October 20, 2026 | Asmaul Husna

Al-Haqq: Kalau Ada Kebenaran, Maka Ada yang Salah

Oleh M Salman Azhar
Al-Haqq: Kalau Ada Kebenaran, Maka Ada yang Salah

Zaman kita punya alergi tertentu terhadap kata kebenaran.

Kalau ada yang berkata "ini benar," segera muncul reaksi: "Benar menurut siapa?" "Itu kan kebenaranmu, bukan kebenaranku." "Jangan merasa paling benar."

Reaksi ini lahir dari niat yang sering baik: ingin toleran, ingin menghormati perbedaan, ingin menghindari fanatisme.

Tapi di balik niat baik itu, ada asumsi yang perlu diperiksa: apakah benar gak ada kebenaran objektif?

Al-Qur'an menjawab pertanyaan itu lewat satu nama yang sangat tegas: Al-Haqq.

Makna Al-Haqq

Al-Haqq berasal dari akar ح-ق-ق (h-q-q), yang bermakna tetap, pasti, sesuai kenyataan, gak berubah. Sesuatu disebut haqq kalau keberadaannya pasti dan gak bisa dibantah.

Dari akar ini juga lahir kata hakikat (esensi sejati) dan hak (sesuatu yang pasti menjadi milik seseorang).

Al-Haqq adalah Allah yang keberadaan-Nya pasti, yang gak bergantung pada apa pun, yang gak berubah, dan yang merupakan sumber dari segala kebenaran.

Al-Qur'an menegaskan:

ذَٰلِكَ بِأَنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدۡعُونَ مِن دُونِهِۦ هُوَ ٱلۡبَٰطِلُ وَأَنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡعَلِيُّ ٱلۡكَبِيرُ ٦٢

QS. Al-Hajj: 62

Demikianlah, karena sesungguhnya Allah, Dialah Al-Haqq, dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain Allah, itulah yang batil. Dan sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.

Logika yang Gak Bisa Dihindari

Coba perhatikan ayat lain yang sangat tajam:

فَذَٰلِكُمُ ٱللَّهُ رَبُّكُمُ ٱلۡحَقُّۖ فَمَاذَا بَعۡدَ ٱلۡحَقِّ إِلَّا ٱلضَّلَٰلُۖ فَأَنَّىٰ تُصۡرَفُونَ ٣٢

QS. Yunus: 32

Maka (Dzat yang demikian) itulah Allah, Tuhan kalian Yang Sebenarnya (Al-Haqq). Maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan. Maka bagaimanakah kalian dipalingkan?

Fa madza ba'dal haqqi illadh dhalal. Maka apa yang ada setelah kebenaran selain kesesatan?

Ini adalah logika yang sangat sederhana, tapi sulit dihindari.

Kalau ada satu jalan yang benar menuju suatu tempat, maka jalan-jalan lain yang menyimpang dari jalan itu pasti gak menuju ke tempat tersebut. Gak ada "jalan tengah" antara benar dan salah dalam hal yang bersifat pasti.

Kalau 2 + 2 = 4 adalah benar, maka 2 + 2 = 5 pasti salah. Gak bisa dua-duanya benar dengan alasan "setiap orang punya kebenarannya sendiri."

Kenapa Relativisme Gagal

Mari kita uji klaim "semua kebenaran itu relatif."

Pertama, klaim itu menghancurkan dirinya sendiri. Kalau semua kebenaran relatif, maka pernyataan "semua kebenaran relatif" juga relatif. Artinya, gak ada alasan untuk menerimanya.

Kedua, gak ada yang benar-benar hidup dengan relativisme. Orang yang mengatakan kebenaran itu relatif tetap merasa dizalimi ketika ditipu. Tetap merasa benar ketika membela diri. Tetap marah ketika haknya dirampas. Artinya, dalam praktik, ia tetap meyakini ada benar dan salah yang objektif.

Ketiga, relativisme gak bisa menjelaskan kemajuan moral. Kalau gak ada kebenaran objektif, maka penghapusan perbudakan bukan "kemajuan," hanya "perubahan selera." Tapi hampir semua orang merasa penghapusan perbudakan adalah kemajuan yang benar. Itu tanda bahwa kita semua merasakan adanya standar di luar selera manusia.

Al-Haqq adalah standar itu.

Membedakan Kebenaran dan Klaim Kebenaran

Tapi ada satu hal penting yang perlu dibedakan, supaya gak jatuh ke ekstrem yang lain.

Mengakui adanya kebenaran objektif gak sama dengan mengklaim bahwa setiap pendapat saya pasti benar.

