Semua orang mau damai.
Tapi hampir semua orang mencarinya di tempat yang salah.
Ada yang bilang: "Kalau tabunganku sudah cukup, baru aku tenang." Ada yang bilang: "Kalau hubungan ini beres, baru aku damai." Ada yang pergi berlibur, ganti suasana, beli barang baru, lalu pulang dan gelisah lagi.
Masalahnya bukan kurang uang, kurang liburan, atau kurang teman. Masalahnya ada di alamat yang kita tuju.
Dan Allah sudah memberikan alamat yang benar sejak lama, lewat salah satu nama-Nya: As-Salam.
Lebih dari Sekadar "Maha Damai"
Kalau ditanya arti As-Salam, kebanyakan kita menjawab: Allah Yang Maha Damai. Gak salah, tapi terlalu sempit.
As-Salam berasal dari akar س-ل-م (s-l-m), yang bermakna selamat, utuh, bebas dari cacat dan bahaya. Dari akar yang sama lahir kata islam (berserah diri), salim (utuh, sehat), dan salam (keselamatan).
Para ulama menjelaskan As-Salam dalam dua makna utama. Pertama, Allah yang Dzat-Nya selamat dari segala kekurangan, gak bisa dilukai, gak bisa diguncang, gak punya celah. Kedua, Allah sumber keselamatan bagi makhluk-Nya.
Nama ini disebut dalam rangkaian Al-Hasyr, tepat setelah Al-Quddus:
هُوَ ٱللَّهُ ٱلَّذِي لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلۡمَلِكُ ٱلۡقُدُّوسُ ٱلسَّلَٰمُ ٱلۡمُؤۡمِنُ ٱلۡمُهَيۡمِنُ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡجَبَّارُ ٱلۡمُتَكَبِّرُۚ سُبۡحَٰنَ ٱللَّهِ عَمَّا يُشۡرِكُونَ ٢٣
...Al-Malik, Al-Quddus, As-Salam, Al-Mu'min...
Perhatikan urutannya. Al-Quddus: suci dari segala kekurangan. As-Salam: selamat dari segala kekurangan, sekaligus memberi keselamatan. Dari kesucian lahir kedamaian yang bisa dibagikan.
Mengapa Kita Salah Alamat
Coba periksa asumsi yang jarang kita pertanyakan: ketenangan adalah hasil dari kondisi luar yang baik.
Kondisi baik, kita tenang. Kondisi buruk, kita cemas.
Logika ini terasa masuk akal. Tapi ikuti konsekuensinya.
Artinya kondisi batin kita sepenuhnya dikendalikan oleh hal-hal di luar diri. Kita gak pernah benar-benar punya kendali atas ketenangan sendiri. Kita hidup dalam ketergantungan tanpa ujung, selalu menunggu situasi sempurna dulu.
Dan situasi sempurna gak pernah datang. Uang bisa habis. Orang bisa pergi. Kesehatan bisa hilang. Mencari kedamaian dari sesuatu yang punya banyak celah, bagaimana mungkin kedamaian itu bisa bertahan?
Al-Qur'an menunjukkan alamat yang benar:
ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَتَطۡمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكۡرِ ٱللَّهِۗ أَلَا بِذِكۡرِ ٱللَّهِ تَطۡمَئِنُّ ٱلۡقُلُوبُ ٢٨
...Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.
Allah gak berkata: hati menjadi tenang kalau kondisi hidup membaik. Allah berkata: hati tenang dengan mengingat Allah. Ini bukan motivasi. Ini premis tentang bagaimana jiwa manusia bekerja.
Sumber, Bukan Tujuan
Di sinilah kita sering terbalik.
Kita menjadikan kedamaian sebagai tujuan yang harus dikejar. Padahal As-Salam adalah sumber yang perlu disambungkan.
Bayangkan lampu yang gak menyala. Solusinya bukan terus-menerus mengganti lampu. Solusinya adalah memeriksa sambungan ke sumber listrik.
Kita sering mengganti "lampu": ganti pekerjaan, ganti lingkungan, ganti hubungan. Tapi gak pernah memeriksa sambungan ke As-Salam.
Doa Setelah Salam
Rasulullah mengajarkan satu doa pendek yang dibaca setelah setiap shalat, sebagaimana diriwayatkan Muslim dari Tsauban:
Allahumma antas salam wa minkas salam, tabarakta ya dzal jalali wal ikram. Ya Allah, Engkaulah As-Salam, dan dari-Mu keselamatan...
