Kita hidup di dunia yang mengajarkan satu rumus: dapatkan apa yang kamu layak dapatkan.
Kerja keras, dapat gaji. Belajar rajin, dapat nilai bagus. Berbuat baik, dapat balasan baik.
Rumus ini gak salah. Ia adil, logis, dan memotivasi.
Tapi kalau rumus ini dibawa ke hubungan kita dengan Allah secara mentah-mentah, ada masalah besar. Kita mulai berpikir bahwa kita hanya boleh meminta sesuatu kalau kita sudah "layak."
Dan karena kita tahu diri kita gak layak, kita pun berhenti meminta.
Di sinilah nama Al-Wahhab masuk.
Makna Al-Wahhab
Kata wahhab berasal dari akar و-ه-ب (w-h-b), yang melahirkan kata hibah: pemberian.
Tapi hibah dalam bahasa Arab punya ciri khusus. Para ulama menjelaskan bahwa hibah adalah pemberian tanpa imbalan dan tanpa tujuan mendapat keuntungan. Beda dengan jual beli yang ada tukarnya, beda dengan upah yang ada kerjanya.
Bentuk fa''al menunjukkan intensitas dan kesinambungan. Maka Al-Wahhab adalah Allah yang terus-menerus memberi, dalam jumlah besar, tanpa meminta imbalan.
Manusia bisa memberi hibah juga. Tapi pemberian manusia hampir selalu punya motif tersembunyi: ingin dihargai, ingin dibalas, ingin terlihat dermawan, atau sekadar ingin merasa baik. Hanya Al-Wahhab yang memberi tanpa butuh apa-apa kembali, karena Dia memang gak butuh apa pun.
Doa-Doa yang Memakai Nama Ini
Menariknya, nama Al-Wahhab sering muncul di Al-Qur'an dalam doa, dan doa-doa itu adalah permintaan untuk hal-hal yang paling besar.
Orang-orang yang dalam ilmunya berdoa:
رَبَّنَا لَا تُزِغۡ قُلُوبَنَا بَعۡدَ إِذۡ هَدَيۡتَنَا وَهَبۡ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحۡمَةًۚ إِنَّكَ أَنتَ ٱلۡوَهَّابُ ٨
Ya Tuhan kami, janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah Engkau beri kami petunjuk, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkaulah Al-Wahhab.
Nabi Sulaiman berdoa:
قَالَ رَبِّ ٱغۡفِرۡ لِي وَهَبۡ لِي مُلۡكٗا لَّا يَنۢبَغِي لِأَحَدٖ مِّنۢ بَعۡدِيٓۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلۡوَهَّابُ ٣٥
Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang pun sesudahku. Sesungguhnya Engkaulah Al-Wahhab.
Perhatikan pola ini. Ketika meminta hal yang sangat besar, hati yang teguh di atas hidayah atau kerajaan yang tak tertandingi, mereka memanggil Allah dengan nama Al-Wahhab.
Kenapa?
Karena permintaan sebesar itu gak mungkin "dilayakkan" oleh amal manusia. Gak ada amal yang setara dengan hidayah seumur hidup. Maka satu-satunya jalan adalah memohon kepada Dzat yang memberi tanpa menghitung kelayakan.
Bongkar Asumsi "Aku Belum Layak"
Banyak orang ragu berdoa untuk hal besar.
"Aku mau minta anak saleh, tapi aku sendiri masih banyak dosa."
"Aku mau minta jodoh yang baik, tapi aku belum cukup baik."
"Aku mau minta istiqamah, tapi aku masih sering bolong."
Coba periksa asumsinya: seolah doa adalah tagihan yang hanya sah kalau kita sudah memenuhi syarat.
Padahal doa kepada Al-Wahhab bukan tagihan. Ia adalah permohonan hadiah.
Orang gak perlu layak untuk menerima hadiah. Kalau harus layak, namanya bukan hadiah, tapi upah.
Tentu ini bukan berarti usaha gak penting. Doa yang baik diiringi ikhtiar dan perbaikan diri. Tapi perbaikan diri itu jangan dijadikan syarat untuk mulai meminta. Justru mintalah kepada Al-Wahhab agar diberi kemampuan memperbaiki diri.
