Menunggu adalah salah satu hal tersulit bagi manusia.
Menunggu hasil tes kesehatan. Menunggu kabar lamaran kerja. Menunggu jodoh. Menunggu anak. Menunggu doa dikabulkan. Menunggu masalah selesai.
Semakin lama menunggu, semakin besar rasa cemas. Dan perlahan, muncul pertanyaan: "Apakah ini akan pernah terjadi? Atau Allah sudah menolaknya?"
Pertanyaan ini sangat manusiawi. Tapi ada satu nama Allah yang menjawabnya dengan tegas: Al-Mu'akhkhir.
Makna Al-Mu'akhkhir
Al-Mu'akhkhir berasal dari akar أ-خ-ر ('-kh-r), yang bermakna belakang, akhir, menunda. Kata akhirat (kehidupan terakhir) dan ta'khir (penundaan) berasal dari akar yang sama.
Al-Mu'akhkhir adalah Allah yang mengakhirkan dan menunda siapa atau apa yang Dia kehendaki, sesuai dengan hikmah-Nya.
Seperti yang sudah kita bahas pada Al-Muqaddim, keduanya disebut bersama dalam doa Rasulullah: antal muqaddim wa antal mu'akhkhir (HR. Bukhari dan Muslim).
Penundaan yang Penuh Hikmah
Coba perhatikan bagaimana Allah menunda dalam kisah-kisah Al-Qur'an.
Nabi Ya'qub menunggu puluhan tahun untuk bertemu kembali dengan Yusuf. Menurut sebagian riwayat dalam kitab tafsir, penantian itu berlangsung sangat lama, sampai matanya memutih karena kesedihan. Tapi pertemuan itu akhirnya terjadi, dalam keadaan yang jauh lebih baik: Yusuf sudah menjadi pembesar Mesir, dan seluruh keluarga diselamatkan dari kelaparan.
Nabi Zakariya berdoa untuk mendapatkan anak sampai usia sangat tua. Penantian yang sangat panjang. Tapi jawabannya datang dalam bentuk Yahya, seorang nabi yang dipuji Allah.
Nabi Ayyub diuji dengan penyakit bertahun-tahun. Tapi kesembuhan datang, dan Allah mengembalikan keluarga dan hartanya berlipat ganda.
Polanya sama: penundaan bukan penolakan. Dan sering kali, apa yang datang setelah penundaan jauh lebih baik dari yang diminta.
Kenapa Allah Menunda?
Kita gak selalu tahu alasannya. Tapi Al-Qur'an dan Sunnah memberi beberapa isyarat.
Kesiapan. Kadang kita belum siap menerima apa yang kita minta. Seperti anak yang meminta mobil. Ia mungkin akan mendapatkannya, tapi setelah ia cukup dewasa untuk mengendarainya.
Pembentukan karakter. Penantian membentuk kesabaran, ketawakalan, dan kedalaman doa. Orang yang langsung mendapatkan apa yang ia minta mungkin gak akan pernah belajar sabar.
Waktu yang lebih tepat. Kita melihat dari sudut waktu yang terbatas. Allah melihat keseluruhan. Ada waktu yang lebih tepat yang gak kita ketahui.
Pahala menunggu. Kita sudah membahas saat Al-Mujib bahwa doa bisa disimpan untuk akhirat. Penantian dengan sabar juga berpahala.
Penundaan Hukuman
Al-Mu'akhkhir juga menunda hukuman bagi orang-orang yang berbuat dosa.
وَلَوۡ يُؤَاخِذُ ٱللَّهُ ٱلنَّاسَ بِمَا كَسَبُواْ مَا تَرَكَ عَلَىٰ ظَهۡرِهَا مِن دَآبَّةٖ وَلَٰكِن يُؤَخِّرُهُمۡ إِلَىٰٓ أَجَلٖ مُّسَمّٗىۖ فَإِذَا جَآءَ أَجَلُهُمۡ فَإِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِعِبَادِهِۦ بَصِيرَۢا ٤٥
Dan kalau sekiranya Allah menghukum manusia disebabkan usahanya, niscaya Dia tidak akan meninggalkan di atas permukaan bumi suatu makhluk yang melata pun, akan tetapi Allah menangguhkan (yu'akhkhiruhum) mereka sampai waktu yang tertentu...
