Ada satu ayat yang, kalau dibaca pelan-pelan, terasa seperti ditanyakan langsung kepada kita:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡإِنسَٰنُ مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ ٱلۡكَرِيمِ ٦
Wahai manusia, apakah yang telah memperdayakanmu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah (Al-Karim)?
Pertanyaan ini aneh kalau dipikir.
Kenapa Allah menyebut diri-Nya Al-Karim, Yang Maha Pemurah, di saat menegur manusia yang durhaka? Bukankah lebih cocok kalau Allah menyebut diri-Nya Yang Maha Keras hukuman-Nya?
Justru di situlah letak kedalaman ayat ini.
Makna Al-Karim
Al-Karim berasal dari akar ك-ر-م (k-r-m), yang bermakna mulia, dermawan, murah hati. Dalam bahasa Arab, karim adalah sebutan untuk sesuatu yang terbaik di jenisnya. Tanah yang subur disebut ardh karimah. Kuda yang unggul disebut faras karim.
Para ulama menjelaskan Al-Karim dengan beberapa makna yang indah. Di antaranya: Allah yang memberi tanpa diminta, memberi lebih dari yang diminta, memberi tanpa menghitung, memaafkan meski mampu membalas, dan gak mengungkit-ungkit pemberian-Nya.
Al-Qur'an juga menyebut Allah sebagai Al-Akram, Yang Paling Pemurah, di salah satu wahyu pertama yang turun:
ٱقۡرَأۡ وَرَبُّكَ ٱلۡأَكۡرَمُ ٣
Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah (Al-Akram).
Kenapa Menegur dengan Nama Al-Karim?
Kembali ke pertanyaan di Surat Al-Infithar.
Para mufassir memberi beberapa penjelasan. Salah satunya sangat menyentuh: pertanyaan itu adalah bentuk teguran yang membuat malu.
Coba bayangkan. Seseorang yang sudah memberimu segalanya, makanan, tempat tinggal, pendidikan, kasih sayang, lalu kamu membalasnya dengan pengkhianatan. Kemudian ia bertanya dengan tenang: "Apa yang membuatmu tega melakukan ini kepadaku, padahal aku selalu baik kepadamu?"
Pertanyaan itu jauh lebih menusuk daripada kemarahan.
Dan perhatikan ayat-ayat setelahnya:
ٱلَّذِي خَلَقَكَ فَسَوَّىٰكَ فَعَدَلَكَ ٧ فِيٓ أَيِّ صُورَةٖ مَّا شَآءَ رَكَّبَكَ ٨
Yang telah menciptakanmu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang, dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuhmu.
Allah mengingatkan kemurahan-Nya: Dia menciptakan, menyempurnakan, menyeimbangkan, dan membentuk kita. Lalu, setelah semua kemurahan itu, kenapa kita durhaka?
Jebakan "Allah Kan Maha Pemurah"
Ada juga sisi lain dari ayat ini yang perlu kita renungkan.
Sebagian ulama menjelaskan bahwa kata gharraka, memperdayakanmu, juga bisa menjadi isyarat: justru kemurahan Allah itulah yang sering membuat manusia terpedaya.
Karena Allah Maha Pemurah, manusia merasa aman. "Allah kan Maha Pengampun." "Allah kan gak langsung menghukum." "Nanti juga dimaafkan."
Lalu manusia menunda taubat, meremehkan dosa, dan terus berbuat durhaka, sambil bersandar pada kemurahan Allah.
Ini logika yang terbalik. Kemurahan seharusnya melahirkan rasa malu dan terima kasih, bukan rasa aman untuk terus melanggar.
Bayangkan seorang anak yang tahu orang tuanya sangat pemaaf, lalu ia sengaja terus berbuat nakal karena "nanti juga dimaafkan." Kita akan menyebut anak itu gak tahu diri. Bukan karena orang tuanya salah memaafkan, tapi karena anak itu menyalahgunakan kemurahan.
Kemurahan yang Gak Menunggu Diminta
Ada sisi Al-Karim yang sangat indah: Allah memberi sebelum diminta.
