October 22, 2026 | Asmaul Husna

Al-Hamid: Terpuji Meski Gak Ada yang Memuji

Oleh M Salman Azhar
Al-Hamid: Terpuji Meski Gak Ada yang Memuji

Kalimat pertama yang kita baca dalam Al-Qur'an setelah basmalah adalah: Alhamdulillahi rabbil 'alamin.

Kalimat pertama yang diajarkan kepada kita setelah bersin: Alhamdulillah.

Kalimat yang kita ucapkan saat mendapat kabar baik: Alhamdulillah. Bahkan, kalau kita meneladani Rasulullah, kita juga mengucapkannya saat mendapat kabar buruk.

Alhamdulillah mungkin kalimat yang paling sering kita ucapkan setelah basmalah. Tapi pernahkah kita bertanya: kenapa pujian itu milik Allah? Dan apa hubungannya dengan nama Al-Hamid?

Makna Al-Hamid

Al-Hamid berasal dari akar ح-م-د (h-m-d), yang bermakna memuji. Tapi pujian dalam bahasa Arab punya beberapa kata dengan nuansa yang berbeda.

Madh adalah pujian secara umum, bisa untuk sesuatu yang gak disengaja, bahkan bisa berlebihan atau gak tulus.

Syukr adalah terima kasih atas nikmat yang diterima.

Sedangkan hamd adalah pujian atas kesempurnaan sifat dan kebaikan perbuatan, disertai rasa cinta dan pengagungan.

Para ulama menjelaskan perbedaan penting antara hamd dan syukr: syukur diberikan karena menerima nikmat. Tapi hamd diberikan karena kesempurnaan yang dipuji, baik kita menerima nikmat darinya atau gak.

Al-Hamid adalah Allah yang Maha Terpuji. Dia terpuji karena kesempurnaan Dzat-Nya, keindahan nama-nama-Nya, kesempurnaan sifat-sifat-Nya, dan kebaikan semua perbuatan-Nya.

Terpuji Meski Gak Dipuji

Ada ayat yang menunjukkan sisi Al-Hamid yang sangat mendasar:

وَقَالَ مُوسَىٰٓ إِن تَكۡفُرُوٓاْ أَنتُمۡ وَمَن فِي ٱلۡأَرۡضِ جَمِيعٗا فَإِنَّ ٱللَّهَ لَغَنِيٌّ حَمِيدٌ ٨

QS. Ibrahim: 8

...Jika kalian dan orang-orang yang ada di muka bumi semuanya mengingkari (nikmat Allah), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.

Seandainya seluruh manusia di bumi berhenti memuji Allah, bahkan mengingkari-Nya, Allah tetap Maha Terpuji.

Kenapa?

Karena keterpujian Allah gak bergantung pada pujian kita. Ia melekat pada Dzat-Nya. Seperti matahari yang tetap bersinar, meski semua orang menutup mata.

Ini sangat berbeda dengan "keterpujian" manusia. Selebritas terpuji selama ada penggemar. Pemimpin terpuji selama ada pendukung. Begitu pujian berhenti, "keterpujian" mereka hilang.

Allah gak butuh pujian kita untuk menjadi terpuji. Kita yang butuh memuji-Nya, karena dengan memuji-Nya, kita menyelaraskan diri dengan realitas.

Pasangan Al-Ghaniyy dan Al-Hamid

Perhatikan bahwa di ayat tadi, Al-Hamid berpasangan dengan Al-Ghaniyy, Yang Maha Kaya. Pasangan ini muncul berkali-kali dalam Al-Qur'an:

۞ يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ أَنتُمُ ٱلۡفُقَرَآءُ إِلَى ٱللَّهِۖ وَٱللَّهُ هُوَ ٱلۡغَنِيُّ ٱلۡحَمِيدُ ١٥

QS. Faatir: 15

Wahai manusia, kalianlah yang butuh kepada Allah; dan Allah, Dialah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji.

Kenapa berpasangan?

Para ulama menjelaskan: ada orang kaya yang gak terpuji, karena pelit atau sombong. Ada orang terpuji yang gak kaya, karena gak punya apa-apa untuk diberikan. Tapi Allah Kaya sekaligus Terpuji. Kekayaan-Nya gak membuat-Nya sombong, dan keterpujian-Nya bukan karena Dia butuh pujian.

