September 30, 2026 | Asmaul Husna

Al-Mutakabbir: Satu-Satunya yang Berhak Sombong

Oleh M Salman Azhar
Al-Mutakabbir: Satu-Satunya yang Berhak Sombong

Ada satu pertanyaan yang sering muncul di kepala orang yang mulai belajar Asmaul Husna.

Sombong itu dosa besar. Tapi kenapa Allah menyebut diri-Nya Al-Mutakabbir, Yang Memiliki Kesombongan?

Pertanyaan ini bagus. Dan jawabannya justru membuka salah satu pelajaran terpenting tentang hati manusia.

Makna Al-Mutakabbir

Al-Mutakabbir disebut di akhir rangkaian Al-Hasyr ayat 23:

هُوَ ٱللَّهُ ٱلَّذِي لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلۡمَلِكُ ٱلۡقُدُّوسُ ٱلسَّلَٰمُ ٱلۡمُؤۡمِنُ ٱلۡمُهَيۡمِنُ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡجَبَّارُ ٱلۡمُتَكَبِّرُۚ سُبۡحَٰنَ ٱللَّهِ عَمَّا يُشۡرِكُونَ ٢٣

QS. Al-Hashr: 23

...Al-'Aziz, Al-Jabbar, Al-Mutakabbir. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.

Kata ini berasal dari akar ك-ب-ر (k-b-r), yang berarti besar. Wazan mutafa''il dalam bahasa Arab mengandung makna menampakkan atau memiliki sifat itu secara penuh.

Para ulama menjelaskan Al-Mutakabbir sebagai Allah yang memiliki kebesaran mutlak, yang merasa dan menampakkan kebesaran-Nya karena Dia memang Maha Besar, dan yang menolak disamakan dengan makhluk mana pun.

Perhatikan kalimat penutup ayatnya: Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. Al-Mutakabbir terkait langsung dengan penolakan terhadap syirik. Kebesaran Allah terlalu besar untuk dibagi.

Kenapa Sama-Sama Sombong, Hukumnya Beda?

Di sinilah logikanya menarik.

Kesombongan pada dasarnya adalah klaim. Klaim bahwa "aku lebih besar."

Klaim bisa dinilai dengan satu pertanyaan: apakah klaim itu sesuai dengan kenyataan?

Kalau Allah mengklaim kebesaran, klaim itu seratus persen sesuai kenyataan. Dia memang Pencipta segalanya, gak bergantung pada apa pun, dan semua yang ada bergantung kepada-Nya. Maka kebesaran-Nya adalah kejujuran, bukan kesombongan dalam arti tercela.

Kalau manusia mengklaim kebesaran, klaim itu selalu bohong. Kita lahir dari setetes air, gak bisa memilih orang tua, gak bisa menjamin napas berikutnya, dan akan kembali menjadi tanah. Semua "kelebihan" kita adalah pinjaman.

Jadi manusia yang sombong sedang melakukan dua kesalahan sekaligus: berbohong tentang dirinya, dan merebut sesuatu yang bukan miliknya.

Hadits yang Membuat Merinding

Allah menegaskan hal ini dalam sebuah hadits qudsi yang diriwayatkan Muslim:

Kemuliaan adalah sarung-Ku dan kesombongan adalah selendang-Ku. Barangsiapa menyaingi-Ku pada salah satu dari keduanya, Aku akan mengazabnya.

Perumpamaannya sangat manusiawi. Sarung dan selendang adalah pakaian pribadi. Orang yang mencoba memakai pakaian pribadi seorang raja di depan raja itu sendiri, bukan sekadar lancang. Ia sedang menantang.

Maka orang yang sombong bukan sekadar punya akhlak jelek. Ia sedang berebut pakaian dengan Allah.

Definisi Sombong yang Mengejutkan

Kalau ditanya apa itu sombong, banyak orang akan jawab: pamer, suka membanggakan diri, merasa hebat.

Tapi Rasulullah memberi definisi yang lebih tajam. Dalam hadits riwayat Muslim, beliau bersabda bahwa gak akan masuk surga orang yang di hatinya ada kesombongan seberat biji sawi. Seorang sahabat bertanya, bagaimana dengan orang yang suka pakaian dan sandalnya bagus? Rasulullah menjawab bahwa Allah itu indah dan menyukai keindahan, lalu:

Kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.

