October 18, 2026 | Asmaul Husna

Al-Majid: Kemuliaan yang Melimpah, Bukan yang Dipamerkan

Oleh M Salman Azhar
Al-Majid: Kemuliaan yang Melimpah, Bukan yang Dipamerkan

Setiap kali duduk tasyahud akhir dalam shalat, kita membaca shalawat Ibrahimiyah. Dan shalawat itu ditutup dengan kalimat yang sama:

Innaka hamidun majid.

Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.

Kita membacanya berkali-kali setiap hari. Tapi pernahkah kita bertanya: kenapa shalawat ditutup dengan dua nama ini? Dan apa sebenarnya makna Al-Majid?

Makna Al-Majid

Al-Majid berasal dari akar م-ج-د (m-j-d). Dalam bahasa Arab, akar ini punya makna dasar yang menarik. Orang Arab berkata majadatil ibil ketika unta-unta merumput di padang rumput yang luas dan kenyang.

Dari makna itu lahir makna keluasan, kelimpahan, dan kemuliaan. Majd adalah kemuliaan yang disertai dengan banyaknya kebaikan yang diberikan kepada orang lain.

Jadi majd bukan sekadar status tinggi. Ia adalah kemuliaan yang melimpah keluar, yang terasa manfaatnya oleh orang lain.

Para ulama menjelaskan Al-Majid sebagai Allah yang Maha Mulia Dzat-Nya, Maha Indah perbuatan-Nya, dan Maha Luas pemberian-Nya.

Nama ini disebut dalam kisah yang sangat menyentuh:

قَالُوٓاْ أَتَعۡجَبِينَ مِنۡ أَمۡرِ ٱللَّهِۖ رَحۡمَتُ ٱللَّهِ وَبَرَكَٰتُهُۥ عَلَيۡكُمۡ أَهۡلَ ٱلۡبَيۡتِۚ إِنَّهُۥ حَمِيدٞ مَّجِيدٞ ٧٣

QS. Hud: 73

Para malaikat itu berkata: Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkahan-Nya, dicurahkan atas kalian, wahai ahlul bait. Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Mulia (hamidun majid).

Konteks Kalimat Itu

Ayat ini diucapkan para malaikat kepada istri Nabi Ibrahim, Sarah.

Sarah sudah sangat tua. Suaminya pun sudah sangat tua. Lalu datang kabar bahwa mereka akan mempunyai anak. Sarah terkejut dan berkata: "Aduhai celakalah aku! Apakah aku akan melahirkan anak padahal aku adalah seorang perempuan tua, dan ini suamiku pun dalam keadaan sudah tua? Sesungguhnya ini benar-benar suatu yang sangat aneh." (QS. Hud: 72)

قَالَتۡ يَٰوَيۡلَتَىٰٓ ءَأَلِدُ وَأَنَا۠ عَجُوزٞ وَهَٰذَا بَعۡلِي شَيۡخًاۖ إِنَّ هَٰذَا لَشَيۡءٌ عَجِيبٞ ٧٢

QS. Hud: 72

Dan malaikat menjawab: jangan heran. Ini rahmat Allah dan keberkahan-Nya. Allah Hamid, Majid.

Perhatikan. Al-Majid disebut dalam konteks pemberian yang melampaui logika. Anak di usia senja. Sesuatu yang secara hitungan manusia mustahil.

Kemuliaan Allah terlihat dari kemurahan-Nya yang melampaui batas-batas kemungkinan.

Kenapa Shalawat Ditutup dengan Nama Ini?

Sekarang kita bisa memahami kenapa shalawat Ibrahimiyah ditutup dengan innaka hamidun majid.

Shalawat itu berbunyi: "Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah melimpahkan shalawat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim..."

Kita meminta kepada Allah untuk mencurahkan rahmat kepada Nabi Muhammad, sebagaimana Allah mencurahkan rahmat kepada keluarga Ibrahim. Dan kita tahu, salah satu bentuk rahmat terbesar kepada keluarga Ibrahim adalah peristiwa yang disebut dalam Surat Hud ayat 73 tadi: anugerah yang melampaui logika, disertai kalimat hamidun majid.

Maka menutup shalawat dengan innaka hamidun majid seperti menggemakan kembali kalimat para malaikat kepada keluarga Ibrahim. Kita meminta rahmat dan keberkahan yang sama, kepada Dzat yang sama, yang kemuliaan-Nya melimpah melampaui batas.

Kemuliaan yang Melimpah vs Kemuliaan yang Dipamerkan

Sekarang mari bandingkan dengan konsep kemuliaan di zaman kita.

