Kapan terakhir kali antum merasa benar-benar didengarkan?
Bukan sekadar ditanggapi dengan "oh gitu ya" sambil lawan bicara melirik HP. Tapi didengarkan dengan utuh, dipahami maksudnya, dan dirasakan emosinya.
Mungkin sudah lama.
Kita hidup di zaman ketika semua orang bicara, tapi sedikit yang mendengar. Media sosial penuh dengan suara, tapi kosong dari telinga. Banyak orang merasa kesepian bukan karena gak punya teman, tapi karena gak punya pendengar.
Di tengah kondisi ini, ada satu nama Allah yang terasa sangat dekat: As-Sami'.
Makna As-Sami'
As-Sami' berasal dari akar س-م-ع (s-m-'), yang bermakna mendengar. Bentuk fa'il menunjukkan sifat yang melekat dan sempurna.
Para ulama menjelaskan bahwa pendengaran Allah berbeda dengan pendengaran makhluk. Allah mendengar semua suara, yang keras maupun yang berbisik, yang diucapkan maupun yang hanya terlintas di hati, dalam semua bahasa, di waktu yang sama, tanpa ada satu suara pun yang menutupi suara lain.
As-Sami' sering disandingkan dengan Al-Bashir (Yang Maha Melihat) dan Al-'Alim (Yang Maha Mengetahui). Dan ayat yang paling terkenal menyebut pasangan ini adalah:
فَاطِرُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۚ جَعَلَ لَكُم مِّنۡ أَنفُسِكُمۡ أَزۡوَٰجٗا وَمِنَ ٱلۡأَنۡعَٰمِ أَزۡوَٰجٗا يَذۡرَؤُكُمۡ فِيهِۚ لَيۡسَ كَمِثۡلِهِۦ شَيۡءٞۖ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡبَصِيرُ ١١
...Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, dan Dialah As-Sami', Al-Bashir.
Perhatikan urutannya. Allah menegaskan dulu bahwa gak ada yang serupa dengan-Nya, baru menyebut bahwa Dia mendengar dan melihat. Seolah untuk mencegah kita membayangkan pendengaran Allah seperti pendengaran manusia.
Kisah Perempuan yang Mengadu
Ada satu surat dalam Al-Qur'an yang dibuka dengan kisah yang sangat menyentuh:
قَدۡ سَمِعَ ٱللَّهُ قَوۡلَ ٱلَّتِي تُجَٰدِلُكَ فِي زَوۡجِهَا وَتَشۡتَكِيٓ إِلَى ٱللَّهِ وَٱللَّهُ يَسۡمَعُ تَحَاوُرَكُمَآۚ إِنَّ ٱللَّهَ سَمِيعُۢ بَصِيرٌ ١
Sungguh Allah telah mendengar perkataan perempuan yang mengajukan gugatan kepadamu tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah. Dan Allah mendengar percakapan antara kalian berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.
Perempuan ini, yang dalam riwayat disebut bernama Khaulah binti Tsa'labah, datang kepada Rasulullah mengadukan suaminya yang telah men-zhihar-nya, sebuah praktik jahiliyah yang membuat istri terkatung-katung, gak dicerai tapi juga gak diperlakukan sebagai istri.
Aisyah radhiyallahu 'anha, dalam riwayat yang disebutkan Bukhari secara ringkas dan diriwayatkan lebih lengkap oleh Ahmad dan lainnya, berkata kurang lebih: Maha Suci Allah yang pendengaran-Nya meliputi segala suara. Perempuan itu datang mengadu kepada Rasulullah, dan aku berada di sudut rumah, sebagian ucapannya gak terdengar olehku. Lalu Allah menurunkan ayat ini.
Bayangkan. Aisyah yang berada di rumah yang sama gak bisa mendengar semua ucapannya. Tapi Allah, di atas tujuh langit, mendengar setiap katanya. Dan Allah menurunkan ayat khusus untuk menjawab keluhannya.
Seorang perempuan biasa, dengan masalah rumah tangga yang mungkin dianggap kecil oleh banyak orang, didengar langsung oleh As-Sami', dan keluhannya diabadikan dalam Al-Qur'an sampai hari kiamat.
Doa Gak Perlu Teriak
Ada satu kejadian dalam sebuah perjalanan. Para sahabat bertakbir dengan suara keras. Rasulullah lalu bersabda, sebagaimana diriwayatkan Bukhari dan Muslim:
Wahai manusia, kasihanilah diri kalian. Sesungguhnya kalian tidak menyeru Dzat yang tuli dan tidak pula yang jauh. Sesungguhnya kalian menyeru Dzat Yang Maha Mendengar lagi Maha Dekat...
