Ada orang tua yang sangat mencintai anaknya, tapi gak pernah mengatakannya.
Mereka bekerja keras, membiayai sekolah, memastikan anak gak kekurangan apa pun. Tapi gak pernah memeluk. Gak pernah berkata "Ayah bangga padamu." Gak pernah menunjukkan kasih sayang secara terbuka.
Anaknya tumbuh dengan satu pertanyaan yang gak pernah terjawab: "Apakah orang tuaku benar-benar mencintaiku?"
Cinta yang gak diungkapkan sering terasa seperti gak ada.
Allah punya nama yang menjawab kegelisahan semacam ini. Nama yang menunjukkan bahwa cinta-Nya bukan cinta yang disimpan, tapi cinta yang diperlihatkan. Nama itu adalah Al-Wadud.
Wudd: Cinta yang Tampak
Al-Wadud berasal dari akar و-د-د (w-d-d). Dalam bahasa Arab, ada beberapa kata untuk cinta: hubb, 'isyq, mawaddah, wudd.
Para ahli bahasa menjelaskan bahwa wudd punya kekhasan: ia adalah cinta yang tampak dalam perbuatan. Bukan sekadar perasaan di dalam hati, tapi cinta yang diekspresikan, yang terlihat dari cara memperlakukan orang yang dicintai.
Itulah sebabnya Al-Qur'an memakai kata mawaddah untuk hubungan suami-istri (QS. Ar-Rum: 21). Cinta dalam pernikahan gak cukup hanya dirasakan. Ia harus diungkapkan dan ditunjukkan.
Maka Al-Wadud adalah Allah yang mencintai hamba-hamba-Nya yang saleh dan menunjukkan cinta itu dengan berbagai bentuk kebaikan. Sebagian ulama juga menjelaskan makna kedua: Allah yang dicintai oleh hamba-hamba-Nya.
Pasangan yang Mengejutkan
Sekarang perhatikan dengan nama apa Al-Wadud disandingkan dalam Al-Qur'an:
وَهُوَ ٱلۡغَفُورُ ٱلۡوَدُودُ ١٤
Dan Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Mencintai (Al-Ghafurul Wadud).
وَٱسۡتَغۡفِرُواْ رَبَّكُمۡ ثُمَّ تُوبُوٓاْ إِلَيۡهِۚ إِنَّ رَبِّي رَحِيمٞ وَدُودٞ ٩٠
Dan mohonlah ampun kepada Tuhan kalian, kemudian bertaubatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku Maha Penyayang lagi Maha Mencintai (rahimun wadud).
Kenapa cinta disandingkan dengan ampunan?
Coba pikirkan logikanya. Mengampuni orang yang kita benci itu mungkin, tapi biasanya diiringi jarak. "Aku maafkan kamu, tapi jangan dekat-dekat lagi."
Tapi Allah gak hanya mengampuni. Dia mengampuni sekaligus mencintai. Setelah hamba bertaubat, Allah gak menjaga jarak. Dia justru mendekat dengan cinta.
Allah berfirman: "...Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat..." (QS. Al-Baqarah: 222)
وَيَسۡـَٔلُونَكَ عَنِ ٱلۡمَحِيضِۖ قُلۡ هُوَ أَذٗى فَٱعۡتَزِلُواْ ٱلنِّسَآءَ فِي ٱلۡمَحِيضِ وَلَا تَقۡرَبُوهُنَّ حَتَّىٰ يَطۡهُرۡنَۖ فَإِذَا تَطَهَّرۡنَ فَأۡتُوهُنَّ مِنۡ حَيۡثُ أَمَرَكُمُ ٱللَّهُۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلتَّوَّٰبِينَ وَيُحِبُّ ٱلۡمُتَطَهِّرِينَ ٢٢٢
Orang yang bertaubat bukan hanya diampuni. Ia dicintai.
Konteks Al-Buruj yang Menyentuh
Ayat Al-Ghafurul Wadud di Surat Al-Buruj punya konteks yang sangat kuat.
Surat ini bercerita tentang Ashabul Ukhdud, orang-orang beriman yang dilemparkan ke dalam parit berisi api karena mempertahankan iman mereka. Kisah yang sangat kelam tentang penyiksaan.
Lalu di tengah surat itu, Allah menyebut diri-Nya Al-Ghafur, Al-Wadud.
Seolah Allah ingin mengatakan kepada orang-orang yang menderita karena iman: Aku mencintai kalian. Penderitaan kalian gak sia-sia. Cinta-Ku lebih besar dari api itu.
Dan menariknya, beberapa ayat sebelumnya, Allah juga membuka pintu taubat bagi para penyiksa itu: "Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan cobaan kepada orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan kemudian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab Jahannam..." (QS. Al-Buruj: 10)
إِنَّ ٱلَّذِينَ فَتَنُواْ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتِ ثُمَّ لَمۡ يَتُوبُواْ فَلَهُمۡ عَذَابُ جَهَنَّمَ وَلَهُمۡ عَذَابُ ٱلۡحَرِيقِ ١٠
Kemudian mereka tidak bertaubat. Artinya, bahkan para penyiksa pun masih ditawari taubat. Itulah keluasan Al-Ghafur Al-Wadud.
