Dalam bahasa Arab, ada satu kata yang punya makna sangat beragam: barr.
Kata ini bisa berarti daratan, lawan dari lautan. Bisa berarti gandum, makanan pokok yang menghidupi. Bisa berarti kebajikan. Dan bisa berarti bakti, seperti dalam ungkapan birrul walidain, berbakti kepada orang tua.
Apa hubungan semua makna itu?
Ternyata semuanya berputar di sekitar satu gagasan: keluasan kebaikan. Dan dari akar kata inilah lahir salah satu nama Allah: Al-Barr.
Makna Al-Barr
Al-Barr berasal dari akar ب-ر-ر (b-r-r). Para ahli bahasa menjelaskan bahwa makna dasarnya adalah keluasan. Daratan disebut barr karena luas terbentang. Kebajikan disebut birr karena ia adalah keluasan dalam berbuat baik.
Al-Barr adalah Allah yang Maha Luas kebaikan-Nya, yang terus-menerus berbuat baik kepada makhluk-Nya, yang lembut dalam memberi, dan yang menepati janji-Nya.
Nama ini disebut dalam Al-Qur'an, dalam ucapan penghuni surga:
إِنَّا كُنَّا مِن قَبۡلُ نَدۡعُوهُۖ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلۡبَرُّ ٱلرَّحِيمُ ٢٨
Sesungguhnya kami dahulu menyembah-Nya. Sesungguhnya Dialah yang Maha Melimpahkan kebaikan (Al-Barr) lagi Maha Penyayang.
Konteks yang Menyentuh
Coba perhatikan konteks ayat ini. Beberapa ayat sebelumnya menggambarkan penghuni surga yang saling bercakap-cakap:
وَأَقۡبَلَ بَعۡضُهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٖ يَتَسَآءَلُونَ ٢٥ قَالُوٓاْ إِنَّا كُنَّا قَبۡلُ فِيٓ أَهۡلِنَا مُشۡفِقِينَ ٢٦ فَمَنَّ ٱللَّهُ عَلَيۡنَا وَوَقَىٰنَا عَذَابَ ٱلسَّمُومِ ٢٧
Dan sebagian mereka menghadap kepada sebagian yang lain saling bertanya-tanya. Mereka berkata: Sesungguhnya kami dahulu, sewaktu berada di tengah-tengah keluarga kami, merasa takut (akan azab). Maka Allah memberikan karunia kepada kami dan memelihara kami dari azab neraka.
Mereka mengenang masa di dunia, ketika mereka hidup di tengah keluarga dengan rasa takut kepada Allah. Dan sekarang, mereka menyadari bahwa semua itu dibalas dengan kebaikan yang luar biasa.
Lalu mereka menyimpulkan: innahu huwal barrur rahim. Dialah Al-Barr, Ar-Rahim.
Seolah setelah melihat semua kebaikan Allah, dari dunia sampai surga, satu-satunya kata yang tepat adalah: Al-Barr, Yang kebaikan-Nya seluas daratan tanpa ujung.
Kebaikan yang Gak Menunggu Balasan
Ada sifat khusus dari birr yang membedakannya dari sekadar "berbuat baik."
Birr adalah kebaikan yang terus-menerus, lembut, dan setia. Bukan kebaikan sesekali, bukan kebaikan yang menunggu dibalas, bukan kebaikan yang diungkit-ungkit.
Allah adalah Al-Barr: Dia berbuat baik kepada makhluk-Nya terus-menerus, bahkan kepada yang gak bersyukur, bahkan kepada yang durhaka.
Coba lihat hidup kita. Allah memberi napas kepada orang beriman dan orang kafir. Allah menurunkan hujan kepada orang saleh dan orang zalim. Allah memberi rezeki kepada yang bersyukur dan yang kufur.
Kebaikan-Nya gak pilih-pilih di dunia. Itulah keluasan birr.
Definisi Kebajikan dalam Al-Qur'an
Al-Qur'an punya satu ayat yang secara khusus mendefinisikan birr:
۞ لَّيۡسَ ٱلۡبِرَّ أَن تُوَلُّواْ وُجُوهَكُمۡ قِبَلَ ٱلۡمَشۡرِقِ وَٱلۡمَغۡرِبِ وَلَٰكِنَّ ٱلۡبِرَّ مَنۡ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ وَٱلۡمَلَٰٓئِكَةِ وَٱلۡكِتَٰبِ وَٱلنَّبِيِّـۧنَ وَءَاتَى ٱلۡمَالَ عَلَىٰ حُبِّهِۦ ذَوِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَٱلۡيَتَٰمَىٰ وَٱلۡمَسَٰكِينَ وَٱبۡنَ ٱلسَّبِيلِ وَٱلسَّآئِلِينَ وَفِي ٱلرِّقَابِ وَأَقَامَ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَى ٱلزَّكَوٰةَ وَٱلۡمُوفُونَ بِعَهۡدِهِمۡ إِذَا عَٰهَدُواْۖ وَٱلصَّٰبِرِينَ فِي ٱلۡبَأۡسَآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَحِينَ ٱلۡبَأۡسِۗ أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ صَدَقُواْۖ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُتَّقُونَ ١٧٧
Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan (al-birr), akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi, dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir, peminta-minta, dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan...
