Pernahkah antum mencari kacamata, lalu ternyata kacamata itu sudah terpasang di wajah antum?
Atau mencari HP sambil memegang HP itu di tangan?
Kadang sesuatu yang paling dekat dan paling jelas justru yang paling sulit kita lihat. Bukan karena ia tersembunyi, tapi karena ia terlalu dekat dan terlalu biasa.
Fenomena ini bisa membantu kita memahami salah satu nama Allah yang paling menarik: Azh-Zhahir.
Makna Azh-Zhahir
Azh-Zhahir berasal dari akar ظ-ه-ر (zh-h-r), yang bermakna tampak, nyata, di atas, menang. Kata zhuhur (waktu tengah hari, ketika matahari paling tinggi) berasal dari akar yang sama.
Rasulullah menafsirkan nama ini dalam doa yang sudah kita sebut: wa antazh zhahiru falaisa fauqaka syai', Engkaulah Yang Zhahir, maka gak ada sesuatu pun di atas-Mu (HR. Muslim).
Jadi Azh-Zhahir punya dua makna yang saling terkait.
Pertama, di atas segala sesuatu. Gak ada yang lebih tinggi, lebih kuat, atau lebih unggul dari-Nya.
Kedua, nyata dan tampak melalui tanda-tanda-Nya. Keberadaan-Nya jelas bagi siapa pun yang mau melihat.
Tanda-Tanda di Mana-Mana
Al-Qur'an terus-menerus mengajak kita melihat tanda-tanda kebesaran Allah:
سَنُرِيهِمۡ ءَايَٰتِنَا فِي ٱلۡأٓفَاقِ وَفِيٓ أَنفُسِهِمۡ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَهُمۡ أَنَّهُ ٱلۡحَقُّۗ أَوَلَمۡ يَكۡفِ بِرَبِّكَ أَنَّهُۥ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ شَهِيدٌ ٥٣
Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al-Qur'an itu adalah benar...
Tanda-tanda itu ada di dua tempat: di luar diri (fil afaq) dan di dalam diri (fi anfusihim).
Di luar diri: langit yang terbentang, matahari yang terbit dan tenggelam dengan presisi, siklus air, keragaman makhluk hidup, keteraturan hukum-hukum alam.
Di dalam diri: jantung yang berdetak tanpa kita suruh, sistem imun yang melawan penyakit, otak yang bisa berpikir dan merenung, kesadaran yang bisa bertanya tentang asal-usulnya sendiri.
Semua itu adalah tanda, dalam bahasa Al-Qur'an disebut ayat. Kata yang sama dipakai untuk ayat-ayat Al-Qur'an. Seolah alam semesta adalah "kitab" yang juga bisa dibaca.
Kenapa Banyak yang Gak Melihat?
Kalau tanda-tanda Allah ada di mana-mana, kenapa masih banyak orang yang gak melihat-Nya?
Pertama, karena terlalu biasa. Matahari terbit setiap hari, jadi kita gak lagi kagum. Jantung berdetak setiap detik, jadi kita gak lagi bersyukur. Hal yang terus-menerus ada justru menjadi gak terlihat.
Sebagian ulama memberi perumpamaan: cahaya matahari membuat segala sesuatu terlihat, tapi kita jarang memperhatikan cahaya itu sendiri. Kita melihat pohon, rumah, jalan, karena cahaya. Tapi karena cahaya ada di mana-mana, kita lupa bahwa ia ada. Baru ketika malam tiba dan cahaya hilang, kita sadar betapa pentingnya ia.
Kedua, karena hati yang tertutup. Al-Qur'an menyebut:
أَفَلَمۡ يَسِيرُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ فَتَكُونَ لَهُمۡ قُلُوبٞ يَعۡقِلُونَ بِهَآ أَوۡ ءَاذَانٞ يَسۡمَعُونَ بِهَاۖ فَإِنَّهَا لَا تَعۡمَى ٱلۡأَبۡصَٰرُ وَلَٰكِن تَعۡمَى ٱلۡقُلُوبُ ٱلَّتِي فِي ٱلصُّدُورِ ٤٦
...Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada.
Mata fisik bisa melihat tanda-tanda itu. Tapi kalau hati tertutup oleh kesombongan, hawa nafsu, atau kelalaian, tanda-tanda itu gak akan dipahami.
