Ada satu nasihat yang sering diberikan dalam buku-buku pengembangan diri: "Begin with the end in mind." Mulailah dengan memikirkan akhirnya.
Nasihat ini bagus. Kalau kita tahu ke mana kita ingin sampai, kita bisa merencanakan langkah-langkah yang tepat.
Tapi pertanyaannya: akhir yang mana?
Akhir karier? Akhir hidup? Atau akhir dari segala sesuatu?
Al-Qur'an mengajak kita memikirkan akhir yang paling akhir. Dan di ujung semua akhir itu, hanya ada satu: Al-Akhir.
Makna Al-Akhir
Al-Akhir disebut bersama Al-Awwal dalam QS. Al-Hadid ayat 3. Dan seperti yang sudah kita bahas, Rasulullah menafsirkannya dalam doa: wa antal akhiru falaisa ba'daka syai', Engkaulah Yang Akhir, maka gak ada sesuatu pun setelah-Mu (HR. Muslim).
Al-Akhir adalah Allah yang tetap ada setelah segala sesuatu binasa. Keberadaan-Nya gak punya akhir, gak punya batas waktu, gak akan pernah berakhir.
Kalau Al-Awwal menjawab pertanyaan "apa yang ada sebelum segala sesuatu?", maka Al-Akhir menjawab pertanyaan "apa yang tersisa setelah segala sesuatu?"
Semua yang Ada Akan Binasa
Al-Qur'an menegaskan dengan sangat jelas:
كُلُّ مَنۡ عَلَيۡهَا فَانٖ ٢٦ وَيَبۡقَىٰ وَجۡهُ رَبِّكَ ذُو ٱلۡجَلَٰلِ وَٱلۡإِكۡرَامِ ٢٧
Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.
وَلَا تَدۡعُ مَعَ ٱللَّهِ إِلَٰهًا ءَاخَرَۘ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَۚ كُلُّ شَيۡءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجۡهَهُۥۚ لَهُ ٱلۡحُكۡمُ وَإِلَيۡهِ تُرۡجَعُونَ ٨٨
...Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Wajah-Nya...
Coba renungkan. Semua akan binasa. Rumah yang kita bangun. Harta yang kita kumpulkan. Nama baik yang kita jaga. Perusahaan yang kita dirikan. Bahkan bumi dan langit.
Semua itu punya tanggal kedaluwarsa. Hanya Allah yang gak punya.
Investasi pada yang Fana
Sekarang, mari bawa kesadaran ini ke cara kita hidup.
Bayangkan antum diberi pilihan untuk berinvestasi. Pilihan pertama: saham perusahaan yang pasti bangkrut dalam sepuluh tahun. Pilihan kedua: aset yang nilainya terus bertambah dan gak akan pernah hilang.
Orang yang waras pasti memilih pilihan kedua.
Tapi dalam kehidupan nyata, banyak dari kita justru memilih pilihan pertama. Kita menghabiskan hampir seluruh energi, waktu, dan pikiran untuk hal-hal yang pasti berakhir: karier, harta, popularitas, penampilan.
Sementara investasi pada yang kekal, hubungan dengan Al-Akhir, amal saleh, ilmu yang bermanfaat, sering kita beri sisa waktu dan sisa energi.
Allah berfirman:
مَا عِندَكُمۡ يَنفَدُ وَمَا عِندَ ٱللَّهِ بَاقٖۗ وَلَنَجۡزِيَنَّ ٱلَّذِينَ صَبَرُوٓاْ أَجۡرَهُم بِأَحۡسَنِ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ٩٦
Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal...
Logikanya sangat sederhana. Kalau yang di tangan kita pasti habis, dan yang di sisi Allah pasti kekal, maka investasi yang paling cerdas adalah memindahkan apa yang ada di tangan kita ke sisi Allah.
Bagaimana caranya? Sedekah, ilmu yang diajarkan, anak saleh yang mendoakan. Rasulullah bersabda, sebagaimana diriwayatkan Muslim, bahwa ketika manusia meninggal, terputuslah amalnya kecuali tiga: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.