Kita gak pernah meminta untuk dilahirkan. Gak pernah meminta mata, telinga, jantung. Gak pernah meminta dilahirkan di keluarga Muslim. Gak pernah meminta udara untuk bernapas.
Semua itu diberikan tanpa diminta.
Dan ketika kita meminta, Allah memberi lebih. Dalam hadits riwayat Abu Dawud dan Tirmidzi, Rasulullah bersabda bahwa Allah itu hayiyyun karim, Maha Pemalu lagi Maha Pemurah. Dia malu jika seorang hamba mengangkat kedua tangannya berdoa, lalu Dia mengembalikannya dalam keadaan kosong.
Allah malu menolak doa hamba-Nya. Coba renungkan kalimat itu.
Kemurahan yang Gak Mengungkit
Salah satu ciri karim sejati adalah gak mengungkit-ungkit pemberian.
Manusia sering memberi lalu mengungkitnya. "Dulu aku sudah bantu kamu." "Ingat, siapa yang membiayai sekolahmu?"
Al-Qur'an bahkan memperingatkan bahwa sedekah yang diiringi dengan mengungkit-ungkit dan menyakiti perasaan penerimanya akan hilang pahalanya (QS. Al-Baqarah: 264).
Allah memberi kita segalanya setiap detik, dan Dia gak mengungkitnya untuk membuat kita merasa berutang. Dia mengingatkan nikmat-Nya supaya kita bersyukur dan kembali, bukan untuk mempermalukan kita.
Meneladani Al-Karim
Kalau Allah Maha Pemurah, bagaimana kita meneladani-Nya?
Memberi tanpa diminta. Jangan tunggu orang meminta bantuan. Perhatikan kebutuhan mereka, lalu bantu sebelum mereka harus meminta. Karena meminta itu sering terasa berat bagi orang yang punya harga diri.
Memberi lebih dari yang diminta. Kalau diminta membantu sedikit, bantu lebih banyak.
Memaafkan meski mampu membalas. Itu tanda kemuliaan.
Gak mengungkit pemberian. Beri, lalu lupakan. Biarkan Allah yang mengingatnya.
Al-Karim dalam Mendidik Anak
Anak-anak belajar kemurahan dari melihat orang tuanya.
Apakah mereka melihat kita berbagi dengan tetangga? Apakah mereka melihat kita memaafkan orang yang menyakiti? Apakah mereka mendengar kita mengungkit-ungkit pemberian kepada saudara atau kepada mereka sendiri?
Jangan pernah berkata kepada anak, "Kamu itu gak tahu terima kasih, Ayah sudah keluarkan banyak uang untukmu!" Itu mengungkit. Dan itu mengajarkan bahwa kasih sayang punya harga.
Tunjukkan kemurahan tanpa syarat, seperti Allah bermurah kepada kita. Anak yang merasakan kemurahan seperti itu akan tumbuh menjadi orang yang murah hati.
Cara Praktis Menghidupkan Al-Karim
Pertama, baca Al-Infithar ayat 6–8 perlahan. Biarkan pertanyaan itu menyentuh hati antum.
Kedua, saat tergoda berkata "nanti juga diampuni," ingat bahwa kemurahan Allah seharusnya melahirkan malu, bukan keberanian bermaksiat.
Ketiga, berdoalah dengan yakin. Allah malu mengembalikan tangan hamba-Nya dalam keadaan kosong.
Keempat, beri sesuatu kepada seseorang minggu ini tanpa diminta, dan jangan pernah mengungkitnya.
Penutup
Allah memberi tanpa diminta, memberi lebih dari yang diminta, dan gak pernah mengungkitnya.
Lalu Dia bertanya dengan lembut: apa yang membuatmu terpedaya terhadap-Ku?
Maka kalau pertanyaan itu ditujukan langsung kepada antum hari ini, apa jawaban jujur antum?
Tulisan ini bagian dari seri Tadabbur Asmaul Husna: nama ke-42 dari 99.