Pernahkah antum melihat tanaman yang tumbuh subur di musim hujan, lalu kering dan mati di musim kemarau?
Minggu lalu hijau dan segar. Minggu ini kuning dan layu. Minggu depan tinggal ranting kering yang diterbangkan angin.
Pemandangan ini begitu biasa sampai kita jarang memperhatikannya. Tapi Al-Qur'an memakai pemandangan ini untuk menjelaskan sesuatu yang sangat penting tentang hidup kita. Dan penjelasan itu ditutup dengan nama Al-Muqtadir.
Makna Al-Muqtadir
Al-Muqtadir berasal dari akar yang sama dengan Al-Qadir: ق-د-ر (q-d-r). Tapi bentuknya berbeda.
Muqtadir berbentuk ifta'ala, yang dalam bahasa Arab sering mengandung makna penekanan dan kesungguhan. Seperti kasaba (mendapatkan) dan iktasaba (mendapatkan dengan usaha sungguh-sungguh).
Para ulama menjelaskan: Al-Qadir menunjukkan bahwa Allah mampu melakukan segala sesuatu. Al-Muqtadir menunjukkan bahwa kemampuan itu sempurna dan sedang bekerja, menguasai dan mengatur segala sesuatu dengan kekuasaan penuh.
Analoginya: seseorang bisa punya kemampuan menyetir mobil (qadir). Tapi ketika ia sedang benar-benar menyetir di jalan yang ramai, mengendalikan setiap belokan dengan sempurna, itu adalah kekuasaan yang sedang dijalankan (muqtadir).
Dunia Seperti Tanaman
Kembali ke tanaman tadi. Al-Qur'an berfirman:
وَٱضۡرِبۡ لَهُم مَّثَلَ ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا كَمَآءٍ أَنزَلۡنَٰهُ مِنَ ٱلسَّمَآءِ فَٱخۡتَلَطَ بِهِۦ نَبَاتُ ٱلۡأَرۡضِ فَأَصۡبَحَ هَشِيمٗا تَذۡرُوهُ ٱلرِّيَٰحُۗ وَكَانَ ٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ مُّقۡتَدِرًا ٤٥
Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia adalah sebagai air hujan yang Kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan adalah Allah Maha Kuasa (muqtadira) atas segala sesuatu.
Perhatikan alur perumpamaannya.
Air hujan turun. Kehidupan dimulai. Tumbuhan tumbuh subur. Masa jaya, masa muda, masa kesuksesan. Tumbuhan mengering. Masa tua, masa kemunduran. Diterbangkan angin. Hilang tanpa bekas.
Lalu ayat ditutup dengan: wa kanallahu 'ala kulli syai'in muqtadira.
Kenapa ditutup dengan Al-Muqtadir?
Karena seluruh siklus itu, dari hujan sampai angin yang menerbangkan, diatur oleh kekuasaan Allah yang sedang bekerja. Bukan kebetulan. Bukan proses acak. Setiap tahap dikendalikan dengan sempurna.
Ayat Sesudahnya
Dan perhatikan ayat berikutnya:
ٱلۡمَالُ وَٱلۡبَنُونَ زِينَةُ ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَاۖ وَٱلۡبَٰقِيَٰتُ ٱلصَّٰلِحَٰتُ خَيۡرٌ عِندَ رَبِّكَ ثَوَابٗا وَخَيۡرٌ أَمَلٗا ٤٦
Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.
Setelah menggambarkan dunia yang fana seperti tanaman kering, Allah menunjukkan apa yang gak ikut kering: al-baqiyatush shalihat, amal-amal saleh yang kekal.
Harta dan anak adalah perhiasan. Indah, tapi seperti tanaman: akan kering. Yang tetap adalah amal saleh.
Logikanya sangat jelas. Kalau Al-Muqtadir mengatur siklus dunia sehingga semua yang tumbuh pasti mengering, maka orang yang cerdas akan berinvestasi pada sesuatu yang gak ikut mengering.
Kursi di Sisi Raja yang Berkuasa
Ada satu ayat lagi yang menyebut nama ini, dan ia sangat indah:
إِنَّ ٱلۡمُتَّقِينَ فِي جَنَّٰتٖ وَنَهَرٖ ٥٤ فِي مَقۡعَدِ صِدۡقٍ عِندَ مَلِيكٖ مُّقۡتَدِرِۭ ٥٥
Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu di dalam taman-taman dan sungai-sungai, di tempat yang disenangi (maq'adi shidq) di sisi Tuhan Yang Berkuasa (malikin muqtadir).
