Coba hitung berapa kali dalam sehari antum melihat wajah sendiri.
Di cermin. Di kamera depan. Di layar video call. Di foto yang baru diunggah.
Generasi kita mungkin generasi yang paling sering melihat wajah sendiri sepanjang sejarah manusia. Dan anehnya, kita juga mungkin generasi yang paling gak puas dengan wajah sendiri.
Filter kecantikan jadi kebutuhan. Aplikasi edit foto jadi rutinitas. Banyak remaja merasa "jelek" karena gak mirip wajah yang dianggap ideal minggu ini.
Ada yang salah dengan cara kita memandang rupa. Dan Al-Qur'an sudah memberi kunci lewat satu nama: Al-Mushawwir.
Makna Al-Mushawwir
Al-Mushawwir adalah nama ketiga dalam rangkaian:
هُوَ ٱللَّهُ ٱلۡخَٰلِقُ ٱلۡبَارِئُ ٱلۡمُصَوِّرُۖ لَهُ ٱلۡأَسۡمَآءُ ٱلۡحُسۡنَىٰۚ يُسَبِّحُ لَهُۥ مَا فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۖ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡحَكِيمُ ٢٤
Dialah Allah, Al-Khaliq, Al-Bari', Al-Mushawwir.
Kata ini berasal dari akar ص-و-ر (sh-w-r), yang melahirkan kata shurah: rupa, bentuk, gambar. Al-Mushawwir adalah Allah yang memberi setiap ciptaan rupa dan bentuk yang khas, yang membedakannya dari yang lain.
Kalau Al-Khaliq menakar dan Al-Bari' mengadakan, maka Al-Mushawwir memberi identitas visual yang unik.
Coba pikirkan. Ada miliaran manusia di bumi. Semuanya punya dua mata, satu hidung, satu mulut. Tapi gak ada dua wajah yang benar-benar sama, bahkan pada kembar identik ada perbedaannya.
Itu jejak Al-Mushawwir.
Dibentuk di Tempat yang Gak Terlihat
Al-Qur'an menyebutkan kapan proses pembentukan rupa itu terjadi:
هُوَ ٱلَّذِي يُصَوِّرُكُمۡ فِي ٱلۡأَرۡحَامِ كَيۡفَ يَشَآءُۚ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡحَكِيمُ ٦
Dialah yang membentuk rupa kalian dalam rahim sebagaimana dikehendaki-Nya. Tidak ada Tuhan selain Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
Perhatikan dua hal.
Pertama, di dalam rahim. Tempat yang gak bisa dijangkau siapa pun, termasuk ibu kita sendiri. Rupa kita dibentuk sebelum ada yang sempat memberi pendapat.
Kedua, sebagaimana dikehendaki-Nya. Bukan sebagaimana dikehendaki orang tua, bukan sebagaimana dikehendaki tren. Dan ayat itu ditutup dengan dua nama: Al-'Aziz dan Al-Hakim. Artinya kehendak itu bukan asal-asalan, tapi penuh hikmah.
Di ayat lain, Allah menyebut hasilnya:
خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ بِٱلۡحَقِّ وَصَوَّرَكُمۡ فَأَحۡسَنَ صُوَرَكُمۡۖ وَإِلَيۡهِ ٱلۡمَصِيرُ ٣
...dan Dia membentuk rupa kalian, lalu memperbagus rupa kalian.
Allah gak hanya membentuk rupa. Allah memperbagusnya. Kalimat ini ditujukan kepada manusia secara umum, bukan kepada sebagian orang yang dianggap cantik atau tampan saja.
Standar yang Berubah-ubah
Sekarang bandingkan dengan standar kecantikan manusia.
Dalam beberapa dekade saja, standar itu berubah berkali-kali. Pernah tubuh berisi dianggap ideal, lalu tubuh kurus, lalu tubuh atletis. Pernah kulit gelap dianggap sehat, lalu kulit putih dianggap cantik. Bentuk alis, hidung, dan bibir yang "ideal" pun terus berganti.
Kalau standarnya terus berubah, pertanyaan logisnya: standar mana yang benar?
Jawabannya: gak ada. Karena standar itu dibuat manusia, dipengaruhi industri, dan dipasarkan untuk menjual produk.
