October 26, 2026 | Asmaul Husna

Al-Qayyum: Yang Mengurus Semesta Tanpa Pernah Tidur

Oleh M Salman Azhar
Al-Qayyum: Yang Mengurus Semesta Tanpa Pernah Tidur

Jam dua pagi. Mata terbuka lebar.

Pikiran berputar tentang tagihan yang harus dibayar, anak yang belum pulang, pekerjaan yang belum selesai, orang tua yang sakit di kampung, rencana yang belum jelas.

Tubuh lelah, tapi pikiran gak mau berhenti. Seolah kalau kita tidur, semua urusan itu akan berantakan.

Pernah merasakannya?

Perasaan itu lahir dari satu keyakinan tersembunyi: aku yang harus mengurus semuanya.

Dan keyakinan itu dibongkar oleh satu nama yang disebut tepat setelah Al-Hayy di ayat paling agung dalam Al-Qur'an: Al-Qayyum.

Makna Al-Qayyum

Al-Qayyum berasal dari akar ق-و-م (q-w-m), yang bermakna berdiri, tegak. Dari akar ini lahir kata qiyam (berdiri), qaum (kaum), dan istiqamah (tegak lurus).

Bentuk fay'ul pada kata qayyum menunjukkan intensitas yang sangat tinggi. Para ulama menjelaskan bahwa Al-Qayyum punya dua makna yang saling melengkapi.

Pertama, Allah yang berdiri sendiri, gak butuh kepada siapa pun dan apa pun. Keberadaan-Nya gak bergantung pada apa pun.

Kedua, Allah yang menegakkan dan mengurus segala sesuatu. Seluruh makhluk bergantung kepada-Nya untuk tetap ada, tetap hidup, dan tetap berjalan.

Dua makna ini seperti dua sisi koin. Karena Allah gak butuh siapa pun, Dia bisa mengurus semua. Dan karena Dia mengurus semua, semua bergantung kepada-Nya.

Tanpa Kantuk, Tanpa Tidur

Mari lihat lagi Ayat Kursi:

ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلۡحَيُّ ٱلۡقَيُّومُۚ لَا تَأۡخُذُهُۥ سِنَةٞ وَلَا نَوۡمٞۚ لَّهُۥ مَا فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِي ٱلۡأَرۡضِۗ مَن ذَا ٱلَّذِي يَشۡفَعُ عِندَهُۥٓ إِلَّا بِإِذۡنِهِۦۚ يَعۡلَمُ مَا بَيۡنَ أَيۡدِيهِمۡ وَمَا خَلۡفَهُمۡۖ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيۡءٖ مِّنۡ عِلۡمِهِۦٓ إِلَّا بِمَا شَآءَۚ وَسِعَ كُرۡسِيُّهُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَۖ وَلَا يَـُٔودُهُۥ حِفۡظُهُمَاۚ وَهُوَ ٱلۡعَلِيُّ ٱلۡعَظِيمُ ٢٥٥

QS. Al-Baqara: 255

Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Hidup, Yang terus-menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi...

Perhatikan urutan: la ta'khudzuhu sinatun wa la naum. Gak mengantuk (sinah) dan gak tidur (naum).

Kenapa disebut dua-duanya? Bukankah kalau gak tidur, otomatis gak mengantuk?

Para mufassir menjelaskan bahwa sinah adalah kantuk ringan, tahap awal sebelum tidur. Dengan menyebut keduanya, Allah menegaskan bahwa bahkan kantuk ringan sekejap pun gak pernah menyentuh-Nya. Pengurusan-Nya atas alam semesta gak pernah lengah sedikit pun, bahkan sepersekian detik.

Dan ini logis. Kalau Pengurus alam semesta mengantuk sejenak saja, apa yang akan terjadi pada langit, bumi, dan seluruh isinya?

Ada hadits riwayat Muslim yang menyebut bahwa Allah gak tidur dan gak pantas bagi-Nya tidur. Dia menurunkan dan mengangkat timbangan, dan amal malam diangkat kepada-Nya sebelum amal siang.

Kita Bukan Qayyum

Sekarang kembali ke jam dua pagi tadi.

Kenapa kita gak bisa tidur? Karena tanpa sadar, kita sedang mencoba menjadi qayyum bagi hidup kita sendiri. Kita merasa harus mengurus segalanya, mengontrol segalanya, dan memastikan segalanya berjalan sesuai rencana.

Tapi kita bukan qayyum. Kita butuh tidur. Kita gak bisa mengurus segalanya. Dan banyak hal dalam hidup kita memang di luar kendali kita.

Allah sengaja menciptakan kita dengan kebutuhan untuk tidur. Seolah setiap malam, Allah sedang mengingatkan: Kamu harus berhenti. Kamu harus melepaskan kendali. Serahkan kepada-Ku.

Tidur adalah pengakuan harian bahwa kita bukan Al-Qayyum.

