October 06, 2026 | Asmaul Husna

Ar-Rafi': Tangga Menuju Ketinggian yang Gak Bisa Dirampas

Oleh M Salman Azhar
Ar-Rafi': Tangga Menuju Ketinggian yang Gak Bisa Dirampas

Semua orang ingin naik.

Naik jabatan. Naik gaji. Naik kelas sosial. Naik jumlah pengikut. Naik ranking.

Keinginan ini gak salah. Ia bagian dari fitrah manusia yang ingin berkembang.

Masalahnya, sebagian besar "kenaikan" yang kita kejar punya satu cacat: bisa dirampas. Jabatan bisa dicopot. Pengikut bisa pergi. Ranking bisa disalip.

Adakah kenaikan yang gak bisa dirampas? Al-Qur'an menjawabnya lewat nama Ar-Rafi', Yang Meninggikan.

Makna Ar-Rafi'

Kata rafi' berasal dari akar ر-ف-ع (r-f-'), yang bermakna mengangkat, meninggikan. Dari akar ini lahir kata rif'ah (ketinggian) dan marfu' (yang diangkat).

Ar-Rafi' adalah Allah yang meninggikan derajat siapa yang Dia kehendaki, di dunia maupun di akhirat.

Seperti yang sudah dibahas pada Al-Khafidh, nama ini sebaiknya dipahami berpasangan. Hari kiamat disebut khafidhatun rafi'ah, merendahkan dan meninggikan (QS. Al-Waqi'ah: 3). Dan secara jujur perlu dicatat, bentuk isim Ar-Rafi' sebagai nama termasuk dalam daftar masyhur riwayat Tirmidzi, sementara maknanya kokoh dalam banyak ayat, misalnya Allah menyebut diri-Nya rafi'ud darajat, Yang Maha Tinggi derajat-Nya (QS. Ghafir: 15).

Dua Tangga yang Allah Sebutkan

Ada satu ayat yang secara eksplisit menyebut siapa yang Allah tinggikan:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِذَا قِيلَ لَكُمۡ تَفَسَّحُواْ فِي ٱلۡمَجَٰلِسِ فَٱفۡسَحُواْ يَفۡسَحِ ٱللَّهُ لَكُمۡۖ وَإِذَا قِيلَ ٱنشُزُواْ فَٱنشُزُواْ يَرۡفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡعِلۡمَ دَرَجَٰتٖۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعۡمَلُونَ خَبِيرٞ ١١

QS. Al-Mujaadila: 11

...Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan.

Dua tangga: iman dan ilmu.

Menariknya, konteks ayat ini sangat sederhana: adab di majelis. Ayat ini dimulai dengan perintah untuk melapangkan tempat duduk bagi orang lain di majelis, dan berdiri ketika diminta berdiri.

Coba renungkan. Allah membicarakan ketinggian derajat dalam konteks kerelaan memberi tempat duduk kepada orang lain.

Seolah pesannya: orang yang rela "turun" dari kursinya demi orang lain, justru sedang dinaikkan oleh Allah.

Kenapa Ilmu?

Ilmu disebut secara khusus. Kenapa?

Karena ilmu mengubah cara seseorang melihat realitas. Orang yang berilmu melihat hal-hal yang gak dilihat orang lain. Ia bisa membedakan yang benar dan yang salah, yang penting dan yang remeh, yang abadi dan yang fana.

Tapi perhatikan, ayat itu menyebut iman lebih dulu, baru ilmu. Ilmu tanpa iman bisa melahirkan kesombongan, bahkan kerusakan. Sejarah modern penuh dengan contoh orang-orang sangat cerdas yang memakai ilmunya untuk menghancurkan.

Ilmu yang mengangkat adalah ilmu yang dibingkai iman. Ilmu yang membuat pemiliknya semakin takut kepada Allah, seperti disebutkan dalam QS. Fathir: 28, bahwa yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama, orang-orang yang berilmu.

Tangga Al-Qur'an

Hadits yang sudah kita sebut di pembahasan Al-Khafidh juga relevan di sini. Rasulullah bersabda:

Sesungguhnya Allah mengangkat dengan kitab ini beberapa kaum dan merendahkan dengannya kaum yang lain. (HR. Muslim)

Hadits ini disampaikan Umar bin Khattab dalam sebuah peristiwa menarik. Umar bertanya kepada gubernurnya di Makkah, siapa yang ia tunjuk sebagai penggantinya selama ia pergi. Gubernur itu menjawab bahwa ia menunjuk seorang mantan budak. Umar heran, lalu gubernur itu menjelaskan bahwa orang tersebut hafal Kitab Allah dan paham ilmu faraidh. Umar pun membenarkannya dengan menyebut hadits di atas.

