Coba bayangkan antum menulis surat perkenalan untuk seseorang yang belum pernah mengenal antum.
Kata apa yang akan antum tulis pertama kali? Pasti sesuatu yang paling ingin antum tanamkan di kepalanya. Kesan pertama yang gak boleh salah.
Allah membuka Al-Qur'an dengan satu kalimat: Bismillahir rahmanir rahim.
Dari sekian banyak nama-Nya, yang disebut pertama setelah lafaz Allah adalah Ar-Rahman. Bukan Al-Malik. Bukan Al-'Aziz. Bukan Al-Jabbar. Bukan Al-Qahhar.
Pertanyaannya: kenapa?
Makna Ar-Rahman
Ar-Rahman berasal dari akar ر-ح-م (r-h-m). Menariknya, dari akar yang sama lahir kata rahim, tempat janin tumbuh di dalam perut ibu. Tempat paling aman, paling hangat, dan paling melindungi yang pernah kita alami.
Kata rahman mengikuti wazan fa'lan. Dalam bahasa Arab, pola ini menunjukkan sesuatu yang penuh sampai meluap. Seperti ghadban (sangat marah sampai meluap) atau 'athsyan (sangat haus sampai kerongkongan kering).
Jadi Ar-Rahman bukan sekadar "Yang Pengasih". Ia adalah kasih sayang yang begitu penuh sampai tumpah, mengalir ke seluruh makhluk tanpa terkecuali.
Para ulama menjelaskan bahwa rahmat Ar-Rahman bersifat umum: meliputi orang beriman dan orang kafir, manusia dan hewan, di dunia ini. Udara yang dihirup seorang ateis pun adalah rahmat Ar-Rahman.
Nama yang Pernah Ditolak
Ada fakta sejarah yang jarang kita perhatikan. Nama Ar-Rahman pernah ditolak oleh kaum musyrikin Makkah.
وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ ٱسۡجُدُواْۤ لِلرَّحۡمَٰنِ قَالُواْ وَمَا ٱلرَّحۡمَٰنُ أَنَسۡجُدُ لِمَا تَأۡمُرُنَا وَزَادَهُمۡ نُفُورٗا۩ ٦٠
Dan apabila dikatakan kepada mereka: Sujudlah kalian kepada Ar-Rahman, mereka menjawab: Siapakah Ar-Rahman itu? Apakah kami akan sujud kepada Tuhan yang kamu perintahkan kami (bersujud kepada-Nya)? Dan (perintah sujud itu) menambah mereka jauh (dari iman).
Mereka mengenal nama Allah, tapi merasa asing dengan Ar-Rahman.
Dan Al-Qur'an justru menegaskannya berulang kali:
قُلِ ٱدۡعُواْ ٱللَّهَ أَوِ ٱدۡعُواْ ٱلرَّحۡمَٰنَۖ أَيّٗا مَّا تَدۡعُواْ فَلَهُ ٱلۡأَسۡمَآءُ ٱلۡحُسۡنَىٰۚ وَلَا تَجۡهَرۡ بِصَلَاتِكَ وَلَا تُخَافِتۡ بِهَا وَٱبۡتَغِ بَيۡنَ ذَٰلِكَ سَبِيلٗا ١١٠
Katakanlah: Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kalian seru, Dia mempunyai Asmaul Husna...
Seolah Al-Qur'an sedang berkata: kalian boleh mengenal Allah sebagai Tuhan yang tinggi dan jauh. Tapi kenalilah juga Dia sebagai Ar-Rahman, yang kasih sayang-Nya dekat dan meluap.
Nikmat Pertama yang Disebut
Sekarang perhatikan Surat Ar-Rahman, surat yang dinamai dengan nama ini. Coba baca tiga ayat pertamanya:
ٱلرَّحۡمَٰنُ ١ عَلَّمَ ٱلۡقُرۡءَانَ ٢ خَلَقَ ٱلۡإِنسَٰنَ ٣
(Allah) Yang Maha Pemurah, yang telah mengajarkan Al-Qur'an. Dia menciptakan manusia.
Ada sesuatu yang sangat mengejutkan di sini.
Secara urutan kejadian, manusia diciptakan dulu, baru kemudian diajari Al-Qur'an. Tapi dalam ayat ini, Allah menyebut mengajarkan Al-Qur'an lebih dulu daripada menciptakan manusia.
Kenapa?
Para mufassir memberi isyarat: karena nikmat terbesar dari Ar-Rahman bukan keberadaan kita, tapi petunjuk yang membuat keberadaan itu bermakna. Hidup tanpa petunjuk hanyalah keberadaan tanpa arah.