Ayat ini sangat menarik. Ia dimulai dengan membantah pemahaman yang sempit: kebajikan bukan sekadar arah kiblat, bukan sekadar ritual.
Lalu ia mendefinisikan kebajikan secara luas: iman yang benar, kepedulian sosial, ibadah, kejujuran, dan kesabaran. Semua dalam satu paket.
Sesuai dengan makna dasar birr: keluasan. Kebajikan sejati itu luas, mencakup hubungan dengan Allah dan hubungan dengan manusia.
Birrul Walidain: Meneladani Al-Barr
Salah satu penerapan birr yang paling ditekankan dalam Islam adalah birrul walidain, berbakti kepada orang tua.
Kenapa dipakai kata birr?
Karena bakti kepada orang tua harus meneladani sifat Al-Barr: luas, lembut, terus-menerus, dan gak menunggu balasan.
Luas: bukan hanya memberi uang, tapi juga waktu, perhatian, kesabaran, dan doa.
Lembut: Al-Qur'an melarang kita berkata "ah" kepada mereka (QS. Al-Isra': 23).
Terus-menerus: bukan hanya saat kita butuh mereka, tapi sepanjang hidup mereka, bahkan setelah mereka meninggal.
Gak menunggu balasan: kita berbakti bukan karena mereka sudah berbuat baik kepada kita, tapi karena itu perintah Allah. Bahkan kepada orang tua yang kurang baik pun, kita tetap diperintahkan berbuat baik dalam hal-hal yang gak melanggar syariat (QS. Luqman: 15).
Kebajikan yang Mengharukan
Rasulullah mengajarkan satu bentuk birr yang sangat indah. Dalam hadits riwayat Muslim, beliau bersabda bahwa di antara bakti yang paling baik adalah seseorang menyambung hubungan dengan teman-teman ayahnya setelah ayahnya meninggal.
Bayangkan. Ayah sudah tiada. Tapi anak tetap menjaga hubungan dengan sahabat-sahabat ayahnya, mengunjungi mereka, memuliakan mereka. Itu bentuk birr yang meluas bahkan setelah kematian.
Al-Barr dalam Mendidik Anak
Anak belajar birr dari melihat bagaimana orang tuanya memperlakukan kakek dan nenek mereka.
Kalau anak melihat kita sabar merawat orang tua yang sudah sepuh, berbicara lembut kepada mereka, dan meluangkan waktu untuk mereka, anak sedang belajar tentang birrul walidain secara langsung.
Sebaliknya, kalau anak melihat kita kasar atau mengabaikan orang tua kita, jangan heran kalau suatu hari mereka memperlakukan kita dengan cara yang sama.
Ajarkan juga definisi kebajikan dari Al-Baqarah ayat 177. Bahwa kebaikan itu luas: bukan hanya shalat, tapi juga membantu orang miskin, jujur, dan sabar.
Cara Praktis Menghidupkan Al-Barr
Pertama, renungkan Ath-Thur ayat 25–28. Bayangkan antum di antara penghuni surga yang berkata: innahu huwal barrur rahim.
Kedua, periksa definisi kebajikan antum. Apakah terlalu sempit, hanya ritual? Luaskan sesuai Al-Baqarah ayat 177.
Ketiga, lakukan satu bentuk bakti kepada orang tua hari ini. Kalau mereka sudah meninggal, doakan dan sambung hubungan dengan sahabat-sahabat mereka.
Keempat, berbuat baik kepada seseorang tanpa menunggu balasan.
Penutup
Kebaikan Allah seluas daratan yang terbentang tanpa ujung. Terus-menerus, lembut, dan gak pilih-pilih.
Dan kita diundang untuk meneladani keluasan itu dalam kapasitas manusia: kebajikan yang luas, bakti yang setia, dan kebaikan yang gak menunggu balasan.
Maka seluas apa kebajikan antum selama ini: seluas daratan, atau sesempit halaman rumah sendiri?
Tulisan ini bagian dari seri Tadabbur Asmaul Husna: nama ke-79 dari 99.