Semua yang Kita Punya Adalah Hibah
Coba lihat daftar hal yang antum miliki sekarang.
Mata yang bisa membaca tulisan ini. Akal yang bisa memahaminya. Bahasa yang antum kuasai. Orang tua yang melahirkan. Iman yang antum rasakan.
Berapa dari semua itu yang antum dapatkan karena layak?
Gak ada satu pun.
Kita gak melamar untuk dilahirkan. Gak bekerja untuk mendapatkan mata. Gak membayar untuk mendapat hidayah. Semuanya hibah dari Al-Wahhab.
Kesadaran ini mengubah cara kita memandang hidup. Dari mental "aku berhak" menjadi mental "aku diberi".
Orang yang merasa berhak akan mudah kecewa saat gak dapat. Orang yang merasa diberi akan mudah bersyukur bahkan untuk hal kecil.
Anak Adalah Hibah
Al-Qur'an memakai akar yang sama untuk menyebut anak. Nabi Zakariya berdoa, "Ya Tuhanku, anugerahkanlah (hab li) kepadaku dari sisi-Mu keturunan yang baik." (QS. Ali 'Imran: 38). Dan Nabi Ibrahim bersyukur, "Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan (wahaba li) kepadaku di hari tua Ismail dan Ishaq." (QS. Ibrahim: 39)
هُنَالِكَ دَعَا زَكَرِيَّا رَبَّهُۥۖ قَالَ رَبِّ هَبۡ لِي مِن لَّدُنكَ ذُرِّيَّةٗ طَيِّبَةًۖ إِنَّكَ سَمِيعُ ٱلدُّعَآءِ ٣٨
ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ ٱلَّذِي وَهَبَ لِي عَلَى ٱلۡكِبَرِ إِسۡمَٰعِيلَ وَإِسۡحَٰقَۚ إِنَّ رَبِّي لَسَمِيعُ ٱلدُّعَآءِ ٣٩
Anak bukan hasil karya orang tua. Anak adalah hibah.
Ini mengubah cara mendidik. Kalau anak adalah hadiah dari Allah, maka kita bukan pemilik yang berhak membentuk anak sesuai ambisi kita. Kita adalah penerima titipan yang harus menjaga hadiah itu sesuai kehendak Pemberinya.
Orang tua yang lupa ini sering menjadikan anak sebagai proyek: harus juara, harus masuk sekolah favorit, harus jadi ini dan itu. Seolah anak adalah investasi yang harus balik modal.
Padahal hadiah gak dihitung balik modalnya. Hadiah disyukuri dan dijaga.
Menjadi Hamba yang Suka Memberi
Kalau Allah Al-Wahhab, maka hamba-Nya yang meneladani nama ini adalah orang yang suka memberi tanpa menghitung balasan.
Bukan sekadar sedekah uang. Tapi juga waktu, perhatian, ilmu, dan maaf.
Coba perhatikan motif pemberian kita. Apakah kita memberi supaya dipuji? Supaya dibalas? Supaya terlihat dermawan di media sosial?
Pemberian yang meneladani Al-Wahhab adalah pemberian yang gak butuh penonton dan gak menunggu kembalian.
Cara Praktis Menghidupkan Al-Wahhab
Pertama, berdoalah untuk hal besar tanpa menunggu merasa layak. Panggil Allah dengan Ya Wahhab.
Kedua, tulis tiga hal yang antum miliki hari ini yang gak antum dapatkan karena usaha sendiri. Syukuri sebagai hibah.
Ketiga, lihat anak antum sebagai hadiah, bukan proyek. Tanyakan: apakah caraku mendidik sesuai dengan kehendak Pemberinya?
Keempat, beri satu hal minggu ini tanpa memberi tahu siapa pun dan tanpa berharap balasan.
Penutup
Dunia mengajarkan kita untuk mendapatkan apa yang kita layak dapatkan.
Tapi Al-Wahhab mengajarkan sesuatu yang lebih indah: sebagian besar yang paling berharga dalam hidup kita justru datang tanpa kita layak.
Maka hadiah besar apa yang selama ini gak berani antum minta, hanya karena merasa belum pantas?
Tulisan ini bagian dari seri Tadabbur Asmaul Husna: nama ke-16 dari 99.