka, karena beliau diberi makan dan minum oleh Tuhannya.
Para ulama menjelaskan bahwa makna "diberi makan dan minum" ini, menurut sebagian pendapat, adalah kekuatan dan ketenangan jiwa yang Allah berikan kepada beliau melalui kedekatan dengan-Nya. Ada makanan yang gak masuk lewat mulut, tapi menguatkan lebih dari makanan biasa.
Al-Muqit dan Kecemasan Soal Makan
Ada sisi lain dari nama ini yang relevan dengan kecemasan modern.
Banyak orang cemas soal masa depan: nanti anakku makan apa? Kalau aku sakit, siapa yang memberi makan keluargaku?
Kecemasan ini wajar, dan ikhtiar mencari nafkah tetap wajib. Tapi Al-Muqit mengingatkan: sejak di rahim ibu, antum sudah diberi makan tanpa bekerja. Sejak bayi, antum diberi makan tanpa bisa berterima kasih. Dzat yang mengurus makan antum selama ini gak akan tiba-tiba lupa.
Al-Muqit dalam Mendidik Anak
Orang tua sangat perhatian terhadap gizi anak. Susu terbaik, vitamin, makanan organik, menu seimbang.
Tapi seberapa perhatian kita terhadap gizi jiwa anak?
Apa yang mereka tonton setiap hari? Apa yang mereka dengarkan? Siapa teman-teman mereka? Berapa lama mereka berinteraksi dengan Al-Qur'an dibandingkan dengan layar?
Anak yang tubuhnya bergizi tapi jiwanya kekurangan gizi akan tumbuh kuat secara fisik, tapi rapuh secara batin.
Mendidik dengan kesadaran Al-Muqit berarti memberi perhatian yang sama, atau bahkan lebih, pada makanan jiwa anak-anak kita.
Cara Praktis Menghidupkan Al-Muqit
Pertama, sebelum makan, sadari bahwa makanan ini berasal dari Al-Muqit. Bismillah bukan sekadar formalitas.
Kedua, buat "menu harian" untuk jiwa: berapa ayat Al-Qur'an, berapa dzikir, berapa menit merenung.
Ketiga, kurangi junk food jiwa. Batasi waktu layar, terutama konten yang melalaikan.
Keempat, perhatikan gizi jiwa anak sama seriusnya dengan gizi tubuhnya.
Penutup
Tubuh kita diberi makan setiap hari, dan kita jarang lupa.
Tapi jiwa kita sering dibiarkan kelaparan berhari-hari, bahkan bertahun-tahun, tanpa kita sadari.
Al-Muqit menyediakan makanan untuk keduanya. Pertanyaannya hanya: apakah kita mau mengambilnya?
Maka hari ini, jiwa antum sudah diberi makan apa?
Tulisan ini bagian dari seri Tadabbur Asmaul Husna: nama ke-39 dari 99.