Cinta Allah yang Diperlihatkan
Bagaimana Allah menunjukkan cinta-Nya kepada hamba?
Dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah bersabda bahwa apabila Allah mencintai seorang hamba, Dia memanggil Jibril dan berkata bahwa Dia mencintai si fulan, maka cintailah ia. Maka Jibril mencintainya, lalu Jibril menyeru penduduk langit bahwa Allah mencintai si fulan, maka cintailah ia. Penduduk langit pun mencintainya. Kemudian diletakkan baginya penerimaan di bumi.
Itulah wudd. Cinta Allah gak disimpan. Ia diumumkan ke seluruh langit, lalu diturunkan ke bumi dalam bentuk penerimaan hati manusia.
Al-Qur'an juga menyebut hal ini:
إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ سَيَجۡعَلُ لَهُمُ ٱلرَّحۡمَٰنُ وُدّٗا ٩٦
Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Ar-Rahman akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang (wudda).
Kita Sulit Menerima Dicintai
Ada fenomena psikologis yang sering terjadi: sebagian orang sulit menerima bahwa dirinya dicintai.
Mereka merasa gak layak. Merasa terlalu banyak kekurangan. Merasa kalau orang tahu siapa mereka sebenarnya, cinta itu akan hilang.
Perasaan ini sering terbawa ke hubungan dengan Allah. "Allah mencintai orang-orang saleh, bukan aku."
Tapi Al-Wadud disandingkan dengan Al-Ghafur justru untuk menjawab perasaan itu. Cinta Allah bukan hadiah untuk orang yang sudah sempurna. Ia terbuka untuk orang yang kembali, sebanyak apa pun kekurangannya.
Bukan berarti cinta Allah tanpa syarat sama sekali. Al-Qur'an menyebut orang-orang yang dicintai Allah: yang bertaubat, yang bertakwa, yang sabar, yang berbuat baik, yang bertawakal. Tapi semua itu adalah pintu yang bisa dimasuki siapa saja, bukan tembok yang hanya bisa dilewati orang tertentu.
Mawaddah dalam Rumah Tangga
Kalau Allah Al-Wadud, cinta yang diungkapkan, maka rumah tangga yang diberkahi adalah rumah tangga yang ada mawaddah-nya.
Banyak pasangan yang saling mencintai tapi gak pernah mengungkapkannya. Mereka mengira cinta cukup ditunjukkan dengan tanggung jawab: suami menafkahi, istri mengurus rumah.
Itu penting. Tapi mawaddah menuntut lebih: ungkapkan. Katakan "aku mencintaimu." Beri pujian. Beri hadiah kecil. Beri perhatian.
Rasulullah bahkan menganjurkan untuk memberi tahu saudara kita jika kita mencintainya karena Allah, sebagaimana diriwayatkan Abu Dawud dan Tirmidzi. Kalau kepada saudara saja dianjurkan, apalagi kepada pasangan.
Al-Wadud dalam Mendidik Anak
Kembali ke orang tua di awal tulisan ini.
Anak-anak butuh cinta yang terlihat. Pelukan. Kata-kata. Waktu. Perhatian.
Rasulullah dikenal sangat ekspresif dalam menunjukkan kasih sayang kepada anak-anak. Beliau mencium cucunya, Hasan. Ketika seorang Arab badui heran dan berkata bahwa ia punya sepuluh anak tapi gak pernah mencium satu pun, Rasulullah bersabda: "Siapa yang tidak menyayangi, tidak akan disayangi." (HR. Bukhari dan Muslim)
Anak yang merasakan cinta yang terlihat dari orang tuanya akan lebih mudah memahami cinta Al-Wadud.
Cara Praktis Menghidupkan Al-Wadud
Pertama, saat merasa gak layak dicintai Allah, baca Al-Buruj ayat 14. Al-Wadud bersanding dengan Al-Ghafur.
Kedua, ungkapkan cinta kepada pasangan hari ini, dengan kata-kata dan perbuatan.
Ketiga, peluk anak antum dan katakan bahwa antum mencintainya.
Keempat, beri tahu seorang saudara bahwa antum mencintainya karena Allah.
Penutup
Cinta Allah bukan cinta yang disimpan di langit. Ia diumumkan kepada Jibril, disebarkan ke penduduk langit, lalu diturunkan ke bumi.
Dan cinta itu terbuka bagi siapa saja yang mau kembali.
Maka kalau Allah saja mengungkapkan cinta-Nya, kepada siapa selama ini antum menyimpan cinta tanpa pernah mengungkapkannya?
Tulisan ini bagian dari seri Tadabbur Asmaul Husna: nama ke-47 dari 99.