Ada satu pengalaman yang pasti dialami setiap manusia: kehilangan.
Kehilangan orang tua. Kehilangan pasangan. Kehilangan sahabat. Kehilangan guru yang dikagumi. Kehilangan tokoh yang menjadi panutan.
Ketika orang yang kita sandari meninggal, rasanya seperti dinding tempat kita bersandar tiba-tiba runtuh. Kita limbung. Bingung. Gak tahu harus bersandar ke mana lagi.
Pengalaman ini mengajarkan satu pelajaran penting: semua yang hidup akan mati. Dan kalau kita bersandar pada yang akan mati, kita pasti akan kehilangan sandaran.
Lalu adakah sandaran yang gak akan pernah mati? Ada. Namanya Al-Hayy.
Makna Al-Hayy
Al-Hayy berasal dari akar ح-ي-ي (h-y-y), akar yang sama dengan Al-Muhyi. Tapi kalau Al-Muhyi adalah Yang memberi kehidupan, maka Al-Hayy adalah Yang Maha Hidup itu sendiri.
Para ulama menjelaskan bahwa kehidupan Allah berbeda secara mendasar dengan kehidupan makhluk.
Kehidupan makhluk punya awal: kita lahir di suatu waktu. Kehidupan Allah gak punya awal.
Kehidupan makhluk punya akhir: kita akan mati. Kehidupan Allah gak punya akhir.
Kehidupan makhluk bergantung pada sesuatu: makanan, udara, air. Kehidupan Allah gak bergantung pada apa pun.
Kehidupan makhluk punya kekurangan: kita lelah, sakit, lupa, tidur. Kehidupan Allah sempurna, tanpa kekurangan sedikit pun.
Ayat Paling Agung
Al-Hayy disebut di ayat yang oleh Rasulullah disebut sebagai ayat paling agung dalam Al-Qur'an, sebagaimana diriwayatkan Muslim dalam dialog beliau dengan Ubay bin Ka'b:
ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلۡحَيُّ ٱلۡقَيُّومُۚ لَا تَأۡخُذُهُۥ سِنَةٞ وَلَا نَوۡمٞۚ لَّهُۥ مَا فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِي ٱلۡأَرۡضِۗ مَن ذَا ٱلَّذِي يَشۡفَعُ عِندَهُۥٓ إِلَّا بِإِذۡنِهِۦۚ يَعۡلَمُ مَا بَيۡنَ أَيۡدِيهِمۡ وَمَا خَلۡفَهُمۡۖ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيۡءٖ مِّنۡ عِلۡمِهِۦٓ إِلَّا بِمَا شَآءَۚ وَسِعَ كُرۡسِيُّهُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَۖ وَلَا يَـُٔودُهُۥ حِفۡظُهُمَاۚ وَهُوَ ٱلۡعَلِيُّ ٱلۡعَظِيمُ ٢٥٥
Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Hidup (Al-Hayy), Yang terus-menerus mengurus makhluk-Nya (Al-Qayyum); tidak mengantuk dan tidak tidur...
Perhatikan urutannya. Setelah menyebut la ilaha illa huwa, nama pertama yang disebut adalah Al-Hayy.
Kenapa? Para ulama menjelaskan bahwa sifat hidup adalah dasar dari semua sifat lainnya. Ilmu, kekuasaan, pendengaran, penglihatan, kehendak, semuanya membutuhkan kehidupan. Gak mungkin ada yang mengetahui tanpa hidup. Gak mungkin ada yang berkuasa tanpa hidup.
Maka Al-Hayy adalah fondasi dari seluruh Asmaul Husna.
Bersandar pada Yang Hidup
Ada satu ayat yang sangat relevan dengan pengalaman kehilangan tadi:
وَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱلۡحَيِّ ٱلَّذِي لَا يَمُوتُ وَسَبِّحۡ بِحَمۡدِهِۦۚ وَكَفَىٰ بِهِۦ بِذُنُوبِ عِبَادِهِۦ خَبِيرًا ٥٨
Dan bertawakallah kepada Allah Yang Hidup (Kekal) Yang tidak mati...
Wa tawakkal 'alal hayyil ladzi la yamut.
Allah secara spesifik menyebut "yang tidak mati" dalam konteks tawakal. Seolah pesannya: jangan bersandar pada yang akan mati. Bersandarlah pada Yang gak akan pernah mati.
Ada sebuah peristiwa yang sangat menggambarkan hal ini.
Ketika Rasulullah wafat, para sahabat sangat terguncang. Umar bin Khattab, dalam kesedihannya, bahkan gak mau menerima kenyataan bahwa Rasulullah telah wafat.
Lalu Abu Bakar datang, berdiri di hadapan orang-orang, dan berkata dengan kalimat yang diriwayatkan Bukhari: "Barangsiapa menyembah Muhammad, maka sesungguhnya Muhammad telah wafat. Dan barangsiapa menyembah Allah, maka sesungguhnya Allah Maha Hidup, tidak akan mati."
