Pernahkah antum merasa amal antum terlalu kecil untuk dihitung?
"Aku cuma bisa sedekah sedikit." "Aku cuma bisa shalat wajib, gak sempat sunnah." "Aku cuma ibu rumah tangga, gak bisa berdakwah." "Aku cuma bisa membaca satu halaman Al-Qur'an sehari."
Kata "cuma" itu muncul terus. Seolah amal kecil gak ada artinya.
Lalu kita berhenti melakukannya, karena merasa percuma.
Padahal Allah punya nama yang secara khusus membantah perasaan itu. Nama yang mungkin paling mengejutkan dari semua Asmaul Husna: Asy-Syakur, Yang Maha Mensyukuri.
Allah yang Bersyukur?
Tunggu. Bukankah kita yang seharusnya bersyukur kepada Allah? Kenapa Allah disebut Yang Mensyukuri?
Kata syakur berasal dari akar ش-ك-ر (sy-k-r). Dalam bahasa Arab, akar ini punya makna dasar yang menarik: hewan yang syakur adalah hewan yang gemuk dan tumbuh besar meski hanya diberi makan sedikit.
Dari makna ini, para ulama menjelaskan bahwa Asy-Syakur adalah Allah yang membalas amal yang sedikit dengan balasan yang sangat banyak. Allah menghargai sekecil apa pun kebaikan hamba-Nya, dan melipatgandakannya berkali-kali.
Jadi ketika Allah disebut Syakur, bukan berarti Allah "berterima kasih" dalam arti butuh sesuatu dari kita. Tapi Allah menghargai dan membalas amal kita dengan kemurahan yang jauh melebihi nilai amal itu sendiri.
Ayat yang Menyandingkan Ampunan dan Syukur
Al-Qur'an sering menyandingkan Asy-Syakur dengan Al-Ghafur:
لِيُوَفِّيَهُمۡ أُجُورَهُمۡ وَيَزِيدَهُم مِّن فَضۡلِهِۦٓۚ إِنَّهُۥ غَفُورٞ شَكُورٞ ٣٠
Agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.
Dan penghuni surga, ketika masuk ke dalamnya, berkata:
وَقَالُواْ ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ ٱلَّذِيٓ أَذۡهَبَ عَنَّا ٱلۡحَزَنَۖ إِنَّ رَبَّنَا لَغَفُورٞ شَكُورٌ ٣٤
...Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan kesedihan dari kami. Sesungguhnya Tuhan kami benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.
Kenapa dua nama ini berpasangan?
Coba pikirkan. Amal kita selalu punya dua sisi: kekurangan dan kebaikan. Shalat kita ada khusyuknya, tapi juga ada lalainya. Sedekah kita ada ikhlasnya, tapi juga ada sedikit riya'nya.
Al-Ghafur menutupi kekurangan amal kita. Asy-Syakur membesarkan kebaikan amal kita.
Jadi amal yang cacat, di tangan Al-Ghafur dan Asy-Syakur, kekurangannya dihapus dan kebaikannya dilipatgandakan. Itulah yang membuat penghuni surga memuji Allah dengan kedua nama itu. Mereka sadar, mereka masuk surga bukan karena amal mereka sempurna, tapi karena Allah Ghafur dan Syakur.
Kisah-Kisah Amal Kecil
Rasulullah menceritakan beberapa kisah yang menggambarkan Asy-Syakur dengan sangat jelas.
Dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim, beliau bercerita tentang seorang laki-laki yang berjalan dan menemukan dahan berduri di tengah jalan. Ia menyingkirkannya. Allah pun mensyukuri perbuatannya dan mengampuninya.
Hanya menyingkirkan duri dari jalan.
Dalam hadits lain riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah bercerita tentang seseorang yang menemukan anjing yang menjulurkan lidah karena sangat haus. Ia turun ke sumur, mengisi sepatunya dengan air, lalu memberi minum anjing itu. Allah mensyukuri perbuatannya dan mengampuninya.
Hanya memberi minum seekor anjing.
Perhatikan kata yang dipakai dalam hadits-hadits itu: fasyakarallahu lahu, maka Allah mensyukuri perbuatannya.
Amal yang di mata manusia terlihat sepele, di sisi Asy-Syakur bisa menjadi sebab ampunan.
Bongkar Asumsi "Amal Kecil Gak Berarti"
Sekarang kita bisa melihat kesalahan dalam kata "cuma."
Asumsi di balik kata itu adalah: nilai amal ditentukan oleh ukuran lahiriahnya. Sedekah besar lebih bernilai dari sedekah kecil. Amal yang terlihat lebih berarti dari amal yang tersembunyi.
Tapi Asy-Syakur mengoreksi asumsi itu. Nilai amal di sisi Allah gak ditentukan oleh ukurannya, tapi oleh ketulusan dan kemurahan Allah dalam membalasnya.
Rasulullah bahkan bersabda, dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim: "Jagalah diri kalian dari neraka, walau hanya dengan separuh kurma."
Separuh kurma. Allah gak meremehkannya. Kenapa kita meremehkannya?
Meneladani Asy-Syakur
Kalau Allah menghargai amal kecil hamba-Nya, bagaimana dengan kita?
Seberapa sering kita menghargai kebaikan kecil orang lain?
Istri yang memasak setiap hari, pernahkah kita berterima kasih? Anak yang merapikan mainannya sendiri, pernahkah kita memujinya? Rekan kerja yang membantu hal kecil, pernahkah kita menghargainya?
Kita sering hanya bereaksi pada kesalahan, dan diam pada kebaikan. Padahal Asy-Syakur mengajarkan sebaliknya: perhatikan kebaikan, sekecil apa pun, dan hargai.
Rasulullah bersabda, dalam hadits riwayat Abu Dawud dan Tirmidzi: "Tidak bersyukur kepada Allah orang yang tidak berterima kasih kepada manusia."
Asy-Syakur dalam Mendidik Anak
Anak-anak butuh dihargai atas usaha kecil mereka. Bukan hanya atas prestasi besar.
Kalau kita hanya memuji anak ketika ia juara, ia akan belajar bahwa hanya hasil besar yang berarti. Lalu ia akan berhenti mencoba hal-hal yang gak menjamin hasil besar.
Tapi kalau kita menghargai usaha kecilnya, "Terima kasih sudah membantu Ibu mencuci piring," "Bagus, kamu sudah mencoba walau belum berhasil," ia akan belajar bahwa setiap kebaikan berarti.
Dan itulah pelajaran pertama tentang Asy-Syakur.
Cara Praktis Menghidupkan Asy-Syakur
Pertama, hapus kata "cuma" dari cara antum memandang amal sendiri. Lakukan amal kecil dengan yakin bahwa Asy-Syakur menghargainya.
Kedua, pilih satu amal kecil yang bisa dilakukan setiap hari: menyingkirkan sampah di jalan, memberi minum, tersenyum. Lakukan dengan niat karena Allah.
Ketiga, ucapkan terima kasih kepada tiga orang hari ini atas kebaikan kecil mereka.
Keempat, puji usaha anak, bukan hanya hasilnya.
Penutup
Kita sering merasa amal kita terlalu kecil untuk dihitung.
Tapi kita beribadah kepada Asy-Syakur, Yang menjadikan hewan kecil tumbuh besar dengan makanan sedikit, dan menjadikan amal kecil berbuah ampunan.
Maka amal kecil apa yang selama ini antum tinggalkan karena merasa gak berarti?
Tulisan ini bagian dari seri Tadabbur Asmaul Husna: nama ke-35 dari 99.