Pernahkah antum bertanya: sebelum ada alam semesta, apa yang ada?
Sebelum ada bintang, sebelum ada galaksi, sebelum ada ruang dan waktu. Apa yang ada saat itu?
Ini salah satu pertanyaan paling mendasar yang pernah diajukan manusia. Para filsuf dan ilmuwan sudah memikirkannya selama ribuan tahun.
Al-Qur'an menjawabnya dengan satu nama: Al-Awwal.
Empat Nama dalam Satu Ayat
Al-Awwal disebut dalam satu ayat bersama tiga nama lainnya:
هُوَ ٱلۡأَوَّلُ وَٱلۡأٓخِرُ وَٱلظَّٰهِرُ وَٱلۡبَاطِنُۖ وَهُوَ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيمٌ ٣
Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zhahir dan Yang Bathin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.
Empat nama ini membentuk satu kesatuan yang sangat indah. Al-Awwal dan Al-Akhir bicara tentang waktu. Azh-Zhahir dan Al-Bathin bicara tentang keberadaan. Kita akan membahas keempatnya satu per satu.
Tafsir Langsung dari Rasulullah
Yang istimewa, Rasulullah sendiri menafsirkan keempat nama ini dalam sebuah doa. Diriwayatkan Muslim dari Abu Hurairah, beliau mengajarkan doa sebelum tidur yang di dalamnya terdapat kalimat:
Allahumma antal awwalu falaisa qablaka syai', wa antal akhiru falaisa ba'daka syai', wa antazh zhahiru falaisa fauqaka syai', wa antal bathinu falaisa dunaka syai'...
Ya Allah, Engkaulah Yang Awal, maka tidak ada sesuatu pun sebelum-Mu. Engkaulah Yang Akhir, maka tidak ada sesuatu pun setelah-Mu. Engkaulah Yang Zhahir, maka tidak ada sesuatu pun di atas-Mu. Engkaulah Yang Bathin, maka tidak ada sesuatu pun yang lebih dekat dari-Mu.
Jadi makna Al-Awwal sudah dijelaskan langsung oleh Rasulullah: gak ada sesuatu pun sebelum-Nya.
Awal Tanpa Permulaan
Coba renungkan makna ini.
Semua yang kita kenal punya awal. Kita lahir di tanggal tertentu. Bumi terbentuk di waktu tertentu. Bahkan alam semesta, menurut pemahaman sains modern, punya titik awal.
Tapi Allah adalah Al-Awwal: Dia ada sebelum segala sesuatu, dan keberadaan-Nya gak punya permulaan.
Ini sulit dibayangkan oleh akal manusia, karena kita terbiasa berpikir dalam kerangka waktu. Setiap sesuatu harus punya "sebelum." Tapi waktu itu sendiri adalah ciptaan Allah. Sebelum waktu diciptakan, gak ada "sebelum" dalam arti yang kita pahami.
Kita sudah membahas logika sebab pertama saat membicarakan Al-Mubdi'. Rantai sebab-akibat gak bisa berjalan mundur tanpa ujung. Harus ada titik awal yang gak disebabkan oleh apa pun. Al-Awwal adalah titik itu.
Memulai dari Allah
Sekarang, bagaimana nama ini memengaruhi hidup kita?
Kalau Allah adalah Al-Awwal, yang pertama sebelum segala sesuatu, maka logis jika segala sesuatu dimulai dari-Nya.
Inilah sebabnya Islam mengajarkan kita memulai setiap aktivitas dengan bismillah. Bukan sekadar formalitas, tapi pengakuan bahwa Allah adalah awal dari segala sesuatu, termasuk awal dari aktivitas kecil kita.
Rasulullah juga mengajarkan kita untuk memulai hari dengan mengingat Allah. Doa bangun tidur, dzikir pagi, shalat shubuh. Seolah pesannya: hari yang dimulai dengan Al-Awwal akan berbeda dari hari yang dimulai dengan hal lain.
Coba perhatikan apa yang antum lakukan pertama kali saat bangun tidur. Kalau yang pertama adalah HP, maka yang menjadi "awal" hari antum adalah notifikasi, berita, dan media sosial. Pikiran langsung dipenuhi oleh hal-hal duniawi.
Tapi kalau yang pertama adalah Allah, lewat doa bangun tidur dan shalat, maka hari antum dimulai dengan kesadaran tentang siapa yang paling penting.
Al-Awwal dan Kerendahan Hati
Ada sisi lain dari Al-Awwal yang relevan: kita datang belakangan.
Sebelum kita lahir, Allah sudah ada. Sebelum manusia pertama diciptakan, Allah sudah ada. Sebelum bumi terbentuk, Allah sudah ada.
Kita adalah pendatang baru dalam cerita yang sangat panjang. Gak ada alasan untuk merasa diri penting atau berkuasa.
Allah berfirman kepada manusia: "Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut?" (QS. Al-Insan: 1)
هَلۡ أَتَىٰ عَلَى ٱلۡإِنسَٰنِ حِينٞ مِّنَ ٱلدَّهۡرِ لَمۡ يَكُن شَيۡـٔٗا مَّذۡكُورًا ١
Ada masa ketika kita gak ada sama sekali, bahkan gak disebut-sebut. Tapi Allah sudah ada.
Allah Mendahului Kita dalam Kebaikan
Ada satu makna lagi dari Al-Awwal yang sangat menyentuh: Allah selalu lebih dulu dalam kebaikan.
Sebelum kita meminta, Allah sudah memberi. Sebelum kita beribadah, Allah sudah memberi hidayah. Sebelum kita bertaubat, Allah sudah membuka pintu taubat.
Dalam hadits qudsi riwayat Bukhari dan Muslim, Allah berfirman: "...Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan, Aku datang kepadanya dengan berlari."
Allah selalu lebih dulu, dan selalu lebih cepat.
Al-Awwal dalam Mendidik Anak
Anak-anak suka bertanya tentang permulaan. "Siapa yang pertama kali ada?" "Sebelum ada dunia, ada apa?"
Pertanyaan ini adalah kesempatan untuk mengenalkan Al-Awwal. Jelaskan dengan sederhana: "Sebelum ada apa pun, Allah sudah ada. Allah yang menciptakan semuanya."
Dan biasakan mereka memulai segala sesuatu dengan Allah. Bismillah sebelum makan, doa sebelum tidur, doa bangun tidur. Supaya mereka tumbuh dengan kesadaran bahwa Allah adalah awal dari segala sesuatu.
Cara Praktis Menghidupkan Al-Awwal
Pertama, hafalkan doa sebelum tidur yang mengandung tafsir empat nama ini, lalu amalkan setiap malam.
Kedua, jadikan Allah sebagai "awal" hari antum. Jangan sentuh HP sebelum doa bangun tidur dan shalat shubuh.
Ketiga, ucapkan bismillah dengan kesadaran sebelum setiap aktivitas.
Keempat, renungkan Al-Insan ayat 1. Ada masa ketika antum belum menjadi apa-apa.
Penutup
Sebelum segala sesuatu, Allah sudah ada. Sebelum waktu, sebelum ruang, sebelum materi.
Dan karena Dia adalah awal dari segala sesuatu, maka sepantasnya Dia juga menjadi awal dari setiap hari dan setiap aktivitas kita.
Maka besok pagi, apa yang akan menjadi hal pertama yang antum sentuh: HP, atau Al-Awwal?
Tulisan ini bagian dari seri Tadabbur Asmaul Husna: nama ke-73 dari 99.