November 03, 2026 | Asmaul Husna

At-Tawwab: Allah yang Lebih Dulu Kembali kepadamu

Oleh M Salman Azhar
At-Tawwab: Allah yang Lebih Dulu Kembali kepadamu

Ada satu ayat dalam Al-Qur'an yang susunan katanya sangat menarik, dan kalau direnungkan, bisa mengubah cara kita memahami taubat.

وَعَلَى ٱلثَّلَٰثَةِ ٱلَّذِينَ خُلِّفُواْ حَتَّىٰٓ إِذَا ضَاقَتۡ عَلَيۡهِمُ ٱلۡأَرۡضُ بِمَا رَحُبَتۡ وَضَاقَتۡ عَلَيۡهِمۡ أَنفُسُهُمۡ وَظَنُّوٓاْ أَن لَّا مَلۡجَأَ مِنَ ٱللَّهِ إِلَّآ إِلَيۡهِ ثُمَّ تَابَ عَلَيۡهِمۡ لِيَتُوبُوٓاْۚ إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلتَّوَّابُ ٱلرَّحِيمُ ١١٨

QS. At-Tawba: 118

...Kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allah-lah Yang Maha Penerima taubat (At-Tawwab) lagi Maha Penyayang.

Perhatikan urutan dalam bahasa Arabnya: tsumma taba 'alaihim liyatubu. Kemudian Allah bertaubat (kembali) kepada mereka, supaya mereka bertaubat.

Allah yang lebih dulu. Baru kemudian hamba.

Ini membalik asumsi yang selama ini kita pegang tentang taubat. Dan kuncinya ada pada nama At-Tawwab.

Makna At-Tawwab

At-Tawwab berasal dari akar ت-و-ب (t-w-b), yang bermakna kembali. Taubat berarti kembali.

Ketika hamba bertaubat, ia kembali dari maksiat kepada ketaatan. Ketika Allah "bertaubat" kepada hamba, Dia kembali kepada hamba dengan rahmat, ampunan, dan penerimaan.

Bentuk fa''al pada kata tawwab menunjukkan intensitas dan pengulangan. At-Tawwab adalah Allah yang sangat sering dan terus-menerus menerima taubat hamba-hamba-Nya, sebanyak apa pun mereka kembali.

Para ulama menjelaskan bahwa taubat Allah kepada hamba ada dua tahap. Pertama, Allah memberi taufik kepada hamba untuk bertaubat, menggerakkan hatinya untuk menyesal dan kembali. Kedua, setelah hamba bertaubat, Allah menerima taubatnya.

Jadi taubat dimulai dari Allah dan diakhiri oleh Allah. Hamba hanya berada di tengah-tengah.

Kisah Tiga Sahabat

Ayat At-Taubah 118 tadi turun tentang tiga sahabat Nabi: Ka'b bin Malik, Hilal bin Umayyah, dan Murarah bin Ar-Rabi'.

Mereka gak ikut dalam Perang Tabuk tanpa alasan yang sah. Ketika Rasulullah kembali, orang-orang munafik datang dengan berbagai alasan palsu. Tapi ketiga sahabat ini jujur. Mereka mengakui bahwa mereka gak punya alasan.

Sebagai konsekuensi, Rasulullah memerintahkan kaum Muslimin untuk gak berbicara dengan mereka. Selama lima puluh hari, mereka diboikot. Gak ada yang menyapa, gak ada yang menjawab salam.

Ka'b bin Malik menceritakan pengalamannya dalam hadits panjang yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim. Ia menggambarkan bahwa bumi terasa sempit baginya, padahal bumi itu luas. Dan dirinya pun terasa sempit.

Al-Qur'an menggambarkan kondisi mereka:

...Hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas, dan jiwa mereka pun telah sempit bagi mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah, melainkan kepada-Nya saja...

La malja'a minallahi illa ilaih. Gak ada tempat lari dari Allah kecuali kepada Allah.

Dan pada hari kelima puluh, Allah menurunkan ayat yang menerima taubat mereka.

Pelajaran dari Kejujuran

Ada detail penting dalam kisah ini. Orang-orang munafik yang memberi alasan palsu diterima alasannya secara lahiriah oleh Rasulullah. Mereka gak diboikot. Tapi Allah membongkar kebohongan mereka dalam ayat-ayat Al-Qur'an.

