November 04, 2026 | Asmaul Husna

Al-Muntaqim: Keadilan untuk Setiap Korban

Oleh M Salman Azhar
Al-Muntaqim: Keadilan untuk Setiap Korban

Bayangkan seorang ibu yang anaknya menjadi korban kekerasan, dan pelakunya bebas karena punya koneksi.

Bayangkan seorang buruh yang gajinya ditahan bertahun-tahun oleh perusahaan besar, dan pengadilan gak berpihak padanya.

Bayangkan korban fitnah yang hidupnya hancur, sementara pemfitnahnya hidup tenang tanpa konsekuensi.

Di dunia ini, banyak kezaliman yang gak pernah dibalas. Banyak korban yang gak pernah mendapat keadilan.

Bagi mereka, ada satu nama Allah yang merupakan janji: Al-Muntaqim.

Makna Al-Muntaqim

Al-Muntaqim berasal dari akar ن-ق-م (n-q-m), yang bermakna membalas, menghukum atas kesalahan. Bentuk ifta'ala pada kata muntaqim menunjukkan pembalasan yang sempurna dan setimpal.

Al-Muntaqim adalah Allah yang membalas orang-orang yang durhaka dan zalim, setelah memberi mereka peringatan dan kesempatan.

Perlu dicatat dengan jujur: nama Al-Muntaqim dalam bentuk isim termasuk daftar masyhur riwayat Tirmidzi. Dalam Al-Qur'an, Allah menyebut diri-Nya dengan ungkapan 'azizun dzuntiqam, Maha Perkasa lagi mempunyai pembalasan, dan menyebut perbuatan-Nya muntaqimun (bentuk jamak) terhadap orang-orang yang berdosa:

وَمَنۡ أَظۡلَمُ مِمَّن ذُكِّرَ بِـَٔايَٰتِ رَبِّهِۦ ثُمَّ أَعۡرَضَ عَنۡهَآۚ إِنَّا مِنَ ٱلۡمُجۡرِمِينَ مُنتَقِمُونَ ٢٢

QS. As-Sajda: 22

...Sesungguhnya Kami akan memberikan pembalasan kepada orang-orang yang berdosa.

مِن قَبۡلُ هُدٗى لِّلنَّاسِ وَأَنزَلَ ٱلۡفُرۡقَانَۗ إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ بِـَٔايَٰتِ ٱللَّهِ لَهُمۡ عَذَابٞ شَدِيدٞۗ وَٱللَّهُ عَزِيزٞ ذُو ٱنتِقَامٍ ٤

QS. Aal-i-Imraan: 4

...Allah Maha Perkasa lagi mempunyai (kekuasaan untuk) membalas (dzuntiqam).

Sebagian ulama menegaskan bahwa nama ini gak sepatutnya disebut sendirian, dan lebih tepat dipahami dalam konteks: Allah membalas orang-orang yang zalim dan durhaka, bukan membalas secara sewenang-wenang.

Bukan Balas Dendam

Ada kesalahpahaman yang perlu diluruskan.

Dalam bahasa Indonesia, kata "membalas" sering berkonotasi balas dendam: marah, emosional, ingin menyakiti karena sakit hati.

Tapi pembalasan Allah sama sekali berbeda dari balas dendam manusia.

Balas dendam manusia lahir dari emosi yang terluka. Allah gak bisa dilukai oleh makhluk. Dalam hadits qudsi riwayat Muslim, Allah berfirman bahwa hamba-hamba-Nya gak akan mampu membahayakan-Nya.

Balas dendam manusia sering berlebihan. Pembalasan Allah setimpal dan adil, gak lebih sedikit pun.

Balas dendam manusia tergesa-gesa. Pembalasan Allah datang setelah peringatan dan kesempatan yang panjang.

Jadi Al-Muntaqim bukan tentang Allah yang "sakit hati." Ia tentang keadilan yang ditegakkan untuk setiap korban kezaliman.

Harus Ada Pembalasan

Coba pikirkan logika ini.

Kalau gak ada pembalasan atas kezaliman, apa artinya?

Artinya penindas dan tertindas berakhir sama. Pembunuh dan korbannya berakhir sama. Koruptor yang mencuri uang rakyat dan rakyat miskin yang kelaparan karena korupsi itu berakhir sama.

Alam semesta tanpa pembalasan adalah alam semesta yang gak adil secara moral.

Dan kita sudah membahas saat Al-'Adl bahwa fitrah manusia menuntut keadilan. Kita semua merasakan bahwa kezaliman harus dibalas.

