Ada satu perasaan yang sangat umum di zaman media sosial: merasa tertinggal.
Teman seangkatan sudah menikah. Sepupu sudah punya rumah. Rekan kerja sudah naik jabatan. Adik kelas sudah lulus S2. Tetangga sudah berangkat umrah.
Sementara kita? Masih di tempat yang sama. Atau terasa begitu.
Lalu muncul pertanyaan yang pahit: "Kenapa mereka didahulukan? Kenapa aku belum?"
Pertanyaan itu wajar. Tapi mungkin ada yang perlu kita periksa dalam cara kita memandangnya. Dan kuncinya ada pada nama Al-Muqaddim.
Makna Al-Muqaddim
Al-Muqaddim berasal dari akar ق-د-م (q-d-m), yang bermakna depan, mendahului. Kata qadim (lama, terdahulu) dan taqdim (mendahulukan) berasal dari akar yang sama.
Al-Muqaddim adalah Allah yang mendahulukan siapa atau apa yang Dia kehendaki, sesuai hikmah-Nya. Dia mendahulukan sebagian makhluk atas sebagian yang lain, dalam waktu, kedudukan, rezeki, atau keutamaan.
Nama ini berpasangan dengan Al-Mu'akhkhir, Yang Mengakhirkan. Keduanya disebut bersama dalam doa Rasulullah yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim:
...Antal muqaddim wa antal mu'akhkhir, la ilaha illa ant. Engkaulah Yang Mendahulukan dan Engkaulah Yang Mengakhirkan, tidak ada Tuhan selain Engkau.
Doa ini diucapkan Rasulullah di akhir shalat malam, dan juga dalam doa-doa lainnya.
Didahulukan dengan Hikmah
Coba perhatikan beberapa contoh bagaimana Allah mendahulukan.
Allah mendahulukan sebagian nabi atas sebagian yang lain dalam keutamaan: "Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain..." (QS. Al-Baqarah: 253).
۞ تِلۡكَ ٱلرُّسُلُ فَضَّلۡنَا بَعۡضَهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٖۘ مِّنۡهُم مَّن كَلَّمَ ٱللَّهُۖ وَرَفَعَ بَعۡضَهُمۡ دَرَجَٰتٖۚ وَءَاتَيۡنَا عِيسَى ٱبۡنَ مَرۡيَمَ ٱلۡبَيِّنَٰتِ وَأَيَّدۡنَٰهُ بِرُوحِ ٱلۡقُدُسِۗ وَلَوۡ شَآءَ ٱللَّهُ مَا ٱقۡتَتَلَ ٱلَّذِينَ مِنۢ بَعۡدِهِم مِّنۢ بَعۡدِ مَا جَآءَتۡهُمُ ٱلۡبَيِّنَٰتُ وَلَٰكِنِ ٱخۡتَلَفُواْ فَمِنۡهُم مَّنۡ ءَامَنَ وَمِنۡهُم مَّن كَفَرَۚ وَلَوۡ شَآءَ ٱللَّهُ مَا ٱقۡتَتَلُواْ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ يَفۡعَلُ مَا يُرِيدُ ٢٥٣
Allah mendahulukan sebagian waktu atas waktu lain: Ramadhan di atas bulan-bulan lain, Lailatul Qadr di atas malam-malam lain, hari Jumat di atas hari-hari lain.
Allah mendahulukan sebagian tempat atas tempat lain: Makkah, Madinah, Baitul Maqdis.
Dan Allah mendahulukan sebagian manusia atas sebagian yang lain dalam rezeki, kesempatan, dan waktu.
Semua ini bukan kebetulan. Semuanya berdasarkan hikmah Al-Hakim dan ilmu Al-'Alim.
Bongkar Asumsi "Didahulukan = Lebih Baik"
Kembali ke rasa tertinggal tadi.
Di balik perasaan itu, ada asumsi tersembunyi: orang yang didahulukan pasti lebih beruntung.
Tapi apakah benar begitu?
