Coba bayangkan sebuah ruangan yang penuh dengan orang-orang paling berkuasa di dunia.
Presiden. Raja. Miliarder. Jenderal. CEO perusahaan teknologi raksasa.
Lalu terdengar satu pertanyaan: "Milik siapakah kerajaan pada hari ini?"
Dan gak ada satu pun yang berani menjawab.
Ini bukan fiksi. Al-Qur'an menggambarkan momen itu dengan sangat jelas:
يَوۡمَ هُم بَٰرِزُونَۖ لَا يَخۡفَىٰ عَلَى ٱللَّهِ مِنۡهُمۡ شَيۡءٞۚ لِّمَنِ ٱلۡمُلۡكُ ٱلۡيَوۡمَۖ لِلَّهِ ٱلۡوَٰحِدِ ٱلۡقَهَّارِ ١٦
(Yaitu) hari ketika mereka keluar (dari kubur), tiada suatu pun dari keadaan mereka yang tersembunyi bagi Allah. (Allah berfirman): Milik siapakah kerajaan pada hari ini? Milik Allah Yang Maha Esa lagi Maha Menundukkan (Al-Qahhar).
Di hari itu, satu nama menjadi jawabannya: Al-Qahhar.
Makna Al-Qahhar
Kata qahhar berasal dari akar ق-ه-ر (q-h-r), yang bermakna menundukkan, mengalahkan, menguasai sepenuhnya. Bentuk fa''al menunjukkan intensitas: Allah menundukkan segala sesuatu secara total dan terus-menerus.
Ada juga bentuk lain dari akar yang sama, Al-Qahir:
وَهُوَ ٱلۡقَاهِرُ فَوۡقَ عِبَادِهِۦۚ وَهُوَ ٱلۡحَكِيمُ ٱلۡخَبِيرُ ١٨
Dan Dialah yang berkuasa (al-qahir) di atas hamba-hamba-Nya. Dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.
Menariknya, dalam Al-Qur'an, nama Al-Qahhar hampir selalu disandingkan dengan Al-Wahid, Yang Maha Esa. Misalnya:
قُلۡ مَن رَّبُّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ قُلِ ٱللَّهُۚ قُلۡ أَفَٱتَّخَذۡتُم مِّن دُونِهِۦٓ أَوۡلِيَآءَ لَا يَمۡلِكُونَ لِأَنفُسِهِمۡ نَفۡعٗا وَلَا ضَرّٗاۚ قُلۡ هَلۡ يَسۡتَوِي ٱلۡأَعۡمَىٰ وَٱلۡبَصِيرُ أَمۡ هَلۡ تَسۡتَوِي ٱلظُّلُمَٰتُ وَٱلنُّورُۗ أَمۡ جَعَلُواْ لِلَّهِ شُرَكَآءَ خَلَقُواْ كَخَلۡقِهِۦ فَتَشَٰبَهَ ٱلۡخَلۡقُ عَلَيۡهِمۡۚ قُلِ ٱللَّهُ خَٰلِقُ كُلِّ شَيۡءٖ وَهُوَ ٱلۡوَٰحِدُ ٱلۡقَهَّٰرُ ١٦
Katakanlah: Allah adalah Pencipta segala sesuatu, dan Dialah Yang Maha Esa lagi Maha Menundukkan.
Kenapa harus berpasangan?
Logika Esa dan Menundukkan
Coba pikirkan logikanya.
Kalau ada dua penguasa yang sama-sama kuat, maka keduanya akan saling membatasi. Gak ada yang benar-benar menundukkan. Selalu ada tarik-menarik.
Hanya kalau penguasanya satu, maka penundukannya bisa total.
Sebaliknya, kalau ada Dzat yang menundukkan segalanya secara total, maka gak mungkin ada yang setara dengan-Nya. Karena yang setara pasti gak tunduk.
Jadi Al-Wahid dan Al-Qahhar saling mengunci. Keesaan Allah melahirkan penundukan total, dan penundukan total membuktikan keesaan-Nya.
Nabi Yusuf memakai logika ini ketika berdakwah kepada dua teman penjaranya:
يَٰصَٰحِبَيِ ٱلسِّجۡنِ ءَأَرۡبَابٞ مُّتَفَرِّقُونَ خَيۡرٌ أَمِ ٱللَّهُ ٱلۡوَٰحِدُ ٱلۡقَهَّارُ ٣٩
Wahai kedua penghuni penjara, manakah yang lebih baik: tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu, ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Menundukkan?
Pertanyaan retoris yang sangat tajam. Tuhan yang banyak pasti saling berbagi kuasa, berarti gak ada yang benar-benar berkuasa. Sedangkan Allah Esa dan menundukkan segalanya.
Semua Makhluk Sedang Tunduk
Kita sering membayangkan Al-Qahhar hanya bekerja di hari kiamat. Padahal penundukan Allah sedang terjadi sekarang.
