Pernahkah antum membayangkan seperti apa Allah?
Kita manusia berpikir dengan gambar. Ketika mendengar kata "raja," kita membayangkan seseorang dengan mahkota di singgasana. Ketika mendengar kata "kuat," kita membayangkan otot atau senjata.
Maka ketika mendengar tentang Allah, pikiran kita secara otomatis mencoba membuat gambaran. Dan gambaran itu, sehebat apa pun, pasti terbatas, karena dibentuk oleh pengalaman kita yang terbatas.
Ada satu nama Allah yang secara khusus menjaga kita dari kesalahan ini: Al-Muta'ali.
Makna Al-Muta'ali
Al-Muta'ali berasal dari akar yang sama dengan Al-'Aliyy: ع-ل-و ('a-l-w), yang bermakna tinggi.
Tapi bentuknya berbeda. Muta'ali berbentuk tafa'ala, yang dalam bahasa Arab mengandung makna melampaui, sangat jauh di atas.
Para ulama menjelaskan: kalau Al-'Aliyy berarti Allah Maha Tinggi, maka Al-Muta'ali berarti Allah Maha Tinggi melampaui segala sesuatu: melampaui sifat-sifat kekurangan, melampaui bayangan makhluk, melampaui apa pun yang dinisbatkan kepada-Nya oleh orang-orang yang gak mengenal-Nya.
Nama ini disebut dalam Al-Qur'an:
عَٰلِمُ ٱلۡغَيۡبِ وَٱلشَّهَٰدَةِ ٱلۡكَبِيرُ ٱلۡمُتَعَالِ ٩
Yang mengetahui semua yang ghaib dan yang tampak; Yang Maha Besar lagi Maha Tinggi (Al-Kabirul Muta'al).
Maha Tinggi dari Apa yang Mereka Sifatkan
Al-Qur'an sering menggunakan kata kerja dari akar yang sama, ta'ala, dalam konteks menyucikan Allah dari sifat-sifat yang gak layak:
وَجَعَلُواْ لِلَّهِ شُرَكَآءَ ٱلۡجِنَّ وَخَلَقَهُمۡۖ وَخَرَقُواْ لَهُۥ بَنِينَ وَبَنَٰتِۭ بِغَيۡرِ عِلۡمٖۚ سُبۡحَٰنَهُۥ وَتَعَٰلَىٰ عَمَّا يَصِفُونَ ١٠٠
Maha Suci Allah dan Maha Tinggi (ta'ala) dari apa yang mereka sifatkan.
سُبۡحَٰنَهُۥ وَتَعَٰلَىٰ عَمَّا يَقُولُونَ عُلُوّٗا كَبِيرٗا ٤٣
Maha Suci Dia dan Maha Tinggi (ta'ala) dari apa yang mereka katakan dengan ketinggian yang sebesar-besarnya.
Ada pola yang jelas di sini. Setiap kali manusia menisbatkan sesuatu yang gak layak kepada Allah, entah anak, sekutu, kelemahan, atau keserupaan dengan makhluk, Al-Qur'an menegaskan: Allah Maha Tinggi dari semua itu.
Inilah yang dalam ilmu aqidah disebut tanzih: menyucikan Allah dari segala kekurangan dan keserupaan dengan makhluk.
Bahaya Mengecilkan Allah
Kenapa ini penting? Karena ada bahaya yang sering gak kita sadari: mengecilkan Allah sesuai ukuran imajinasi kita.
Beberapa contoh bagaimana ini terjadi dalam kehidupan sehari-hari:
Membayangkan Allah seperti manusia yang bisa bosan dengan doa kita.
Membayangkan Allah seperti atasan yang hanya peduli pada hasil, bukan proses.
Membayangkan Allah seperti orang tua yang pilih kasih.
Membayangkan Allah gak mampu menyelesaikan masalah kita karena masalahnya terlalu besar.
Membayangkan Allah pasti marah besar dan gak akan mengampuni.
Semua bayangan itu adalah proyeksi dari pengalaman kita dengan manusia. Dan semua bayangan itu mengecilkan Allah.
Al-Muta'ali mengoreksi semua itu. Apa pun yang terlintas di benak kita tentang Allah, Allah lebih tinggi dari itu.
Mengenal Allah dengan Cara yang Benar
Tapi kalau Allah melampaui semua bayangan kita, bagaimana kita bisa mengenal-Nya?
Jawabannya: lewat apa yang Dia sendiri perkenalkan.