Kemudian ia membacakan ayat: "Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kalian berbalik ke belakang?..." (QS. Ali 'Imran: 144)
وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٞ قَدۡ خَلَتۡ مِن قَبۡلِهِ ٱلرُّسُلُۚ أَفَإِيْن مَّاتَ أَوۡ قُتِلَ ٱنقَلَبۡتُمۡ عَلَىٰٓ أَعۡقَٰبِكُمۡۚ وَمَن يَنقَلِبۡ عَلَىٰ عَقِبَيۡهِ فَلَن يَضُرَّ ٱللَّهَ شَيۡـٔٗاۚ وَسَيَجۡزِي ٱللَّهُ ٱلشَّٰكِرِينَ ١٤٤
Manusia paling mulia pun wafat. Hanya Al-Hayy yang gak akan pernah mati.
Bahaya Bersandar pada Makhluk
Ini bukan berarti kita gak boleh mencintai atau bergantung pada manusia sama sekali. Kita butuh orang tua, pasangan, sahabat. Itu fitrah.
Tapi ada perbedaan antara mencintai dan menjadikan sandaran utama.
Kalau seseorang menjadikan pasangannya sebagai satu-satunya sumber kebahagiaan, maka ketika pasangan itu pergi, dunianya runtuh.
Kalau seseorang menjadikan gurunya sebagai satu-satunya sumber kebenaran, maka ketika guru itu wafat atau berubah, imannya ikut goyah.
Kalau seseorang menjadikan orang tuanya sebagai satu-satunya pelindung, maka ketika orang tua itu meninggal, ia merasa gak punya siapa-siapa lagi.
Al-Hayy mengajarkan: cintai makhluk, tapi bersandarlah pada Yang gak akan pernah mati. Dengan begitu, ketika kehilangan datang, sandaranmu tetap kokoh.
Doa Ya Hayyu Ya Qayyum
Ada doa yang sangat indah yang diajarkan Rasulullah kepada Fatimah. Diriwayatkan oleh An-Nasa'i dan Al-Hakim:
Ya Hayyu ya Qayyum, birahmatika astaghits, ashlih li sya'ni kullahu, wa la takilni ila nafsi tharfata 'ain.
Wahai Yang Maha Hidup, wahai Yang terus-menerus mengurus, dengan rahmat-Mu aku memohon pertolongan. Perbaikilah seluruh urusanku, dan jangan serahkan aku kepada diriku sendiri walau sekejap mata.
Perhatikan permohonan terakhirnya: jangan serahkan aku kepada diriku sendiri walau sekejap mata.
Ini adalah pengakuan yang sangat jujur. Kita gak bisa bersandar bahkan pada diri sendiri. Diri kita pun lemah, bisa salah, bisa lupa, bisa mati. Satu-satunya sandaran yang aman adalah Al-Hayy Al-Qayyum.
Al-Hayy dalam Mendidik Anak
Salah satu hal terpenting yang bisa kita ajarkan kepada anak adalah: orang tua akan pergi, tapi Allah selalu ada.
Ini bukan untuk menakut-nakuti. Tapi untuk memberi mereka sandaran yang kokoh sejak dini.
Anak yang hanya bersandar pada orang tuanya akan sangat rapuh ketika orang tuanya gak ada lagi. Tapi anak yang sudah mengenal Al-Hayy sejak kecil akan punya sandaran yang gak pernah hilang.
Ajarkan mereka doa ya hayyu ya qayyum. Ajarkan mereka untuk bicara kepada Allah saat sedih, takut, atau kesepian. Biarkan mereka tahu bahwa ada Yang selalu mendengar, selalu hidup, dan gak akan pernah pergi.
Cara Praktis Menghidupkan Al-Hayy
Pertama, hafalkan dan amalkan doa ya hayyu ya qayyum yang diajarkan kepada Fatimah, terutama di pagi dan petang.
Kedua, periksa di mana hati antum bersandar. Kalau sandaran utamanya adalah makhluk, mulai alihkan kepada Al-Hayy.
Ketiga, saat kehilangan seseorang, ingat kalimat Abu Bakar: Allah Maha Hidup, tidak akan mati.
Keempat, cintai orang-orang di sekitar antum dengan sepenuh hati, tapi jangan jadikan mereka pengganti Allah sebagai sandaran.
Penutup
Semua yang kita sandari akan pergi. Orang tua, pasangan, sahabat, guru, bahkan diri kita sendiri.
Hanya satu yang gak akan pernah pergi: Al-Hayy, Yang Maha Hidup, Yang gak mengantuk, gak tidur, dan gak akan pernah mati.
Maka selama ini, antum bersandar pada yang akan mati, atau pada Yang gak akan pernah mati?
Tulisan ini bagian dari seri Tadabbur Asmaul Husna: nama ke-62 dari 99.