Di padang pasir Makkah yang panas membakar, seorang budak berkulit hitam dibaringkan di atas pasir yang menyala.
Sebuah batu besar diletakkan di atas dadanya. Tuannya berdiri di sampingnya, memerintahkannya untuk kembali menyembah berhala.
Tapi dari bibirnya yang kering, hanya keluar satu kata, diulang-ulang:
"Ahad... Ahad..."
Budak itu adalah Bilal bin Rabah. Dan kata yang ia ucapkan adalah salah satu nama Allah: Al-Ahad.
Kenapa Bilal memilih kata itu? Kenapa bukan Wahid, yang juga berarti satu?
Beda Al-Wahid dan Al-Ahad
Keduanya berasal dari akar yang berdekatan dan sama-sama bermakna satu. Tapi para ahli bahasa dan ulama menjelaskan perbedaan yang halus namun penting.
Al-Wahid adalah satu dalam arti gak ada yang kedua. Ia adalah awal dari bilangan. Setelah satu, ada dua, tiga, dan seterusnya. Al-Wahid menegaskan bahwa gak ada Tuhan kedua.
Al-Ahad adalah satu dalam arti gak bisa dibagi dan gak bisa dibandingkan. Ia bukan awal dari bilangan. Ia adalah keunikan mutlak, yang gak punya bagian, gak punya tandingan, gak punya kesamaan dengan apa pun.
Sebagian ulama menjelaskan dengan kalimat sederhana: Al-Wahid menafikan jumlah, Al-Ahad menafikan keserupaan dan pembagian.
Dan perhatikan: dalam bahasa Arab, kata ahad dalam kalimat negatif dipakai untuk makna "gak seorang pun." Ma ja'ani ahad, gak ada seorang pun yang datang kepadaku. Ia menafikan secara total.
Surat yang Dimulai dengan Ahad
Nama ini muncul di awal salah satu surat paling terkenal dalam Al-Qur'an:
قُلۡ هُوَ ٱللَّهُ أَحَدٌ ١ ٱللَّهُ ٱلصَّمَدُ ٢ لَمۡ يَلِدۡ وَلَمۡ يُولَدۡ ٣ وَلَمۡ يَكُن لَّهُۥ كُفُوًا أَحَدُۢ ٤
Katakanlah: Dialah Allah, Yang Maha Esa (Ahad). Allah adalah tempat bergantung segala sesuatu (Ash-Shamad). Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada seorang pun (ahad) yang setara dengan Dia.
Perhatikan bahwa kata ahad muncul dua kali: di ayat pertama sebagai nama Allah, dan di ayat terakhir untuk menafikan: wa lam yakun lahu kufuwan ahad, gak ada seorang pun yang setara dengan-Nya.
Surat ini dibuka dengan Ahad dan ditutup dengan ahad. Seolah seluruh surat adalah penjelasan tentang keunikan mutlak Allah.
Dan diapit di antaranya: Dia gak beranak dan gak diperanakkan. Karena beranak berarti ada bagian dari-Nya yang terpisah. Diperanakkan berarti ada yang mendahului-Nya. Keduanya bertentangan dengan Al-Ahad.
Kenapa Bilal Memilih Ahad?
Sekarang kita bisa memahami pilihan Bilal.
Bilal sedang dipaksa untuk menyamakan Allah dengan berhala-berhala Quraisy. Tuannya ingin ia mengakui Latta dan Uzza, sebagai "tuhan-tuhan" yang setara atau bahkan lebih dari Allah.
Dan jawaban Bilal adalah kata yang paling tepat untuk menolak itu: Ahad. Allah gak bisa disamakan dengan apa pun. Gak bisa dibandingkan. Gak bisa dibagi dengan tuhan-tuhan lain.
Kata itu bukan sekadar pernyataan bahwa Tuhan itu satu. Ia adalah pernyataan bahwa gak ada apa pun yang bisa menyamai Allah, termasuk berhala yang ingin dipaksakan kepadanya, dan termasuk rasa sakit yang sedang ia alami.
Di bawah batu itu, di atas pasir yang membakar, Bilal menemukan sesuatu yang gak bisa dirampas oleh siapa pun: keyakinan bahwa Allah itu Ahad.