Coba lihat tubuh antum sendiri.
Antum gak bisa memerintahkan jantung berhenti berdetak. Gak bisa menolak rasa kantuk selamanya. Gak bisa menolak lapar. Gak bisa menolak menua. Gak bisa memilih kapan meninggal.
Orang yang paling berkuasa di dunia pun tunduk pada hal-hal itu. Ia bisa memerintah jutaan orang, tapi gak bisa memerintah sel-sel tubuhnya sendiri.
Itu semua tanda Al-Qahhar.
Manusia modern sering merasa sudah menaklukkan alam. Kita bisa terbang, membelah atom, membuat AI. Tapi satu virus kecil pernah membuat seluruh dunia berhenti. Satu gempa bisa meratakan kota dalam hitungan detik.
Penguasaan kita atas alam hanyalah izin sementara. Penundukan yang sebenarnya tetap milik Al-Qahhar.
Kabar Baik bagi yang Tertindas
Bagi sebagian orang, nama Al-Qahhar terdengar menakutkan. Tapi bagi orang yang dizalimi, nama ini adalah kelegaan.
Pernahkah antum merasa diperlakukan gak adil oleh orang yang lebih kuat? Atasan yang semena-mena. Pejabat yang korup. Orang kaya yang merampas hak orang kecil.
Di dunia, mereka mungkin lolos. Hukum bisa dibeli, opini bisa dikendalikan.
Tapi Al-Qahhar menjamin satu hal: gak ada kekuasaan yang lepas dari penundukan-Nya. Setiap tiran akan sampai pada hari ketika ia hanya bisa diam di hadapan pertanyaan: milik siapa kerajaan hari ini?
Ini bukan ajakan untuk pasif. Kita tetap wajib menegakkan keadilan semampunya. Tapi kita gak perlu hancur ketika keadilan belum tegak di dunia. Karena hisab yang sebenarnya belum dimulai.
Peringatan bagi yang Merasa Kuat
Di sisi lain, nama ini juga peringatan.
Kita semua punya "kerajaan kecil": rumah, kelas, kantor, akun media sosial, komunitas. Di dalamnya kita punya kuasa atas orang lain.
Orang yang mengenal Al-Qahhar akan hati-hati memakai kuasa itu. Karena ia tahu bahwa kuasanya pinjaman, dan suatu hari ia akan ditanya bagaimana memakainya.
Al-Qahhar dan Hawa Nafsu
Ada satu penerapan yang sangat personal.
Sebagian ulama tasawuf menjelaskan bahwa hamba bisa meneladani makna Al-Qahhar dalam kapasitas manusiawi dengan menundukkan hawa nafsunya sendiri. Bukan menundukkan orang lain, tapi menundukkan musuh terdekat: keinginan diri yang liar.
Menundukkan amarah saat ingin membalas. Menundukkan malas saat alarm shubuh berbunyi. Menundukkan jempol saat ingin menulis komentar yang menyakitkan.
Itulah kemenangan yang sebenarnya.
Al-Qahhar dalam Mendidik Anak
Orang tua punya kuasa besar atas anak. Dan godaan terbesarnya adalah menjadi "qahhar kecil": menundukkan anak dengan bentakan dan ancaman.
Anak memang bisa tunduk. Tapi tunduk karena takut bukan tunduk karena paham. Begitu kuasa itu hilang, ketika anak sudah besar atau jauh dari rumah, ketundukan itu ikut hilang.
Tugas orang tua bukan menundukkan anak kepada dirinya. Tugasnya adalah mengenalkan anak kepada Al-Qahhar, sehingga anak tunduk kepada Allah dan belajar menundukkan nafsunya sendiri.
Cara Praktis Menghidupkan Al-Qahhar
Pertama, ketika merasa dizalimi dan gak berdaya, ucapkan: hasbiyallah, dan ingat bahwa ada Al-Qahhar di atas setiap penguasa.
Kedua, ketika merasa kuat, ingat pertanyaan di hari kiamat. Pakai kuasa seperti orang yang akan ditanya.
Ketiga, pilih satu hawa nafsu yang paling sering menang atas diri antum, lalu latih untuk menundukkannya minggu ini.
Keempat, renungkan hal-hal dalam tubuh yang gak bisa antum kendalikan. Itu pelajaran harian tentang siapa yang sebenarnya berkuasa.
Penutup
Hari ini banyak suara yang merasa paling berkuasa.
Tapi akan datang satu hari ketika semua suara itu diam, dan hanya ada satu jawaban: Lillahil wahidil qahhar.
Pertanyaannya: kalau hari itu datang besok, kekuasaan kecil apa yang antum pegang hari ini yang akan ditanyakan?
Tulisan ini bagian dari seri Tadabbur Asmaul Husna: nama ke-15 dari 99.