Ada satu pertanyaan yang sudah ditanyakan manusia sejak ribuan tahun lalu: dari mana semuanya berasal?
Para filsuf Yunani menanyakannya. Para ilmuwan modern menanyakannya. Anak kecil pun menanyakannya dengan cara yang polos: "Kalau aku dari Ayah dan Ibu, Ayah dan Ibu dari kakek-nenek, lalu manusia pertama dari mana?"
Pertanyaan ini sederhana, tapi jawabannya menentukan cara kita memandang seluruh kehidupan.
Al-Qur'an menjawabnya lewat satu nama: Al-Mubdi', Yang Memulai.
Makna Al-Mubdi'
Al-Mubdi' berasal dari akar ب-د-أ (b-d-'), yang bermakna memulai, mengawali. Kata bidayah (permulaan) dan ibtida' (memulai) berasal dari akar yang sama.
Al-Mubdi' adalah Allah yang memulai penciptaan segala sesuatu dari ketiadaan, tanpa contoh sebelumnya, tanpa bahan yang sudah ada, dan tanpa bantuan siapa pun.
Perlu dicatat: nama ini dalam bentuk isim termasuk dalam daftar masyhur riwayat Tirmidzi. Tapi perbuatannya disebut jelas dalam Al-Qur'an, dan hampir selalu berpasangan dengan Al-Mu'id, Yang Mengembalikan:
إِنَّهُۥ هُوَ يُبۡدِئُ وَيُعِيدُ ١٣
Sesungguhnya Dialah yang memulai (yubdi'u) dan yang mengembalikan (yu'idu).
Logika Sebab Pertama
Coba lakukan satu latihan berpikir sederhana.
Lihat benda apa pun di sekitar antum. Kursi, misalnya. Kursi itu dibuat oleh tukang kayu. Tukang kayu itu dilahirkan oleh orang tuanya. Kayunya berasal dari pohon. Pohon itu tumbuh dari biji. Biji itu berasal dari pohon sebelumnya.
Kalau kita terus menelusuri ke belakang, kita akan sampai pada satu pertanyaan: apakah rantai sebab-akibat ini bisa berjalan mundur tanpa ujung?
Secara logika, jawabannya gak. Rantai sebab-akibat yang gak punya awal adalah kemustahilan. Kalau setiap sesuatu butuh sebab sebelumnya, dan gak ada sebab pertama, maka gak akan pernah ada sesuatu pun yang terjadi.
Bayangkan barisan domino yang sangat panjang. Kalau setiap domino hanya jatuh karena didorong domino sebelumnya, dan gak ada yang mendorong domino pertama, maka gak akan ada satu domino pun yang jatuh.
Tapi kenyataannya, domino-domino itu sedang jatuh. Segala sesuatu ada dan bergerak. Artinya, pasti ada Pendorong Pertama, yang gak didorong oleh apa pun.
Itulah Al-Mubdi'.
Al-Qur'an Mengajak Berpikir
Al-Qur'an gak hanya menyatakan bahwa Allah adalah Pemula. Ia juga mengajak manusia untuk merenungkannya:
أَوَلَمۡ يَرَوۡاْ كَيۡفَ يُبۡدِئُ ٱللَّهُ ٱلۡخَلۡقَ ثُمَّ يُعِيدُهُۥٓۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٞ ١٩ قُلۡ سِيرُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ فَٱنظُرُواْ كَيۡفَ بَدَأَ ٱلۡخَلۡقَۚ ثُمَّ ٱللَّهُ يُنشِئُ ٱلنَّشۡأَةَ ٱلۡأٓخِرَةَۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٞ ٢٠
Dan apakah mereka tidak memperhatikan bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaan (yubdi'ullahul khalqa), kemudian mengulanginya (kembali)? Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. Katakanlah: Berjalanlah di (muka) bumi, maka perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya...
Perhatikan perintahnya: berjalanlah di bumi, perhatikanlah.
Al-Qur'an gak meminta kita percaya secara buta. Ia meminta kita mengamati dan berpikir. Melihat bagaimana kehidupan dimulai: biji yang tumbuh menjadi pohon, telur yang menetas menjadi burung, janin yang berkembang menjadi manusia.
Setiap permulaan yang kita saksikan adalah jejak Al-Mubdi'.