Kata yu'akhkhiruhum dari akar yang sama dengan Al-Mu'akhkhir.
Ini adalah rahmat. Setiap hari yang kita jalani setelah berbuat dosa adalah penundaan dari Al-Mu'akhkhir. Kesempatan untuk bertaubat.
Tapi penundaan ini punya batas. Ayat itu berlanjut: "...maka apabila datang ajal mereka, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya."
Bahaya Menunda Taubat
Di sinilah letak ironi yang perlu kita renungkan.
Allah menunda hukuman untuk memberi kita kesempatan bertaubat. Tapi kita justru menunda taubat.
"Nanti saja, masih muda." "Nanti kalau sudah menikah." "Nanti kalau sudah pensiun." "Nanti kalau sudah haji."
Kita memakai penundaan dari Allah sebagai alasan untuk menunda juga. Padahal penundaan Allah ada batasnya, dan kita gak tahu kapan batas itu tiba.
Al-Qur'an menggambarkan penyesalan orang yang menunda sampai terlambat:
وَأَنفِقُواْ مِن مَّا رَزَقۡنَٰكُم مِّن قَبۡلِ أَن يَأۡتِيَ أَحَدَكُمُ ٱلۡمَوۡتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوۡلَآ أَخَّرۡتَنِيٓ إِلَىٰٓ أَجَلٖ قَرِيبٖ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُن مِّنَ ٱلصَّٰلِحِينَ ١٠
...Ya Tuhanku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?
Dan jawabannya: "Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang waktu kematiannya..." (QS. Al-Munafiqun: 11)
وَلَن يُؤَخِّرَ ٱللَّهُ نَفۡسًا إِذَا جَآءَ أَجَلُهَاۚ وَٱللَّهُ خَبِيرُۢ بِمَا تَعۡمَلُونَ ١١
Menunda yang Baik vs Menunda yang Buruk
Jadi ada dua jenis penundaan dalam hidup kita.
Penundaan dari Allah yang harus kita terima dengan sabar: doa yang belum dijawab, impian yang belum terwujud, ujian yang belum selesai.
Penundaan dari kita yang harus kita hindari: menunda taubat, menunda shalat, menunda kebaikan, menunda memperbaiki hubungan.
Orang yang cerdas sabar terhadap penundaan pertama, dan gak melakukan penundaan kedua.
Al-Mu'akhkhir dalam Mendidik Anak
Anak-anak zaman sekarang tumbuh di dunia serba instan. Video bisa langsung ditonton, makanan bisa langsung dipesan, informasi bisa langsung dicari. Mereka jarang belajar menunggu.
Padahal kemampuan menunda kepuasan adalah salah satu keterampilan hidup paling penting.
Latih mereka untuk menunggu. Gak semua keinginan langsung dipenuhi. Menabung untuk membeli sesuatu. Menunggu giliran. Menyelesaikan tugas sebelum bermain.
Dan ajarkan mereka tentang Al-Mu'akhkhir: "Kadang Allah menunda karena ada waktu yang lebih baik."
Tapi ajarkan juga: jangan menunda kebaikan. Kalau bisa berbuat baik sekarang, lakukan sekarang.
Cara Praktis Menghidupkan Al-Mu'akhkhir
Pertama, saat menunggu sesuatu yang lama, ingat kisah Ya'qub, Zakariya, dan Ayyub. Penundaan bukan penolakan.
Kedua, jangan berhenti berdoa selama menunggu. Penantian adalah ibadah.
Ketiga, periksa apa yang sedang antum tunda: taubat, shalat, sedekah, atau memperbaiki hubungan? Jangan tunda lagi.
Keempat, latih anak menunda kepuasan dengan cara yang sesuai usianya.
Penutup
Apa yang Allah tunda gak berarti Dia tolak. Kadang yang datang setelah penantian jauh lebih indah dari yang diminta.
Tapi penundaan dari Allah bukan izin bagi kita untuk menunda taubat. Karena kesempatan itu ada batasnya.
Maka apa yang sedang antum tunggu dari Allah, dan apa yang sedang antum tunda untuk Allah?
Tulisan ini bagian dari seri Tadabbur Asmaul Husna: nama ke-72 dari 99.