Suatu hari, Aisyah radhiyallahu 'anha bertanya kepada Rasulullah: "Wahai Rasulullah, jika aku mendapati Lailatul Qadr, apa yang harus aku ucapkan?"
Ini pertanyaan yang sangat penting. Lailatul Qadr adalah malam yang lebih baik dari seribu bulan. Kalau kita hanya punya satu doa di malam itu, apa yang seharusnya kita minta?
Rasulullah menjawab, sebagaimana diriwayatkan Tirmidzi dan dinilai shahih:
Ucapkanlah: Allahumma innaka 'afuwwun tuhibbul 'afwa fa'fu 'anni. Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, Engkau menyukai maaf, maka maafkanlah aku.
Bukan doa minta kaya. Bukan doa minta sukses. Bukan bahkan doa minta surga secara langsung.
Tapi doa yang memakai nama Al-'Afuww.
Kenapa?
Beda 'Afw dan Maghfirah
Kita sudah membahas Al-Ghaffar dan Al-Ghafur, yang berasal dari akar غ-ف-ر (gh-f-r), yang bermakna menutupi.
Al-'Afuww berasal dari akar yang berbeda: ع-ف-و ('a-f-w). Dalam bahasa Arab, akar ini punya makna dasar menghapus, menghilangkan jejak. Orang Arab berkata 'afatir rihu al-atsar, angin menghapus jejak kaki di padang pasir.
Para ulama menjelaskan perbedaan halus tapi penting antara keduanya:
Maghfirah (ampunan) adalah menutupi dosa. Dosa itu masih ada dalam catatan, tapi ditutupi sehingga gak dihukum dan gak dipermalukan.
'Afw (maaf) adalah menghapus dosa. Seperti angin yang menghapus jejak kaki di pasir, sampai gak tersisa bekasnya sama sekali.
Sebagian ulama menyebut bahwa 'afw lebih tinggi dari maghfirah, karena ia gak hanya menutupi, tapi menghapus sampai tuntas.
Maka ketika Rasulullah mengajarkan doa di Lailatul Qadr dengan nama Al-'Afuww, seolah beliau berkata: di malam terbaik ini, jangan hanya minta dosa ditutupi. Mintalah dosa dihapus, tanpa bekas.
Allah Menyukai Maaf
Perhatikan juga kalimat dalam doa itu: tuhibbul 'afwa, Engkau menyukai maaf.
Ini detail yang sangat indah. Allah gak hanya mampu memaafkan. Allah suka memaafkan.
Artinya, ketika kita meminta maaf kepada Allah, kita gak sedang meminta sesuatu yang berat bagi-Nya. Kita sedang meminta sesuatu yang Dia sukai.
Seperti meminta kepada orang yang dermawan untuk memberi. Kita gak perlu ragu, karena memberi adalah kesukaannya.
Nama yang Bersanding dengan Kuasa
Al-Qur'an menyebut Al-'Afuww di beberapa tempat, dan ada satu pasangan yang sangat menarik:
إِن تُبۡدُواْ خَيۡرًا أَوۡ تُخۡفُوهُ أَوۡ تَعۡفُواْ عَن سُوٓءٖ فَإِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَفُوّٗا قَدِيرًا ١٤٩
Jika kalian menampakkan suatu kebaikan atau menyembunyikannya, atau memaafkan suatu kesalahan (orang lain), maka sesungguhnya Allah Maha Pemaaf ('afuwwan) lagi Maha Kuasa (qadira).
Al-'Afuww bersanding dengan Al-Qadir, Yang Maha Kuasa.
Kenapa? Karena memaafkan yang sejati adalah memaafkan ketika mampu membalas. Orang yang memaafkan karena gak mampu membalas, itu bukan pemaaf, itu gak berdaya. Tapi orang yang mampu membalas lalu memilih memaafkan, itulah pemaaf yang sesungguhnya.
Allah Maha Kuasa untuk menghukum setiap dosa. Tapi Dia memilih memaafkan.
Dan perhatikan konteks ayatnya: ayat itu juga menyebut memaafkan kesalahan orang lain. Seolah Allah berkata: kalau kalian memaafkan orang lain, Aku juga Maha Pemaaf.
Kisah Abu Bakar dan Misthah
Ada kisah yang sangat menyentuh tentang hal ini.