Coba pikirkan. Orang yang didahulukan mendapat harta, berarti ia didahulukan juga dalam pertanggungjawaban atas harta itu. Orang yang didahulukan mendapat jabatan, berarti ia didahulukan dalam amanah yang berat. Orang yang didahulukan menikah, berarti ia didahulukan dalam ujian rumah tangga.
Dalam hadits riwayat Muslim, Rasulullah bersabda bahwa orang-orang fakir dari kaum Muhajirin akan mendahului orang-orang kaya masuk surga dengan selisih empat puluh tahun.
Mereka yang di dunia "tertinggal" dalam harta, justru didahulukan di akhirat.
Jadi yang didahulukan di dunia belum tentu didahulukan di akhirat. Dan yang tertinggal di dunia bisa jadi didahulukan di tempat yang jauh lebih penting.
Setiap Orang Punya Jadwalnya Sendiri
Ada analogi yang sering dipakai: setiap orang punya zona waktunya sendiri.
Seseorang di Jakarta sudah pagi, sementara temannya di New York masih malam. Apakah yang di New York "tertinggal"? Gak. Mereka hanya berada di zona waktu yang berbeda.
Seseorang lulus kuliah di usia 22 tapi baru dapat pekerjaan di usia 27. Seseorang lain baru kuliah di usia 25 tapi langsung sukses. Seseorang menikah di usia 23, yang lain di usia 35. Semua punya jadwal yang berbeda.
Al-Muqaddim mengatur jadwal setiap hamba. Dan jadwal itu disesuaikan dengan kesiapan, kebutuhan, dan hikmah yang hanya Dia ketahui.
Mendahulukan yang Seharusnya Didahulukan
Ada sisi lain dari Al-Muqaddim yang relevan untuk kita: apa yang kita dahulukan dalam hidup?
Kita semua membuat prioritas setiap hari, sadar atau gak. Apa yang kita kerjakan pertama kali saat bangun tidur? Apa yang kita pikirkan paling sering? Apa yang kita korbankan demi apa?
Kalau yang kita dahulukan adalah HP saat bangun tidur, maka kita mendahulukan dunia maya atas shalat shubuh. Kalau yang kita dahulukan adalah pekerjaan saat adzan berkumandang, maka kita mendahulukan atasan atas Allah.
Meneladani Al-Muqaddim dalam kapasitas manusia berarti mendahulukan apa yang Allah dahulukan. Kewajiban di atas sunnah. Akhirat di atas dunia. Hak Allah di atas keinginan pribadi. Hak orang tua di atas kesenangan diri.
Al-Muqaddim dalam Mendidik Anak
Anak-anak sering membandingkan diri dengan saudara atau teman. "Kenapa kakak boleh, aku gak?" "Kenapa dia sudah punya HP, aku belum?"
Ajarkan mereka bahwa Allah mengatur waktu setiap orang secara berbeda. Yang didahulukan belum tentu lebih beruntung, dan yang belum dapat gak berarti gak akan dapat.
Dan ajarkan mereka tentang prioritas. Apa yang harus didahulukan dalam sehari? Shalat dulu, baru main. Tugas dulu, baru HP. Hak orang tua dulu, baru keinginan pribadi.
Cara Praktis Menghidupkan Al-Muqaddim
Pertama, saat merasa tertinggal, ingat hadits Muhajirin fakir yang mendahului orang kaya masuk surga.
Kedua, berhenti mengukur hidup dengan jadwal orang lain. Antum punya zona waktu sendiri.
Ketiga, periksa apa yang antum dahulukan setiap pagi. Pastikan yang pertama adalah Allah.
Keempat, hafalkan dan amalkan doa antal muqaddim wa antal mu'akhkhir di akhir shalat malam.
Penutup
Orang lain didahulukan bukan karena Allah lupa pada kita. Mereka didahulukan karena Al-Muqaddim tahu kapan waktu yang tepat bagi masing-masing.
Dan didahulukan di dunia bukan ukuran kemenangan. Yang penting adalah siapa yang didahulukan di sisi Allah.
Maka dalam hidup antum sekarang, apa yang sedang antum dahulukan: yang Allah dahulukan, atau yang dunia dahulukan?
Tulisan ini bagian dari seri Tadabbur Asmaul Husna: nama ke-71 dari 99.