Ada dua jenis orang yang dihormati.
Jenis pertama dihormati karena posisinya. Direktur, pejabat, orang terkenal. Mereka dihormati selama duduk di kursi itu. Begitu turun dari kursi, penghormatan ikut hilang.
Jenis kedua dihormati karena dirinya. Guru yang tulus, orang tua yang bijak, tetangga yang jujur. Mereka mungkin gak punya jabatan apa pun, tapi orang menghormati mereka, bahkan ketika mereka gak ada.
Kemuliaan jenis pertama bergantung pada pengakuan dari luar. Kemuliaan jenis kedua melekat di dalam.
Allah punya nama yang secara khusus menegaskan kemuliaan jenis kedua dalam bentuknya yang paling sempurna: Al-Maajid.
Al-Majid dan Al-Maajid
Kita sudah membahas Al-Majid (مجيد, wazan fa'il dengan bunyi panjang setelah huruf jim), yang disebut dalam shalawat Ibrahimiyah: innaka hamidun majid.
Sekarang kita bertemu Al-Maajid (ماجد, wazan fa'il dengan bunyi panjang setelah huruf mim, bentuk isim fa'il). Dalam tulisan latin keduanya sering tertukar, tapi dalam bahasa Arab keduanya berbeda.
Keduanya dari akar yang sama, م-ج-د (m-j-d), yang bermakna kemuliaan yang luas dan melimpah.
Para ulama menjelaskan perbedaannya dengan halus. Sebagian menyebut bahwa Al-Majid memberi penekanan pada intensitas dan kelimpahan kemuliaan, sesuai wazannya yang bermakna mubalaghah. Sedangkan Al-Maajid menekankan bahwa kemuliaan itu melekat sebagai sifat yang tetap pada Dzat Allah.
Perlu dicatat juga: Al-Maajid termasuk dalam daftar masyhur riwayat Tirmidzi, sedangkan Al-Majid disebut langsung dalam Al-Qur'an. Sebagian ulama bahkan menganggap keduanya hampir sama maknanya. Tapi karena keduanya ada dalam daftar yang masyhur di tengah umat, kita merenungkan penekanan yang bisa diambil darinya.
Kemuliaan yang Melekat
Coba pikirkan perbedaan antara dimuliakan dan mulia.
Seseorang bisa dimuliakan tanpa benar-benar mulia. Politisi korup bisa dielu-elukan pendukungnya. Selebritas yang akhlaknya buruk bisa dipuja penggemarnya.
Sebaliknya, seseorang bisa mulia tanpa dimuliakan. Nabi-nabi dihina kaumnya. Orang-orang saleh sering hidup dalam kesederhanaan tanpa pengakuan.
Allah adalah Al-Maajid: mulia pada Dzat-Nya, gak bergantung pada pengakuan siapa pun. Seandainya seluruh makhluk gak memuliakan-Nya, Dia tetap mulia. Seandainya seluruh makhluk menghina-Nya, kemuliaan-Nya gak berkurang sedikit pun.
Ini sejalan dengan hadits qudsi yang panjang riwayat Muslim dari Abu Dzar. Di dalamnya Allah berfirman bahwa seandainya seluruh manusia dan jin dari yang pertama sampai yang terakhir bertakwa seperti hati orang yang paling bertakwa, itu gak menambah kerajaan-Nya sedikit pun. Dan seandainya mereka semua durhaka seperti hati orang yang paling durhaka, itu gak mengurangi kerajaan-Nya sedikit pun.
Haus Validasi
Sekarang, mari lihat kondisi kita.
Salah satu penyakit zaman ini adalah haus validasi. Kita butuh pengakuan dari orang lain untuk merasa berharga. Likes, komentar, pujian, followers. Kalau gak ada yang mengakui, kita merasa gak bernilai.
Penyakit ini berakar dari satu kesalahan: kita mengira kemuliaan datang dari luar.
Maka kita terus mengejar pengakuan. Dan karena pengakuan manusia berubah-ubah, kita gak pernah merasa cukup. Hari ini dipuji, besok dilupakan. Hari ini viral, besok ditinggalkan.