Sedangkan tiga sahabat yang jujur justru mengalami masa sulit selama lima puluh hari. Tapi di akhirnya, taubat mereka diabadikan dalam Al-Qur'an, dibaca sampai hari kiamat.

Kejujuran dalam mengakui kesalahan mungkin terasa berat dan menyakitkan di awal. Tapi ia adalah pintu menuju taubat yang diterima.

Kegembiraan Allah

Ada hadits yang sangat indah tentang bagaimana Allah menyambut hamba yang bertaubat. Diriwayatkan Bukhari dan Muslim, Rasulullah bersabda:

Sungguh Allah lebih gembira dengan taubat hamba-Nya daripada seseorang di antara kalian yang kehilangan untanya di padang pasir, lalu menemukannya kembali.

Dalam riwayat Muslim yang lebih lengkap, digambarkan seorang laki-laki di padang pasir yang tandus. Untanya membawa semua makanan dan minumannya. Lalu untanya hilang. Ia mencari-cari sampai putus asa, lalu berbaring di bawah pohon menunggu kematian.

Tiba-tiba, untanya muncul di hadapannya. Ia langsung memegang tali untanya, dan karena sangat gembira, ia salah ucap: "Ya Allah, Engkau hambaku dan aku tuhan-Mu!"

Rasulullah bersabda bahwa Allah lebih gembira dengan taubat hamba-Nya daripada kegembiraan orang itu.

Coba bayangkan. Kegembiraan orang yang hampir mati lalu diselamatkan. Kegembiraan yang begitu besar sampai ia salah ucap. Dan kegembiraan Allah atas taubat kita lebih besar dari itu.

Bukan Kita yang Memulai

Kembali ke susunan ayat At-Taubah 118: tsumma taba 'alaihim liyatubu.

Kalau antum sedang merasa ingin bertaubat, sadarilah: keinginan itu sendiri adalah taubat Allah kepada antum. Allah sedang "kembali" kepada antum, menggerakkan hati antum, supaya antum bisa kembali kepada-Nya.

Maka jangan sia-siakan dorongan itu. Jangan tunda. Karena dorongan itu adalah undangan langsung dari At-Tawwab.

Dan kalau antum merasa hati keras, gak ada keinginan untuk bertaubat, maka mintalah kepada At-Tawwab agar Dia "kembali" kepada antum lebih dulu. Karena taubat dimulai dari-Nya.

At-Tawwab dalam Mendidik Anak

Anak-anak akan melakukan kesalahan. Bagaimana kita menyambut mereka ketika mereka mengaku salah?

Kalau setiap pengakuan disambut dengan kemarahan besar, anak akan belajar menyembunyikan kesalahan, seperti orang-orang munafik yang memberi alasan palsu.

Tapi kalau pengakuan disambut dengan penghargaan atas kejujuran, lalu diikuti dengan konsekuensi yang adil dan pintu yang terbuka kembali, anak akan belajar tentang taubat.

Ceritakan kisah Ka'b bin Malik. Ajarkan bahwa kejujuran dalam mengakui salah itu berat, tapi Allah menghargainya.

Cara Praktis Menghidupkan At-Tawwab

Pertama, kalau hari ini ada dorongan untuk bertaubat dari suatu dosa, sadari bahwa itu undangan dari At-Tawwab. Jangan tunda.

Kedua, baca kisah Ka'b bin Malik dalam kitab hadits atau tafsir At-Taubah ayat 118.

Ketiga, perbanyak istighfar dan taubat setiap hari. Rasulullah bertaubat lebih dari seratus kali sehari, sebagaimana diriwayatkan Muslim.

Keempat, sambut kejujuran anak dengan penghargaan, bukan hanya dengan hukuman.

Penutup

Kita mengira taubat dimulai dari kita. Padahal Allah yang lebih dulu kembali kepada kita, supaya kita bisa kembali kepada-Nya.

Dan ketika kita kembali, Allah menyambut dengan kegembiraan yang lebih besar dari orang yang menemukan untanya di padang pasir.

Maka kalau hari ini At-Tawwab sedang "kembali" kepada antum, apakah antum akan menyambut-Nya?


Tulisan ini bagian dari seri Tadabbur Asmaul Husna: nama ke-80 dari 99.

M Salman Azhar

Ditulis oleh

M Salman Azhar

Artikel Terkait