Setiap kali mendengar kabar duka, kita mengucapkan kalimat yang sama: Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un.
Sesungguhnya kami milik Allah, dan sesungguhnya kepada-Nya kami akan kembali.
Kalimat ini sangat akrab di telinga. Tapi sering kali ia hanya menjadi ucapan refleks, tanpa kita renungkan maknanya.
Kembali? Ke mana? Bagaimana? Dan kenapa kita harus kembali?
Pertanyaan-pertanyaan ini dijawab oleh nama Al-Mu'id.
Makna Al-Mu'id
Al-Mu'id berasal dari akar ع-و-د ('a-w-d), yang bermakna kembali, mengulang. Kata 'id (hari raya) berasal dari akar yang sama, karena ia datang kembali setiap tahun.
Al-Mu'id adalah Allah yang mengembalikan makhluk setelah mereka tiada. Dia menghidupkan kembali yang sudah mati, mengembalikan ruh ke jasad, dan mengembalikan semua makhluk kepada-Nya.
Seperti Al-Mubdi', nama ini dalam bentuk isim termasuk dalam daftar masyhur riwayat Tirmidzi, dan maknanya jelas dalam Al-Qur'an. Keduanya selalu berpasangan:
إِنَّهُۥ هُوَ يُبۡدِئُ وَيُعِيدُ ١٣
Sesungguhnya Dialah yang memulai (penciptaan) dan yang mengembalikan (menghidupkan kembali).
Logika Mengembalikan
Kita sudah membahas logika kebangkitan saat membicarakan Al-Ba'its. Tapi Al-Mu'id menambahkan satu dimensi penting: hubungan antara awal dan akhir.
وَهُوَ ٱلَّذِي يَبۡدَؤُاْ ٱلۡخَلۡقَ ثُمَّ يُعِيدُهُۥ وَهُوَ أَهۡوَنُ عَلَيۡهِۚ وَلَهُ ٱلۡمَثَلُ ٱلۡأَعۡلَىٰ فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۚ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡحَكِيمُ ٢٧
Dan Dialah yang memulai penciptaan, kemudian mengembalikannya (menghidupkannya) kembali, dan menghidupkan kembali itu adalah lebih mudah bagi-Nya. Dan bagi-Nyalah sifat yang Maha Tinggi di langit dan di bumi...
Logikanya seperti ini:
Kalau seorang penulis bisa menulis sebuah buku dari nol, maka menulis ulang buku yang sama tentu lebih mudah. Ia sudah tahu isinya, sudah tahu strukturnya.
Kalau seorang pengrajin bisa membuat sebuah vas dari tanah liat mentah, maka membuat ulang vas yang pecah tentu lebih mudah. Ia sudah punya polanya.
Allah memulai penciptaan dari ketiadaan mutlak. Maka mengembalikan ciptaan yang sudah pernah ada tentu jauh lebih mudah.
Tapi perhatikan kalimat berikutnya: "Dan bagi-Nyalah sifat yang Maha Tinggi..." Seolah Allah mengingatkan bahwa "lebih mudah" di sini adalah bahasa yang disesuaikan dengan pemahaman manusia. Bagi Allah, semuanya sama mudahnya. Tapi bagi akal manusia, logika ini membantu kita memahami.
Perjalanan Pulang
Sekarang, mari lihat hidup kita dengan kacamata Al-Mu'id.
Kita datang dari Allah. Kita akan kembali kepada Allah. Artinya, seluruh hidup kita adalah perjalanan pulang.
Bayangkan antum sedang melakukan perjalanan jauh untuk pulang ke rumah. Di perjalanan, antum singgah di berbagai tempat. Ada hotel yang nyaman, ada restoran yang enak, ada pemandangan yang indah.
Tapi antum tahu, semua itu hanya persinggahan. Antum gak akan membangun rumah di hotel. Antum gak akan tinggal selamanya di restoran. Karena tujuan antum adalah pulang.
Rasulullah pernah menggambarkan hal ini dengan sangat indah. Dalam hadits riwayat Bukhari, beliau memegang pundak Ibnu Umar dan bersabda: "Jadilah engkau di dunia seakan-akan orang asing atau seorang musafir."
Dunia adalah persinggahan. Tujuannya adalah kembali kepada Al-Mu'id.