Coba renungkan posisi doa ini. Kita baru saja mengakhiri shalat dengan salam ke kanan dan ke kiri. Lalu hal pertama yang kita ucapkan adalah pengakuan: keselamatan yang barusan kita sebarkan itu bukan dari kita. Minkas salam, dari-Mu.
Shalat adalah momen "menyambungkan kabel". Salam di akhirnya adalah membagikan arus itu ke sekitar. Dan doa sesudahnya adalah pengingat dari mana arus itu berasal.
Salam yang Kita Ucapkan Setiap Hari
Kita mengucapkan assalamu'alaikum berkali-kali sehari. Mungkin sudah jadi basa-basi.
Padahal maknanya sangat dalam: semoga keselamatan dari Allah menyertai kalian. Bukan "semoga kamu bahagia" atau "semoga kamu sukses". Tapi: semoga kamu tersambung dengan As-Salam.
Rasulullah bahkan mengaitkan salam dengan iman dan surga. Dalam hadits riwayat Muslim, beliau bersabda bahwa kita gak akan masuk surga sampai beriman, gak beriman sampai saling mencintai, lalu beliau menunjukkan jalannya: sebarkan salam di antara kalian.
Salam bukan sekadar sapaan. Ia adalah infrastruktur cinta dalam masyarakat Muslim.
Negeri Keselamatan
Al-Qur'an menyebut surga dengan nama yang indah:
وَٱللَّهُ يَدۡعُوٓاْ إِلَىٰ دَارِ ٱلسَّلَٰمِ وَيَهۡدِي مَن يَشَآءُ إِلَىٰ صِرَٰطٖ مُّسۡتَقِيمٖ ٢٥
Allah menyeru (manusia) ke Darus Salam (surga), dan menunjuki orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.
Darus Salam, negeri keselamatan. Tempat di mana gak ada lagi yang bisa melukai, gak ada kehilangan, gak ada kecemasan.
Dan di hari kiamat, yang selamat adalah mereka yang datang dengan qalbun salim, hati yang selamat (QS. Asy-Syu'ara': 89). Dari akar yang sama.
Jadi seluruh perjalanan ini tersambung: dari As-Salam, melalui hati yang salim, menuju Darus Salam.
As-Salam dalam Mendidik Anak
Harapan terbesar orang tua sering berbunyi: anakku bahagia dan tenang hidupnya.
Tapi pertanyaan yang perlu dijawab lebih dulu: kita sedang mengajari anak mencari ketenangan dari mana?
Kalau kita mengajarkan bahwa ketenangan datang dari nilai bagus, popularitas, atau pencapaian, kita sedang menanamkan ketergantungan pada hal-hal yang rapuh. Anak itu akan gelisah setiap kali prestasinya turun.
Tapi kalau kita mengenalkan As-Salam, dan menunjukkannya lewat cara kita sendiri menghadapi tekanan, kita sedang menanam akar yang jauh lebih dalam. Anak yang mengenal As-Salam gak akan runtuh hanya karena satu kegagalan.
Cara Praktis Menghidupkan As-Salam
Pertama, saat cemas, tanyakan: aku sedang mencari ketenangan dari mana? Kalau jawabannya dari hal yang fana, arahkan kembali ke As-Salam.
Kedua, baca doa allahumma antas salam setelah shalat dengan sadar, bukan sekadar hafalan.
Ketiga, ucapkan salam sebagai doa sungguhan. Tatap mata orang yang disalami dan maksudkan setiap katanya.
Keempat, saat masalah datang, latih kalimat ini: situasinya mungkin gak aman, tapi Tuhanku gak bisa diguncang.
Penutup
Semua orang mau damai. Tapi gak semua orang mau jujur menjawab: selama ini, apa yang paling aku andalkan untuk merasa tenang?
Kalau jawabannya bukan As-Salam, bukan berarti kita orang jahat. Mungkin kita hanya berlari ke arah yang benar, dengan alamat yang salah.
Maka kapan terakhir kali antum benar-benar memeriksa sambungan hati antum ke Sumber kedamaian itu?
Tulisan ini bagian dari seri Tadabbur Asmaul Husna: nama ke-5 dari 99.