Maq'adi shidq, tempat duduk yang benar, tempat duduk kejujuran. 'Inda malikin muqtadir, di sisi Raja yang Maha Berkuasa.
Coba bayangkan. Di dunia, orang berebut kursi di dekat penguasa. Kursi di rapat direksi. Kursi di samping pejabat. Kursi di lingkaran elit. Dan untuk mendapatkannya, banyak orang rela menjilat, berbohong, bahkan mengkhianati.
Tapi kursi-kursi itu seperti tanaman: akan kering. Penguasa akan turun. Jabatan akan berakhir. Lingkaran elit akan bubar.
Al-Qur'an menawarkan kursi yang berbeda: kursi di sisi Raja yang kekuasaan-Nya gak pernah berakhir. Dan cara mendapatkannya bukan dengan menjilat, tapi dengan takwa. Kursi itu disebut maq'adi shidq, kursi kejujuran. Gak bisa didapat dengan kepalsuan.
Kekuasaan yang Mengatur Detail
Ada sisi Al-Muqtadir yang sangat menenangkan: kekuasaan-Nya bekerja sampai ke detail.
Gak ada peristiwa dalam hidup kita yang terjadi di luar kekuasaan-Nya. Bahkan hal-hal yang terlihat kecil dan acak: pertemuan tak sengaja dengan seseorang yang kemudian mengubah hidup kita, keterlambatan yang ternyata menyelamatkan kita dari kecelakaan, pintu yang tertutup yang ternyata membuka jalan lain.
Semuanya diatur oleh kekuasaan yang sedang bekerja.
Ini gak berarti kita pasif. Kita tetap diperintahkan untuk berusaha, memilih, dan bertanggung jawab atas pilihan kita. Tapi di balik semua usaha kita, ada kekuasaan Allah yang mengatur hasilnya.
Al-Muqtadir dan Kesombongan Manusia Modern
Manusia modern punya kecenderungan merasa berkuasa atas alam. Kita bisa mengubah sungai, membelah gunung, mengendalikan cuaca dalam skala tertentu, bahkan mengedit gen.
Tapi kekuasaan kita selalu terbatas dan sementara. Satu bencana alam bisa menghancurkan kota yang dibangun puluhan tahun. Satu virus bisa melumpuhkan peradaban global.
Surat Al-Kahf ayat 45 tadi adalah pengingat: seluruh "kekuasaan" kita hanyalah seperti tanaman yang sedang subur. Indah sekarang, tapi akan kering. Hanya kekuasaan Al-Muqtadir yang abadi.
Al-Muqtadir dalam Mendidik Anak
Ajak anak-anak menanam sesuatu. Biji kacang hijau di kapas basah, atau tanaman di pot.
Biarkan mereka melihat seluruh siklusnya: tumbuh, subur, lalu layu. Kemudian bacakan Al-Kahf ayat 45 dan 46.
Tanyakan: "Kalau semua tanaman pasti layu, apa yang gak ikut layu?"
Biarkan mereka menemukan jawabannya: amal saleh. Pelajaran ini akan menempel jauh lebih kuat daripada ceramah.
Cara Praktis Menghidupkan Al-Muqtadir
Pertama, saat melihat tanaman yang layu atau daun yang gugur, ingat Al-Kahf ayat 45.
Kedua, periksa investasi hidup antum: berapa banyak untuk "tanaman" yang akan kering, dan berapa banyak untuk al-baqiyatush shalihat?
Ketiga, perbanyak dzikir al-baqiyatush shalihat: subhanallah, walhamdulillah, wa la ilaha illallah, wallahu akbar. Sebagian ulama salaf menafsirkan amal kekal itu dengan kalimat-kalimat ini.
Keempat, kejar "kursi kejujuran" di sisi Allah, bukan kursi di dekat penguasa dunia.
Penutup
Dunia seperti tanaman: hijau hari ini, kering besok, diterbangkan angin lusa.
Dan seluruh siklus itu diatur oleh Al-Muqtadir, yang kekuasaan-Nya sedang bekerja di setiap detail.
Maka apa yang sedang antum tanam hari ini: sesuatu yang akan kering, atau sesuatu yang akan kekal?
Tulisan ini bagian dari seri Tadabbur Asmaul Husna: nama ke-70 dari 99.