Pernah merasa berat banget melepaskan sesuatu?
Jabatan yang sudah dipegang bertahun-tahun. Rumah yang dibangun dengan susah payah. Hubungan yang sudah lama dijaga. Bahkan anak yang harus merantau jauh.
Ada rasa mencengkeram di dalam dada. Rasa yang berbisik: ini milikku. Aku yang berhak atas ini.
Kalau antum pernah merasakannya, dan hampir semua orang pernah, maka tadabbur nama Al-Malik bukan sekadar pelajaran aqidah. Ia menyentuh akar dari banyak penderitaan yang kita ciptakan sendiri.
Makna Al-Malik
Al-Malik berasal dari akar م-ل-ك (m-l-k), yang bermakna memiliki dan menguasai. Dari akar yang sama lahir kata mulk (kerajaan, kepemilikan), malik (raja), dan mamluk (yang dimiliki).
Al-Malik adalah Allah, Raja yang memiliki segala sesuatu secara mutlak, yang kekuasaan-Nya gak diberi oleh siapa pun, gak dibatasi oleh apa pun, dan gak akan pernah dicabut.
Nama ini membuka rangkaian nama di akhir Surat Al-Hasyr:
هُوَ ٱللَّهُ ٱلَّذِي لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلۡمَلِكُ ٱلۡقُدُّوسُ ٱلسَّلَٰمُ ٱلۡمُؤۡمِنُ ٱلۡمُهَيۡمِنُ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡجَبَّارُ ٱلۡمُتَكَبِّرُۚ سُبۡحَٰنَ ٱللَّهِ عَمَّا يُشۡرِكُونَ ٢٣
Dialah Allah yang tiada Tuhan selain Dia, Al-Malik, Al-Quddus, As-Salam...
Dan kita membacanya setiap rakaat dalam Al-Fatihah: maliki yaumid din, Raja di hari pembalasan. Sebagian qira'ah membacanya Maliki (Raja) dan sebagian Maaliki (Pemilik). Dua bacaan yang saling melengkapi: Allah adalah Raja sekaligus Pemilik.
Asumsi yang Diam-Diam Menyiksa
Ada satu asumsi yang hampir selalu kita pegang tanpa sadar:
"Sesuatu yang ada di tanganku adalah milikku."
Rumah atas namaku, berarti milikku. Anak yang kulahirkan, berarti milikku. Jabatan yang kupegang, berarti milikku. Ilmu yang kupelajari, berarti milikku.
Terdengar wajar. Tapi coba telusuri ke akarnya.
Antum punya rumah. Tapi antum gak menciptakan tanahnya. Gak menciptakan tangan yang membangunnya. Gak menciptakan akal yang merancangnya. Bahkan waktu yang antum pakai untuk bekerja membelinya adalah pemberian.
Lalu dalam logika mana kita bisa mengklaim kepemilikan yang sejati?
Al-Qur'an menyebut posisi kita dengan sangat tepat: mustakhlafin, orang-orang yang dijadikan pengelola atas harta itu (QS. Al-Hadid: 7). Bukan pemilik, tapi pengelola titipan.
Kenapa Ini Penting Banget?
Mungkin ada yang berkata: "Ya sudah, kita cuma dititipi. Lalu apa bedanya?"
Bedanya sangat mendasar. Cara kita memandang kepemilikan menentukan tiga hal.
Pertama, cara kita merespons kehilangan. Kalau aku yakin sesuatu itu milikku sejati, kehilangannya terasa seperti perampasan. Wajar kalau aku marah, hancur, merasa dizalimi. Tapi kalau aku sadar hanya dititipi, kehilangan adalah penarikan kembali oleh Pemiliknya. Sakitnya tetap ada, tapi maknanya berbeda.
Itulah kenapa kalimat yang diajarkan saat musibah adalah inna lillahi, sesungguhnya kami milik Allah. Bukan hanya harta kita yang milik-Nya. Kita sendiri pun milik-Nya.
Kedua, cara kita menggunakan apa yang ada di tangan. Pemilik bebas memakai barangnya sesuka hati. Pengelola wajib memakainya sesuai kehendak pemilik. Ini mengubah cara kita membelanjakan uang, memakai jabatan, dan menghabiskan waktu.
Ketiga, cara kita memperlakukan orang lain. Kekuasaan yang dianggap milik pribadi melahirkan kesewenangan. Kekuasaan yang dipahami sebagai titipan melahirkan keadilan.