Kalimat ini sangat menenangkan.
Kita gak perlu berteriak supaya Allah mendengar. Gak perlu kata-kata indah atau bahasa Arab yang fasih. Gak perlu menunggu suasana khusus.
Bahkan bisikan paling pelan di sudut kamar, bahkan rintihan hati yang gak sempat menjadi kata, semuanya didengar oleh As-Sami'.
Al-Qur'an sendiri memuji doa Nabi Zakariya yang dipanjatkan dengan suara lembut (QS. Maryam: 3).
As-Sami' Juga Mendengar Ucapan Kita
Tapi ada sisi lain dari nama ini yang perlu kita renungkan dengan jujur.
As-Sami' gak hanya mendengar doa kita. Ia juga mendengar semua ucapan kita.
Gosip yang kita bisikkan. Keluhan yang kita lontarkan tentang takdir. Kata kasar yang kita ucapkan kepada pasangan. Janji yang kita ingkari. Kebohongan kecil yang kita anggap gak berarti.
Di era digital, ini meluas ke tulisan. Komentar di media sosial, pesan di grup WhatsApp, cuitan yang kita ketik dalam emosi. Semuanya tercatat, dan semuanya didengar oleh As-Sami'.
Kesadaran ini seharusnya membuat kita lebih hati-hati berbicara. Bukan karena takut ketahuan manusia, tapi karena sadar ada Yang selalu mendengar.
Belajar Mendengar dari As-Sami'
Kalau Allah adalah As-Sami', bagaimana kita meneladaninya dalam kapasitas manusia?
Menjadi pendengar yang baik. Di dunia yang penuh suara, mendengar adalah hadiah langka. Mendengarkan pasangan tanpa memotong. Mendengarkan anak tanpa langsung menasihati. Mendengarkan teman tanpa sibuk memikirkan jawaban.
Mendengar yang baik, menutup telinga dari yang buruk. Allah memuji orang-orang beriman yang "apabila mendengar perkataan yang sia-sia, mereka berpaling darinya" (QS. Al-Qashash: 55).
وَإِذَا سَمِعُواْ ٱللَّغۡوَ أَعۡرَضُواْ عَنۡهُ وَقَالُواْ لَنَآ أَعۡمَٰلُنَا وَلَكُمۡ أَعۡمَٰلُكُمۡ سَلَٰمٌ عَلَيۡكُمۡ لَا نَبۡتَغِي ٱلۡجَٰهِلِينَ ٥٥
Apa yang kita dengar membentuk siapa kita. Podcast, musik, gosip, ceramah, semuanya masuk ke hati lewat telinga.
As-Sami' dalam Mendidik Anak
Anak-anak butuh didengarkan. Sangat butuh.
Banyak masalah remaja berakar dari satu hal: mereka merasa gak didengar di rumah. Maka mereka mencari pendengar di luar, dan kadang pendengar itu membawa mereka ke arah yang salah.
Luangkan waktu untuk benar-benar mendengarkan anak. Tanpa HP. Tanpa menghakimi. Tanpa langsung menasihati.
Dan kenalkan mereka pada As-Sami'. "Nak, kalau ada yang gak bisa kamu ceritakan ke Ayah atau Ibu, ceritakan ke Allah. Dia selalu mendengar."
Cara Praktis Menghidupkan As-Sami'
Pertama, berdoalah dengan suara lembut dan hati yang hadir. Gak perlu keras, gak perlu panjang.
Kedua, sebelum berbicara atau mengetik komentar, ingat: As-Sami' mendengar ini.
Ketiga, latih mendengar tanpa memotong, minimal dengan satu orang setiap hari.
Keempat, periksa apa yang antum dengarkan setiap hari. Kurangi yang sia-sia, tambah yang bermanfaat.
Penutup
Di dunia yang semakin bising, kita semua merindukan seseorang yang benar-benar mendengar.
Kabar baiknya, Dia selalu ada. Gak pernah sibuk. Gak pernah salah paham. Gak pernah menyela.
Maka keluhan apa yang selama ini antum simpan sendiri, padahal As-Sami' sedang menunggu antum menyampaikannya?
Tulisan ini bagian dari seri Tadabbur Asmaul Husna: nama ke-26 dari 99.