Allah memperkenalkan diri-Nya lewat Al-Qur'an dan lewat lisan Rasul-Nya. Nama-nama dan sifat-sifat yang Dia sebutkan, itulah yang kita imani. Dan kita mengimaninya dengan satu prinsip yang dirumuskan dalam QS. Asy-Syura ayat 11:
فَاطِرُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۚ جَعَلَ لَكُم مِّنۡ أَنفُسِكُمۡ أَزۡوَٰجٗا وَمِنَ ٱلۡأَنۡعَٰمِ أَزۡوَٰجٗا يَذۡرَؤُكُمۡ فِيهِۚ لَيۡسَ كَمِثۡلِهِۦ شَيۡءٞۖ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡبَصِيرُ ١١
...Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.
Perhatikan susunan ayat ini. Bagian pertama menafikan keserupaan: gak ada yang serupa dengan-Nya. Bagian kedua menetapkan sifat: Dia Maha Mendengar dan Maha Melihat.
Jadi kita menetapkan apa yang Allah tetapkan untuk diri-Nya, sambil menafikan keserupaan dengan makhluk. Pendengaran Allah gak seperti pendengaran kita. Penglihatan-Nya gak seperti penglihatan kita. Kasih sayang-Nya gak seperti kasih sayang kita.
Semuanya lebih tinggi, lebih sempurna, melampaui apa yang bisa kita bayangkan.
Para ulama memang punya pembahasan panjang dan beragam tentang bagaimana memahami sifat-sifat Allah. Tapi prinsip dasarnya disepakati: Allah Maha Suci dari keserupaan dengan makhluk.
Tafakkur tentang Ciptaan, Bukan Dzat
Ada nasihat yang masyhur di kalangan ulama, yang maknanya diriwayatkan dari beberapa sahabat dan dikuatkan dalam beberapa riwayat: berpikirlah tentang ciptaan Allah, dan jangan berpikir tentang Dzat Allah.
Nasihat ini sangat bijak. Akal manusia dirancang untuk memahami makhluk, bukan untuk menjangkau Dzat Pencipta. Mencoba membayangkan Dzat Allah hanya akan berujung pada bayangan yang keliru, atau kebingungan.
Tapi berpikir tentang ciptaan-Nya akan membawa kita pada kekaguman yang semakin dalam. Semakin kita memahami kompleksitas alam semesta, semakin kita sadar betapa Maha Tinggi Penciptanya.
Al-Muta'ali dalam Mendidik Anak
Anak-anak sering membayangkan Allah dengan cara yang polos. Mungkin seperti kakek tua di langit. Mungkin seperti raksasa yang sangat besar.
Jangan menertawakan atau memarahi bayangan itu. Tapi koreksi dengan lembut. "Allah gak seperti apa pun yang bisa kita bayangkan, Nak. Allah jauh lebih hebat dari semua itu. Kita mengenal Allah dari nama-nama-Nya yang indah."
Dan ajarkan mereka mengenal Allah lewat Asmaul Husna. Satu nama setiap minggu, dengan cerita dan contoh yang dekat dengan kehidupan mereka. Itu jauh lebih baik daripada membiarkan mereka membangun bayangan sendiri.
Cara Praktis Menghidupkan Al-Muta'ali
Pertama, saat pikiran membayangkan Allah seperti manusia, koreksi dengan kalimat: Subhanallahi wa ta'ala, Maha Suci Allah dan Maha Tinggi.
Kedua, periksa bayangan antum tentang Allah. Adakah yang mengecilkan-Nya? Misalnya merasa Allah pasti bosan dengan doa antum.
Ketiga, perbanyak tafakkur tentang ciptaan Allah, bukan tentang Dzat-Nya.
Keempat, kenali Allah lewat nama-nama yang Dia perkenalkan sendiri, seperti seri tadabbur ini.
Penutup
Apa pun yang terlintas di benak kita tentang Allah, Allah lebih tinggi dari itu.
Al-Muta'ali menjaga kita dari mengecilkan Allah sesuai ukuran imajinasi kita yang terbatas, sekaligus mengajak kita mengenal-Nya lewat apa yang Dia perkenalkan sendiri.
Maka bayangan apa tentang Allah yang selama ini antum pegang, padahal ternyata terlalu kecil untuk-Nya?
Tulisan ini bagian dari seri Tadabbur Asmaul Husna: nama ke-78 dari 99.