Kita hidup di zaman yang serba cepat berubah.
Teknologi yang kita pelajari tahun lalu sudah usang tahun ini. Tren yang viral minggu lalu sudah dilupakan minggu ini. Pekerjaan yang dianggap aman sepuluh tahun lalu kini terancam oleh otomatisasi. Nilai-nilai yang dulu dianggap wajar kini dipertanyakan.
Di tengah semua perubahan ini, banyak orang merasa kehilangan pegangan. Seperti orang yang berdiri di atas pasir yang terus bergeser.
Pertanyaannya: adakah pegangan yang gak ikut bergeser?
Jawabannya ada pada nama Al-Matin.
Makna Al-Matin
Al-Matin berasal dari akar م-ت-ن (m-t-n), yang bermakna kokoh, kuat, teguh, gak mudah patah. Dalam bahasa Arab, matn adalah bagian punggung yang kuat. Teks utama sebuah kitab juga disebut matan, karena ia adalah inti yang menjadi pegangan.
Al-Matin adalah Allah yang Maha Kokoh, yang kekuatan-Nya gak pernah berkurang, gak pernah goyah, dan gak bisa dipengaruhi oleh apa pun.
Nama ini disebut dalam satu ayat bersama Al-Qawiyy dan Ar-Razzaq:
إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلرَّزَّاقُ ذُو ٱلۡقُوَّةِ ٱلۡمَتِينُ ٥٨
Sesungguhnya Allah, Dialah Maha Pemberi rezeki, Yang Mempunyai Kekuatan, lagi Sangat Kokoh (dzul quwwatil matin).
Beda Al-Qawiyy dan Al-Matin
Kalau Allah sudah Al-Qawiyy, Yang Maha Kuat, kenapa perlu nama Al-Matin?
Para ulama menjelaskan perbedaan yang halus tapi penting. Al-Qawiyy menunjukkan kesempurnaan kekuatan, kemampuan untuk melakukan apa pun. Al-Matin menunjukkan keteguhan dan kesinambungan kekuatan itu, yang gak berkurang, gak melemah, dan gak goyah seiring waktu.
Analoginya seperti dua jenis tali. Ada tali yang kuat, bisa menahan beban berat. Tapi setelah dipakai lama, ia bisa aus dan putus. Ada juga tali yang bukan hanya kuat, tapi kokoh, gak aus, gak melemah, meski dipakai selamanya.
Allah adalah keduanya. Kuat, dan kekuatan-Nya kokoh selamanya.
Konteks Ayat yang Menarik
Coba perhatikan konteks ayat Adz-Dzariyat 58. Ayat sebelumnya berbunyi:
وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ ٥٦ مَآ أُرِيدُ مِنۡهُم مِّن رِّزۡقٖ وَمَآ أُرِيدُ أَن يُطۡعِمُونِ ٥٧
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan.
Lalu ayat 58: Sesungguhnya Allah, Dialah Ar-Razzaq, Dzul Quwwatil Matin.
Logikanya sangat indah.
Allah menciptakan manusia untuk beribadah. Tapi Allah menegaskan bahwa Dia gak butuh apa pun dari manusia, gak butuh rezeki, gak butuh makanan. Kenapa? Karena Dia adalah Ar-Razzaq (justru Dia yang memberi rezeki), dan Dia Dzul Quwwatil Matin (kekuatan-Nya kokoh dan sempurna, gak bergantung pada siapa pun).
Jadi ibadah kita bukan untuk "menguatkan" Allah. Allah sudah Maha Kokoh. Ibadah adalah untuk kebaikan kita sendiri, supaya kita tersambung dengan sumber kekokohan itu.
Tali Allah yang Kokoh
Kalau Allah Al-Matin, maka berpegang kepada-Nya berarti berpegang pada sesuatu yang gak akan pernah putus.
Al-Qur'an memakai perumpamaan tali:
لَآ إِكۡرَاهَ فِي ٱلدِّينِۖ قَد تَّبَيَّنَ ٱلرُّشۡدُ مِنَ ٱلۡغَيِّۚ فَمَن يَكۡفُرۡ بِٱلطَّٰغُوتِ وَيُؤۡمِنۢ بِٱللَّهِ فَقَدِ ٱسۡتَمۡسَكَ بِٱلۡعُرۡوَةِ ٱلۡوُثۡقَىٰ لَا ٱنفِصَامَ لَهَاۗ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ ٢٥٦
...Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus...
Al-'urwatul wutsqa, tali yang paling kokoh, lanfishama laha, yang gak akan putus.