Kekayaan-Nya dipakai untuk memberi. Dan pemberian itulah yang membuat-Nya terpuji.

Alhamdulillah dalam Segala Keadaan

Ada satu hadits yang sering kita dengar tentang cara Rasulullah memuji Allah. Diriwayatkan Ibnu Majah, dari Aisyah: ketika Rasulullah melihat sesuatu yang beliau sukai, beliau mengucapkan Alhamdulillahilladzi bi ni'matihi tatimmush shalihat. Dan ketika melihat sesuatu yang gak beliau sukai, beliau mengucapkan Alhamdulillah 'ala kulli hal, segala puji bagi Allah dalam segala keadaan.

Bagaimana mungkin memuji Allah dalam keadaan yang gak kita sukai?

Di sinilah perbedaan hamd dan syukr menjadi penting. Kalau pujian kita hanya berbasis nikmat yang kita terima, maka saat musibah datang, pujian kita berhenti.

Tapi kalau pujian kita berbasis kesempurnaan Allah, maka musibah gak mengubah apa pun. Allah tetap sempurna, tetap bijaksana, tetap penyayang, bahkan di saat kita sedang diuji.

Alhamdulillah 'ala kulli hal bukan berarti kita senang dengan musibah. Tapi berarti kita tetap mengakui bahwa Dzat yang menakdirkannya adalah Dzat yang sempurna dan terpuji.

Pujian yang Mengubah Cara Pandang

Coba perhatikan efek kebiasaan memuji terhadap cara kita memandang hidup.

Orang yang terbiasa mengeluh akan melihat kekurangan di mana-mana. Cuaca terlalu panas, makanan kurang enak, pekerjaan terlalu berat, pasangan kurang perhatian.

Orang yang terbiasa memuji Allah akan melatih matanya untuk melihat kebaikan. Bukan menutup mata dari masalah, tapi melihat bahwa di tengah masalah pun ada kebaikan Allah yang terus mengalir.

Ini bukan sekadar "berpikir positif." Ini adalah melihat realitas dengan lebih utuh. Karena realitasnya memang: kebaikan Allah jauh lebih banyak daripada kesulitan yang kita alami.

Hamba yang Terpuji

Rasulullah disebut dengan nama Muhammad dan Ahmad, keduanya dari akar ح-م-د (h-m-d). Muhammad berarti yang banyak dipuji. Ahmad berarti yang paling banyak memuji.

Dan di hari kiamat, beliau akan diberi al-maqam al-mahmud, kedudukan yang terpuji (QS. Al-Isra': 79).

Seolah ada pesan: orang yang paling banyak memuji Allah, dialah yang paling layak dipuji.

Al-Hamid dalam Mendidik Anak

Ajarkan anak mengucapkan alhamdulillah bukan hanya saat senang. Ajarkan juga alhamdulillah 'ala kulli hal saat mereka kecewa.

Tapi jangan sekadar mengajarkan kalimatnya. Jelaskan maknanya. "Nak, kita tetap memuji Allah walau sedang sedih, karena Allah tetap baik. Dia tahu yang terbaik untuk kita."

Dan contohkan. Anak yang melihat orang tuanya tetap mengucapkan alhamdulillah di tengah kesulitan akan belajar lebih banyak daripada seribu ceramah.

Cara Praktis Menghidupkan Al-Hamid

Pertama, saat membaca Al-Fatihah, berhenti sejenak di alhamdulillahi rabbil 'alamin. Rasakan maknanya.

Kedua, biasakan alhamdulillah 'ala kulli hal saat mendapat hal yang gak disukai.

Ketiga, ganti satu keluhan hari ini dengan satu pujian kepada Allah.

Keempat, sebelum tidur, sebutkan tiga hal yang membuat antum memuji Allah hari itu.

Penutup

Allah tetap Maha Terpuji, meski seluruh manusia berhenti memuji-Nya.

Kita yang butuh memuji-Nya. Karena dengan memuji, mata kita terbuka untuk melihat kebaikan yang selama ini tertutup keluhan.

Maka hari ini, lebih banyak mana yang keluar dari lisan antum: keluhan, atau alhamdulillah?


Tulisan ini bagian dari seri Tadabbur Asmaul Husna: nama ke-56 dari 99.

M Salman Azhar

Ditulis oleh

M Salman Azhar

Artikel Terkait