Al-Muntaqim adalah jaminan bahwa tuntutan fitrah itu akan terpenuhi. Gak ada kezaliman yang lolos. Gak ada korban yang dilupakan.

Doa Orang yang Dizalimi

Rasulullah memberi peringatan yang sangat tegas tentang doa orang yang dizalimi. Dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim, ketika mengutus Mu'adz bin Jabal ke Yaman, beliau berpesan:

...Takutlah terhadap doa orang yang dizalimi, karena tidak ada penghalang antara doanya dengan Allah.

Gak ada penghalang. Doa orang yang dizalimi langsung sampai kepada Al-Muntaqim.

Ini adalah peringatan bagi kita semua. Setiap kali kita menzalimi orang lain, sekecil apa pun, kita sedang membuka pintu bagi doa mereka untuk sampai langsung kepada Allah.

Dan bagi orang yang dizalimi, ini adalah penghiburan. Doa antum gak sia-sia. Ia langsung sampai.

Waktu yang Allah Tentukan

Tapi kenapa pembalasan sering gak terjadi di dunia? Kenapa banyak penindas yang tampak hidup bahagia sampai akhir hayatnya?

Kita sudah membahas konsep ini saat Al-Halim dan Al-Mu'akhkhir. Allah menunda pembalasan untuk memberi kesempatan bertaubat. Dan sebagian pembalasan memang disimpan untuk hari akhir.

Al-Qur'an menegaskan:

وَلَا تَحۡسَبَنَّ ٱللَّهَ غَٰفِلًا عَمَّا يَعۡمَلُ ٱلظَّٰلِمُونَۚ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمۡ لِيَوۡمٖ تَشۡخَصُ فِيهِ ٱلۡأَبۡصَٰرُ ٤٢

QS. Ibrahim: 42

Dan janganlah sekali-kali kamu (Muhammad) mengira, bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zalim. Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak.

Wa la tahsabannallaha ghafilan, jangan kira Allah lalai.

Penundaan bukan kelalaian. Dan pembalasan pasti datang, di dunia atau di akhirat.

Rahmat Mendahului Pembalasan

Satu hal yang penting untuk diingat: dalam Al-Qur'an, Allah jauh lebih sering menyebut diri-Nya dengan nama-nama rahmat daripada nama-nama pembalasan.

Dan kita sudah menyebut hadits bahwa rahmat Allah mengalahkan murka-Nya (HR. Bukhari dan Muslim).

Al-Muntaqim bukan wajah utama Allah. Ia adalah jaminan keadilan bagi yang dizalimi, dan peringatan bagi yang menzalimi. Tapi pintu taubat tetap terbuka bagi siapa pun yang mau kembali, termasuk bagi para penzalim, selama mereka mengembalikan hak orang yang mereka zalimi.

Al-Muntaqim dalam Mendidik Anak

Anak-anak punya rasa keadilan yang sangat kuat. Mereka akan protes kalau merasa diperlakukan gak adil.

Ajarkan mereka bahwa Allah Maha Adil dan akan membalas setiap kezaliman. Tapi ajarkan juga bahwa pembalasan adalah urusan Allah, bukan urusan kita. Kita boleh menuntut hak dengan cara yang benar, tapi gak boleh membalas dendam dengan cara yang zalim.

Dan ajarkan mereka untuk gak menzalimi siapa pun, sekecil apa pun. Karena doa orang yang dizalimi gak ada penghalangnya.

Cara Praktis Menghidupkan Al-Muntaqim

Pertama, kalau antum pernah dizalimi dan belum mendapat keadilan, tenangkan hati dengan Ibrahim ayat 42: Allah gak lalai.

Kedua, periksa apakah ada orang yang pernah antum zalimi. Kembalikan haknya dan minta maaf sebelum terlambat.

Ketiga, jangan membalas dendam. Serahkan pembalasan kepada Allah, sambil menuntut hak dengan cara yang benar.

Keempat, ingat bahwa rahmat Allah mengalahkan murka-Nya. Pintu taubat selalu terbuka.

Penutup

Di dunia ini, banyak kezaliman yang gak pernah dibalas. Banyak korban yang gak pernah mendapat keadilan.

Tapi ada Dzat yang gak pernah lalai, dan yang menjamin bahwa setiap kezaliman akan dibalas dengan adil.

Maka adakah orang yang pernah antum zalimi, dan sudahkah antum mengembalikan haknya sebelum Al-Muntaqim yang mengurusnya?


Tulisan ini bagian dari seri Tadabbur Asmaul Husna: nama ke-81 dari 99.

M Salman Azhar

Ditulis oleh

M Salman Azhar

Artikel Terkait