Dua indikator. Bukan soal baju bagus. Bukan soal rumah mewah.

Menolak kebenaran: tahu itu benar, tapi gak mau menerima karena datang dari orang yang dianggap lebih rendah, atau karena gengsi mengakui salah.

Meremehkan manusia: merasa diri lebih layak dihormati, lalu memandang orang lain sebelah mata.

Dengan definisi ini, sombong jadi jauh lebih dekat dengan kita daripada yang kita kira.

Kesombongan yang Halus di Zaman Sekarang

Coba periksa beberapa bentuk yang sering gak kita sadari.

  • Berdebat di kolom komentar bukan untuk mencari kebenaran, tapi supaya menang.

  • Gak mau menerima nasihat dari orang yang lebih muda atau lebih rendah jabatannya.

  • Merasa lebih saleh karena rajin kajian, lalu memandang rendah orang yang belum.

  • Menganggap pendapat sendiri pasti benar hanya karena sudah baca banyak.

  • Sulit berkata "maaf, aku salah" kepada anak atau pasangan.

Yang terakhir paling sering. Banyak orang tua merasa kehilangan wibawa kalau minta maaf kepada anak. Padahal justru di situ letak pelajaran terbesar tentang Al-Mutakabbir: hanya Allah yang gak pernah salah, maka hanya Allah yang gak perlu minta maaf.

Kebesaran Allah Membuat Kita Kecil dengan Tenang

Ada sisi indah dari nama ini.

Mengakui bahwa hanya Allah Al-Mutakabbir sebenarnya membebaskan. Kita gak perlu lagi berpura-pura besar. Gak perlu menjaga citra sempurna. Gak perlu memenangkan semua perdebatan.

Kita boleh kecil, karena memang kecil. Dan itu bukan kekalahan. Itu kejujuran.

Coba perhatikan gerakan shalat. Kita memulai dengan Allahu Akbar, lalu berkali-kali mengucapkannya sambil turun: ruku', sujud, sampai dahi menempel ke tanah. Semakin kita ucapkan kebesaran Allah, semakin rendah posisi tubuh kita.

Shalat adalah latihan harian untuk mengembalikan kebesaran kepada pemiliknya.

Al-Mutakabbir dalam Mendidik Anak

Anak belajar sombong bukan dari ceramah. Mereka belajar dari cara orang tua memperlakukan orang lain.

Bagaimana kita berbicara kepada satpam, pembantu, atau tukang parkir? Bagaimana kita merespons ketika dikoreksi oleh orang yang lebih muda?

Mendidik anak dengan kesadaran Al-Mutakabbir berarti membiasakan tiga kalimat di rumah: "Terima kasih," "Maaf," dan "Aku salah." Termasuk dari orang tua kepada anak.

Cara Praktis Menghidupkan Al-Mutakabbir

Pertama, ucapkan Allahu Akbar di shalat dengan sadar bahwa antum sedang melepaskan klaim kebesaran pribadi.

Kedua, latih menerima kebenaran dari siapa pun. Ketika dikoreksi, jeda sebentar sebelum membela diri.

Ketiga, perhatikan siapa yang selama ini antum remehkan. Coba cari satu kelebihan mereka yang gak antum miliki.

Keempat, minta maaf lebih cepat. Setiap permintaan maaf adalah pengakuan bahwa hanya Allah yang sempurna.

Penutup

Kesombongan adalah pakaian yang terlalu besar untuk ukuran manusia. Dipaksakan, ia akan menjerat dan menjatuhkan pemakainya.

Hanya satu Dzat yang pantas memakainya: Al-Mutakabbir.

Maka pertanyaannya: adakah kebenaran yang selama ini antum tolak, hanya karena gengsi siapa yang menyampaikannya?


Tulisan ini bagian dari seri Tadabbur Asmaul Husna: nama ke-10 dari 99.

M Salman Azhar

Ditulis oleh

M Salman Azhar

Artikel Terkait