Allah adalah Al-Haqq. Tapi pemahaman manusia tentang kebenaran itu bisa keliru. Dalam banyak masalah fiqih, para ulama berbeda pendapat, dan mereka saling menghormati. Imam Asy-Syafi'i dikenal dengan ungkapan yang masyhur dinisbatkan kepadanya: pendapatku benar tapi mungkin salah, pendapat orang lain salah tapi mungkin benar.

Jadi sikap yang tepat adalah: yakin bahwa ada kebenaran, tapi rendah hati bahwa pemahaman kita tentangnya bisa keliru. Kita teguh pada perkara yang sudah pasti (qath'i), dan lapang pada perkara yang terbuka untuk ijtihad.

Relativisme berkata: gak ada kebenaran. Fanatisme berkata: kebenaran adalah pendapatku. Al-Haqq mengajarkan jalan ketiga: kebenaran itu ada, bersumber dari Allah, dan kita semua sedang berusaha mendekatinya dengan rendah hati.

Al-Haqq dan Kebatilan yang Pasti Runtuh

Ada satu ayat yang memberi harapan bagi orang-orang yang memperjuangkan kebenaran:

وَقُلۡ جَآءَ ٱلۡحَقُّ وَزَهَقَ ٱلۡبَٰطِلُۚ إِنَّ ٱلۡبَٰطِلَ كَانَ زَهُوقٗا ٨١

QS. Al-Israa: 81

Dan katakanlah: Kebenaran telah datang dan kebatilan telah lenyap. Sesungguhnya kebatilan itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.

Kata zahuqa (pasti lenyap) menggambarkan sesuatu yang secara sifatnya gak bisa bertahan. Kebatilan mungkin terlihat kuat, mungkin mendominasi untuk sementara. Tapi ia gak punya pondasi. Cepat atau lambat, ia akan runtuh.

Kenapa? Karena kebatilan gak punya haqq, gak punya kepastian. Ia seperti bangunan tanpa fondasi. Semegah apa pun, ia akan roboh.

Sedangkan kebenaran berdiri di atas Al-Haqq, yang keberadaan-Nya pasti dan gak berubah.

Al-Haqq dalam Kehidupan Sehari-hari

Bagaimana nama ini memengaruhi keseharian kita?

Kejujuran. Kalau Allah Al-Haqq, maka setiap kebohongan adalah pengkhianatan terhadap realitas. Bohong kecil pun berarti memilih kebatilan di atas kebenaran.

Menerima kebenaran dari siapa pun. Kebenaran gak menjadi kurang benar karena disampaikan oleh orang yang kita gak suka. Kita sudah membahas saat Al-Mutakabbir: menolak kebenaran adalah salah satu definisi sombong.

Berani menyampaikan kebenaran. Dengan cara yang bijak dan penuh kasih, tapi tetap menyampaikannya.

Al-Haqq dalam Mendidik Anak

Anak-anak zaman sekarang tumbuh dalam budaya yang sering berkata "semua pilihan sama benarnya." Mereka mungkin menganggap bahwa agama hanyalah salah satu dari banyak "pilihan gaya hidup."

Tugas pendidik adalah membangun keyakinan anak bahwa ada kebenaran, dan kebenaran itu bersumber dari Allah. Tapi juga mengajarkan mereka untuk menghormati orang lain yang berbeda, berdialog dengan santun, dan gak memaksakan kebenaran dengan kekerasan.

Ajarkan mereka berpikir kritis. Jangan hanya berkata "karena memang begitu." Jelaskan logika di balik keyakinan, seperti logika Yunus ayat 32. Anak yang memahami kenapa sesuatu benar akan lebih teguh daripada anak yang hanya diperintah untuk percaya.

Cara Praktis Menghidupkan Al-Haqq

Pertama, hafalkan Yunus ayat 32: fa madza ba'dal haqqi illadh dhalal. Renungkan logikanya.

Kedua, bedakan antara kebenaran yang pasti dan pendapat yang bisa berbeda. Teguh pada yang pertama, lapang pada yang kedua.

Ketiga, latih menerima kebenaran dari siapa pun, termasuk dari orang yang antum gak sukai.

Keempat, hapus satu kebohongan kecil dari kebiasaan antum minggu ini.

Penutup

Kebenaran bukan musuh toleransi. Kebenaran adalah fondasi yang membuat toleransi bermakna.

Allah adalah Al-Haqq. Dan setelah kebenaran, hanya ada kesesatan.

Maka dalam hidup antum, adakah kebenaran yang selama ini antum hindari hanya karena gak nyaman?


Tulisan ini bagian dari seri Tadabbur Asmaul Husna: nama ke-51 dari 99.

M Salman Azhar

Ditulis oleh

M Salman Azhar

Artikel Terkait