Ada paradoks yang menarik dalam empat nama di Surat Al-Hadid ayat 3.
Allah disebut Azh-Zhahir, Yang Maha Nyata. Tapi di kalimat yang sama, Allah juga disebut Al-Bathin, Yang Maha Tersembunyi.
Bagaimana mungkin sesuatu nyata dan tersembunyi sekaligus?
Ini bukan kontradiksi. Justru paradoks ini membuka pemahaman yang sangat dalam tentang Allah dan tentang hubungan kita dengan-Nya.
Makna Al-Bathin
Al-Bathin berasal dari akar ب-ط-ن (b-th-n), yang bermakna dalam, tersembunyi, bagian dalam. Kata bathn berarti perut, bagian dalam tubuh. Bathin berarti sisi dalam, lawan dari lahir.
Rasulullah menafsirkannya dalam doa yang sudah kita bahas: wa antal bathinu falaisa dunaka syai', Engkaulah Yang Bathin, maka gak ada sesuatu pun yang lebih dekat dari-Mu (HR. Muslim).
Perhatikan tafsir Rasulullah: bukan "tersembunyi" dalam arti jauh, tapi gak ada yang lebih dekat dari-Nya.
Para ulama menjelaskan Al-Bathin dengan beberapa makna. Di antaranya: Allah tersembunyi dari penglihatan mata di dunia, karena mata manusia gak mampu melihat-Nya. Allah mengetahui hal-hal yang tersembunyi, rahasia terdalam setiap hati. Dan Allah paling dekat dengan makhluk-Nya, lebih dekat dari apa pun.
Lebih Dekat dari Urat Leher
Al-Qur'an menggambarkan kedekatan ini dengan kalimat yang sangat kuat:
وَلَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ وَنَعۡلَمُ مَا تُوَسۡوِسُ بِهِۦ نَفۡسُهُۥۖ وَنَحۡنُ أَقۡرَبُ إِلَيۡهِ مِنۡ حَبۡلِ ٱلۡوَرِيدِ ١٦
Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.
Urat leher. Salah satu bagian tubuh yang paling vital, yang mengalirkan darah ke otak. Sangat dekat, bahkan bagian dari diri kita sendiri.
Dan Allah menyatakan bahwa ilmu-Nya lebih dekat dari itu. Dia mengetahui setiap bisikan hati, bahkan sebelum bisikan itu menjadi kata-kata.
Para mufassir menjelaskan bahwa kedekatan di sini adalah kedekatan ilmu, pengawasan, dan kekuasaan, bukan kedekatan fisik seperti makhluk dengan makhluk.
Kenapa Yang Paling Dekat Gak Terlihat?
Kembali ke paradoks tadi. Kenapa Allah yang paling dekat justru gak bisa dilihat?
Coba pikirkan analogi ini. Mata kita bisa melihat segala sesuatu, tapi gak bisa melihat dirinya sendiri. Mata gak bisa melihat mata. Kenapa? Karena ia terlalu dekat. Ia adalah alat yang dipakai untuk melihat.
Atau udara. Udara ada di sekitar kita, bahkan di dalam paru-paru kita. Kita gak bisa hidup tanpanya. Tapi kita gak bisa melihatnya.
Kedekatan yang ekstrem dan keberadaan yang meliputi segalanya justru membuat sesuatu gak terlihat oleh mata.
Tapi analogi ini hanya untuk mendekatkan pemahaman. Hakikat Allah jauh melampaui semua analogi. Nabi Musa pernah meminta untuk melihat Allah, dan Allah berfirman: "Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku..." lalu Allah menampakkan diri kepada gunung, dan gunung itu hancur (QS. Al-A'raf: 143).
وَلَمَّا جَآءَ مُوسَىٰ لِمِيقَٰتِنَا وَكَلَّمَهُۥ رَبُّهُۥ قَالَ رَبِّ أَرِنِيٓ أَنظُرۡ إِلَيۡكَۚ قَالَ لَن تَرَىٰنِي وَلَٰكِنِ ٱنظُرۡ إِلَى ٱلۡجَبَلِ فَإِنِ ٱسۡتَقَرَّ مَكَانَهُۥ فَسَوۡفَ تَرَىٰنِيۚ فَلَمَّا تَجَلَّىٰ رَبُّهُۥ لِلۡجَبَلِ جَعَلَهُۥ دَكّٗا وَخَرَّ مُوسَىٰ صَعِقٗاۚ فَلَمَّآ أَفَاقَ قَالَ سُبۡحَٰنَكَ تُبۡتُ إِلَيۡكَ وَأَنَا۠ أَوَّلُ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ١٤٣
Mata manusia di dunia gak dirancang untuk melihat Allah. Tapi bagi orang beriman, di akhirat nanti, ada janji untuk melihat-Nya, sebagaimana disebutkan dalam hadits-hadits shahih.