Dan ini membongkar asumsi yang sering kita pegang: seolah agama adalah beban, dan rahmat adalah kebebasan dari aturan. Surat Ar-Rahman justru menempatkan Al-Qur'an, kitab yang berisi perintah dan larangan, sebagai wujud pertama kasih sayang.
Seratus Bagian Rahmat
Rasulullah pernah menggambarkan luasnya rahmat ini dengan sangat konkret. Dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim, beliau bersabda bahwa Allah menjadikan rahmat itu seratus bagian. Sembilan puluh sembilan bagian Dia tahan di sisi-Nya, dan satu bagian Dia turunkan ke bumi. Dari satu bagian itulah makhluk saling menyayangi, sampai-sampai seekor hewan mengangkat kakinya agar gak menginjak anaknya.
Coba renungkan.
Semua kasih sayang yang pernah ada di bumi, pelukan ibu, pengorbanan ayah, kesetiaan sahabat, kelembutan induk hewan kepada anaknya, semuanya hanyalah satu persen.
Lalu seberapa besar sembilan puluh sembilan bagian yang disimpan?
Bongkar Asumsi "Rahmat Harus Diraih"
Banyak dari kita diam-diam punya asumsi tentang Allah yang berbunyi kira-kira begini: Allah baru akan menyayangiku kalau aku sudah cukup baik.
Kita memperlakukan rahmat seperti gaji: harus dikerjakan dulu, baru dibayar.
Tapi logika Ar-Rahman membalik asumsi itu. Rahmat-Nya mendahului amal kita. Kita dihidupkan sebelum beribadah. Kita diberi mata sebelum bisa bersyukur. Kita diberi petunjuk sebelum sempat mencarinya.
Bukan berarti amal gak penting. Amal adalah cara kita merespons rahmat, bukan cara kita membelinya.
Dan perbedaan itu mengubah rasa beragama. Orang yang merasa harus membeli rahmat akan beribadah dengan cemas. Orang yang sadar sudah dilimpahi rahmat akan beribadah dengan syukur.
Ar-Rahman dan Cara Kita Memandang Musibah
Tapi kalau rahmat Allah meluap, kenapa musibah tetap datang?
Pertanyaan ini wajar. Tapi coba perhatikan asumsi di baliknya: seolah rahmat selalu berbentuk kemudahan.
Seorang dokter yang menyuntik anak kecil gak sedang membencinya. Ibu yang melarang anaknya bermain api gak sedang menyakitinya. Kasih sayang sering hadir dalam bentuk yang terasa gak enak.
Ar-Rahman gak menjanjikan hidup tanpa luka. Ia menjanjikan bahwa di balik setiap luka, ada kasih sayang yang lebih besar dari yang bisa kita lihat sekarang.
Ar-Rahman dalam Mendidik Anak
Orang tua punya pilihan: menjadikan kasih sayang sebagai hadiah atau sebagai fondasi.
Kasih sayang sebagai hadiah berbunyi: "Ayah sayang kamu kalau kamu nurut, kalau nilaimu bagus." Anak belajar bahwa cinta harus dibeli dengan prestasi.
Kasih sayang sebagai fondasi berbunyi: "Ayah sayang kamu. Karena itu Ayah ingin kamu jadi lebih baik." Anak belajar bahwa cinta sudah ada, dan dari sana ia berani tumbuh.
Allah mendidik kita dengan model yang kedua. Rahmat hadir lebih dulu, baru kemudian perintah dan larangan. Anak yang dibesarkan dengan model ini akan lebih mudah mengenal Ar-Rahman, karena ia sudah merasakan bayangan kecilnya di rumah.
Cara Praktis Menghidupkan Ar-Rahman
Pertama, saat membaca bismillahir rahmanir rahim, berhenti sejenak di kata ar-rahman. Ingat bahwa antum sedang memulai sesuatu atas nama kasih sayang yang meluap.
Kedua, baca Surat Ar-Rahman dan hitung nikmat yang disebut. Lalu tambahkan nikmat pribadi antum sendiri.
Ketiga, saat berdoa, ubah posisi dari "menagih" menjadi "anak yang datang kepada yang menyayanginya".
Keempat, tunjukkan kasih sayang tanpa syarat kepada satu orang hari ini: pasangan, anak, atau orang tua.
Penutup
Allah bisa saja memperkenalkan diri-Nya pertama kali sebagai Yang Maha Keras hukuman-Nya. Tapi Dia memilih Ar-Rahman.
Sebelum perintah, sebelum larangan, sebelum hisab, Dia ingin kita tahu satu hal lebih dulu: Aku menyayangimu.
Maka kalau kasih sayang Allah sudah mendahului semua amal antum, apa yang selama ini membuat antum ragu untuk mendekat?
Tulisan ini bagian dari seri Tadabbur Asmaul Husna: nama ke-1 dari 99.