Al-Qur'an menyebut tidur sebagai salah satu tanda kebesaran Allah dan sebagai subat, istirahat, pemutus aktivitas (QS. An-Naba': 9). Kita dipaksa berhenti setiap hari. Dan dunia tetap berjalan meski kita tidur. Matahari tetap terbit. Jantung tetap berdetak. Semua tetap diurus oleh Yang gak pernah tidur.

Istiqamah: Berdiri Tegak karena Al-Qayyum

Akar kata ق-و-م (q-w-m) juga melahirkan kata istiqamah, berdiri tegak di atas jalan yang lurus.

Ada hubungan yang menarik di sini. Kita bisa istiqamah, berdiri tegak, karena ada Al-Qayyum yang menegakkan kita. Kita gak berdiri dengan kekuatan sendiri. Kita ditegakkan.

Seperti bangunan yang berdiri tegak karena ada fondasi yang menopangnya. Bangunan itu gak bisa berdiri sendiri. Tapi selama fondasinya kokoh, bangunan itu tegak.

Maka ketika kita merasa sulit istiqamah, mungkin masalahnya adalah kita mencoba berdiri dengan kekuatan sendiri. Kita lupa bersandar pada Al-Qayyum.

Doa yang Menyerahkan Urusan

Kita sudah membahas doa ya hayyu ya qayyum saat membicarakan Al-Hayy. Tapi coba perhatikan lagi bagian akhirnya:

"...Ashlih li sya'ni kullahu, wa la takilni ila nafsi tharfata 'ain."

Perbaikilah seluruh urusanku, dan jangan serahkan aku kepada diriku sendiri walau sekejap mata.

Ini adalah doa seorang hamba yang sadar bahwa ia bukan qayyum. Ia gak bisa mengurus urusannya sendiri. Ia minta Al-Qayyum yang mengurusnya.

Dan ia bahkan meminta agar gak diserahkan kepada dirinya sendiri, walau hanya sekejap. Karena ia tahu, kalau diserahkan kepada dirinya sendiri, semuanya akan berantakan.

Al-Qayyum dan Kecemasan Modern

Banyak kecemasan modern berakar dari ilusi bahwa kita bisa dan harus mengontrol segalanya.

Kita cemas tentang ekonomi global, perubahan iklim, masa depan anak, kesehatan orang tua, dan seribu hal lainnya. Kita membaca berita setiap saat, mencoba memahami dan mengontrol situasi yang sebenarnya jauh di luar jangkauan kita.

Al-Qayyum menawarkan pembebasan. Bukan berarti kita gak peduli atau gak berusaha. Kita tetap melakukan bagian kita. Tapi kita melepaskan beban untuk mengurus hal-hal yang memang bukan urusan kita.

Karena ada Yang mengurus seluruh alam semesta tanpa kantuk dan tanpa tidur.

Al-Qayyum dalam Mendidik Anak

Orang tua modern sering terjebak dalam "helicopter parenting": mengawasi dan mengontrol setiap aspek kehidupan anak. Takut anak gagal, takut anak terluka, takut anak salah pilih.

Kontrol berlebihan ini lahir dari keyakinan bahwa kita harus menjadi qayyum bagi anak-anak kita.

Tapi kita bukan qayyum. Kita gak bisa mengurus segalanya untuk mereka. Dan justru kalau kita terus mengontrol, anak gak akan belajar berdiri sendiri.

Mendidik dengan kesadaran Al-Qayyum berarti: lakukan yang terbaik, beri anak ruang untuk tumbuh, dan serahkan hasilnya kepada Allah. Ajarkan mereka juga doa ya hayyu ya qayyum, supaya mereka belajar bersandar pada Yang mengurus segalanya.

Cara Praktis Menghidupkan Al-Qayyum

Pertama, sebelum tidur, baca Ayat Kursi. Rasulullah menyebut bahwa siapa yang membacanya sebelum tidur akan dijaga oleh Allah sampai pagi, sebagaimana diriwayatkan Bukhari.

Kedua, saat pikiran gak bisa berhenti di malam hari, katakan: Al-Qayyum gak tidur. Aku boleh tidur.

Ketiga, amalkan doa ya hayyu ya qayyum setiap pagi dan petang.

Keempat, identifikasi satu hal yang selama ini antum coba kontrol padahal di luar kendali antum. Lepaskan.

Penutup

Kita lelah karena mencoba menjadi pengurus segalanya. Kita gak bisa tidur karena takut dunia berantakan tanpa pengawasan kita.

Padahal ada Yang mengurus seluruh alam semesta, tanpa kantuk sedikit pun, tanpa tidur sedetik pun.

Maka malam ini, urusan apa yang perlu antum serahkan kepada Al-Qayyum supaya antum bisa tidur dengan tenang?


Tulisan ini bagian dari seri Tadabbur Asmaul Husna: nama ke-63 dari 99.

M Salman Azhar

Ditulis oleh

M Salman Azhar

Artikel Terkait