Saat Semua Raja Diam
Ada sebuah hadits riwayat Bukhari dan Muslim yang menggambarkan hari kiamat. Allah menggenggam bumi dan menggulung langit dengan tangan kanan-Nya, lalu berfirman:
Akulah Al-Malik. Di manakah raja-raja bumi?
Gak ada yang menjawab.
Raja-raja yang dulu merasa memiliki negeri, pengusaha yang merasa memiliki perusahaan, orang tua yang merasa memiliki anak, semuanya diam. Karena di hari itu, terlihat jelas siapa pemilik yang sebenarnya.
Pertanyaannya: kalau di hari itu semua kepemilikan kita terbukti palsu, kenapa kita menunggu sampai hari itu untuk menyadarinya?
Al-Malik dan Penyakit Tamak
Ada hubungan langsung antara lupa kepada Al-Malik dengan penyakit hati bernama tamak.
Tamak lahir dari keyakinan tersembunyi: aku berhak memiliki lebih banyak. Dunia belum memberiku hakku.
Tapi hak atas apa?
Kalau kita bukan pemilik sejati, dan yang kita pegang sekarang pun sudah merupakan pemberian yang gak wajib diberikan, maka dari mana lahirnya logika bahwa kita berhak mendapat lebih?
Al-Qur'an gak melawan tamak dengan sekadar berkata "tamak itu jelek." Ia membangun fondasi berpikirnya: Allah adalah Al-Malik. Kamu bukan. Ketika fondasi itu kokoh, tamak kehilangan pijakan.
Al-Malik Mengubah Cara Kita Berdoa
Kadang kita berdoa seperti sedang menagih.
"Ya Allah, aku sudah bekerja keras. Aku sudah shalat. Aku sudah bersabar. Seharusnya aku dapat ini."
Ada nada halus yang menempatkan Allah seolah berutang kepada kita.
Tapi orang yang menghayati Al-Malik akan berdoa dengan nada berbeda: "Ya Allah, Engkau Pemilik segalanya. Aku gak punya apa-apa. Bahkan lisan yang kupakai berdoa ini pun milik-Mu. Maka atas dasar kemurahan-Mu, bukan atas dasar prestasiku, aku memohon."
Ini bukan sekadar soal adab berdoa. Ini soal kejujuran terhadap realitas.
Al-Malik dalam Mendidik Anak
Anak bukan milik orang tua. Anak adalah titipan dari Al-Malik.
Kesadaran ini mengubah banyak hal. Orang tua yang merasa memiliki anak cenderung memproyeksikan ambisinya: anakku harus jadi dokter, harus masuk kampus ini, harus meneruskan usaha keluarga.
Orang tua yang sadar dititipi akan bertanya: apa yang dikehendaki Pemiliknya untuk anak ini? Lalu mendidik dengan sungguh-sungguh, tanpa merasa berhak menentukan seluruh jalan hidupnya.
Dan ketika tiba waktunya anak pergi, merantau, menikah, atau bahkan dipanggil lebih dulu, orang tua yang mengenal Al-Malik akan lebih mampu melepas. Bukan karena gak cinta, tapi karena sadar sejak awal bahwa anak itu bukan miliknya.
Cara Praktis Menghidupkan Al-Malik
Pertama, saat membaca maliki yaumid din dalam shalat, sadari bahwa antum sedang mengakui siapa pemilik sebenarnya dari segala yang antum pegang.
Kedua, tanyakan pada diri sendiri: apa yang sedang aku cengkeram terlalu kuat? Karier, citra, anak, atau pendapat pribadi?
Ketiga, ubah nada doa dari "menagih" menjadi "memohon sebagai orang yang gak punya apa-apa".
Keempat, gunakan satu titipan hari ini sesuai kehendak Pemiliknya: sedekahkan sebagian harta, gunakan jabatan untuk menolong, atau luangkan waktu untuk orang tua.
Penutup
Mengenal Al-Malik gak membuat kita pasif. Justru kita berjuang lebih keras, karena sadar sedang mengelola titipan Pemilik semesta.
Tapi kita berjuang lebih ringan, karena hasil akhirnya ada di tangan-Nya, bukan di pundak kita.
Maka di antara semua yang antum sebut "milikku", mana yang paling sulit antum akui sebagai titipan?
Tulisan ini bagian dari seri Tadabbur Asmaul Husna: nama ke-3 dari 99.