Dan di ayat lain:
وَٱعۡتَصِمُواْ بِحَبۡلِ ٱللَّهِ جَمِيعٗا وَلَا تَفَرَّقُواْۚ وَٱذۡكُرُواْ نِعۡمَتَ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ إِذۡ كُنتُمۡ أَعۡدَآءٗ فَأَلَّفَ بَيۡنَ قُلُوبِكُمۡ فَأَصۡبَحۡتُم بِنِعۡمَتِهِۦٓ إِخۡوَٰنٗا وَكُنتُمۡ عَلَىٰ شَفَا حُفۡرَةٖ مِّنَ ٱلنَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنۡهَاۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمۡ ءَايَٰتِهِۦ لَعَلَّكُمۡ تَهۡتَدُونَ ١٠٣
Dan berpeganglah kalian semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kalian bercerai berai...
Bayangkan antum sedang memanjat tebing yang sangat tinggi. Tali yang antum pegang adalah satu-satunya yang mencegah antum jatuh. Antum akan sangat peduli pada kualitas tali itu. Apakah ia kuat? Apakah ia akan putus?
Dalam hidup, kita semua sedang "memanjat." Dan pertanyaannya: tali apa yang sedang kita pegang?
Tali-Tali yang Rapuh
Banyak orang berpegang pada tali yang rapuh.
Tali harta. Terlihat kuat, tapi bisa putus karena krisis ekonomi, penipuan, atau bencana.
Tali jabatan. Terlihat kokoh, tapi bisa putus karena politik kantor, restrukturisasi, atau pensiun.
Tali popularitas. Terlihat menjanjikan, tapi bisa putus dalam semalam karena satu kesalahan.
Tali manusia. Pasangan, sahabat, orang tua. Mereka bisa pergi, bisa berubah, bisa meninggal.
Gak ada yang salah dengan memiliki harta, jabatan, atau hubungan. Tapi kalau kita bergantung sepenuhnya pada tali-tali itu, kita akan jatuh saat tali itu putus.
Al-Matin menawarkan tali yang berbeda. Tali yang gak aus oleh waktu, gak putus oleh krisis, dan gak goyah oleh perubahan zaman.
Istiqamah: Buah dari Berpegang pada Al-Matin
Orang yang berpegang pada Al-Matin akan memiliki sifat istiqamah: teguh di jalan yang benar, meski dunia di sekitarnya berubah.
Seorang sahabat bernama Sufyan bin Abdillah pernah meminta nasihat singkat kepada Rasulullah. Beliau bersabda: "Katakanlah: aku beriman kepada Allah, kemudian beristiqamahlah." (HR. Muslim)
Istiqamah bukan berarti gak pernah jatuh. Istiqamah berarti tetap kembali ke jalan yang benar, meski berkali-kali tergelincir. Seperti orang yang berpegang pada tali: ia mungkin tergelincir, kakinya mungkin terpeleset, tapi selama tangannya masih memegang tali, ia gak akan jatuh.
Al-Matin dalam Mendidik Anak
Anak-anak kita akan tumbuh di dunia yang mungkin jauh lebih cepat berubah daripada dunia kita. Teknologi, budaya, dan nilai-nilai akan terus bergeser.
Kita gak bisa mempersiapkan mereka untuk setiap perubahan. Tapi kita bisa memberi mereka pegangan yang kokoh.
Pegangan itu adalah hubungan yang kuat dengan Allah. Anak yang berpegang pada Al-Matin gak akan mudah terombang-ambing oleh tren, tekanan teman, atau ideologi yang berubah-ubah.
Maka investasi terpenting dalam pendidikan anak bukan hanya keterampilan untuk menghadapi perubahan, tapi pondasi yang gak berubah: iman, akhlak, dan hubungan dengan Al-Qur'an.
Cara Praktis Menghidupkan Al-Matin
Pertama, periksa tali-tali yang antum pegang. Mana yang rapuh? Mana yang kokoh?
Kedua, perkuat pegangan pada tali Allah: shalat yang terjaga, tilawah harian, dan dzikir yang rutin.
Ketiga, saat dunia terasa goyah, ingat Al-Baqarah ayat 256: ada tali yang gak akan putus.
Keempat, ajarkan anak nilai-nilai yang gak berubah, di atas keterampilan yang terus berubah.
Penutup
Dunia terus berubah. Pasir di bawah kaki kita terus bergeser.
Tapi ada pegangan yang gak ikut bergeser, gak aus oleh waktu, dan gak akan pernah putus.
Maka tali apa yang sedang antum pegang hari ini, dan apakah ia cukup kokoh untuk menahan antum saat badai datang?
Tulisan ini bagian dari seri Tadabbur Asmaul Husna: nama ke-54 dari 99.