Awal Tanpa Contoh
Ada satu dimensi lagi dari Al-Mubdi' yang layak direnungkan: Allah memulai tanpa contoh.
Manusia gak bisa mencipta tanpa contoh. Arsitek terinspirasi oleh bangunan lain. Penulis terinspirasi oleh buku lain. Bahkan inovasi paling revolusioner pun berdiri di atas temuan-temuan sebelumnya.
Tapi Allah memulai penciptaan ketika gak ada apa pun yang bisa dijadikan contoh. Gak ada konsep "manusia" sebelum manusia pertama diciptakan. Gak ada konsep "bintang" sebelum bintang pertama menyala.
Ini berkaitan juga dengan nama Al-Badi' yang akan kita bahas nanti: Pencipta yang menciptakan dengan cara yang benar-benar baru.
Keberanian untuk Memulai
Sekarang, mari bawa nama ini ke kehidupan sehari-hari.
Banyak orang sulit memulai. Memulai bisnis. Memulai hafalan Al-Qur'an. Memulai kebiasaan baru. Memulai perbaikan diri. Memulai kembali setelah gagal.
Kenapa sulit? Karena permulaan selalu terasa berat. Kita gak tahu apakah akan berhasil. Kita gak punya pengalaman sebelumnya. Kita takut gagal.
Mengenal Al-Mubdi' memberi kekuatan untuk memulai. Karena setiap permulaan yang baik adalah izin dari Al-Mubdi'. Kita memulai dengan menyebut nama-Nya, bismillah, dan menyerahkan kelanjutannya kepada-Nya.
Rasulullah mengajarkan kita memulai segala sesuatu dengan basmalah. Seolah pesannya: kamu gak memulai sendirian. Kamu memulai dengan nama Dzat yang memulai seluruh alam semesta.
Memulai Lagi Setelah Gagal
Ada juga jenis permulaan yang paling sulit: memulai lagi setelah gagal.
Orang yang sudah berkali-kali mencoba berhenti dari kebiasaan buruk, lalu gagal lagi. Orang yang sudah berkali-kali memulai hafalan, lalu berhenti lagi. Orang yang sudah berkali-kali bertaubat, lalu jatuh lagi.
Setiap kali memulai lagi, rasa malu dan putus asa semakin berat.
Tapi Al-Mubdi' selalu berpasangan dengan Al-Mu'id, Yang Mengulang dan Mengembalikan. Allah gak hanya memulai sekali. Dia terus memulai dan mengulang. Setiap hari adalah permulaan baru. Setiap pagi adalah kesempatan baru.
Al-Mubdi' dalam Mendidik Anak
Anak-anak punya rasa ingin tahu yang besar tentang permulaan. "Dari mana aku berasal?" "Siapa yang membuat langit?" "Kenapa ada dunia?"
Pertanyaan-pertanyaan ini adalah kesempatan emas untuk mengenalkan Al-Mubdi'. Jangan jawab dengan "sudah, jangan banyak tanya." Jawab dengan logika sederhana, seperti analogi domino. Biarkan mereka sampai pada kesimpulan sendiri bahwa pasti ada Pemula.
Dan ajarkan mereka keberanian memulai. Memulai membaca Al-Qur'an, memulai belajar hal baru, memulai lagi setelah gagal. Semua dimulai dengan bismillah.
Cara Praktis Menghidupkan Al-Mubdi'
Pertama, renungkan analogi domino. Sadari bahwa keberadaan antum adalah bukti adanya Pemula.
Kedua, mulai satu kebiasaan baik yang selama ini antum tunda. Mulai dengan bismillah, dan mulai kecil.
Ketiga, kalau pernah gagal, mulai lagi. Setiap pagi adalah permulaan baru dari Al-Mubdi'.
Keempat, ajak anak berjalan dan mengamati permulaan kehidupan: biji yang tumbuh, telur yang menetas.
Penutup
Setiap yang ada pasti punya awal. Dan setiap awal pasti punya Pemula.
Pertanyaan tertua manusia, "dari mana semuanya berasal?", menemukan jawabannya dalam satu nama: Al-Mubdi'.
Maka permulaan baik apa yang selama ini antum tunda, dan kapan antum akan memulainya dengan bismillah?
Tulisan ini bagian dari seri Tadabbur Asmaul Husna: nama ke-58 dari 99.