Dalam peristiwa fitnah terhadap Aisyah (haditsul ifk), salah satu orang yang ikut menyebarkan fitnah adalah Misthah bin Utsatsah. Misthah adalah kerabat Abu Bakar yang miskin, dan selama ini Abu Bakar menafkahinya.
Bayangkan perasaan Abu Bakar. Orang yang ia nafkahi bertahun-tahun ikut memfitnah putrinya sendiri.
Setelah Allah membersihkan nama Aisyah, Abu Bakar bersumpah untuk gak lagi memberi nafkah kepada Misthah. Reaksi yang sangat manusiawi.
Tapi Allah menurunkan ayat:
وَلَا يَأۡتَلِ أُوْلُواْ ٱلۡفَضۡلِ مِنكُمۡ وَٱلسَّعَةِ أَن يُؤۡتُوٓاْ أُوْلِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَٱلۡمَسَٰكِينَ وَٱلۡمُهَٰجِرِينَ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِۖ وَلۡيَعۡفُواْ وَلۡيَصۡفَحُوٓاْۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَن يَغۡفِرَ ٱللَّهُ لَكُمۡۚ وَٱللَّهُ غَفُورٞ رَّحِيمٌ ٢٢
...Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kalian tidak ingin bahwa Allah mengampuni kalian? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Mendengar ayat ini, Abu Bakar berkata: "Tentu, demi Allah, aku ingin Allah mengampuniku." Lalu ia kembali memberi nafkah kepada Misthah. Kisah ini diriwayatkan Bukhari.
Logika ayat itu sangat tajam: ala tuhibbuna an yaghfirallahu lakum? Apakah kalian gak ingin Allah mengampuni kalian?
Kalau kita ingin dimaafkan Allah, kita juga harus memaafkan orang lain. Kalau kita meminta Allah menghapus dosa kita tanpa bekas, kita juga harus belajar menghapus kesalahan orang lain dari hati kita.
Memaafkan Bukan Berarti Lupa atau Membiarkan
Perlu diluruskan supaya gak salah paham.
Memaafkan bukan berarti membiarkan kezaliman terus terjadi. Kalau seseorang terus menyakiti, kita boleh menjaga jarak dan melindungi diri.
Memaafkan juga bukan berarti pura-pura gak ada masalah. Kita boleh menuntut hak dengan cara yang benar.
Memaafkan adalah melepaskan dendam dari hati. Gak lagi menyimpan kebencian, gak lagi menginginkan orang itu celaka, dan menyerahkan urusannya kepada Allah.
Al-'Afuww dalam Mendidik Anak
Ajarkan anak doa Lailatul Qadr sejak kecil. Hafalkan, dan jelaskan maknanya.
Dan ajarkan mereka memaafkan. Saat mereka bertengkar dengan saudara atau teman, bantu mereka melewati proses: mengungkapkan perasaan, meminta maaf, dan memaafkan.
Ceritakan kisah Abu Bakar dan Misthah. Tanyakan: "Kalau Abu Bakar yang difitnah sebegitu berat saja mau memaafkan, bagaimana dengan kita?"
Cara Praktis Menghidupkan Al-'Afuww
Pertama, hafalkan doa Allahumma innaka 'afuwwun tuhibbul 'afwa fa'fu 'anni. Baca bukan hanya di Ramadhan, tapi setiap hari.
Kedua, pikirkan satu orang yang masih antum simpan kesalahannya. Tanyakan: apakah aku ingin Allah menghapus dosaku? Lalu lepaskan.
Ketiga, maafkan saat antum mampu membalas. Itulah maaf yang sejati.
Keempat, bedakan memaafkan dengan membiarkan. Lepaskan dendam, tapi tetap jaga diri dengan bijak.
Penutup
Di malam terbaik sepanjang tahun, doa yang diajarkan Rasulullah bukan minta harta, bukan minta kedudukan, tapi minta dihapus dosanya tanpa bekas.
Karena Allah adalah Al-'Afuww, dan Dia suka memaafkan.
Maka kalau antum ingin Allah menghapus dosa antum seperti angin menghapus jejak di pasir, kesalahan siapa yang perlu antum hapus dari hati antum hari ini?
Tulisan ini bagian dari seri Tadabbur Asmaul Husna: nama ke-82 dari 99.