Seorang mantan budak, yang dalam struktur sosial saat itu berada di posisi rendah, diangkat menjadi pemimpin karena Al-Qur'an.

Itulah cara kerja Ar-Rafi'. Ia gak peduli asal-usul. Ia peduli pada apa yang ada di dada seseorang.

Naik karena Allah vs Naik karena Algoritma

Di zaman sekarang, ada banyak cara untuk "naik" dengan cepat.

Konten yang kontroversial bisa viral dalam semalam. Drama bisa mendatangkan jutaan penonton. Sensasi bisa mendongkrak popularitas.

Tapi kenaikan seperti ini punya ciri: cepat naik, cepat turun. Ia bergantung pada perhatian manusia yang gampang bosan.

Kenaikan dari Ar-Rafi' punya ciri berbeda: sering pelan, kadang gak terlihat, tapi kokoh.

Banyak ulama besar yang namanya harum sampai hari ini, padahal semasa hidupnya mereka hidup sederhana dan gak mengejar popularitas. Kitab-kitab mereka masih dibaca berabad-abad kemudian. Itu tanda ditinggikan Ar-Rafi'.

Pertanyaannya bukan "bagaimana supaya aku cepat naik?" Tapi "tangga apa yang sedang aku naiki?"

Paradoks Tawadhu'

Ada satu hadits yang sering kita dengar, dan relevan sekali di sini:

Tidaklah sedekah itu mengurangi harta. Tidaklah Allah menambah seorang hamba yang pemaaf melainkan kemuliaan. Dan tidaklah seseorang bertawadhu' karena Allah melainkan Allah akan mengangkatnya. (HR. Muslim)

Tiga hal yang secara logika dunia terlihat merugikan, ternyata justru menaikkan:

  • Sedekah terlihat mengurangi harta, padahal gak.

  • Memaafkan terlihat seperti kalah, padahal menambah kemuliaan.

  • Merendahkan diri terlihat seperti turun, padahal diangkat.

Logika Ar-Rafi' memang terbalik dari logika dunia. Dan justru karena terbalik, hanya orang yang yakin kepada Allah yang mau menempuhnya.

Ar-Rafi' dalam Mendidik Anak

Setiap orang tua ingin anaknya "sukses." Tapi definisi sukses sering dipersempit menjadi naik secara duniawi: sekolah favorit, pekerjaan bergaji tinggi, posisi terpandang.

Mengenal Ar-Rafi' mengubah pertanyaan kita. Bukan hanya "setinggi apa anakku nanti?" tapi "tangga apa yang sedang aku ajarkan kepadanya?"

Tangga iman: apakah anak kita mengenal Allah?

Tangga ilmu: apakah anak kita mencintai belajar, bukan sekadar mengejar nilai?

Tangga Al-Qur'an: apakah anak kita punya hubungan yang hidup dengan kitab ini?

Tangga adab: apakah anak kita rela memberi tempat duduk kepada orang lain?

Kalau keempat tangga ini terbangun, kita bisa tenang. Karena yang meninggikan bukan kita, tapi Ar-Rafi'.

Cara Praktis Menghidupkan Ar-Rafi'

Pertama, sebelum mengejar kenaikan apa pun, tanyakan: ini kenaikan yang bisa dirampas atau gak?

Kedua, investasikan waktu setiap hari untuk ilmu dan Al-Qur'an, walau sedikit. Itu tangga yang dijanjikan Allah.

Ketiga, latih adab kecil: memberi tempat duduk, mendahulukan orang lain, mendengarkan tanpa memotong.

Keempat, jangan iri pada orang yang naik cepat dengan cara yang gak benar. Kenaikan tanpa izin Ar-Rafi' gak akan bertahan.

Penutup

Semua orang ingin naik. Tapi gak semua orang memilih tangga yang benar.

Tangga dunia bisa ditendang siapa saja. Tangga yang dibangun di atas iman, ilmu, dan tawadhu', dijaga oleh Ar-Rafi' sendiri.

Maka tangga apa yang sedang antum naiki hari ini?


Tulisan ini bagian dari seri Tadabbur Asmaul Husna: nama ke-23 dari 99.

M Salman Azhar

Ditulis oleh

M Salman Azhar

Artikel Terkait