Kisah Kambing yang Disembelih
Ada kisah yang sangat indah dalam hadits riwayat Tirmidzi. Keluarga Rasulullah menyembelih seekor kambing, lalu dagingnya dibagikan kepada orang-orang.
Rasulullah bertanya kepada Aisyah, "Apa yang tersisa darinya?" Aisyah menjawab, "Gak ada yang tersisa kecuali bahunya."
Rasulullah bersabda: "Semuanya tersisa, kecuali bahunya."
Maksudnya: yang dibagikan kepada orang lain itulah yang tersisa (kekal di sisi Allah sebagai pahala). Sedangkan yang disimpan untuk diri sendiri, yaitu bahu kambing itu, justru yang akan habis dimakan.
Kisah ini membalik cara kita menghitung. Apa yang kita berikan, itulah yang sebenarnya kita miliki. Apa yang kita simpan, itulah yang sebenarnya akan hilang.
Akhir yang Baik
Al-Akhir juga mengingatkan kita tentang pentingnya akhir yang baik, atau yang disebut husnul khatimah.
Rasulullah bersabda, dalam hadits riwayat Bukhari: "Sesungguhnya amal itu tergantung pada akhirnya."
Seseorang bisa beramal baik sepanjang hidupnya, lalu di akhir hidupnya berubah. Sebaliknya, seseorang bisa jauh dari Allah sepanjang hidupnya, lalu di akhir hidupnya kembali.
Ini sebabnya kita diajarkan untuk selalu memohon akhir yang baik. Dan untuk gak pernah merasa aman dengan amal kita, sekaligus gak pernah putus asa dari rahmat Allah.
Al-Akhir sebagai Tujuan
Kalau Allah adalah Al-Akhir, maka Dia juga adalah tujuan akhir dari seluruh perjalanan kita.
وَأَنَّ إِلَىٰ رَبِّكَ ٱلۡمُنتَهَىٰ ٤٢
Dan bahwasanya kepada Tuhanmulah kesudahan (segala sesuatu).
Semua jalan akhirnya bermuara kepada Allah. Pertanyaannya bukan apakah kita akan sampai kepada-Nya, tapi dalam keadaan apa kita sampai.
Al-Akhir dalam Mendidik Anak
Ajarkan anak tentang apa yang kekal dan apa yang fana dengan cara yang konkret.
Ajak mereka berbagi makanan dengan tetangga, lalu ceritakan kisah kambing yang disembelih. "Yang kita berikan, itu yang sebenarnya kita punya."
Ajarkan mereka bahwa mainan akan rusak, pakaian akan kekecilan, tapi kebaikan yang mereka lakukan akan tetap dicatat Allah selamanya.
Dan doakan mereka dengan doa husnul khatimah. Karena yang paling penting bukan bagaimana mereka memulai hidup, tapi bagaimana mereka mengakhirinya.
Cara Praktis Menghidupkan Al-Akhir
Pertama, periksa alokasi energi antum. Berapa persen untuk yang fana, berapa persen untuk yang kekal?
Kedua, amalkan kisah kambing: berikan sesuatu hari ini, dan sadari bahwa yang diberikan itulah yang tersisa.
Ketiga, perbanyak doa husnul khatimah. Salah satunya yang sering dibaca Rasulullah: Ya muqallibal qulub, tsabbit qalbi 'ala dinik (HR. Tirmidzi).
Keempat, mulailah investasi pada tiga amal yang gak terputus: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan mendidik anak yang saleh.
Penutup
Semua yang ada akan berakhir. Karier, harta, nama baik, bahkan dunia ini sendiri.
Hanya Al-Akhir yang tetap. Dan hanya apa yang kita titipkan kepada-Nya yang gak akan hilang.
Maka kalau semua yang antum miliki hari ini akan berakhir, apa yang sudah antum titipkan kepada Yang gak pernah berakhir?
Tulisan ini bagian dari seri Tadabbur Asmaul Husna: nama ke-74 dari 99.