Maka orang yang mengukur dirinya dengan standar itu akan selalu merasa kurang. Bukan karena wajahnya bermasalah, tapi karena penggarisnya terus bergerak.
Al-Mushawwir menawarkan penggaris yang tetap: rupamu adalah pilihan Allah, dibentuk dengan hikmah, dan dinyatakan bagus oleh Pembentuknya.
Allah Gak Melihat Rupa
Ada hadits yang sering kita dengar, tapi mungkin jarang kita hubungkan dengan nama ini. Diriwayatkan oleh Muslim, Rasulullah bersabda:
Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat kepada hati dan amal kalian.
Ini paradoks yang indah.
Dzat yang membentuk rupa kita justru gak menilai kita dari rupa. Yang Maha Membentuk wajah malah melihat ke hati.
Kenapa? Karena rupa adalah pemberian, bukan pilihan. Gak adil menilai seseorang dari sesuatu yang gak ia pilih. Yang dinilai adalah apa yang ia lakukan dengan pemberian itu: hati dan amalnya.
Maka orang yang menghabiskan seluruh energinya untuk memperbaiki rupa, sambil membiarkan hatinya berantakan, sedang berinvestasi di aset yang gak dihitung.
Bukan Berarti Gak Boleh Merawat Diri
Perlu dijelaskan supaya gak salah paham.
Merawat diri, berpakaian rapi, dan menjaga kebersihan itu baik. Rasulullah sendiri menyebut bahwa Allah itu indah dan menyukai keindahan, dalam hadits riwayat Muslim.
Yang dikritik bukan merawat, tapi menolak. Menolak rupa yang Allah berikan, merasa malu dengannya, dan terus-menerus ingin menjadi orang lain.
Merawat itu bersyukur. Menolak itu protes.
Para ulama juga membahas batasan fiqih soal mengubah ciptaan Allah, dan di sana ada perincian yang perlu dikaji dari sumbernya. Tapi di level hati, pertanyaannya sederhana: apakah aku merawat karena bersyukur, atau karena benci pada diriku sendiri?
Al-Mushawwir dalam Mendidik Anak
Anak-anak menyerap komentar tentang fisik mereka jauh lebih dalam dari yang kita kira.
"Kok kamu gendut sekarang?" "Kulitnya gelap ya, gak kayak kakaknya." "Hidungnya pesek, ikut bapaknya."
Kalimat yang diucapkan sambil bercanda bisa menempel bertahun-tahun.
Mendidik dengan kesadaran Al-Mushawwir berarti berhenti mengomentari rupa anak secara negatif, dan mulai memuji hal-hal yang memang ia pilih: kejujurannya, usahanya, kebaikannya.
Dan ketika anak mulai remaja lalu mengeluh soal wajahnya, kita bisa mengajaknya membaca Ali 'Imran ayat 6 bersama. Rupamu dibentuk di tempat yang gak bisa dijangkau siapa pun, oleh Dzat yang Maha Bijaksana.
Cara Praktis Menghidupkan Al-Mushawwir
Pertama, saat bercermin, baca doa yang diajarkan dalam sebagian riwayat: Allahumma kama hassanta khalqi fahassin khuluqi, Ya Allah, sebagaimana Engkau telah membaguskan rupaku, maka baguskanlah akhlakku. Doa ini memindahkan fokus dari rupa ke akhlak.
Kedua, kurangi konsumsi konten yang membuat antum membenci wajah sendiri. Itu bukan hiburan, itu racun pelan-pelan.
Ketiga, berhenti mengomentari fisik orang lain, terutama anak-anak.
Keempat, alihkan energi perbaikan ke hal yang dinilai Allah: hati dan amal.
Penutup
Wajahmu bukan kesalahan desain.
Ia dibentuk di tempat yang gak terlihat, oleh Dzat yang gak pernah salah, dan dinyatakan bagus oleh Pembentuknya sendiri.
Yang perlu kita perbaiki bukan rupa yang Allah pilih, tapi cara kita memandangnya.
Maka kalau Allah gak menilai antum dari rupa, kenapa antum masih terus menilai diri dari sana?
Tulisan ini bagian dari seri Tadabbur Asmaul Husna: nama ke-13 dari 99.