Ketiga, karena kesibukan. Kita terlalu sibuk dengan layar, pekerjaan, dan urusan dunia sehingga gak punya waktu untuk berhenti dan memperhatikan.
Allah di Atas Segala Sesuatu
Makna kedua Azh-Zhahir juga penting: Allah di atas segala sesuatu.
Gak ada kekuatan yang bisa mengalahkan-Nya. Gak ada rencana yang bisa melawan rencana-Nya. Gak ada penguasa yang lebih tinggi dari-Nya.
Kata zhahara 'ala dalam bahasa Arab juga berarti menang atas. Allah berfirman tentang agama-Nya: "...Untuk dimenangkan-Nya (liyuzhhirahu) atas segala agama..." (QS. At-Taubah: 33)
هُوَ ٱلَّذِيٓ أَرۡسَلَ رَسُولَهُۥ بِٱلۡهُدَىٰ وَدِينِ ٱلۡحَقِّ لِيُظۡهِرَهُۥ عَلَى ٱلدِّينِ كُلِّهِۦ وَلَوۡ كَرِهَ ٱلۡمُشۡرِكُونَ ٣٣
Kesadaran ini memberi ketenangan. Sebesar apa pun masalah yang kita hadapi, sekuat apa pun musuh yang kita lawan, Azh-Zhahir tetap di atas semuanya.
Belajar Membaca Tanda
Kalau Allah adalah Azh-Zhahir, maka tugas kita adalah belajar membaca tanda-tanda-Nya.
Al-Qur'an memuji orang-orang yang melakukan ini:
إِنَّ فِي خَلۡقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَٱخۡتِلَٰفِ ٱلَّيۡلِ وَٱلنَّهَارِ لَأٓيَٰتٖ لِّأُوْلِي ٱلۡأَلۡبَٰبِ ١٩٠ ٱلَّذِينَ يَذۡكُرُونَ ٱللَّهَ قِيَٰمٗا وَقُعُودٗا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمۡ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلۡقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ رَبَّنَا مَا خَلَقۡتَ هَٰذَا بَٰطِلٗا سُبۡحَٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ ١٩١
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia...
Mereka disebut ulul albab, orang-orang yang berakal. Mereka gak hanya melihat, tapi memikirkan. Dan dari pemikiran itu, mereka sampai pada kesimpulan: ya Tuhan kami, Engkau gak menciptakan ini dengan sia-sia.
Ilmu pengetahuan modern, kalau dipahami dengan benar, sebenarnya adalah salah satu cara membaca tanda-tanda Azh-Zhahir. Setiap penemuan tentang keteraturan alam semesta adalah penemuan tentang jejak Sang Pencipta.
Azh-Zhahir dalam Mendidik Anak
Anak-anak punya rasa kagum alami terhadap alam. Mereka bertanya kenapa langit biru, kenapa hujan turun, kenapa bunga berwarna-warni.
Jangan matikan rasa kagum itu dengan jawaban "sudah dari sananya." Gunakan setiap pertanyaan untuk mengenalkan Azh-Zhahir. "Coba lihat, bunga ini warnanya indah sekali. Siapa ya yang membuatnya seindah ini?"
Ajak mereka keluar rumah, melihat bintang, mengamati semut, menanam biji. Biarkan mereka belajar membaca "kitab alam."
Cara Praktis Menghidupkan Azh-Zhahir
Pertama, luangkan lima menit setiap hari untuk memperhatikan satu tanda kebesaran Allah, tanpa HP.
Kedua, saat bangun malam, baca Ali 'Imran ayat 190–200, seperti yang dilakukan Rasulullah menurut riwayat Bukhari, sambil memandang langit.
Ketiga, saat belajar ilmu apa pun, tanyakan: tanda kebesaran Allah apa yang ada di sini?
Keempat, saat menghadapi masalah besar, ingat bahwa Azh-Zhahir di atas segala sesuatu.
Penutup
Allah gak tersembunyi. Dia Maha Nyata. Tanda-tanda-Nya ada di langit, di bumi, dan di dalam diri kita sendiri.
Kalau kita belum melihat-Nya, mungkin bukan karena Dia tersembunyi, tapi karena mata hati kita yang belum terbuka.
Maka tanda kebesaran Allah apa yang hari ini antum lewati begitu saja tanpa memperhatikannya?
Tulisan ini bagian dari seri Tadabbur Asmaul Husna: nama ke-75 dari 99.