Zhahir dan Bathin Bersamaan
Sekarang kita bisa memahami bagaimana Allah Zhahir dan Bathin sekaligus.
Zhahir dari sisi tanda-tanda-Nya. Jejak-Nya ada di mana-mana. Siapa pun yang mau melihat akan menemukan bukti keberadaan-Nya.
Bathin dari sisi Dzat-Nya. Mata gak bisa menjangkau-Nya. Akal gak bisa membayangkan-Nya. Dan Dia sangat dekat, mengetahui setiap rahasia.
Seperti seorang penulis yang karyanya dibaca jutaan orang. Karyanya nyata, bisa dipegang dan dibaca. Tapi penulisnya sendiri gak terlihat di dalam buku itu. Kita mengenal penulis lewat karyanya, bukan dengan melihatnya secara langsung.
Tentu, analogi ini juga terbatas. Allah jauh lebih dekat kepada ciptaan-Nya daripada penulis kepada bukunya.
Al-Bathin dan Dunia Batin Kita
Nama ini juga mengajak kita memperhatikan dunia batin kita sendiri.
Kita hidup di zaman yang sangat fokus pada yang lahiriah. Penampilan, pencapaian yang terlihat, citra di media sosial. Kita menghabiskan banyak energi untuk mengurus yang tampak.
Tapi Al-Bathin mengetahui yang tersembunyi. Dia melihat niat di balik amal, motif di balik kata, perasaan di balik senyum.
Maka orang yang mengenal Al-Bathin akan lebih memperhatikan batinnya. Bukan hanya shalat yang terlihat rapi, tapi hati yang hadir dalam shalat. Bukan hanya sedekah yang terlihat banyak, tapi keikhlasan di baliknya. Bukan hanya wajah yang tersenyum, tapi hati yang bersih dari dengki.
Merasakan Kedekatan
Kalau Allah lebih dekat dari urat leher, kenapa kita sering merasa jauh dari-Nya?
Karena kedekatan Allah kepada kita berbeda dengan kedekatan kita kepada Allah.
Allah selalu dekat. Itu pasti. Tapi kita yang sering menjauh. Hati kita dipenuhi hal-hal lain sehingga gak ada ruang untuk merasakan kehadiran-Nya.
Seperti radio yang gak disetel ke frekuensi yang tepat. Siaran itu selalu ada di udara. Tapi radio gak menangkapnya karena salah frekuensi.
Dzikir, shalat, doa, dan tadabbur Al-Qur'an adalah cara "menyetel frekuensi" hati kita, supaya bisa merasakan kedekatan yang sebenarnya selalu ada.
Al-Bathin dalam Mendidik Anak
Anak-anak sering bertanya: "Allah di mana? Kenapa kita gak bisa melihat Allah?"
Jawab dengan jujur dan sederhana. "Kita gak bisa melihat Allah dengan mata, seperti kita gak bisa melihat udara. Tapi Allah sangat dekat, bahkan lebih dekat dari leher kita sendiri. Allah tahu semua yang ada di hati kita."
Dan ajarkan mereka untuk memperhatikan batin mereka. "Allah gak hanya melihat apa yang kamu lakukan, tapi juga apa yang ada di hatimu. Jadi jaga hatimu tetap baik."
Cara Praktis Menghidupkan Al-Bathin
Pertama, baca Qaf ayat 16 dengan perlahan. Rasakan bahwa Allah lebih dekat dari urat leher antum.
Kedua, periksa batin antum hari ini. Adakah dengki, sombong, atau riya' yang tersembunyi?
Ketiga, saat merasa jauh dari Allah, ingat bahwa bukan Allah yang menjauh. "Setel frekuensi" hati dengan dzikir.
Keempat, amalkan doa sebelum tidur yang mengandung tafsir empat nama dari Al-Hadid ayat 3.
Penutup
Allah gak bisa dilihat oleh mata. Tapi Dia lebih dekat dari urat leher kita sendiri.
Dia tersembunyi dari penglihatan, tapi gak ada yang tersembunyi dari-Nya.
Maka kalau Allah sedekat itu, apa yang selama ini menghalangi antum untuk merasakan kehadiran-Nya?
Tulisan ini bagian dari seri Tadabbur Asmaul Husna: nama ke-76 dari 99.