Hari ini, banyak orang mengejar "kemuliaan" dengan cara memamerkan. Memamerkan kekayaan, memamerkan pencapaian, memamerkan gaya hidup. Semakin banyak yang melihat, semakin terasa mulia.

Tapi majd dalam bahasa Al-Qur'an punya definisi yang berbeda. Kemuliaan sejati bukan diukur dari seberapa banyak yang melihat, tapi dari seberapa banyak kebaikan yang mengalir keluar.

Orang kaya yang memamerkan hartanya belum tentu majid. Tapi orang kaya yang hartanya mengalir untuk membantu orang lain, itulah majid.

Pejabat yang memamerkan kekuasaannya belum tentu majid. Tapi pejabat yang kekuasaannya dipakai untuk melayani rakyat, itulah majid.

Kemuliaan yang dipamerkan hanya berputar di sekitar diri sendiri. Kemuliaan yang melimpah mengalir ke orang lain.

Al-Qur'an yang Majid

Menariknya, Al-Qur'an juga disebut dengan sifat ini:

قٓۚ وَٱلۡقُرۡءَانِ ٱلۡمَجِيدِ ١

QS. Qaaf: 1

Qaf. Demi Al-Qur'an yang sangat mulia (al-majid).

بَلۡ هُوَ قُرۡءَانٞ مَّجِيدٞ ٢١

QS. Al-Burooj: 21

Bahkan (yang didustakan itu) ialah Al-Qur'an yang mulia (majid).

Kenapa Al-Qur'an disebut majid? Karena kemuliaannya melimpah. Setiap orang yang membacanya mendapat pahala. Setiap orang yang merenungkannya mendapat petunjuk. Setiap orang yang mengamalkannya mendapat keberkahan. Kebaikannya gak pernah habis, gak peduli berapa banyak yang mengambilnya.

Menjadi Majid dalam Kapasitas Manusia

Kalau Allah Al-Majid, bagaimana kita meneladaninya?

Kita gak bisa memiliki kemuliaan seperti Allah. Tapi kita bisa belajar dari makna dasarnya: kemuliaan yang melimpah keluar.

Tanyakan pada diri sendiri: Apakah keberadaanku melimpahkan kebaikan kepada orang lain? Apakah ilmu, harta, waktu, dan tenagaku mengalir untuk orang lain, atau hanya berputar di sekitarku?

Rasulullah bersabda, dalam hadits yang diriwayatkan Ath-Thabrani dan dinilai hasan oleh sebagian ulama: "Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia."

Itulah bentuk majd dalam kapasitas manusia.

Al-Majid dalam Mendidik Anak

Anak-anak zaman sekarang tumbuh dalam budaya pamer. Mereka melihat kakak-kakak mereka di media sosial memamerkan barang-barang mewah. Mereka belajar bahwa "keren" artinya punya banyak dan menunjukkan banyak.

Ajarkan mereka definisi kemuliaan yang berbeda. Mulia bukan karena punya banyak, tapi karena memberi banyak. Mulia bukan karena dilihat banyak orang, tapi karena bermanfaat bagi banyak orang.

Latih mereka dengan proyek kecil: berbagi makanan dengan tetangga, membantu teman belajar, menyisihkan uang jajan untuk sedekah. Biarkan mereka merasakan bahwa kemuliaan yang melimpah itu lebih membahagiakan daripada kemuliaan yang dipamerkan.

Cara Praktis Menghidupkan Al-Majid

Pertama, saat membaca innaka hamidun majid di tasyahud akhir, ingat kisah keluarga Ibrahim dan anugerah yang melampaui logika.

Kedua, periksa satu hal yang antum banggakan: apakah ia melimpahkan kebaikan kepada orang lain, atau hanya dipamerkan?

Ketiga, pilih satu bentuk "kelimpahan" yang bisa antum alirkan minggu ini: ilmu, waktu, atau harta.

Keempat, jangan heran dengan pemberian Allah yang melampaui logika. Dia Majid.

Penutup

Kemuliaan Allah bukan kemuliaan yang disimpan untuk diri-Nya. Ia melimpah, mengalir, dan dirasakan oleh seluruh makhluk.

Dan kemuliaan sejati bagi manusia pun seharusnya begitu: bukan yang dipamerkan, tapi yang dialirkan.

Maka kemuliaan seperti apa yang selama ini antum kejar: yang dipamerkan, atau yang dilimpahkan?


Tulisan ini bagian dari seri Tadabbur Asmaul Husna: nama ke-48 dari 99.

M Salman Azhar

Ditulis oleh

M Salman Azhar

Artikel Terkait