Al-Maajid mengajarkan model kemuliaan yang berbeda. Kemuliaan sejati melekat di dalam, bukan diberikan dari luar.
Tentu, kita bukan Allah. Kemuliaan kita gak melekat pada diri kita dengan sendirinya. Tapi kita bisa memiliki kemuliaan yang bersumber dari hubungan kita dengan Allah, dari iman, takwa, dan akhlak, yang gak bergantung pada pengakuan manusia.
Takwa sebagai Sumber Kemuliaan
Al-Qur'an sudah memberi standar yang jelas:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقۡنَٰكُم مِّن ذَكَرٖ وَأُنثَىٰ وَجَعَلۡنَٰكُمۡ شُعُوبٗا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓاْۚ إِنَّ أَكۡرَمَكُمۡ عِندَ ٱللَّهِ أَتۡقَىٰكُمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٞ ١٣
...Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kalian...
Perhatikan kata 'indallah, di sisi Allah. Bukan di sisi manusia. Bukan di mata publik. Tapi di sisi Allah.
Takwa adalah sesuatu yang gak bisa dilihat oleh manusia. Ia ada di dalam hati. Rasulullah bahkan pernah menunjuk ke dadanya sambil bersabda, "Takwa itu di sini," sebanyak tiga kali, sebagaimana diriwayatkan Muslim.
Artinya, kemuliaan yang paling tinggi justru adalah kemuliaan yang gak terlihat oleh manusia. Ia gak butuh pengakuan, karena ia gak bisa diakui oleh mata manusia.
Bebas dari Pujian dan Celaan
Orang yang memahami Al-Maajid akan perlahan terbebas dari dua belenggu: pujian dan celaan.
Pujian gak membuatnya melambung, karena ia tahu kemuliaannya bukan dari pujian itu.
Celaan gak membuatnya hancur, karena ia tahu kehinaannya bukan dari celaan itu.
Ini bukan berarti ia gak peduli pada perasaan. Pujian tetap terasa menyenangkan, celaan tetap terasa menyakitkan. Tapi keduanya gak lagi menentukan nilai dirinya.
Kebebasan ini adalah salah satu hadiah terbesar dari mengenal Allah.
Al-Maajid dalam Mendidik Anak
Anak-anak zaman sekarang tumbuh di tengah budaya validasi. Mereka belajar mengukur nilai diri dari reaksi orang lain.
Orang tua perlu membantu mereka menemukan sumber kemuliaan yang lebih kokoh.
Caranya bukan dengan berhenti memuji sama sekali. Pujian yang tulus tetap penting. Tapi arahkan pujian pada hal-hal yang mereka pilih dan lakukan karena Allah: kejujuran, kesabaran, kebaikan hati. Bukan hanya pada penampilan atau prestasi yang bisa hilang.
Dan ajarkan mereka bahwa nilai mereka di sisi Allah gak ditentukan oleh jumlah teman, jumlah likes, atau ranking di kelas.
Cara Praktis Menghidupkan Al-Maajid
Pertama, perhatikan seberapa besar kebutuhan antum akan pengakuan orang lain. Tanyakan: apakah nilaiku bergantung pada reaksi mereka?
Kedua, lakukan satu kebaikan setiap hari yang gak bisa diakui siapa pun. Itu latihan membangun kemuliaan dari dalam.
Ketiga, saat dipuji, ucapkan alhamdulillah dan kembalikan kepada Allah. Saat dicela, ucapkan hasbiyallah dan kembalikan kepada Allah.
Keempat, fokus pada takwa, satu-satunya ukuran kemuliaan di sisi Allah.
Penutup
Kemuliaan yang bergantung pada pengakuan akan selalu rapuh. Ia bisa hilang kapan saja.
Tapi ada kemuliaan yang melekat, yang gak butuh pengakuan siapa pun. Kemuliaan Allah adalah bentuknya yang paling sempurna, dan takwa adalah jalan kita untuk mendekatinya.
Maka selama ini, antum mengejar kemuliaan yang butuh pengakuan, atau kemuliaan yang melekat di sisi Allah?
Tulisan ini bagian dari seri Tadabbur Asmaul Husna: nama ke-65 dari 99.