Kenapa Kita Lupa Pulang?
Masalahnya, banyak orang yang lupa bahwa mereka sedang dalam perjalanan pulang.
Mereka membangun "rumah permanen" di persinggahan. Menginvestasikan seluruh energi untuk dunia, seolah akan tinggal selamanya. Mengejar kenyamanan di hotel, sampai lupa bahwa mereka harus melanjutkan perjalanan.
Al-Qur'an mengingatkan:
أَفَحَسِبۡتُمۡ أَنَّمَا خَلَقۡنَٰكُمۡ عَبَثٗا وَأَنَّكُمۡ إِلَيۡنَا لَا تُرۡجَعُونَ ١١٥
Maka apakah kalian mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kalian secara main-main (saja), dan bahwa kalian tidak akan dikembalikan kepada Kami?
Pertanyaan retoris yang sangat tajam. Kalau hidup ini gak berujung pada kembali kepada Allah, maka hidup ini hanyalah permainan tanpa makna.
Kembali dalam Taubat
Ada juga makna "kembali" yang lebih dekat, yang bisa kita lakukan sekarang: taubat.
Kata taubah dalam bahasa Arab berarti kembali. Orang yang bertaubat adalah orang yang kembali kepada Allah setelah menjauh.
Setiap kali kita berbuat dosa, kita sedang berjalan menjauh dari rumah. Dan setiap kali kita bertaubat, kita sedang berbalik arah, kembali pulang.
Al-Mu'id bukan hanya Yang mengembalikan kita di hari kiamat. Dia juga Yang membuka jalan kembali setiap kali kita tersesat.
Kita akan membahas At-Tawwab nanti, nama yang secara khusus berbicara tentang Allah yang menerima taubat. Tapi di sini cukup kita ingat: yang memulai kita adalah juga yang selalu siap menyambut kita pulang.
Kembali Itu Pasti
Satu hal yang pasti dalam hidup ini: kita akan kembali.
Kita gak tahu kapan. Gak tahu di mana. Gak tahu bagaimana. Tapi kita pasti kembali.
Kesadaran ini seharusnya mengubah prioritas kita. Kalau kita tahu bahwa suatu hari kita pasti pulang, maka yang paling penting adalah mempersiapkan kepulangan.
Apa yang akan kita bawa pulang? Harta gak akan ikut. Jabatan gak akan ikut. Popularitas gak akan ikut. Yang ikut hanya amal. Rasulullah bersabda, dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim, bahwa mayit diikuti oleh tiga hal: keluarganya, hartanya, dan amalnya. Dua akan kembali, dan satu yang tetap bersamanya, yaitu amalnya.
Al-Mu'id dalam Mendidik Anak
Anak-anak perlu diajarkan tentang "pulang" sejak dini. Bukan dengan cara yang menakutkan, tapi dengan cara yang membuat mereka memahami tujuan hidup.
Jelaskan makna inna lillahi wa inna ilaihi raji'un kepada mereka. Ceritakan bahwa hidup ini seperti perjalanan, dan kita semua akan pulang kepada Allah.
Ajarkan juga bahwa pulang yang baik butuh persiapan. Seperti kita menyiapkan bekal sebelum bepergian, kita juga perlu menyiapkan bekal amal sebelum pulang kepada Allah.
Cara Praktis Menghidupkan Al-Mu'id
Pertama, saat mengucapkan inna lillahi wa inna ilaihi raji'un, ucapkan dengan sadar. Renungkan bahwa antum juga sedang dalam perjalanan pulang.
Kedua, periksa apakah ada "rumah permanen" yang antum bangun di persinggahan dunia. Seimbangkan kembali.
Ketiga, lakukan satu amal hari ini dengan niat sebagai bekal pulang.
Keempat, saat merasa jauh dari Allah, ingat bahwa taubat adalah jalan pulang yang selalu terbuka.
Penutup
Kita datang dari Allah, dan kita akan kembali kepada-Nya. Itu bukan sekadar kalimat yang diucapkan saat ada yang meninggal.
Itu adalah peta seluruh perjalanan hidup kita.
Maka kalau hari ini adalah hari kepulangan antum, bekal apa yang sudah antum siapkan?
Tulisan ini bagian dari seri Tadabbur Asmaul Husna: nama ke-59 dari 99.