Membandingkan Allah dengan Makhluk
Salah satu kesalahan paling mendasar dalam memahami Allah adalah membandingkan-Nya dengan makhluk.
Kita sering membayangkan Allah seperti manusia yang lebih besar. Allah marah seperti manusia marah. Allah bosan seperti manusia bosan. Allah lelah seperti manusia lelah.
Al-Ahad membongkar semua bayangan itu. Allah gak bisa dibandingkan dengan apa pun. Sifat-sifat-Nya gak seperti sifat-sifat makhluk.
فَاطِرُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۚ جَعَلَ لَكُم مِّنۡ أَنفُسِكُمۡ أَزۡوَٰجٗا وَمِنَ ٱلۡأَنۡعَٰمِ أَزۡوَٰجٗا يَذۡرَؤُكُمۡ فِيهِۚ لَيۡسَ كَمِثۡلِهِۦ شَيۡءٞۖ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡبَصِيرُ ١١
...Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya...
Ini penting untuk menjaga kita dari dua kesalahan.
Kesalahan pertama: menganggap Allah seperti manusia yang terbatas, sehingga kita meremehkan-Nya.
Kesalahan kedua: menganggap Allah terlalu jauh dan abstrak, sehingga kita gak merasa dekat dengan-Nya.
Al-Ahad menjaga keseimbangan: Allah gak seperti apa pun, tapi Dia memperkenalkan diri-Nya kepada kita lewat nama-nama dan sifat-sifat-Nya.
Cinta Surat Al-Ikhlas
Ada kisah yang indah dalam hadits riwayat Bukhari. Seorang sahabat selalu membaca Surat Al-Ikhlas dalam setiap rakaat shalat yang ia imami. Ketika ditanya alasannya, ia menjawab: "Karena surat itu berisi sifat Ar-Rahman, dan aku suka membacanya."
Ketika hal ini disampaikan kepada Rasulullah, beliau bersabda: "Beritahukan kepadanya bahwa Allah mencintainya."
Sahabat ini dicintai Allah karena mencintai surat yang menjelaskan keesaan dan keunikan Allah. Seolah pesannya: siapa yang mencintai Al-Ahad, akan dicintai oleh Al-Ahad.
Al-Ahad dalam Mendidik Anak
Kisah Bilal adalah salah satu kisah terbaik untuk anak-anak. Ceritakan dengan detail yang sesuai usia mereka. Biarkan mereka merasakan keteguhan Bilal.
Lalu tanyakan: "Kenapa Bilal gak mau menyerah? Apa yang membuatnya kuat?"
Ajarkan juga Surat Al-Ikhlas bukan hanya sebagai hafalan, tapi dengan maknanya. Jelaskan bahwa Allah itu Ahad, gak ada yang sama dengan-Nya. Dan ajarkan mereka untuk berkata "Ahad" di dalam hati saat menghadapi tekanan untuk melakukan hal yang salah.
Anak yang memiliki keyakinan seperti Bilal akan punya kekuatan batin yang luar biasa.
Cara Praktis Menghidupkan Al-Ahad
Pertama, baca Surat Al-Ikhlas dengan penghayatan. Rasakan setiap ayatnya.
Kedua, saat menghadapi tekanan untuk mengkompromikan prinsip, ucapkan dalam hati: Ahad, Ahad. Ingat Bilal.
Ketiga, periksa apakah antum pernah membayangkan Allah seperti manusia. Koreksi dengan Asy-Syura ayat 11.
Keempat, ceritakan kisah Bilal kepada anak-anak atau orang di sekitar antum.
Penutup
Di bawah batu yang berat, di atas pasir yang membakar, Bilal hanya punya satu kata. Dan kata itu cukup untuk membuatnya bertahan.
Ahad. Satu yang gak bisa dibagi, gak bisa dibandingkan, gak bisa disamakan dengan apa pun.
Maka ketika dunia menekan antum untuk menyamakan Allah dengan hal-hal lain, apakah antum punya keteguhan untuk berkata: Ahad?
Tulisan ini bagian dari seri Tadabbur Asmaul Husna: nama ke-67 dari 99.